
Seusai transaksi, Ardiaz terlihat masih mengawasi anak buahnya dalam mengangkut semua peti kayu berisikan senjata yang baru saja mereka beli.
Nampak Alexa menghampirinya dan langsung menyentuh punggung pria tampan itu. Ardiaz hanya melirik sekilas dan kembali mengawasi semua anak buahnya.
“Alpha atau Jordan? Nama mana yang harus ku gunakan untuk memanggilmu, Sayang?” tanya Alexa dengan nada mendes*aah, tepat di depan telinga Ardiaz.
“Bukankah sudah dibahas saat perkenalan ku waktu itu? Apa kau memiliki kelainan memory jangka pendek?” sindir Ardiaz dingin.
Hal itu sontak membuat Alexa menjauhkan tangannya dari punggung Ardiaz. Namun, dia tak berhenti di situ, dan justru beralih ke depan, mulai meraba dada bidang pria tampan di dekatnya.
“Ehm... ku dengar, Alpha adalah nama samaran mu saat di pelarian. Bagaimana kalau ku panggil kau Jordan saja, agar terdengar lebih dekat, hem,” ucap Alexa dengan gaya sensualnya.
Wanita itu bahkan meniup daun telinga Ardiaz, hingga membuat pria itu menghela nafas panjang.
Ardiaz lalu meraih tangan Alexa dan menghempaskannya ke udara, agar wanita itu tak lagi memegang tubuhnya dengan sembarangan.
“Tapi sayangnya, kita memang tidak dekat. Panggil saja aku sama seperti yang lainnya,” ucap Ardiaz.
Dia bahkan mengatakan hal itu dengan tatapan langsung ke dalam mata biru Alexa. Wanita itu membeku oleh tatapan dingin Ardiaz.
Dia bahkan terdiam beberapa saat, hingga menyadari bahwa Ardiaz telah bebalik dan berjalan menjauh darinya.
Sebuah senyum asimetris tergambar di wajahnya. Dengan tangan terlipat di depan dada dan mata yang terus memperhatikan pria itu, dia bergumam pada dirinya sendiri.
“Benar-benar menarik. Baru kali ini ada laki-laki yang berani menolak pesona ku,” ucapnya.
Dia pun kemudian berbalik dan menuju ke arah di mana mobilnya berada dan bergegas kembali ke Kota Orchid untuk melapor.
Alexa tadinya ingin mengajak Ardiaz bersenang-senang sebelum kembali, namun rupanya membujuk seorang Ardiaz tidak semudah itu, bahkan untuk wanita secantik dan seseksi Alexa.
Sementara itu, Ardiaz yang berjalan ke arah mobil pengangkut milik kelompoknya, memastikan bahwa semua barang telah selesai dimasukkan.
“Kalian kembalilah dulu. Aku masih ada urusan di sini. Katakan pada Vermont bahwa aku akan melapor besok pagi,” seru Ardiaz kepada anak buahnya.
“Baik, Bos,” sahut salah satu anak buah.
Setelah memastikan semua anak buahnya telah pergi, Ardiaz segera berjalan menuju ke arah pemukiman nelayan yang berada tak jauh dari sana. Jika menggunakan sepeda motor, akan memakan waktu sekitar dua puluh menit.
__ADS_1
Namun, dia tak membawa sepeda motor dan tak mau memakai mobilnya, karena hanya akan membuat pengawal mengikutinya.
Akhirnya, pria itu memilih untuk berjalan kaki, dengan menyusuri jalanan sempit di antara bangunan pabrik pengolahan ikan dan juga toko kecil di sekitar sana.
Saat dia melewati deretan toko kecil, dia teringat akan pembuat tato tradisional, yang pernah membantunya membuatkan tato Lucifer di pergelangannya dan kedua temannya.
Dia pun berhenti di depan toko yang tampak tutup itu. Ardiaz berdiri beberapa saat dan memandangi bangunan yang terlihat sedikit suram di depannya, lalu kemudian kembali melangkah.
Namun baru saja dia berbalik, wajah terkejut tak bisa ditepisnya sama sekali, saat melihat sosok wanita tua yang cukup ia kenal.
“Nyonya, Anda...,” sapa Ardiaz.
Wanita tua itu tak lain adalah si pembuat tato tradisional yang tempo hari membantu mereka.
“Masuklah,” serunya.
Wanita itu berjalan ke arah tokonya dan membuka kunci pintu tersebut. Ardiaz menoleh dan melihat wanita itu menunggunya di depan pintu.
Akhirnya, pria tersebut mengikuti perkataan si wanita tua dan masuk ke dalam toko.
“Aku sudah mendengar semuanya. Selamat, karena kau sudah berhasil menjadi seorang King di Lucifer,” ucap wanita tua itu.
Ardiaz duduk bersandar di kursinya, namun dia tak bicara sepatah katapun. Wanita itu terlihat duduk di kursi lain dan mulai membuka penutup kaleng.
“Minumlah. Anggap ini ramah tamah dari kenalan lama,” seru si wanita tua.
Ardiaz yang sejak tadi duduk bersandar pun meraih kaleng tersebut dan membukanya.
“Aku bersulang untuk mu,” ucap wanita tua itu.
Dia mengajak Ardiaz bersulang dan disambut oleh si pria muda. Mereka berdua pun meminum beer masing-masing.
“Bagaimana kabar anak itu? Apa dia masih sembunyi dari kakaknya?” tanya si wanita tua.
Ardiaz nampak mengerutkan kening, namun sepertinya keterkejutannya sudah tak penting lagi, mengingat ini adalah daerah Lucifer, dimana semua orang yang hidup di jaman dulu pasti mengetahui permasalahan di dalam organisasi tersebut.
Jika Joker saja tau siapa Jordan dari sekali lihat, sudah pasti wanita tua ini pun menyadari siapa temannya itu sebenarnya.
__ADS_1
“Melihat kau tak bereaksi sama sekali, sepertinya kau sudah tak penasaran lagi bagaimana aku tau. Yah... dulu, aku sangat mengenal anak itu. Akulah orang yang memberinya kartu, yang tempo hari dia perlihatkan padaku sehingga aku setuju membuatkan kalian tato Lucifer. Kau pasti ingat bukan,” ungkap si wanita tua.
Dia kemudian bangun dan berjalan mendekati sebuah lemari tua di sudut ruangan. Dia membuka lemari tersebut dengan beberapa kunci, seolah isinya benar-benar harus dijaga dengan hati-hati.
Wanita tua itu tampak mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah benda terbungkus cover berwarna hitam, yang seukuran buku tulis. Wanita tersebut lalu membawanya kepada Ardiaz dan meletakkannya di depan pria itu.
“Saat aku mendengar King baru telah diangkat, aku kira mungkin anak itu yang naik posisi. Namun ternyata, justru yang naik adalah kau. Saat itu, aku menyadari bahwa rencana kalian mungkin saja telah gagal dan berpikir untuk mulai membersihkan jejak kalian di sini.”
“Aku membawa semua barang-barang kalian dari pondok itu dan menyimpannya di suatu tempat. Tapi, aku menyisakan ini dan menyimpannya di sini.”
“Saat aku mendengar bahwa kapal barang yang membawa senjata Lucifer akan tiba di dermaga, aku berusaha menemuimu. Aku meminta seorang anak untuk mengirimkan pesan padamu, namun ternyata kau justru dengan sendirinya berjalan ke arah ku,” jelas si wanita tua.
Ardiaz hanya melihat benda di atas meja itu dalam diam, sambil terus mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita tua di depannya.
Tanpa dia pegang pun, dia seperti sudah tahu apa benda yang ada di dalam kantung hitam itu.
“Sejak kecil, dia sangat suka dengan dunia teknologi, hacker dan perangkat komputer. Jadi, bawalah ini dan berikan padanya. Semoga ini bisa sedikit demi sedikit mengingatkannya pada dirinya di masa lalu,” ucap si wanita tua.
“Terlalu banyak teka teki di sini, Nyonya. Aku bahkan tak tau apakah bisa mempercayaimu atau tidak dalam masalah ini,” sahut Ardiaz.
“Aku tahu. Wajar jika kau berkata seperti itu setelah mengetahui bahwa Joker ternyata membohongi kalian, dengan berperan sebagai agen ganda. Aku pun tak akan memaksamu untuk percaya padaku. Tapi, kau bisa datang padaku kapan saja dan aku akan mencoba membantu sebisa mungkin,” ucap si wanita tua.
Ardiaz lalu berdiri. Dia mengambil benda itu dari atas meja dan memasukkannya di balik jaket yang dia pakai.
“Ku ucapkan terimakasih karena Anda sudah membantuku mengemas barang-barang kami. Aku tadinya memang mau ke sana dan mengambil beberapa. Sampai semuanya selesa, mungkin kami belum bisa mengosongkan gudangmu,” ucap Ardiaz.
“Tak apa. Kalian bisa mengambilnya kapan pun kalian mau,” sahut si wanita tua.
Ardiaz pun lalu membungkuk memberi salam dan berjalan keluar dari toko tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih