They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Kejadian malam itu


__ADS_3

“Ini yang kau minta kemarin, Diaz,” ucapnya.


“Apa itu sudah semuanya?” tanya pria yang ternyata adalah Ardiaz.


“Aku rasa ini baru separuh. Kakakmu benar-benar teliti sekali. Tapi sayangnya, aku masih lebih teliti dari dia,” sahut si wanita itu.


“Memang sudah seharusnya kau lebih teliti dari kakak ku. Kalau tidak, mana mungkin aku meminta bantuanmu. Letakkan semuanya di sofa saja, dan bantu aku membereskan kertas-kertas ini,” seru Ardiaz.


“Hei, Tuan besar dadakan. Aku ini masih banyak pekerjaan. Kau sendiri masih belum resmi memimpin perusahaan kan?” tolak si wanita.


Ardiaz pun seketika menghentikan gerakan tangannya dan menatap tajam ke arah si wanita tadi.


“Sonia...,” ucap Ardiaz geram.


Namun bukannya takut atau terintimidasi dengan tatapan Ardiaz yang sedingin gunung es, wanita itu justru balas menatap sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dengan kepala yang sedikit miring seolah sedang menantang Ardiaz.


Melihat hal itu, pria tersebut pun hanya bisa menghela nafas berat dan kembali fokus pada kertasnya.


“Apa Pengacara Martin belum memberi kabar?” tanya Ardiaz.


“Aku yakin kalau pengacara itu sudah ada kabar, kau tak akan semarah tadi saat ku singgung sola kepemimpinanmu,” sahut wanita bernama Sonia itu.


“Aku benci pada sifat tak acuhmu itu. Benar-benar menyebalkan. Tak ada yang bisa ditutupi dari mu sama sekali,” ucap Ardiaz.


“Yah... kalau aku tidak seperti ini, mungkin sekarang aku sudah ada di kubu kakakmu. Bukankah mulutnya begitu manis sampai-sampai istrimu saja jatuh hati padanya sekian lama?” timpal Sonia.


Ardiaz diam. Dia tak bisa menimpali lagi perkataan yang terlontar dari mulut wanita, yang berusia seumuran dengan sang kakak itu.


Sementara Sonia, meski awalnya dia menolak membantu, akan tetapi wanita itu justru terlihat telah berjongkok di bawah, sambil memunguti kertas-kertas yang tercecer di lantai akibat pekerjaan Ardiaz yang tak rapi sama sekali.


Dia bahkan terlihat membawa semua berkas ke arah sofa dan meletakkan semuanya di atas meja. Dia menggulung lengan sampai siku dan mulai memilah kertas-kertas tersebut yang sudah bercampur.


“Apa kau sudah tau Aaron ada di mana?” tanya Sonia.


Ardiaz masih diam dan memilih fokus pada pekerjaannya. Melihat hal itu, Sonia pun mengangkat kedua alisnya sambil mencebik kesal.

__ADS_1


“Ck! Pertanyaan b*doh. Tentu saja kau sudah tau. Kemana lagi dia bisa pergi selain ke tempat wanita itu. Kenapa kau tak menangkapnya saja. Bukankah semuanya akan cepat beres?” ucap Sonia.


Kali ini, Ardiaz kembali menghentikan gerakan tangannya, meski dengan tatapan yang masih tertunduk melihat ke arah kertas-kertas di depannya.


“Aku masih ingin mencari tahu sejauh mana kakakku sudah merencanakan semua ini. Aku juga perlu bukti untuk ku tunjukkan pada Eva. Yang terpenting adalah, siapa orang yang ada di balik semua perbuatan kakakku. Kau pasti tahu, Aaron bukalah orang yang akan bertindak nekad seperti ini,” ungkap Ardiaz.


“Lalu penembakan di rumah tuan besar?” tanya Sonia.


Terdengar helaan nafas yang begitu berat dari mulut Ardiaz. Memorinya berputar kembali ke waktu kejadian penembakan di malam badai itu.


Flash back on


Saat itu, dia baru saja melakukan pengarahan kepada para pengawal bawahannya, untuk bersiaga di sekitar kediaman Hemchandra.


Seperti biasa, penjagaan di rumah besar itu sangatlah ketat, dan langsung dipimpin oleh Ardiaz sebagai kepala pengawal pribadi Hemachandra.


Sementara sang tuan besar, telah lebih dulu masuk ke dalam rumah bersama Aaron, yang ditemani oleh seorang sekretaris perusahaan yang saat itu kebetulan ikut mengantar tuan besar.


Namun, Ardiaz sebenarnya sudah menaruh curiga pada sekretaris tersebut, karena tindakannya yang tiba-tiba mengajukan diri untuk ikut mengantar tuan besar, yang menurutnya terlalu aneh.


Akan tetapi, Aaron justru memberikan alasan yang masuk akal atas tindakan sang sekretaris dan membuat Tuan Hemachandra mengijinkan orang tersebut ikut.


Pria itu bahkan melakukan briefing singkat kepada anak buahnya dan segera menyusul ke dalam.


Namun, baru saja dia hendak menaiki tangga utama, listrik padam dan membuat rumah besar itu seketika gelap gulita, bertepatan dengan sebuah suara petir yang menggelegar di luar sana.


Perasaan Ardiaz semakin tak tenang, dan membuatnya segera naik meski penglihatannya terbatas dan harus meraba sekitar demi bisa naik ke atas.


Berkat cahaya kilat yang masuk dari celah jendela, dia mampu melihat sekejap dan membuatnya bisa mempercepat langkah. Ardiaz pun langsung mengetuk pintu ruang baca tuan besarnya dan segera menerobos masuk.


Namun sayang, baru saja dia masuk, Ardiaz melihat sang tuan besar sudah ditodong senjata api oleh Aaron.


Jendela besar terbuka, sedangkan si sekretaris sudah tak terlihat di sana. Tirai terus berkibar karena tiupan angin yang sangat kencang. Berkat cahaya kilat dari luar, Ardiaz bisa melihat semuanya dengan jelas apa yang terjadi di dalam sana.


Sang kakak berdiri membelakangi jendela sambil mengarahkan mata pistol ke depan, di mana Tuan Hemachandra berada tepat di depannya.

__ADS_1


“Diaz...,” panggil Aaron yang terlihat terkejut, dengan kedatangan sang adik yang tiba-tiba.


Dengan cepat, Ardiaz pun mengambil senjatanya dan mengarahkan pada sang kakak.


“Turunkan senjatamu, Kak,” seru Ardiaz.


“Tidak, Diaz. Dia adalah orang jahat. Dia hanya berpura-pura menolong kita,” ucap Aaron.


“Apa maksudnya, Aaron? Aku benar-benar tulus pada kalian berdua. Percayalah padaku,” sangkal Tuan Hemachandra yang berada di bawah todongan senjata api Aaron.


“Aku perintahkan kau turunkan senjata, atau terpaksa aku akan menembakmu,” ucap Ardiaz dengan mata yang tak berkedip sedikitpun.


Melihat sang adik yang seolah tak goyah sama sekali, Aaron terlihat hendak menurunkan senjatanya.


Namun tiba-tiba, sebuah suara tembakan terdengar dan tepat mengenai dada kiri Tuan Hemachandra.


Aaron menoleh ke arah jendela yang sejak tadi telah terbuka lebar. Tiba-tiba, Ardiaz dengan cepat melepaskan tembakan dan mengenai bahu kiri Aaron.


Pria itu pun mau tak mau mundur dan kabur lewat jendela, kemudian lompat dari lantai dua.


Tepat saat Ardiaz hendak mengejar Aaron, pintu terbuka dan lampu kembali menyala. Sebuah teriakan terdengar dari arah pintu.


Rupanya Evangeline sudah berada di sana dan melihat sang ayah yang telah terkapar di lantai dengan darah yang mengucur keluar.


Gadis itu terlihat ketakutan dan mundur hingga jatuh ke lantai. Ardiaz hendak maju dan menolongnya, akan tetapi Evangeline yang ketakutan, justru kabur dari sana sebelum Ardiaz mampu menjelaskan apapun. Bahkan gadis itu lari dari rumahnya di tengah badai yang sangat besar malam itu.


Flashback end


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2