They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Wanita tua


__ADS_3

Ada sekitar sepuluh orang pengawal yang ditinggal di sana, dan mereka bergiliran memukul Joker.


Mereka sengaja membuat pria itu babak belur terlebih dulu, sebelum akhirnya mereka membunuhnya dan membuang mayatnya ke tengah laut.


Beberapa kali Joker berusaha melawan, namun kondisinya yang terluka ditambah lawan yang tak seimbang, serta senjata api yang mereka punya, membuatnya tak berdaya.


Tepat saat Joker sudah hampir kehilangan kesadaran karena kehabisan banyak darah, sebuah suara tembakan kembali terdengar.


Semua orang menoleh ke arah suara tersebut berasal, dan mendapati seorang pengawal terjatuh dengan luka tembak tepat di bagian kepala.


Suara tembakan kembali terdengar beberapa kali dan beruntun para pengawal itu tumbang secara bergantian, tanpa tahu siapa yang menembak.


Sisa pengawal yang ada terlihat ketakutan, dan melihat ke sekeliling. Kesempatan itu diambil Joker untuk menyerang balik para anak buah Howard yang sudah melukainya.


Dia merebut pistol dan menembak tepat di dada kiri salah satu pengawal. Joker kembali menembak pengawal lainnya, begitu pun dengan orang yang belum menampakkan dirinya itu.


Satu per satu pengawal tumbang, hingga semuanya mati di tempat tanpa bisa melawan.


Di tengah kondisinya yang sudah sekarat, Joker berteriak menantang orang yang bersembunyi itu untuk keluar.


“Aku tidak mengenalmu. Kenapa kau menolongku? Apa kau juga orang suruhan? Keluarlah!” seru Joker.


Tiba-tiba, sebuah tali terjatuh dari atas atap, dan seseorang dengan menggunakan topi serta penutup wajah, meluncur turun menggunakan tali tersebut.


Joker pun segera menodongkan pintol ke arah orang yang baru saja turun itu. Namun dengan cepat, orang tersebut menendang lengan Joker hingga pistol pun terpental jauh.


Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk pria besar itu, dan membuatnya pingsan seketika.


Orang asing itu melihat Joker yang telah tak sadarkan diri, dan menekan sesuatu di telinganya.


“Misi berhasil. Bawa mobilnya kemari, Charlie,” ucap orang itu yang ternyata adalah Ardiaz.


...❄❄❄❄❄...


Flash back on


Sehari sebelum acara lelang dimulai, ardiaz, jordan dan Mac Duff menemui seorang pembuat tato tradisional yang berada di sekitar penginapan mereka.

__ADS_1


Terlihat seorang wanita tua berusia sekitar enam puluh tahun awal, dengan memakai pakaian tradisional tiongkok yang identik dengan warna merah emas, dan masih terlihat cantik yang adalah sang ahli membuat tato, pemilik toko tersebut.


Jordan yang merekomendasikan tempat tersebut pun, berbincang dengan wanita tua itu. Dia menunjukkan gambar tato yang ingin dibuatnya.



“Anak muda, aku harus tau terlebih dulu apa tujuan mu membuat tato ini? Seniman tato harus bisa membuat sebuah karya yang bisa merepresentasikan harapan dari kliennya,” ucap wanita tua itu.


“Kami hanya ingin mempunyai tato seperti ini saja. Bukankah ini terlihat sangat keren?” sahit Mac duff menyela.


Jordan melirik rekannya itu dengan tajam, dan membuat Ardiaz memukul lengan Mac duff dengan sedikit keras, agar pria itu mau diam.


Dengan kesal, si ahli kabur itu pun diam sambil mengusap lengannya yang terasa sedikit nyeri.


Jordan kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kartu berwarna hitam dengan tulisan bertinta emas di atasnya.


Ardiaz berusaha melihat dengan jelas, akan tetapi jaraknya membuat dia tak bisa memperhatikan dengan jelas.


Wanita tua itu meraih kartu tersebut, dan melihatnya dengan seksama. Dia kemudian menatap Jordan dengan begitu intens.


“Apa kau yakin?” tanya wanita itu kemudian.


“Apa kami bisa mendapatkan tato ini?” tanya Jordan.


“Bagian mana yang ingin kalian tembus? Lucifer itu besar. Mereka tak hanya sekumpulan anak nakal saja. Setiap bidang memiliki ketuanya sendiri."


"Aku yakin kau tahu perbedaan tato mereka ada di mahkota, dan mereka pun memiliki bentuk mahkota yang berbeda. Sekali lagi ku tanya, bagian mana yang ingin kalian tembus?” tanya wanita tua itu.


Rupanya si wanita tua begitu paham tentang organisasi bernama Lucifer ini. Atau mungkin karena dia juga seorang pengrajin tato, sehingga dia pun harus tahu makna dari setiap tato yang ada di sekitarnya.


Jordan menoleh pada Ardiaz, seolah meminta persetujuan dari si ahli taktik itu.


“Apa kau yakin?” tanya Ardiaz.


“Tidak ada pilihan lain,” jawab Jordan.


"Apa kau ketuanya?" tanya si wanita tua.

__ADS_1


"Bukan. Kami hanya rekan," jawab Ardiaz.


Dia menatap wanita tua yang sejak tadi juga menatapnya.


“Lelang lima tahunan,” ucap Ardiaz kemudian.


Wanita tua itu pun meletakkan kartu yang diberikan oleh Jordan sebelumnya, dan menautkan jemarinya, kemudian menopang dagu dengan punggung tangan.


“Kalau begitu, kalian harus merubah bentuk mahkotanya. Mahkota yang sebelumnya adalah khusus untuk petarung kecil yang ada di bawah orang bergelar Duke (Adipati)."


"Jika kalian ingin masuk ke dalam pelelangan, setidaknya kalian harus menjadi anak buah salah satu dari king (raja),” ucap wanita tua itu.


“Apa kau yakin, Nyonya?” tanya Jordan.


Pria itu terlihat tak percaya dengan ucapan wanita tua di depannya.


“Anak muda, kau sudah lama tidak kemari bukan? Semua telah berubah sejak saat itu. Aku yakin kau paham maksudku,” ucap si wanita tua.


Jordan nampak diam, sementara Ardiaz semakin yakin bahwa ada rahasia tentang rekannya ini yang berkaitan dengan Lucifer, lebih dari sekedar buruan dan pemburu.


“Kita lakukan sesuai yang dikatakannya saja, Charlie,” seru Ardiaz.


“Bagaiamana anak muda?” tanya wanita tua itu pada Jordan.


Helaan nafas berat terdengar dari mulut Jordan. Pria itu pun kembali bertatapan dengan wanita tua tersebut.


“Baik. Tolong buatkan untuk kami sesuai yang Anda katakan, Nyonya,” ucap Jordan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2