They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Serangan hacker


__ADS_3

Seminggu kemudian di pusat Kota Orchid, kekacauan terjadi di sebuah gedung pencakar langit. Seseorang menerobos masuk ke dalam sistem keamanan gedung dan meretas seluruh informasi yang ada di sana.


Seluruh tim IT sibuk mengamankan sistem dan fokus semua orang adalah pertarungan antara ahli komputer itu.


Tim IT gedung merasa kewalahan karena pihak lawan begitu kuat. Setiap kali mereka mencoba mengirim virus balasan, justru akan dikembalikan bersama dengan virus lain yang ditanam dalam sistem mereka yang semakin memperparah kerusakan.


Sebuah loading bar muncul tepat di tengah layar, menunjukkan bahwa peretas mencoba mengambil semua data yang dimiliki oleh perusahaan yang berada di gedung tersebut.


Kabar ini sampai di telinga pemimpin mereka, yang saat itu tengah berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram, serta bau asap rokok yang sangat pekat, juga alkohol yang sangat kuat.


Tampak beberapa wanita cantik nan seksi duduk mengelilingi di sampingnya. Dua di antaranya terlihat bermanja di lengan pria itu.


Selain mereka, ada juga seorang pria paruh baya dengan kepala yang agak botak sedang berlutut, dengan keringat yang terus mengucur dari pelipisnya.


Dia seolah tengah dihukum karena telah berbuat kesalahan. Tiba-tiba, Seseorang masuk ke dalam. Seorang pria muda bertubuh kekar, mengenakan kaus berwarna gelap, lengan pendek serta press body, membungkuk memberi hormat kepada pria yang tengah dikelilingi para wanita itu.


“Ada apa?” tanya pria itu sambil menyesap batang cerutunya.


“Ada kabar dari pusat, Bos. Seseorang mencoba menyerang sistem keamanan kita,” ungkap pria muda.


Sang ketua yang sejak tadi duduk dengan santai dan bersandar pada sofa panjang itu pun seketika menegakkan punggungnya, membuat kedua wanita yang sejak tadi melendot padanya mau tak mau ikut duduk dengan benar.


“Sejak kapan?” tanya pria itu.


“Lima belas menit yang lalu. Tim kita kewalahan menanganinya,” tutur si pria muda.


“Benar-benar tidak berguna. Panggil Ian, dan minta dia merebut kembali sistem kita,” seru sang ketua.


“Baik, Bos,” sahut si pria muda.


Dia pun lalu berbalik dan keluar dari ruangan tersebut.


Sementara sang ketua berdiri dari duduknya. Dia berjalan menghampiri pria paruh baya yang masih berlutut, dan terlihat kerap menyeka keringatnya sejak tadi.


Ketua itu berjongkok di depan pria tersebut. Dia menyesap dalam-dalam cerutunya, lalu sengaja menyemburkan asap pekatnya langsung ke depan wajah pria malang itu.


Sontak saja, dia pun terbatuk karena asap pekat yang menyeruak masuk ke dalam lubang pernafasannya.

__ADS_1


Melihat pria itu kesulitan, sang ketua justru terlihat menyeringai. Dia menurunkan cerutu dan mematikannya dengan menggosoknya ke atas kulit punggung tangan pria paruh baya itu.


Pria tersebut pun menjerit kesakitan, karena luka bakar yang disebabkan oleh cerutu yang masih menyala.


“AAAAAARRRRGGGHHHHH...,”


Bukannya iba, sang ketua itu justru semakin menekan cerutunya kuat-kuat. Jeritan itu bak alunan musik merdu di telinganya, dan membuatnya justru terbahak.


“Ini hanya peringatan kecil untuk mu. Jika kau berani mencoba melawan ku lagi, maka selanjutnya semua milikmu yang akan hancur. Ingat itu,” ancam si ketua.


“Ba... Baik... Baik, Tuan Devon,” sahut pria paruh baya itu disela kesakitannya.


Dia pun lalu berdiri, sementara pria malang itu meraih tangannya yang telah melepuh dan memeganginya.


Sebelum pergi, sang ketua menendang dada pria paruh baya tadi dengan kuat hingga terpental kebelakang. Dia bahkan sampai memuntahkan darah karena kerasnya tendangan ketua itu.


Pria mengerikan tersebut kemudian keluar diikuti oleh semua wanita cantik yang tadi mengelilinginya.


...❄❄❄❄❄...


Sementara itu, di perusahaan yang tengah menghadapi krisis hacker, seorang pemuda baru saja datang dan langsung masuk ke dalam ruang kendali gedung.


Rambutnya merah menyala dan acak-acakan, dengan anting di kedua telinganya. Belum lagi celananya yang robek di beberapa bagian, serta kaus oversize. Sepatu sneakers melengkapi semuanya.


Sebuah headphone melingkar di lehernya serta tas ransel yang ada dipunggung, menjadi penunjang penampilannya.


“Bisa kau minggir, Paman?” serunya pada kepala tim IT perusahaan.


Pria yang dipanggil paman itu pun berang melihat kedatangan pemuda tersebut. Pasalnya, dia tengah panik menghadapi serangan hacker, akan tetapi justru harus diganggu oleh kehadiran seorang anak kecil yang bergaya urakan ini.


Dia pun menghadapinya dengan emosi. Sambil berkacak pinggang, dia menghalangi pemuda tersebut untuk menempati posisinya.


“Siapa kau berani-beraninya memerintahku? Ini bukan taman bermain untuk anak kecil seperti mu. Keamanaan! Dimana keamanan? Bawa anak ini keluar dari sini,” teriaknya.


Namun, pemuda itu tak bergeming. Dia hanya diam dengan tatapan yang meremehkan kepala tim IT itu.


Kepalanya bahkan sedikit miring, pertanda menantang.

__ADS_1


Tiba-tiba, seseorang masuk. Pria muda yang sebelumnya menemui ketua, telah sampai di perusahaan. Dia masih mengenakan kaus nya yang tadi, dan hanya di lapisi sebuah jas hitam.


Dia berjalan ke arah dua orang yang tengah berdebat itu. Semua orang membungkuk memberi hormat kepadanya.


“Tuan Vermont,” sapa si ketua tim.


Dia pun berjalan menghampiri pria bernama Vermont itu dan mengadukan bahwa ada anak kecil yang mengacau disaat genting seperti ini.


“Biarkan dia mengambil alih. Lagi pula kalian juga tidak becus mengurus hacker itu bukan?” ucap Vermont.


Semuanya menoleh ke arah Vermont, namun pemuda itu justru tersenyum mengejek ke arah ketua tim IT, dan berjalan ke arah meja sistem kontrol.


Dia mulai mengambil sebuah USB dari dalam tasnya, dan menancapkannya pada perangkat komputer.


Kecepatan jarinya benar-benar membuat semua orang terperangah. Dia bahkan mampu menghentikan loading bar, dan menyelamatkan sebagian data yang belum berhasil diretas.


Dia pun mencoba menyerang balik hacker dengan mengirim virus yang ia tanam di dalam sebuah file yang terakhir ia lepas. Tinggal menekan tombol enter, dan semuanya akan berbalik.


Namun, ketika tombol tersebut ditekan, sesuatu yang mengejutkannya terjadi. Sebuah video yang menunjukkan sebuah kotak, tiba-tiba terbuka dan sebuah boneka badut keluar dari sana. Sama seperti mainan Jack in the box, lengkap dengan sebuah kalimat,


“Lets play hide and seek”


Namun yang membuat pemuda tersebut terkejut bukanlah kalimat maupun mainan Jack in the box itu, melainkan penampakan boneka badut yang terlihat mengerikan dengan wajah hancur, serta mahkota yang telah pecah, ditambah sebelah sayap yang ada di belakang badut, sementara sayap satunya telah patah dan jatuh ke lantai.


Jelas itu menunjukkan tantangan untuk organisasi Lucifer.


“Vermont, sepertinya kita punya lawan baru,” ucap pemuda tersebut.


Vermont nampak diam memperhatikan layar besar di hadapannya. Meski mereka berhasil menghentikan hacker itu meretas semua informasi, namun hacker tersebut berhasil meninggalkan pesan yang begitu mengejutkan semua orang.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2