
Di ruang ICU, Morita yang selalu setia di samping Aaron kembali mengalami mual yang cukup menyiksanya.
Malam ini, dia hanya bisa makan sepotong roti saja, karena Aaron sudah beberapa kali mengalami peningkatan aktivitas detak jantung, yang menyebabkan monitor EKG nya terus membunyikan alarm darurat.
Hal ini membuat Morita khawatir dan enggan untuk meninggalkan prianya barang sejenak. Meski anak buah Ardiaz membawakan makanan untuknya, akan tetapi karena Morita harus makan di luar ruang steril itu, dia pun menolak dan membiarkan dirinya kelaparan.
Akan tetapi, kondisinya yang terus muntah hingga asam lambungnya naik, membuat fisiknya semakin lemah.
Saat dia selesai muntah, dia hendak kembali ke tempatnya di samping Aaron. Namun, pandangannya tiba-tiba kabur dengan kepala yang terasa pening dan telinga berdengung.
Morita sampai kesulitan melangkah. Semuanya terlihat berputar di kepalanya, dan membuatnya limbung. Beruntung ada benda yang bisa ia gunakan untuk pegangan.
Namun karena hal itu, kegaduhan pun terjadi. Beberapa benda terjatuh karena tersenggol Morita.
Perutnya tiba-tiba terasa sakit. Dia khawatir dengan kondisi janinnya, dan mencoba meminta tolong, namun karena lemas, suaranya pun sangatlah lirih. Pengawal di depan sama sekali tak mendengar permintaan tolong dari Morita.
Wanita itu bahkan sampai harus merangkak menuju ke arah pintu demi mendapatkan bantuan.
Tiba-tiba, monitor EKG Aaron kembali berbunyi dengan keras. Detak jantungnya mengalami peningkatan dan membuat alarm code blue berbunyi untuk kesekian kali.
Morita cemas, akan tetapi dia pun tak bisa apa-apa. Tak lama, seseorang menerobos masuk dan melihat Morita yang telah berada di lantai.
“Nyonya, ada apa?” tanyanya.
“To... Tolong, Aaron,” pinta Morita.
“Pengawal, cepat panggilkan dokter kemari!” pekiknya.
Dia pun membantu Morita untuk bangun, dan membaringkannya di atas ranjang lain yang ada di sana.
“Diaz, tolong Aaron. Aku mohon,” pinta Morita.
Orang yang masuk tadi tak lain adalah Ardiaz, adik dari kekasihnya yang telah kembali dari perjalanannya, karena mendapat kabar bahwa alarm code blue sang kakak berbunyi beberapa kali malam ini.
Dia sampai harus melakukan perjalanan jauh dari Kota Magnolia demi untuk kembali ke Kota Wisteria, karena khawatir dengan kondisi Aaron.
__ADS_1
Di tengah kepanikan, sebuah suara muncul dan membuat semuanya menoleh ke arah pasien.
“Di... az..,”
...❄❄❄❄❄...
Malam hari sekitar pukul sepuluh malam, Evangeline baru kembali dari kantor setelah seharian bergulat dengan tumpukan pekerjaan yang begitu melelahkan, dan langsung pergi ke rumah sakit.
Dia sebelumnya bahkan telah meminta satu ruangan khusus di lantai rahasia, yang disulap menjadi kamar pribadinya selama menemani sang ayah yang masih koma di sana.
Dia selalu diantar jemput seorang supir dan dikawal dengan paling sedikit dua mobil, yang berisi masing-masing empat orang pengawal.
Penjagaan yang diterapkan Ardiaz untuk istrinya benar-benar ketat, mengingat setelah Hemachandra terluka, target berikutnya dari orang-orang tak dikenal itu kemungkinan besar adalah Evangeline, yang merupakan satu-satunya pewaris Hera Group.
Terlihat iringan mobil Hera Group tiba di parkiran rumah sakit. Evangeline keluar dan segera dikawal menuju lift oleh para pengawalnya.
Saat baru saja masuk ke dalam lift, alarm code blue terdengar. Siapa pun yang mendengarnya akan merasa panik, dan mengira ada hal gawat yang terjadi pada salah seorang pasien.
Begitu pun Evangeline yang berharap ayahnya masih baik-baik saja selama ia tinggal bekerja.
"Bukan code blue tadi. Tapi sebelumnya," ucap salah satu perawat.
“Pria itu? Benarkah dia sudah sadar dari komanya? Benar-benar sebuah keajaiban,” ucap perawat lainnya.
Saat melihat Evangeline, keduanya membungkuk karena mengenali gadis tersebut, yang tak lain adalah salah satu anggota keluarga VVIP di rumah sakit tersebut.
Evangeline seketika membola, saat mendengar perbincangan kedua perawat itu.
“Maaf, pasien mana yang sudah sadar dari komanya?” tanya Evangeline.
Dalam hati, dia bisa menebak siapa yang mereka maksud. Namun, entah kenapa dia justru berdoa semoga tebakannya salah.
“Ah, itu. Pasien di lantai lima belas di ruang ICU,” Jawab si perawat.
Evangeline semakin tertegun mendengar penuturan dari perawat tersebut. Namun, baru saja dia hendak mengkonfirmasi identitas si pasien, lift sudah kembali terbuka dan keduanya pun keluar dari sana.
__ADS_1
Gadis itu pun segera menekan tombol lift lantai lima belas. Dia ingin memastikan dugaannya.
Sesampainya di sana, Evangeline segera berlari ke arah ruang ICU, dimana Aaron di rawat. Tampak Ardiaz telah berada di sana, berdiri di depan ruangan bersekat kaca tebal tersebut.
Langkahnya melambat, saat matanya menangkap Morita yang menjabat tangan dokter yang baru saja keluar dari sana, sambil menangis.
Jelas terdengar di telinganya, bahwa wanita itu mengucapkan kata terimakasih. Hal tersebut membuat Evangeline lemas.
Tas bertali panjang yang dikenakannya, merosot jatuh ke lantai, seolah bahunya tak bertulang.
Gadis itu menatap nanar ke arah kedua orang di depannya, dan menghentikan langkahnya seketika.
Sementara di ujung sana, Ardiaz tak sengaja melihat kedatangan istrinya dengan wajah yang seolah terkejut dan kecewa.
Sementara Ardiaz, pria itu masih terus memasang wajah datar, meski perasaannya saat ini campur aduk.
Di satu sisi, dia lega karena sang kakak berhasil bangun dari komanya, akan tetapi di sisi lain dia pun merasa bersalah dengan gadis itu.
Namun, dia tak ingin berlama-lama berada dalam situasi canggung seperti ini. Ardiaz memilih masuk dan menemui sang kakak.
Dia pun membimbing Morita untuk segera masuk dan melihat kekasihnya yang telah melewati masa kritisnya.
“Ayo kita kembali ke tempat ayahku,” ucap Evangeline setelah melihat suaminya menghilang di balik pintu ruang ICU.
Dia berbalik dan melangkah pergi dari sana.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih