
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Saat di perempatan lampu merah, mobil Howard tiba-tiba mempercepat lajunya dan membuat para pengawal tertinggal di belakang.
Ardiaz dengan lincah mengendarai motornya dan mampu mengejar mobil tersebut sebelum lampu merah menyala, dan sebuah truk besar melintas menghalangi semua orang.
Dia terus mengikuti kemana target membawa Howard. Hingga sampailah di sebuah gudang tua di pelabuhan timur Kota Orchid.
Di sana, dia melihat bahwa target tengah mengejar Howard, dan hendak membunuhnya.
Ardiaz masih diam karena urusannya bukan dengan Howard, melainkan dengan target yang merupakan buronan yang nyawanya telah berhasil dibeli oleh Howard. Seorang broker dunia bawah yang terkenal dengan nama Joker.
Dia memilih mendekat dengan menaiki bagian atap gudang, mengintai dari sana untuk melihat apa yang terjadi dan merencanakan tindakan selanjutnya.
Namun, sebuah kejadian yang memang sudah diduga oleh kelompok Ardiaz terjadi. Anak buah Howard tiba-tiba datang menyerang, dan menembakkan dua buah proyektil panas ke arah Joker, hingga paha atas dan batu pria besar itu terluka.
Setelah bantuan datang, Howard pun pergi dan memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Joker.
Ardiaz sudah tahu bahwa Howard sengaja memancing Joker keluar untuk membunuhnya. Dia yang memang menginginkan Joker pun, akhirnya turun tangan dan membantu pria besar itu melawan anak buah Howard.
Dia mulai menembakkan senjatanya dan membunuh satu persatu pengawal di bawah sana. Joker yang melihat kesempatan tersebut pun ikut melawan balik dengan merebut pistol dari tangan salah satu pengawal Howard.
Setelah semuanya telah berhasil dikalahkan, Joker memanggil Ardiaz agar dia menampakkan diri.
Dengan sebuah tali, Ardiaz meluncur turun, namun disambut oleh todongan senjata api oleh Joker. Pria itu begitu waspada pada setiap orang yang berusaha mendekatinya.
Namun, kondisinya yang sudah terluka parah, membuat gerakan pria besar itu melambat, hingga Ardiaz bisa dengan mudah melumpuhkannya.
Joker pun terjatuh tak sadarkan diri, setelah mendapatkan pukulan keras di area tengkuknya.
...❄❄❄❄❄...
Keesokan harinya, di sebuah pondok kecil di sekitar pesisir pantai, di pemukiman nelayan yang berada di sekitar dermaga, seorang pria besar tengah terbaring di atas sebuah tempat tidur, dengan kedua tangan terikat pada teralis besi, begitu pun dengan kakinya.
Tubuhnya di penuhi dengan perban yang memerah karena rembesan darah dari luka yang di deritanya.
Lebam memenuhi permukaan kulitnya. Bau amis dan disinfektan sangat menusuk indra penciuman siapapun yang berada di sana. Pria tersebut tak lain adalah Joker, yang terluka saat melawan anak buah Howard.
Ardiaz dan Jordan telah menyelamatkannya, akan tetapi juga menjadikannya tahanan, untuk mencari informasi mengenai orang yang ada di balik semua masalah yang terjadi antara ketiga pria muda itu.
Di luar ruangan, dua orang pria muda terlihat tengah duduk dengan kesibukan masing-masing.
Mereka tak lain adalah Jordan dan Ardiaz. Si penjual serba ada tengah mengutak atik sesuatu di tangannya, yang terlihat seperti sebuah kapsul kecil, yang bersisi beberapa komponen elektronik yang sangat rumit.
Sementara Ardiaz, pria itu sedang mengamati layar macbook, yang berisi tentang informasi yang didapatkan oleh Jordan semalam, ketika meretas sistem keamanan gedung lelang Lucifer.
“Jadi, ada empat king (raja) dalam Lucifer?” tanya Ardiaz.
__ADS_1
Dia melihat data yang telah diringkas oleh Jordan, mengenai orang-orang dalam organisasi Lucifer, berdasarkan pengamatannya semalam.
Jordan yang ditanya hanya mengangguk dengan sebuah gumaman.
“Jadi yang tempo hari kau sebut masih kurang satu, adalah yang ada di atas semua King ini?” tanya Ardiaz.
Jordan menghentikan gerakannya sejenak, dan menoleh ke arah Ardiaz.
“Kaisar atau Emperor. Dialah yang ada di atas organisasi Lucifer,” ucap Jordan.
“Dan aku yakin kau tahu siapa dia,” terka Ardiaz.
Dia tak bisa lagi menyembunyikan kecurigaannya pada sang penjual serba ada itu, atas semua keanehan yang diperlihatkan Jordan beberapa hari ini.
Namun, Jordan tak lantas menjawab. Dia kembali fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan rasa penasaran Ardiaz.
Akan tetapi, kediaman Jordan justru membuat Ardiaz semakin yakin, bahwa ada sesuatu antara rekannya ini dengan oraganisasi tersebut.
Ardiaz memilih berhenti mendesak, dan menunggu hingga waktunya dia tahu dengan sendirinya masalah tersebut.
Dia kembali fokus pada macbook Jordan lagi dan mengamati informasi yang ada.
Sekitar hampir tengah hari, seseorang menghubungi alat komunikasi yang semalam mereka gunakan. Jordan pun segera menghubungaknnya pada macbook yang ada di tangan Ardiaz, melalui sebuah kabel penghubung
“Di mana kalian?” tanya suara di seberang yang tak lain adalah Mac duff.
“Aku sudah mendapatkan beberapa informasi. Besok malam aku akan bergerak lagi. Di mana kalian?” tanya Mac duff.
“Aku dan Jordan sedang mengawasi target. Kita bertemu nanti malam saja. Biar ku jemput kau nanti,” ucap Ardiaz.
“Baiklah. Kalau begitu aku tidak perlu mengkahwatirkan kalian,” ucap Mac duff.
“Khawatirkan saja dirimu sendiri,” sahut Jordan ketus.
“Hish, si pedagang ini benar-benar menyebalkan. Sudahlah, aku lelah,” keluh Mac duff.
Sambungan terputus.
“Sampai kapan beruang besar itu akan pingsan?” tanya Jordan.
“Kita tunggu saja. Dia sudah tak bisa kemana-mana sekarang,” jawab Ardiaz.
Dia kemudian meletakkan macbook ke atas meja, dan berdiri. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan berjalan ke arah kamar di mana tawanannya berada.
Saat Ardiaz membuka pintu, dia sejak membeku saat melihat mata pria besar yang berbaring di atas ranjang, terbuka lebar menghadap ke langit-langit.
__ADS_1
Pria muda itu pun kemudian masuk dan menutup kembali pintunya. Suara pintu itu membuat pria besar di sana melirik ke arah Ardiaz dengan tatapan yang tajam.
Ardiaz berjalan ke arah Joker, dan menarik sebuah kursi lipat ke samping tempat tidur. Dia duduk di sana dengan kaki yang saling bertopang. Lengannya terlipat di depan dada, dan punggung yang bersandar dengan santainya.
“Halo, Joker. Apa kau ingat aku?” tanya Ardiaz.
Namun bukannya menjawab, Joker justru kembali mengalihkan pandangannya dan menatap langit-langit di atasnya.
“Yah, mana mungkin pria tua sepertimu bisa mengingat semua orang yang pernah bermasalah denganmu,” ejek Ardiaz.
“Heh... Mana mungkin aku lupa dengan ikan kecil yang berusaha memburu beruang besar,” sahut Joker.
Sebuah seringai muncul di bibir Ardiaz, setelah mendengar jawaban dari tawanannya.
“Ah... Rupanya ingatanmu masih baik. Jadi, pasti kau juga ingat bukan siapa yang membayarmu untuk memburu ku ketika di Magnolia?” tanya Ardiaz.
Sontak, tawa Joker keluar dan menggelegar begitu keras, hingga terdengar sampai ke luar, membuat Jordan buru-buru masuk dan melihat bahwa tawanan mereka telah sadar, hingga bahkan bisa tertawa dengan begitu kerasnya.
“Alpha...,” panggil Jordan.
Namun, Ardiaz memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar rekannya itu diam.
“Hahahhahahaa... Hahahahaaa... Jadi ini tujuanmu menangkapku?” tanya Joker.
“Salah satunya,” sahut ardiaz.
Joker kembali menoleh ke arah Ardiaz. Namun bola matanya tiba-tiba membulat sempurna seolah terkejut. Berbeda dari sebelumnya dan hal itu pun berhasil disadari oleh Ardiaz.
Dia pun lalu mengikuti arah tatapan mata pria besar tersebut, dan melirik ke samping. Dia menyadari bahwa yang membuat Joker sampai terkejut seperti itu adalah keberadaan Jordan di belakangnya.
Ardiaz diam, akan tetapi Jordan justru bersuara.
“Dari reaksimu, aku yakin kau sudah menyadari sesuatu. Benar bukan, Papa bear,” ucap Jordan.
Joker masih diam, dengan tatapan yang tak bisa beralih dari Jordan. Ardiaz semakin yakin bahwa rekannya menyimpan sebuah rahasia yang begitu besar.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih