
Keesokan harinya, seorang pengawal memberikan misi berikutnya yang telah dikirim melalui surel.
“Bagus. Sepertinya mereka tidak memberiku ruang untuk bisa bernafas lega barang sejenak,” gumam Ardiaz.
Ardiaz meletakkan map hitam yang diberikan oleh pengawalnya di atas meja. Kakinya yang sejak tadi menyilang, turun dan berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
“Berikan kunci mobilnya. Aku ingin berjalan-jalan sendiri. Jangan ikuti aku dan jangan laporkan apapun pada Vermont. Aku hanya ingin mencari udara segar saja,” Seru Ardiaz.
Pengawal itu mengambil sesuatu dari saku jasnya dan mengulurkan ke depan.
Ardiaz pun melangkah keluar dan mengambil kunci motor yang ada di tangan pengawalnya. Kali ini, dia tak menyelinap lagi karena Sonia telah membawa mobil itu dari tempat sebelumnya.
Lagipula, Ardiaz memang hanya berniat berputar-putar saja di dalam kota, tanpa ada tujuan lain. Berbeda dari sebelumnya, di mana dia harus pergi ke tempat seseorang yang penting baginya, dan harus ia lindungi keberadaannya dari pantauan Lucifer.
Namun, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel rahasianya yang selalu ia bawa kemana-mana. Ardiaz pun segera mengangkat panggilan tersebut setelah melihat nomor siapa yang tertera.
“Ada apa?” tanya Ardiaz.
“Aku sudah mencoba mentransfer uangnya ke rekening kakakmu. Tapi sepertinya ada masalah,” ucap orang di seberang.
“Masalah apa? Cepat katakan,” seru Ardiaz.
“Dari informasi yang Charlie dapatkan, rekening kakakmu telah dibekukan. Ku tebak ini semua perbuatan istrimu itu. Sepertinya kau hanya punya cara Robin Hood saja,” sahut suara di seberang.
Benar. Semuanya memang atas kuasa Tuan Hemachandra. Sangat mungkin untuk Eva mengambil kembali semua yang diberikan ayahnya dari kakakku, batin Ardiaz.
“Halo, apa kau masih di sana?” tanya suara di seberang, karena Ardiaz tak merespon perkataan sebelumnya.
“Pikirkan cara lain selain Robin hood. Orang konyol mana yang meletakkan setumpuk uang di depan pintu, tanpa ada pencuri lain yang mengambil, hah?” sahut Ardiaz.
“Hei, Alpha. Aku hanya memberi saran. Ya sudah, kau pikirkan sendiri saja caranya dan cepatlah kembali. Aku sudah lelah mengurusi dua hacker ini di sini. Benar-benar menyusahkan,” keluh orang di seberang, yang tak lain adalah Mac duff.
“Berhentilah merengek seperti seorang gadis. Aku tutup dulu,” seru Ardiaz.
Dia pun seketika menutup panggilan tersebut, sebelum Mac duff bisa membalas perkataannya.
__ADS_1
Dia melempar ponsel rahasianya ke dalam dashboard dan memutar balik mobil di persimpangan jalan. Kali ini, dia memiliki tempat yang akan dituju.
Mobil melesat di jalanan Magnolia menuju ke arah wisteria. Di perbatasan kota, dia mengambil jalur lain yang mengarah ke sebuah pedesaan di luar kota Wisteria, yang sering disebut dengan Pedesaan Ginko.
Pedesaan ini diberi nama seperti itu karena di hampir semua sudut tempat, terdapat pohon ginko yang memiliki warna kuning menyala, yang membuat pedesaan tersebut bak hamparan emas di tepi kota yang maju.
Jalanan terasa semakin berguncang, karena permukaannya dipenuhi kerikil kecil yang tidak stabil.
Mobil berhenti di seberang jalan, tepat di depan sebuah rumah gaya lama khas pedesaan, dengan aksen batu bata merah memenuhi dindingnya.
Nampak jelas bahwa rumah sederhana itu dipenuhi penjaga, yang berasal dari keluarga Hemachandra. Tentu saja semua ini atas perintah dari Evangeline, gadis yang telah dihancurkan hatinya oleh sang kakak yang membohonginya selama ini, sehingga rasa cinta gadis itu seketika berubah menjadi rasa benci yang begitu kuat.
Ardiaz tak mungkin mendekati tempat tersebut, apalagi jika harus melakukan saran dari rekannya tadi, karena pengawal itu pasti akan mengenali siapa dirinya.
Dia tak mau ada yang tau tentang kebenaran atas dirinya yang masih hidup, demi tetap menjaga orang terdekatnya aman. Akhirnya, dia pun hanya bisa memperhatikan dari kejauhan dan berharap bisa melihat sang kakak dari tempatnya berada.
Namun, sudah cukup lama dia berdiam di sana, tak ada tanda-tanda Aaron akan keluar dari rumah. Mungkin karena keberadaan pengawal-pengawal di sana yang membuat ruang gerak Aaron menjadi tak leluasa, bahkan di tempat kekasihnya sendiri.
Akhirnya, Ardiaz pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Akan tetapi, saat dia baru saja memasukkan persneling mobil, matanya menangkap sebuah mobil yang berhenti tepat di depan pagar rumah sang kakak.
Dia pun kembali mematikan mesin mobilnya dan memperhatikan keduanya dari jauh.
Rasa penasaran memenuhi otaknya.
Untuk apa gadis cengeng itu kemari bersama Malcolm? gumamnya dalam hati.
Dia terus bertanya-tanya akan apa yang dilakukan keduanya di sana. Terlebih ketika melihat raut wajah datar dan tatapan mata yang penuh kebencian dari Evangeline.
Sejurus kemudian, matanya melihat sebuah layar kecil yang berada di dashboar dan menunjukkan tanggal saat itu. Seketika, dia pun tersadar akan apa tujuan Malcolm datang ke rumah itu.
Sial! Kenapa dia datang bersama Eva? umpat Ardiaz dalam hati.
Dia ingat bahwa hari ini adalah hari dimana dia meminta dokter itu memberikan surat terakhirnya sebelum pergi ke kota Orchid kepada sang kakak. Surat berisi alasan dia pergi yang tidak boleh diketahui oleh Evangeline, karena pasti gadis itu akan semakin menyalahkan Aaron atas apa yang terjadi pada Ardiaz di kota Orchid.
Tak berselang lala, tiba-tiba pintu kembali terbuka dengan Evangeline yang berjalan cepat ke arah mobil. Wajahnya benar-benar merah padam seolah tengah menahan emosi di dadanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Malcolm pun keluar dari rumah, dan masuk ke dalam mobilnya. Keduanya lalu pergi dari sana, tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang sejak tadi terus mengintai mereka dari jarak yang tak terlalu jauh.
Setelah kepergian Malcolm dan Evangeline, Ardiaz kemudian memutuskan untuk melajukan mobilnya menjauh dari sana, atau tepatnya kembali ke hotel tempatnya menginap.
...❄❄❄❄❄...
Malam harinya, terjadi badai besar di laut yang membuat Ardiaz batal kembali ke kota Orchid. Pengawalnya menawarkan untuk kembali lebih dulu melalui jalur udara, namun Ardiaz menolak, karena sesungguhnya dia masih ingin berlama-lama di sana.
Ditambah kejadian tadi siang, di mana sang kakak didatangi oleh istrinya, Evangeline, yang berakhir dengan kepergian gadis tersebut yang terlihat tidak begitu baik.
Dia khawatir dengan kondisi kakaknya. Di benaknya, dia berpikir bisa saja saat ini Aaron tengah tertekan. Di samping dia baru saja menerima surat darinya, ditambah lagi perkataan Evangeline yang sudah pasti sangat pedas dan menusuk.
Pengawal terus mendesak agar Ardiaz kembali, namun pria muda itu tetap pada perkataannya.
“Jangan pedulikan kami, Bos. Anda masih harus menyelesaikan misi lainnya,” ucap si pengawal.
“Bukankah menunda sehari dua hari tidak akan jadi masalah? Kalian itu benar-benar penakut sekali,” sahut Ardiaz dengan entengnya.
“Bukan seperti itu, Bos. Prakiraan cuaca mengatakan laut masih akan berombak untuk beberapa hari kedepannya. Bagaimana jika besok...,” bujuk si pengawal.
“Baiklah... Baiklah... Baik. Kita tunggu besok. Jika besok masih juga ada badai, aku akan pergi dengan pesawat. Apa kalian puas?” sela Ardiaz kesal.
Dia pun berjalan ke dalam kamar tidur dan membanting pintunya dengan keras, membuat si pengawal pun tersentak kaget.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1