
Mac duff terlihat baru saja mengokang senjatanya, dan sontak hal itu membuat Ardiaz geram.
“Bodoh, Sudah ku bilang diam saja.” gumamnya.
Dia menyadari bahwa binatang di depannya nampak semakin gelisah, karena melihat kilatan dari besi senapan. Beruang itu terus mengaum karena terancam dan bersiap melompat untuk menerkam Mac duff.
Ardiaz tak bisa diam lagi. Dia berlari ke arah Mac duff dan segera mendorongnya ke samping, agar tak terkena terkaman beruang.
GROAAAAAAARRRRGGGGGG!
Beruang itu semakin menjadi, dan kembali menatap Ardiaz serta Mac duff.
Namun tiba-tiba, sebuah sebuah suara auman terdengar dengan cukup keras dari arah bukit batu.
Semua menoleh, begitu pun si beruang. Mereka melihat seseorang berdiri di ketinggian, sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sebuah suara auman tadi terdengar berasal dari orang itu.
Suaranya begitu keras dan membuat beruang menjadi ketakutan. Meski wajahnya tak nampak karena gelap, akak tetapi Ardiaz bisa mengenali siapa orang itu. Dia pun lalu bergegas naik bersama Mac duff.
Orang itu terus bersuara dengan sangat keras agar nyali beruang menciut hingga binatang tersebut pun lari ketakutan.
“Pantas kau dipanggil papa bear. Sosokmu memang benar-benar mirip beruang,” ucap Ardiaz.
Orang itu tak lain adalah Joker, yang dengan instingnya naik ke ketinggian, membuat tubuhnya membelakangi cahaya bulan, dan berdiri dengan kedua tangan membentang, membuat tubuh besarnya terlihat seperti seorang raksasa.
Dengan suara auman keras yang ia ciptakan, membuat beruang itu ketakutan, mengira lawannya lebih kuat darinya.
Pria besar itu pun kemudian mengambil senapannya kembali dan berjalan mendaki bukit Batu, agar bisa secepatnya sampai di balik bukit.
“Cepatlah. Waktu kita tidak banyak,” seru Joker.
Dia pun mendahului kedua pria muda itu dan naik ke atas bukit berbatu. Ardiaz dan juga Mac duff mengikutinya di belakang.
Saat sampai di puncak, mereka bisa melihat dengan jelas padang rumput tempat gudang senjata Lucifer berada.
Padang itu ditumbuhi rumput yang tinggi, dan begitu luas.
Ketiganya masih bersembunyi di balik sebuah batu besar, agar tak terlihat oleh pengawas. Saat itu, sebuah transmisi masuk ke dalam alat komunikasi mereka.
“Aku bisa melihat kalian. Mulai dari sini, ikuti arahanku,” ucap suara di seberang, yang tak lain adalah Jordan.
“Roger,” sahut Ardiaz diikuti oleh yang lain.
Mereka pun kembali bergerak. Jordan memberikan arahan jalan mana yang harus mereka ambil, agar bisa lepas dari pantauan pengawas.
Mereka turun dan menyusuri kaki bukit yang masih dipenuhi beberapa pohon yang tumbuh rendah di sana.
Tiba-tiba, Jordan kembali memberikan transmisi.
"Hati-hati, di depan ada dua orang pengawas berjalan ke arah kalian," ucap Jordan.
Ardiaz pin lalu menghalangi kedua rekannya itu, karena sudah melihat sebuah pergerakan di depan sana.
Dia menempelkan telunjuknya di depan bibir, lalu tangan sebelahnya menunjuk ke arah depan.
Mereka pun memperhatikan jalan di depan, dan melihat dua orang penjaga sedang berpatroli di dekat sana.
Ardiaz kemudian mengarahkan ibu jarinya ke leher dan melakukan gerakan melingkar di sana. Mac duff dan Joker paham.
Mereka lalu maju perlahan dan menyergap kedua pengawas itu. Dua orang itu berhasil dilumpuhkan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
__ADS_1
“Sebaiknya, pakai jaket mereka agar kalian bisa mudah masuk ke dalam,” ucap Joker.
“Kau sendiri?” tanya Mac duff.
“Sebaiknya kita saja. Tubuhnya terlalu besar untuk memakai jaket mereka,” timpal Ardiaz.
Dua pria muda itu pun lalu melucuti jaket serta senjata dua pengawas itu, dan mengikat mereka di bawah pohon agar tak terlihat oleh pengawas lainnya.
Ardiaz menekan alat di telinganya, dan menghubungi Jordan.
“Apa kami sudah bisa masuk?” tanya Ardiaz.
“Pergi ke arah jam lima. Di sana ada sebuah pintu yang dijaga dua orang. Tidak ada menara pengawas di disekitarnya,” seru Jordan.
"Apa kau yakin pintu itu tidak terlalu mudah?" tanya Ardiaz ragu.
"Itu tidak mudah. Kau harus bisa melewati rerumputan itu dulu tanpa di ketahui mereka," ucap Jordan.
“Ah... jadi begitu. Misi seperti ini tidak akan menarik jika terlalu mudah, benarkan alpha," timpal Mac duff.
"Ayo bergerak,” sahut Ardiaz memberi komando.
Ketiganya lalu kembali bergerak sesuai arahan Jordan. Ardiaz kini memimpin di depan, menyusuri semak di sekitar bukit berbatu.
Mereka lalu menyebrangi padang rumput di sekitar bukit yang tertutupi oleh pepohonan.
Mereka mengendap-endap mendekat ke arah lokasi yang ditunjukkan oleh rekan mereka. Tiba-tiba sebuah transmisi kembali terdengar.
Namun, belum sempat Ardiaz menerima transmisi itu, keberadaannya telah diketahui dan menimbulkan pergerakan di pihak musuh.
Rupanya apa yang dikatakan Joker benar. Sangat sulit untuk melalui padang rumput itu tanpa diketahui oleh pengawas.
Setelah berhasil melumpuhkan pengawas di luar, ketiganya langsung menyerbu masuk ke dalam. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Mereka bahkan sampai tak bisa bergerak sedikitpun setelah melangkah masuk ke dalam. Gudang yang dari luar terlihat gelap dan minim pengawas, ternyata di dalamnya penuh dengan orang-orang organisasi Lucifer.
Mereka semua mengarahkan senjata ke arah Ardiaz dan rekan-rekannya membuat mereka membeku.
“Selamat datang, adikku,” sapa seseorang yang duduk tepat di tengah ruangan besar itu.
“Adik?” Mac duff menoleh ke arah Ardiaz.
Sementara yang dilihat, tak berpaling sedikitpun dan terus melihat ke arah depan, menatap tajam ke arah pria yang mengenakan sebuah kemeja hitam dengan jubah gelap, dihiasi bulu yang ada di bagian lehernya.
Ardiaz seolah tak terkejut dengan kalimat tersebut, dan justru terlihat begitu tenang dan terus beradu pandang dengan orang di degannya
orang tersebut duduk dengan bertopang kaki, bersama sebuah cerutu yang diapit telunjuk dan ibu jarinya.
Di sampingnya, berdiri seorang pria muda dengan tubuh tegap dan besar, yang tidak ikut mengarahkan senjata kepada Ardiaz.
“Terimakasih telah membawa adik kecilku pulang, Joker,” ucapnya lagi.
Mac duff kembali terperangah melihat kejadian ini. Dia mencoba melihat ke arah Ardiaz seolah meminta penjelasan, akan tetapi justru adik Aaron itu tetap menatap tajam ke arah pria di depannya itu tak bergeming.
Joker yang sejak tadi berdiri di samping Ardiaz, tiba-tiba membungkuk memberi salam pada pria yang sepertinya adalah ketuanya, lalu berjalan mendekat, dan berdiri di sisi satunya dari si ketua itu.
"Oh, sh**it! Memang tidak baik sesuatu berjalan begitu mudah," umpat Mac duff.
Dia merasa aksinya ini terlalu mudah untuk seukuran organisasi besar seperti Lucifer. Instingnya dalam dunia bawah, membuatnya merutuki diri sendiri, karena percaya begitu saja pada rencana ini.
__ADS_1
“Vermont, tangkap mereka berdua,” seru si ketua.
Dia tak lain adalah Devonshire Anggara, atau yang lebih dikenal dengan Devon The Devil (Devon si iblis), ketua organisasi Lucifer.
Pria bernama Vermont itu pun maju beserta beberapa orang untuk menangkap Ardiaz dan Mac duff.
“Alpha...,” panggil Mac duff.
“Bersiaplah. Kita akan habis-habisan di sini,” ucap Ardiaz lirih.
“Oke, tapi kau berhutang penjelasan pada ku,” sahut Mac duff.
Keduanya pun bersiap untuk bertarung. Meski jumlah mereka sangat jauh berbeda, dan kemungkinan menang sangat tipis, tapi tak ada jalan lain selain maju.
Tidak ada pilihan selain menyerang atau tertangkap. Namun, saat kondisi telah memanas, sebuah suara mesin mobil terdengar mendekat.
Pintu depan tiba-tiba jebol karena sebuah mobil menabraknya dan menerobos masuk paksa.
Mobil itu membuat semua pengawal menyingkir. Meski ada beberapa yang mencoba menghalangi, namun ditabrak begitu saja oleh pengemudi mobil tersebut.
Devon yang sejak tadi duduk di tengah ruangan pun di amankan oleh anak buah ya agar menyingkir dari terjangan mobil gila itu.
Karena dilengkapi dengan anti peluru, mobil pun tetap baik-baik saja meski dihujani tembakan oleh anak buah Lucifer.
Setelah berhasil menyingkirkan penghalang, mobil pun berhenti, tak jauh di depan kedua rekannya, serta berhasil memblokir para pengawal dari Ardiaz dan juga Mac duff.
“Alpha, Delta, cepat asuk mobil,” seru Jordan yang datang menolong.
Ardiaz dan Mac duff merasa lega, dan mereka pun hendak berlari ke arah mobil untuk melarikan diri.
Namun, kelegaan itu tak berlangsung lama. Belum juga selangkah mereka berlari, ekor mata Ardiaz menangkap keberadaan seorang pengawal Lucifer yang membawa sebuah basoka, dan mengarahkan ke arah mobil, dimana rekannya berada.
“Charlie, keluar dari sana!” pekik Ardiaz.
Jordan mengerutkan keningnya karena tak melihat bazoka yang diarahkan kepadanya.
Semua pengawal Lucifer telah menyingkir. Di tengah ruangan tinggal ketiga pria muda itu.
Ardiaz yang melihat Jordan masih diam di tempat, mencoba maju untuk menolongnya, namun Mac duff mencegah dia melakukan hal tersebut.
Ardiaz semakin khawatir. Percikan telah muncul dari ekor misil dan membuat dia semakin panik.
“CHARLIE, AWAS!”
DUAAAAARRRRRR
.
.
.
.
BABAK 1 END
Mulai besok, sudah masuk babak 2 ya gengs😁
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih