
Semua orang yang ada di di dalam ruangan VIP itu menoleh, sementara Evangeline masih berpura-pura mabuk.
Dia masuk ke dalam dan menjatuhkan diri ke atas sofa, lalu meriah gelas yang ada di atas.
Evangeline seolah-olah meneguk minuman itu, namun sebenarnya cairan memabukkan itu hanya menempel di bibirnya saja.
Sementara matanya terus mengedar memindai setiap yang ada di dalam.
Tidak ada? Dimana dia? Apa mungkin di ruang depan? Benar. Masih ada satu ruangan lagi, batinnya.
Belum sempat dia sadar dari pikirannya sendiri, dua orang pengawal bertubuh besar langsung menyeretnya keluar.
Evangeline berpura-pura berteriak dan memberontak, sampai akhirnya dia dilemparkan ke lantai tepat di depan pintu ruang VIP tersebut.
“Pergilah. Ini bukan tempatmu, Nona,” ucap salah satu pengawal.
Evangeline masih terus terduduk di depan sana sambil meracau, memaki kedua pengawal yang sudah sangat kurang ajar mengusirnya.
Namun, dia pun tak mau berlama-lama di sana karena apa yang dicari jelas tak ada di dalam. Dia kemudian mencoba bangun dan menoleh ke ruang di belakang, di mana ada penjaga lagi.
Namun, pintu ternyata terbuka dan di dalam sana terlihat sudah sepi. Hanya ada seorang pria dengan hoodie sedang melihat layar gadgetnya.
Karena tak mengenal orang itu, Evangeline pun kembali berlalu menuju ke ruangan lainnnya.
Masih ada dua ruangan lagi di ujung sana dan dia masih berusaha menemukan yang dicari.
Akan tetapi, hingga semua ruangan di masuki dengan kenekatan, Evangeline tak menemukan keberadaan Ardiaz juga.
Apa mungkin aku terlalu berharap? Padahal belum tentu juga dia yang datang tadi, ucapnya dalam hati.
Wajahnya nampak kecewa.
Dia pun kemudian memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali ke tempat Joy berada.
Namun, saat dia melewati persimpangan lorong, dia melihat dua orang, pria dan wanita, sedang berhadapan tepat di dekat pintu toilet.
“Dasar orang-orang tak tau malu. Kenapa mereka tak bermain di dalam saja? Kenapa harus bermesraan di sini?” gerutu Evangeline.
Namun saat dia hendak berbelok, ekor matanya menangkap sesuatu dan membuatnya kembali berbalik.
...❄❄❄❄❄...
Beberapa saat yang lalu sebelum Evangeline masuk ke dalam klub malam, Mac duff nampak sedang menunggu kedatangan Ardiaz di dekat lorong ruang VIP.
King palsu itu seperti biasa akan melakukan transaksi ilegalnya, dan dengan bantuan Mac duff yang mengatur tempat transaksinya.
“Klien sudah menunggumu di ruangan biasa,” ucap Mac duff.
“Baiklah. Kerja bagus,” sahut Ardiaz.
__ADS_1
“Ah... Satu hal lagi. Alexa juga ada di sini. Aku memberi tahumu karena mungkin dia akan datang mengganggu seperti biasa,” tutur Mac duff.
“Aku sama sekali tak peduli padanya,” sahut Ardiaz datar.
Keduanya kini telah sampai di depan pintu salah satu ruangan VIP yang ada di klub malam tersebut.
Mac duff membukakannya dan mempersilakan Ardiaz untuk masuk.
Nampak di sana seorang pria dengan tato di kedua lengan serta dadanya, tengah bermain dengan seorang wanita malam milik klub itu.
Setelah Ardiaz tiba, Mac duff pun memerintahkan wanita itu untuk segera keluar.
Seperti rumornya, Ardiaz memang tak pernah mau jika transaksinya harus dicampuri dengan masalah prostitusi yang menurutnya sangat menjijikan.
Sang klien pun paham dan melepaskan rangkulannya dari wanita penghibur itu dan membiarkannya pergi begitu saja.
Transaksi berjalan cukup lancar, meski ada sedikit tawar menawar harga. Namun, karena klien sudah lama bekerja sama dengan Lucifer yang merupakan pemasok utama mereka, sehingga kedua belah pihak pun mencapai kesepakan dengan cukup mudah.
Jordan yang selalu ikut kemana pun Ardiaz berada, terlihat sedang mengutak atik perangkat kerasnya. Saat itu, kedua pemimpin tengah berbincang mengenai sesuatu.
Dalam dunia bawah seperti ini, banyak informasi penting yang tak pernah muncul ke permukaan. Meski sebenarnya, Ardiaz lebih banyak diam dan mendapatkan semua informasi tersebut, ketimbang dia yang memberikannya.
Keduanya nampak menikmati minuman sambil menunggu pembayaran selesai dilakukan. Tak berapa lama, tiba-tiba Jordan memutar MacBook-nya ke arah Mac duff.
“Dana sudah masuk, King,” ucap Mac duff yang menemani Ardiaz sebagai pemegang laporan keuangan.
Ardiaz pun menurunkan kakinya yang sejak tadi bertopang dan meletakkan gelasnya ke atas meja.
Sang klien pun tak bisa berkata-kata lagi, karena secara tak langsung king palsu itu sudah mengusirnya dengan halus.
Mac duff membukakan pintu dan mempersilakan tamu mereka untuk segera mengikutinya.
Semuanya pun pergi dan hanya tinggal Jordan bersama Ardiaz di sana. Adik Aaron tersebut kembali menyenderkan punggungnya ke sofa sambil menghela nafas dalam.
“Hidup mu ini benar-benar melelahkan. Kapan kau akan sadar dari cedera mu ini dan bertukar tempat dengan ku lagi, Charlie?” gumam Ardiaz pada rekannya.
Jordan hanya diam dan terus berkuat pada perangkat keras yang ada di tangannya.
Tiba-tiba, Ardiaz berdiri dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya.
“Kau tunggulah di sini. Aku ingin ke kamar mandi sebentar,” seru Ardiaz pada adik Devonshire itu.
Dia pun lalu pergi keluar dari sana dan berjalan menuju lorong, d imana kamar mandi berada.
Ardiaz berdiri di salah satu bilik toilet di sana untuk buang air, lalu kemudian berbalik ke arah wastafel untuk mencuci tangan.
Gemericik air mengalir menggema di seluruh ruangan berdinding marmer itu, membuat suasana semakin dingin.
Ardiaz nampak memegangi pinggiran wastafel, setelah kedua tangannya basah oleh air.
__ADS_1
Dia menunduk dengan tarikan nafas yang begitu terasa sesak. Dia bahkan menghelanya sekaligus.
Wajahnya terangkat, dan tatapannya terkunci pada pantulan dirinya di cermin.
Entah apa yang ada di pikiran Art saat ini, akan tetapi tatapan itu begitu dingin dan kesepian.
Sekali lagi, dia menghela nafas panjang dan berjalan pergi dari sana. Dia menarik tisu dari tempatnya, dan mengelap tangan dengan benda tipis itu.
Tetiba, langkahnya berhenti saat melihat sebuah kaki jenjang dengan sepatu high heels tepat berada di depannya.
Ardiaz mengangkat tatapannya dan melihat sesosok wanita cantik dengan balutan mini dress yang begitu ketat memeluk tubuh molek wanita tersebut.
Sebuah senyum muncul dari bibir merahnya yang sensual. Riasan mata yang tegas membuat tampilan wanita itu benar-benar menggoda.
Ardiaz seolah tak peduli dan mencoba berjalan menghindari. Akan tetapi, wanita itu justru menghadang langkah Ardiaz dengan kaki mulusnya, dan membuat pria tampan itu menatapnya tajam tanpa ekspresi.
“Kau minggir, atau ku patahkan kakimu,” ucap Ardiaz.
Namun bukannya takut, wanita itu justru terkekeh dan semakin mendekati Ardiaz. Jemari lentiknya mulai terangkat dan bermain di dada suami Evangeline dengan nakalnya.
“Dari pada mematahkan kaki, bagaimana kalau kau sakiti aku malam ini, hem?” ucap wanita yang tak lain adalah Alexa, salah satu king lucifer yang malam ini pun memiliki pertemuan dengan klien.
Mendengar perkataan Alexa, Ardiaz menepis tangan wanita itu yang sejak tadi terus menyentuhnya.
“Cari orang lain saja. Aku tidak tertarik,” sahut Ardiaz dingin.
Mendapatkan penolakan dari Ardiaz, sebuah seringai justru muncul dari bibir Alexa.
Saat Ardiaz kembali akan melangkah, tiba-tiba Alexa meraih kerah jas pria itu, membuat Ardiaz sedikit membungkuk.
Wajah mereka begitu dekat, hingga hembusan nafas Alexa pun terasa di kulit Ardiaz.
Dengan cepat, pria tersebut meraih pundak Alexa, namun wanita itu justru semakin erat memegangi merahnya dan berjinjit hingga jarak keduanya semakin terkikis.
Saat Ardiaz berusaha melepaskan diri dari Alexa, pandangannya menangkap kehadiran seseorang yang membuat tubuhnya membeku seketika.
Matanya terlihat biasa namun pupil matanya membesar tanpa ia sadari.
Mata keduanya saling bertemu, dan detak jantung Ardiaz terasa seolah hampir meledak.
Dia bahkan tak lagi peduli apa yang dilakukan Alexa padanya, seolah dunia hanya tertuju pada orang yang tiba-tiba muncul di ujung sana.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih