
Kabar mengenai kematian Ardiaz akhirnya telah sampai di telinga Hemachandra, yang diketahuinya dari Delvin. Hal itu sempat membuat Hemachandra khawatir pada kondisi Evangeline, terlebih saat dia diam-diam melihat gadis itu menangis seorang diri di dalam kamarnya, sambil memandangi sesuatu yang ada di tangan.
Delvin pun mengatakan, bahwa meski Ardiaz selalu bersikap dingin dan ketus, namun sebenarnya dia sangatlah perhatian kepada Evangeline.
Hal itu bisa dilihat ketika kejadian penembakan terjadi. Fokus pertamanya adalah meminta seseorang mengejar gadis itu, sementara dia membawa tuannya ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan.
Setelah keadaan bisa diatasi, dia lalu menjemput Evangeline di rumah sang ibu asuh dan membawanya langsung ke kantor pemerintahan untuk menikahinya.
Cara itu adalah satu-satunya yang bisa dilakukan Ardiaz, untuk melindungi keluarga Hemachandra, terlebih Evangeline yang begitu mencintai Aaron. Dia tak mau gadis tersebut menjadi korban selanjutnya dan memilih untuk memenjarakannya di rumah.
Dan demi Evangeline pula, dia rela dicap sebagai pembunuh, dan enggan mengatakan hal sebenarnya kepada gadis tersebut, karena pasti Evangeline akan mengelak dari kenyataan karena rasa cintanya pada Aaron. Dia ingin Evangeline tahu dari mulut Aaron sendiri akan kebenarannya, agar dia bisa menilai sendiri.
Dia pun rela mengurus urusan perusahaan yang begitu memusingkan kepala, demi agar perusahaan tak hancur setelah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Bahkan sebelum menghilang, Ardiaz mengatur semua hal agar gadis itu bisa dengan mudah melanjutkan urusan perusahaan, dan mendapatkan orang-orang kompeten yang bisa diandalkan, salah satunya adalah Sonia.
Ketika memikirkan hal ini, Hemachandra tiba-tiba teringat akan sesuatu. Dia pun kembali mengatakan keinginannya kepada sang putri.
Namun, Evangeline lagi-lagi memperlihatkan ekspresi tidak sukanya. Dia yang sejak tadi begitu lahap memakan makanannya, tiba-tiba berhenti dan meletakkan sendoknya.
“Malcolm, sepertinya aku harus merepotkanmu. Tolong bantu ayahku tidur di ranjangnya setelah selesai makan. Aku masih ada urusan,” ucapnya langsung.
Suasana pun menjadi canggung. Hemachandra hanya bisa melihat putrinya pergi dari ruang rawatnya dengan perasaan sedih.
...❄❄❄❄❄...
Di dalam kamarnya, Evangeline terlihat duduk di sofa seorang diri. Dia melihat ke arah depan dengan pandangan menerawang. Hembusan nafas berat beberapa kali terdengar dari mulut gadis itu.
Cukup lama dia berada di posisi yang sama, sekitar tiga puluh menit kemudian seseorang tiba-tiba membuka pintu ruangan tersebut.
Evangeline pun dengan malas menoleh dan melihat siapa yang datang menemuinya. Setelah melihat orang itu, Evangeline kembali menoleh ke arah depan.
“Apa ayahku sudah selesai makan?” tanya Evangeline.
Orang yang tak lain adalah Malcolm itu pun duduk di samping Evangeline. Dia meraih tangan gadis itu, namun Evangeline dengan cepat menariknya dan memijat kening yang terasa pening.
Malcolm pun hanya bisa tersenyum kecut dan meremas udara di genggamannya saja. Dia memilih memasukkan tangan itu ke dalam saku celananya untuk menyembunyikan kepalannya.
“Kenapa tadi kau langsung pergi? Bukankah itu sangat tidak sopan?” tanya Malcolm.
__ADS_1
“Bukankah kau tau alasannya?” tanya Evangeline balik.
“Kenapa kau tak katakan saja pada ayahmu tentang perasaanmu yang sebenarnya? Apa kau tak tau bahwa ayahmu sangat khawatir?” tanya Malcolm lagi.
Evangeline menoleh dengan tatapan mata yang tak bersahabat.
“Tuan, sepertinya kita tidak sedekat itu untuk saling mengurusi urusan masing-masing,” ucap Evangeline ketus.
Malcolm terperangah mendengar ucapan gadis itu. Terlihat jelas gurat kekecewaan di matanya.
Evangeline seketika tersadar akan apa yang baru saja diucapkannya. Dia pun kembali membuang pandangan ke depan dan menghindari kontak mata langsung dengan Malcolm.
“Maaf, sepertinya aku terlalu tertekan dengan masalah ini. Aku tak bermaksud...,” ucap Evangeline.
“Bukankah kau meminta ku untuk berteman?” sela Malcolm.
Evangeline pun seketika menoleh. Rupanya pria itu masih menatapnya. Bahkan dia tersenyum ke arah gadis itu.
“Sebagai teman, apa salah jika kita ingin yang terbaik untuk teman kita? Aku yakin kau tau apa yang baik untuk menyelesaikan persoalan ini, hem,” lanjut Malcolm.
Pria itu tersenyum dengan tatapan yang begitu teduh. Tangannya terulur dan mengusap lembut puncak kepala Evangeline, sebelum akhirnya dia bangun dan berjalan pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan gadis itu kembali sendirian.
...❄❄❄❄❄...
Ini merupakan kabar gembira bagi Evangeline yang memang menginginkan sang ayah segera pulih seperti sediakala, mesti tak bisa seratus persen.
Usianya yang tak muda lagi membuat proses penyembuhan terutama pada persendian tulang menjadi terkendala. Hal ini mempengaruhi proses terapi berjalannya yang masih harus dibantu dengan tongkat.
Namun, Hemachandra nampak tak begitu senang dengan kondisinya. Meski dia pun ingin segera pulih dan kembali menjalankan aktifitas seperti semula, namun ada hal yang masih menjadi ganjalan di hatinya.
Evangeline pun tahu apa itu. Gadis tersebut seolah ingin bersikap keras kepala dan tak menghiraukan keinginan sang ayah, akan tetapi dia pun tak bisa merasa senang ketika sang ayah berpura-pura baik-baik saja di depannya.
Sementara itu, sejak kejadian tempo hari, meski Malcolm selalu menemaninya di sela kesibukannya menjadi dokter rumah sakit, namun sikapnya sedikit canggung dan membatasi diri untuk tak terlalu menanyakan hal-hal pribadi kepada Evangeline.
Gadis itu merasa bersalah kepada pria tersebut, mengingat betapa perhatiannya dia kepada dirinya dan juga sang ayah selama ini.
Setelah mengantarkan sang ayah ke dalam ruang rawatnya, dia menelpon Delvin, sang kepala pelayan untuk datang dan membereskan semua barang-barang ayahnya serta mempersiapkan kepulangan sang ayah esok hari.
Dia pun lalu pergi menuju parkiran. Saat baru saja keluar dari lift, dia melihat seseorang yang dia kenal keluar dari lift di seberangnya. Evangeline pun keluar dan segera mengejarnya.
__ADS_1
“Malcolm,” panggilnya.
Dokter itu pun menoleh dan melihat kehadiran Evangeline yang tiba-tiba juga berasa di sana.
“Eva, sedang apa kau di sini?” tanya Malcolm terkejut.
“Aku baru saja dari tempat ayahku. Kau sendiri mau kemana?” tanya Evangeline balik.
“Ehm... Aku bermaksud pergi ke Pedesaan Ginko,” ucap Malcolm.
Dokter itu nampak ragu ketika mengatakan tujuannya. Evangeline seolah tahu kemana dia akan pergi sebenarnya. Gadis itu pun nampak diam dengan raut wajah yang tiba-tiba suram.
“Boleh aku ikut denganmu?” tanya Evangeline.
Malcolm tak langsung menjawab. Dia menatap wajah Evangeline yang masih berpaling. Tiba-tiba, gadis itu menoleh dan menatapnya, karena Malcolm tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
“Apa boleh aku ikut ke sana? Jika tebakan ku benar, bukankah kau akan ke tempat Aaron?” tanya Evangeline.
Malcolm seolah enggan menjawab. Dia berbalik dan berjalan ke arah mobilnya berada. Evangeline sempat merasa kecewa, namun tiba-tiba Malcolm membukakan pintu penumpang depan dan berdiri di sana sambil menatap ke arah Evangeline.
“Masuklah,” ucapnya.
Evangeline pun tersenyum tipis dan berjalan menghampiri dokter itu.
“Terimakasih,” ucapnya.
Gadis tersebut lalu masuk dan duduk di sana, disusul Malcolm yang berjalan memutar dan duduk di kursi kemudi.
Keduanya berlalu meninggalkan rumah sakit dan menuju ke pedesaan yang ada di pinggiran Kota Wisteria.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih