
Jalanan mulai terasa bergelombang karena yang mereka lalui bukanlah aspal, melainkan jalan setapak berbatu. Di Pedesaan Ginko, semua masih terlihat tradisional. Mulai dari bangunan rumah, sistem irigasi, kehidupan warganya dan juga semua yang ada di sana masih terlihat alami.
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan tersebut. Sepasang pria dan wanita tengah duduk di dalamnya.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah seseorang. Rumah tersebut memiliki gaya khas pedesaan dengan tembok yang beraksen baru bata merah, serta cerobong asap yang besar di bagian atap.
Pilar depannya pun masih memakai kayu gilig serta memiliki sebuah gudang jerami di bagian belakang.
Ketika musim semi tiba, bunga liar banyak tumbuh di sekitarnya. Bahkan ada yang sengaja dirawat dan akan menghiasi halaman rumah tersebut.
Namun, meski rumah itu terlihat begitu nyaman, keberadaan pria ber jas hitam disekitarnya membuat tempat tersebut seperti penjara.
Mereka adalah pengawal Hemachandra yang ditugaskan langsung oleh Ardiaz untuk mengawasi kediaman sang kakak, Aaron, atas perintah dari Evangeline.
Setelah mobil berhenti, seorang pria keluar dari kursi kemudi. Dia berjalan memutar hendak membukakan pintu untuk teman wanitanya, akan tetapi gadis itu justru lebih dulu membuka pintu sendiri dan keluar dari sana.
Gadis tersebut nampak memperhatikan rumah di depannya dengan tatapan dinginnya. Tanpa menunggu pria yang datang bersamanya, dia berjalan lebih dulu menuju ke depan pintu utama.
Dialah Evangeline yang datang bersama Malcolm ke rumah Morita, sang ibu asuh yang sekarang tinggal bersama Aaron, atau lebih tepatnya ikut menjadi tahanan rumah atas perintahnya.
Sesampainya di depan pintu, pengawal yang menjaga di sana segera membukakan pintu dan mempersilakan nona mereka masuk, diikuti Dokter Malcolm.
Di dalam nampak sepi, karena kedatangan mereka memang sangat tiba-tiba. Pemilik rumah sepertinya sedang tidak ada, dan hanya ada seorang pelayan yang sangat Evangeline kenal bernama Lucrecia.
Pelayan itu segera datang saat pengawal memanggilnya, bahwa nyonyanya memiliki tamu. Namun reaksinya begitu mengejutkan. Dia terlihat gemetar saat melihat kehadiran Evangeline di ruang tamu itu.
Melihat hal tersebut, gadis itu memilih memalingkan wajah dan tak menatap si pelayan.
Malcolm lah yang kemudian meminta pelayan itu untuk memanggilkan majikannya.
Lucrecia segera berbalik dan menuju ke ladang, dimana tuan dan nyonyanya berada. Tak berselang lama, terdengar bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke arah ruang tamu.
“Eva,”
Panggil seorang wanita yang nampak mengenakan dress selutut dengan aksen floral, mantel tebal, syal yang melingkar di leher serta sepatu boot hitam, tersenyum bahagia melihat kehadiran tamunya.
__ADS_1
Namun sayangnya, tak begitu dengan gadis yang tengah duduk di kursi ruang tamu. Dia bahkan tak menoleh sama sekali ke arah wanita yang memanggilnya itu.
Morita mengira, kedatangan Evangeline kemari karena dia sudah mau memaafkan ibu asuhnya itu. Namun, melihat sikap gadis tersebut, Morita pun seketika kecewa dengan sikap Evangeline, meski dia tahu alasan dibalik sikap dingin gadis itu padanya. Senyumnya yang tadi merekah pun hilang seketika.
Setelah wanita itu muncul, disusul kemudian seorang pria yang tak lain adalah Aaron, yang mengenakan pakaian petani, lengkap dengan topi jerami dan juga handuk kecil di leher, karena sekarang dia hanya bisa beraktifitas merawat kebun belakangnya, untuk menghasilkan sayur dan buah, seperti layaknya orang-orang yang hidup di pedesaan.
Malcolm yang melihat pemilik rumah telah datang pun berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Aaron dan juga Morita.
“Selamat siang, Tuan. Perkenalkan, saya Malcolm Andara. Dokter yang biasa merawat adik anda, Ardiaz,” ucap Malcolm memperkenalkan diri.
Aaron pun menyambut uluran tangan itu.
“Aaron Danurendra. Ada perlu apa kalian kemari?” tanya Aaron.
“Bisa kita bicara sambil duduk?” tanya Malcolm.
Aaron pun menuntun kekasihnya untuk ikut duduk bersamanya, menemani tamu tak diundangnya itu.
Malcolm kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Evangeline melirik sekilas. Dia melihat sebuah surat dengan amplop putih, diambil Malcolm dari sana.
Apa itu? Apa mungkin itu surat dari Ardiaz untuk kakaknya? batin Evangeline menerka.
“Ini adalah surat yang Ardiaz titipkan pada saya. Dia mengatakan jika dia pergi lebih dari dua bulan, maka surat ini harus diberikan kepada Anda,” ucap Malcolm.
Aaron terlihat tak paham dengan maksud dari pria di depannya itu.
“Kenapa harus lewat surat? Kenapa dia tak menghubungi kami langsung? Eva, apa kau tidak mengijinkannya bahkan untuk menghubungi kakaknya sendiri?” terka Aaron.
Evangeline menoleh dengan tatapan tajam ke arahnya. Melihat ketegangan ini, Malcolm pun mencoba menengahi.
Dia menepuk punggung tangan Evangeline, dan membuat gadis itu kembali berpaling, karena dia memang enggan berlama-lama menatap pria yang membuatnya muak itu.
“Bukan seperti itu, Tuan. Beberapa saat yang lalu, Ardiaz menemuiku sebelum pergi. Dia mengatakan bahwa kali ini kemungkinan akan sangat sulit untuk bisa kembali. Jadi, dia menitipkan surat ini kepada saya untuk diserahkan kepada Anda,” ucap Malcolm.
Aaron kembali mengerutkan keningnya. Dia teringat perkataan sang adik sebelum menghilang. Ardiaz tidak pernah mengatakan kemana dia akan pergi. Pria itu hanya meminta sang kakak untuk mendoakannya agar bisa pulang dalam keadaan hidup-hidup.
__ADS_1
“Sebenarnya, apa yang dilakukan adikku? Kenapa harus se misterius ini?” tanya Aaron kepada Malcolm.
Malcolm diam sejenak, dan akhirnya menjawab pertanyaan dari Aaron.
“Dia pergi untuk mencari kebenaran dari tragedi keluarganya, sekaligus mencari tahu siapa yang mencoba menghasut kalian berdua,” ungkap Malcolm.
Aaron membola. Begitupun Morita yang membelalak terkejut kala mendengar penuturan dari tamunya itu.
“Ta... Tapi... Diaz mengatakan bahwa dia sudah tahu kebenarannya. Kenapa... Kenapa dia harus menyelidikinya lagi?” tanya Aaron terbata.
“Sejujurnya, dia belum sempat mendapatkan informasi tentang orang yang ada di balik ini semua. Dia hanya tahu bahwa ada yang sengaja membelokkan fakta, dan memanfaatkan informasi palsu itu untuk menghancurkan Hemachandra,” tutur Malcolm.
Pria itu sekilas melirik ke arah Evangeline. Awalnya dia tak akan mengajak gadis itu, namun Evangeline justru datang disaat yang tidak tepat, dan meminta ikut ke tempat tersebut.
Apa yang disampaikannya kepada Aaron, semua atas perintah dari Ardiaz. Dia ingin agar sang kakak percaya bahwa semua yang dia ketahui adalah sebuah kesalahan.
Ketika dia harus menghilang dan tak kembali, Ardiaz meminta Malcolm untuk meluruskan semuanya kepada sang kakak, mengatakan apa yang dia lakukan hingga tak ada kabar sama sekali.
Evangeline nampak masih diam. Namun tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya menonjol kehijauan.
Sementara Aaron, pria itu terlihat belum begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Malcolm padanya.
“Ja... Jadi, dimana dia sekarang? Kenapa kau bilang sudah dua bulan tidak ada kabar darinya? Apa yang terjadi padanya?” cecar Aaron.
Malcolm hendak menjawab, namun seseorang lebih dulu menyelanya.
“Ini semua salahmu!”
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih