
Keluar dari rumah sakit tempat Jordan di rawat, sebuah mobil Ferrari nampak melaju di jalan menuju ke arah selatan Kota Orchid.
Ardiaz terlihat duduk di kursi penumpang belakang, dengan seorang supir dan seorang pengawal di bagian depan.
Sekitar empat mobil mengiringi di belakangnya, menuju ke sebuah tempat yang ia ingin datangi.
Pria itu nampak memandang ke luar mobil dengan wajah yang terlihat marah. Tangannya mengepal kuat bahkan sejak keluar dari uang rawat Jordan sebelumnya.
Pikirannya masih diliputi oleh kejadian dimana mereka harus menyerah, dan menyebabkan semuanya menjadi kacau seperti sekarang ini.
Cukup lama mereka melaju di jalan raya, hingga tibalah mereka di jalanan yang semakin menyempit, di daerah perbukitan selatan kota. Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan besar mirip kastil tua bergaya Eropa klasik.
Disekitarnya hanya ada hamparan padang rumput yang hijau. Di kejauhan terdapat sebuah puncak bersalju yang berkilau. Banyak domba berlarian di padang rumput, ditemani oleh sang penggembala.
Benar-benar suasana yang menyejukkan mata dan menenangkan hati. Siapa sangka, dia tempat sedamai itu, tersembunyi pabrik pencetak mesin pembunuh Lucifer.
Mobil berjalan semakin mendekat ke arah kastil tua itu. Sepertinya tujuan mereka memang berada di sana.
Merasakan laju mobil mulai melambat, Ardiaz pun memasang mode siaga. Dia menoleh sekilas ke arah depan di mana satu pengawal dan supir berada.
Si pengawal keluar lebih dulu begitu mobil menghentikan lajunya. Dia berjalan ke belakang dan membukakan pintu untuk Ardiaz.
Pria muda itu pun segera keluar. Pandangannya langsung mengedar ke segala penjuru, seolah tengah memindai bangunan tua tersebut.
“Mari, Tuan muda,” ucap si pengawal.
Ardiaz pun tersadar dari keasikannya menatap bangunan besar nan menakjubkan itu dari dekat. Dia melangkah ke arah teras diikuti oleh semua pengawal yang sejak tadi memang berada di belakangnya.
Di sana, sebuah pintu besar hitam dengan ukiran khas gereja tua, tiba-tiba terbuka dan seorang pria berpakaian seperti pendeta keluar menyambut kedatangan Ardiaz dan yang lainnya.
Ardiaz nampak memicingkan matanya sambil kedua alisnya hampir bertaut, melihat penampakan seorang agamawan muncul di tempat yang harusnya merupakan salah satu milik Lucifer, sebuah organisasi gelap.
Seperti sudah bisa ditebak, bahwa pendeta itu hanya kamuflase yang dibuat oleh kelompok tersebut.
“Selamat datang, Tuan muda. Silakan masuk,” ucap si pendeta itu.
Masih dengan ekspresi waspada tingkat tinggi, Ardiaz pun berjalan melewati pendeta itu begitu saja.
__ADS_1
Saat sampai di ruang depan yang besarnya seperti aula yang luas, Ardiaz berhenti tepat di tengah ruangan tersebut.
“Di mana temanku? Aku hanya ingin melihatnya. Tidak perlu sambutan formal,” seru Ardiaz.
Pendeta itu melirik ke salah satu pengawal. Pengawal itu pun mengangguk. Pendeta tadi lalu kembali tersenyum dan memandu Ardiaz untuk mengikuti dirinya.
Mereka berjalan semakin masuk ke dalam, melewati ruang makan, kebun belakang dan tibalah mereka di sebuah paviliun yang menjadi tempat pelatihan mereka.
Saat dia masuk ke dalam tempat yang terlihat paling suram di antara sisi lain di Kastil itu, pandangannya langsung tertuju pada sebuah kursi besar di ujung lain ruangan, dengan seorang pria yang juga besar duduk di sana.
Pria besar itu menatap lurus ke arah pintu masuk dimana Ardiaz berada, namun dia sama sekali tak bereaksi, bahkan ekspresinya pun sangatlah datar.
Sementara Ardiaz, dia nampak mengepalkan tangannya semakin kuat dengan bola mata yang telah memerah.
“Kepar*t! Lihat apa yang sudah kau lakukan,” teriak Ardiaz.
Semua orang yang sedang berlatih di sana pun berhenti dan menoleh ke arah pintu masuk, dimana seorang pria muda berteriak dan menatap ke arah ketua mereka.
Ardiaz maju dengan langkah lebar hendak menghampiri pria besar yang tak lain adalah Joker itu.
Namun belum setengah jalan, beberapa orang telah lebih dulu maju dan menghadang jalan Ardiaz, hingga pria itu terpaksa berhenti.
“Hei, Bung. Kami tak tahu kau ada urusan apa dengan King kami. Tapi yang jelas jika kau berusaha berulah di sini, maka hadapi kami semua lebih dulu,” ucap salah satu orang yang menghadang jalan Ardiaz.
Adik Aaron itu masih menatap lurus ke arah Joker dan gak peduli dengan omongan dari orang di depannya yang sejak tadi terus mengawasi.
“Minggir,” ucap Ardiaz.
Dia maju, namun di dorong dengan kuat oleh orang tadi. Ardiaz menepisnya dan mencoba terus menerobos jalan. Namun, mereka kembali mendorong tubuh pria itu dan membuat Ardiaz kesal.
Akhirnya, sebuah tinju pun melayang ke salah satu wajah orang tadi, disusul baku hantam antara Ardiaz dan orang-orang joker lainnya.
Awalnya pengawal Ardiaz hendak maju, namun Joker memberi aba-aba untuk tidak mengganggu pertarungan. Dia bahkan menambah orang untuk maju menghadapi Ardiaz yang seperti sedang kesetanan.
Dia terus maju menghajar siapun yang menghalanginya. Meski Ardiaz sangat kuat, namun karena kalah jumlah, entah sudah berapa kali dia kena pukul oleh orang-orang Joker.
Berkali-kali dia jatuh lalu bangkit lagi, dan semakin menggila. Dia seolah tak peduli pada nyawanya sendiri.
__ADS_1
Alih-alih ingin menghajar Joker atas perbuatan pria besar itu yang membuat Jordan menjadi seperti sekarang ini, Ardiaz justru terlihat seolah sedang menghukum dirinya atas apa yang terjadi pada temannya itu.
Di tengah pertarungan yang tak seimbang, tiba-tiba seseorang maju dari arah belakang kerumunan. Dia memegangi sebuah balok kayu di tangannya.
Orang itu maju dan masuk ke dalam lingkaran pertarungan, lalu...
BUUUGGG!
Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk Ardiaz, hingga membuat adik Aaron itu sempoyongan, dan bahkan jatuh tersungkur ke tanah.
Dia mengerang kesakitan karena pukulan tadi. Dia terlentang sambil menghadap ke arah langit-langit.
Saat dia hendak berdiri, sebuah kaki menendang dadanya hingga Ardiaz kembali terjatuh dan kesakitan.
Dia melihat ke arah orang yang menyerangnya itu. Kedua matanya membola melihat sosok yang ia kenal begitu tampan dan ceria, kini terlihat sangat menyedihkan.
“Delta,” gumamnya
Si ahli melarikan diri itu terlihat begitu kumal dan acak-acakan. Berbeda jauh dari dia yang biasanya. Pakaiannya banyak yang robek dan luka lebam serta sayatan di sekujur tubuhnya, membuatnya semakin terlihat miris.
Wajahnya bahkan nampak dingin dengan tatapan mata yang kosong, cenderung penuh kemarahan pada Ardiaz. Semua tampak seperti sesuatu yang berat telah Menimpanya selama ini, setelah penangkapan itu.
Lapisan bening muncul di mata Ardiaz. Antara menahan sakit dan sedih, Ardiaz terlihat merebahkan kepalanya ke tanah dengan satu lengan yang menutupi wajahnya.
Bahunya nampak berguncang seolah dia sedang menangis. Sementara Mac duff melempar jauh balok kayu yang dipakainya untuk memukul Ardiaz, dan berbalik pergi meninggalkan kerumunan.
Melihat Ardiaz tak berulah lagi, Joker memberi aba-aba pada semua anak buahnya untuk meninggalkan tempat latihan itu.
Semuanya bubar, dan hanya menyisakan Ardiaz yang masih terbaring di lantai, Joker serta pengawal tuan muda Lucifer palsu itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih