They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Terimakasih, maaf


__ADS_3

Evangeline masuk ke dalam ruang rawat yang berada di ujung lorong, di mana terdapat beberapa pengawal pribadi keluarganya tengah berjaga di sana.


Saat dia telah berada di dalam, matanya menangkap sosok pria yang beberapa hari ini terus membuat emosinya naik. Pria yang sudah membuka matanya atas siapa Aaron sebenarnya itu, kini tengah terpejam dalam posisi duduk di atas tempat tidurnya.


Namun, saat pintu tertutup kembali, terlihat bahwa dia sudah terusik dan bahkan menghela nafas dengan sangat keras, pertanda dia kesal karena telah diganggu.


Bahkan dia menggerutu dengan mata yang masih tertutup, seolah dia begitu malas untuk bangun.


“Apa tidak bisa nanti saja? Kau tidak lihat aku ini belum tidur dengan baik beberapa hari ini, hah?” tanya pria yang tak lain adalah suaminya sendiri, Ardiaz.


Mendengar keluhan tersebut, Evangeline sama sekali tak memberikan reaksi, bahkan membalas dengan kata-kata pun tidak.


Dia terus mendekat dan meletakkan wadah yang dibawanya ke atas nakas.


Saat dia hendak memasang meja portabel ke atas tempat tidur, tiba-tiba sang suami membuka mata dan kembali bicara.


“Hei, Mal... Kau?” tanya Ardiaz.


Dia terlihat terkejut dengan keberadaan Evangeline yang tiba-tiba berada di depannya.


Pria itu bahkan melihat di belakang gadis tersebut, tepatnya ke arah pintu seolah tengah mencari sesuatu.


“Kenapa kau bisa di sini?” tanyanya.


Namun, Evangeline masih diam dan kembali melakukan tugasnya. Kini gadis itu baru saja memasang meja portabel di atas kaki Ardiaz, kemudian meraih wadah dan memindahkannya di atas meja tersebut.


“Buka baju mu,” seru Evangeline.


“Tidak. Aku tak mau diobati oleh mu. Dimana Malcolm? Panggil dia kemari. Penjaga! Cepat panggilkan Dokter Malcolm!” pekik Ardiaz.


“Percuma kau berteriak, mereka tak akan bisa menghubunginya, karena dia sendiri yang menyerahkan benda-benda ini padaku. Dia memintaku untuk mengganti semua perbanmu,” ucap Evangeline.


Ardiaz menautkan kedua alisnya dengan begitu ketatnya, hingga kerutan jelas tercetak di sana.


Malcolm kurang ajar, batin Ardiaz kesal.


Evangeline telah selesai menyiapkan semua peralatannya, dan dia menatap lurus ke arah Ardiaz.


“Apa? Tidak usah melihatku seperti itu,” hardik Ardiaz.


Namun, Evangeline sama sekali tak takut sedikitpun. Baginya, berdebat dan ribut dengan Ardiaz adalah makanan sehari-harinya.


Mereka sama sekali tidak pernah akur sejak dulu. Setiap kali bertemu selalu saja ribut, karena sikap Ardiaz dan Evangeline yang saling bertentangan.

__ADS_1


Ardiaz yang kasar dan dingin bertemu dengan Evangeline yang manja dan selalu ingin dimengerti, membuat mereka bagai dua ujung magnet yang saling bertolakkan.


Melihat Ardiaz menolak perintahnya, Evangeline pun berdiri dan mendekat ke arah suaminya itu. Tangannya bergerak maju dan meraih baju pasien yang dikenakan oleh Ardiaz.


Pria itu terkejut, dan menepis tangan sang istri dengan kasar. Namun, Evangeline tak menyerah dan kembali mencoba meraih baju suaminya.


Ardiaz terus menghalau tangan Evangeline, dan membuat gadis itu kesulitan melepas baju pria tersebut.


PLAK!


Akhirnya, sebuah pukulan mendarat tepat di paha Ardiaz yang mengalami luka tembak.


Sebuah kebetulan yang pas, karena Evangeline memang tak tahu bahwa bagian tersebut mengalami luka yang cukup parah.


Alhasil, Ardiaz pun mengaduh kesakitan sambil memegangi pahanya. Evangeline sekilas nampak khawatir dan merasa bersalah, namun wajahnya ia buat sedatar mungkin dan pura-pura tak peduli, mengingat betapa keras kepala suaminya itu.


Dia pun segera meraih baju Ardiaz dan membukanya paksa, hingga beberapa kancingnya terlepas.


“Hei, kau...,” pekik Ardiaz.


Namun, Evangeline kembali mengangkat tangannya dan hendak memukul paha Ardiaz lagi, membuat pria itu cepat-cepat menutupi bagian tersebut dengan kedua tangannya.


“Menurut lah kalau tak ingin tambah terluka,” seru Evangeline dengan galaknya.


Dia memilih memalingkan wajahnya karena malas melihat gadis keras kepala dan manja itu.


Dia tak tau, bahwa mata gadis yang manja itu, kembali berkaca-kaca saat melihat semua luka yang diderita oleh Ardiaz akibat kejadian di pondok malam itu.


Rasanya begitu pedih hingga berkali-kali ditahan pun tetap menggenang dan membuat pandangannya kabur.


Nyeri kembali terasa di dada gadis itu, hingga ia merasa kesulitan bernafas. Evangeline sampai harus menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan diri agar tidak menangis.


Dia pun mulai membuka satu per satu perban yang membalut luka Ardiaz. Evangeline semakin kuat mengatupkan bibirnya dan mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya, agar dadanya tak terasa sesak lagi.


Namun, baru satu luka yang ia buka, air matanya sudah luruh ke wajah cantiknya, yang terlihat sedikit tirus itu.


Dia terus tertunduk, dengan tangan yang tetap bergerak ke sana kemari memberikan obat pada luka itu dan membalutnya kembali.


Namun, hal itu membuat Ardiaz melirik ke arah sang istri.


Pria itu melihat pundak Evangeline yang berguncang, dengan suara isak yang terdengar sengaja ditahan.


Tatapan Ardiaz terpaku, melihat sang istri yang terlihat begitu lemah saat ini, meski sikapnya terus terlihat sengaja dibuat kuat dan galak. Namun, Evangeline tetap lah Evangeline. Si gadis manja yang cengeng.

__ADS_1


Pria itu diam dan membiarkan gadis tersebut tetap melakukan tugasnya.


Sadar ditatap oleh suaminya, Evangeline pun membuka suara.


“Terimakasih,” ucapnya.


Ardiaz masih diam. Dia menunggu apalagi yang hendak dikatakan oleh gadis manja di depannya itu.


Sesekali, pria itu meremas sprei, karena merasa perih akibat obat yang dioleskan ke lukanya. Namun, dia bersikap tenang karena tak ingin terlihat memalukan di depan siapapun.


“Jangan menunggu kata-kata lain dari ku. Aku hanya mau berterimakasih saja pada mu,” lanjut Evangeline.


“Ck! Masih saja menyebalkan. Apa begitu cara berterimakasih, hah?” sahut Ardiaz mencebik kesal.


Evangeline terlihat mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sekaligus. Dia kemudian memutar telunjuknya ke arah bawah, tanda meminta Ardiaz untuk berputar membelakanginya.


Luka di bagian dada dan perut telah selesai ia obati dan mengganti perbannya.


Pria itu pun menggeser duduknya, dan membelakangi sang istri.


Gadis itu semakin merasa dadanya sesak, saat melihat punggung kekar itu penuh dengan bekas luka yang cukup besar.


Bisa dipastikan lukanya parah dan dalam, hingga bisa meninggalkan bekas semengerikan dan sejelas ini.


Dia pun kembali terisak. Entah kenapa rasanya dia ikut merasakan sakit saat melihat semua luka dan bekasnya di tubuh sang suami.


Evangeline membekap mulutnya, mencoba menahan tangis. Namun semakin ditahan, sesaknya semakin terasa dan membuatnya semakin sakit.


Ardiaz menoleh sekilas, dan mendengar suara tangis sang istri yang semakin jelas terdengar meski telah ditahan begitu kuat.


“Maafkan aku... Maaf... Maaf...,” ucap Evangeline lirih dalam isaknya.


Mendengar perkataan tulus dari Evangeline, membuat hati Ardiaz ikut sesak. Dia pun mendongakkan kepalanya, sembari memejamkan matanya. Dia menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghelanya sekaligus.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2