They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Sebuah petunjuk


__ADS_3

Setelah mengantarkan Evangeline ke perusahaan Hera group, Ardiaz menukar mobilnya dengan yang biasa gunakan, dan pergi ke suatu tempat. Dia pergi seorang diri tanpa pengawal yang mengikutinya.


Di dalam mobil, dia nampak menghubungi seseorang. Sebuah earphone ia selipkan ke telinganya, dan mengetuk benda tersebut hingga menyala.


“Apa persiapannya sudah selesai?” tanya Ardiaz.


“Hampir. Sepertinya timing kita sangat tepat,” ucap orang di seberang.


“Apa maksudmu?” tanya Ardiaz.


“Kau kemarilah. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu langsung. Charlie pun ada di sini. Aku ada ditempat biasa,” seru orang di seberang.


“Baiklah. Aku ke sana sekarang juga,” sahut Ardiaz.


Dia pun memutus sambungan dan segera menuju ke tempat yang ditentukan.


Pria itu terlihat menuju ke arah pinggiran Kota Willow. Daerah dengan pantai bertebing karang yang curam, namun juga memiliki sisi keindahan yang tak bisa diabaikan.


Jalanan menuju ke tempat tersebut hanyalah sebuah jalanan kecil yang melintasi hutan pinus, yang kini hampir sepenuhnya telah berubah warna, dan bahkan sebagian besar telah tak berdaun.


Ardiaz menuju ke sebuah tempat, di mana terdapat sebuah mercusuar tua yang berdiri di tepi tebing karang paling tinggi, dan dikelilingi oleh hutan di wilayah utara Kota Willow.


Pemandangan laut dari sana benar-benar luar biasa. Meski begitu, bila terjatuh dari ketinggian tersebut sudah pasti tidak akan selamat, mengingat puluhan karang tajam di bawah sana yang siap menghancurkan apapun yang jatuh ke sana.


Pria itu melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan mercusuar tersebut.


Dia langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Di dalam sana ada sebuah tangga melingkar, yang menuju ke puncak mercusuar.


Sesampainya di atas, dia melihat dua orang tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Satu diantaranya tengah mengutak-atik sebuah perangkat lunak persegi di tangannya, dan yang lainnya terlihat mengelap senjata yang berjejer rapi di depannya.


“Ada info apa kali ini?” tanya Ardiaz langsung.


Pria itu bahkan langsung duduk di sofa rusak yang ada di sana. Tampak beberapa bagian telah terkelupas dan bahkan pegas yang ada di dalamnya pun muncul keluar.


Dia pun meraih sekotak rokok lengkap dengan pemantiknya, dan menyelipkan sebatang di bibir.


“Sepertinya kita tidak bisa menundanya lagi,” ucap Jordan, yang sejak tadi sibuk dengan gadgetnya atau yang lebih tepat perangkat hakcernya.


“Ku dengar kakakmu sudah sadar semalam. Apa kau benar-benar akan meninggalkannya bersama istrimu?” tanya Mac duff yang juga ada di sana.

__ADS_1


“Biarkan mereka menyelesaikan masalah di antara mereka. Itu bukan urusanku. Aku hanya harus menemukan siapa orang di balik semua ini. Aku juga ingin tahu, apa semua ini benar-benar ada hubungannya dengan kematian keluargaku,” jawab Ardiaz.


Pria itu terlihat telah berhasil menyalakan rokoknya dan mulai mengepulkan asap beracun ke udara di sekitarnya.


“Apa kau tak takut istrimu akan kembali menjalin hubungan dengan kakakku lagi?” sindir Mac Duff.


“Cukup omong kosongnya. Sebaiknya kau katakan apa yang kau maksud di telepon tadi,” seru Ardiaz kesal.


Namun, Mac Duff justru tergelak melihat reaksi Ardiaz yang kesal. Begitu pun Jordan yang tersenyum samar menyaksikan hal tersebut.


Sang penjual serba ada itu pun kemudian bangun dan berjalan menghampiri Ardiaz, yang menikmati hisapan nikotinnya.


“Delta menemukan sesuatu saat dia bermain-main di sebuah tempat. Entah wanita mana yang dia ajak bermain sampai mendapatkan informasi yang begitu hebat,” sindir Jordan dengan sudut bibir yang naik ke atas.


Namun, yang disindir hanya terkekeh sambil terus mengusap senjatanya hingga nampak mengkilap.


Jordan pun kemudian menunjukkan sesuatu di layar macbook nya kepada Ardiaz. Sebuah sistem log in ke suatu aplikasi permainan.


“Lucifer?” gumam Ardiaz saat melihat lambang yang ada di bagian atas sistem log in tersebut.


“Kau benar. Ini Lucifer. Kelompok besar dunia bawah. Ku dengar, mereka akan mengadakan lelang yang selalu berlangsung setiap lima tahun sekali. Apapun bisa menjadi barang lelang mereka, bahkan nyawa manusia sekalipun,” ucap Jordan.


“Lalu hubungannya dengan rencana kita?” tanya Ardiaz.


“Menurut seorang wanita cantik yang begitu puas dengan sobat kecilku, di pelelangan itu akan ada sebuah kalung cantik dengan permata besar berwarna biru, atau yang terkenal dengan blue ocean. Kau pasti ingat benda itu bukan,” ucap Mac Duff.


“Tentu. Itu kalung ibuku. Sudah sangat lama benda langka itu menghilang,” sahut Ardiaz datar.


“Tepat. Benda itu sudah lama menghilang. Tapi kenapa baru muncul sekarang dan justru di pelelangan dunia bawah. Bukankah itu berarti, selama ini pencurinya lah yang menyimpan benda tersebut,” timpal Mac Duff.


“Peraturan di Lucifer masih sama sejak dulu, yaitu siapa yang mendaftarkan barang untuk dilelang, maka dia harus ikut serta dalam lelang itu. Dengan kata lain, kita bisa mencari petunjuk siapa pemilik kalung itu di sana,” sambung Jordan.


“Ada satu lagi,” ucap Mac Duff.


Kemudian, pria yang jago bela diri itu nampak meletakkan senjatanya di atas meja, dan berbalik ke arah kursi kayu di dekatnya.


dia mengambil jaketnya dan meraih sesuatu dari dalam saku. Terlihat selembar kertas tebal, dan dibawanya kepada kedua temannya itu.


“Apa kalian masih ingat orang ini? Aku yakin Charlie masih ingat dengan pria ini,” ucap Mac Duff.

__ADS_1


Jordan terlihat terkejut saat melihat orang di dalam foto itu. Dia pun menoleh ke arah Ardiaz, namun pria itu terlihat diam dengan wajah datarnya.


Dia terus melihat potret yang ditunjukkan oleh Mac duff pada mereka berdua.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, tepatnya perusahaan Hera grup, Evangeline terlihat sedikit tidak fokus dalam bekerja. Sonia bahkan beberapa kali harus mengulang penjelasnnya, dan membuat wanita berambut pendek itu mendesah kesal.


“Ah... Maafkan aku, Nona Sonia. Sepertinya aku agak lelah. Kemarin malam aku tidur agak larut, sehingga pagi ini bangun dengan sedikit pusing. Apa kita bisa istirahat dulu?” ucap Evangeline.


“Tentu, Nona. Anda bisa beristirahat sekarang. Kita bisa lanjutkan saat Anda sudah merasa lebih baik,” sahut Sonia.


Sonia pun terlihat membereskan semua berkas dan berjalan keluar ruangan. Evangeline belum tahu bahwa Sonia pun mengenal Aaron. Mungkin di perusahaan tersebut, hanya Ardiaz lah yang tahu hubungan mereka di masa lalu.


Gadis itu sama sekali tak tahu bagaimana Aaron di luaran sana. Dia hanya melihat pria itu dari satu sisi, hingga hanya ada kebaikan dimatanya.


Sampai saat dia tahu kebenarannya, rasanya benar-benar sakit dan sulit untuk ia abaikan.


Saat ini, Evangeline masih memikirkan kata-kata Ardiaz. Pria itu tak pernah bicara omong kosong, apalagi hanya untuk membujuknya.


Ardiaz adalah pria yang kasar, terkenal kejam dan keras kepala. Meski begitu, loyalitasnya terhadap sang ayah tak bisa diragukan. Bahkan saat kakaknya sendiri melakukan kesalahan, dia tetap membela tuanya.


Evangeline terlihat melamun, namun dalam kepalanya, dia tengah berpikir keras apa yang harus ia lakukan pada Aaron, pria yang sudah menghancurkan kepercayaan dan cintanya.


Setelah beberapa saat dia bergulat dengan pikirannya sendiri, gadis itu pun akhirnya bangun dari duduknya dan berjalan keluar.


Saat dia berjalan meninggalkan ruangan, beberapa pengawal langsung mengikutinya dan memberi penjagaan.


“Kita kembali ke rumah sakit sekarang,” seru Evangeline.


“Baik, Nona,” sahut salah satu pengawal.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2