They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Menyamar


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, saat sedang membeli sesuatu di swalayan, Evangeline melihat iring-iringan mobil yang menuju ke belakang bangunan sky night.


Dia pun segera berlari ke sana tanpa memberitahu Joy yang masih berada di dalam mobil.


Dari teropong jarak jauhnya, gadis berambut pendek itu melihat sang teman berlari ke arah klub, dan dia pun segera menyusul ke sana.


Evangeline tiba lebih dulu di ujung gang yang berada dekat dengan pintu belakang klub malam. Namun langkahnya terhenti, karena di sana banyak orang-orang bertubuh besar dengan pakaian serba hitam yang tengah berjaga-jaga.


Dia pun hanya bisa bersembunyi di balik tembok bangunan sebelah, sambil memperhatikan kondisi sekitar


"Aku tak mungkin bisa masuk ke dalam lewat pintu ini. Mereka pasti akan curiga,” gumamnya.


Saat dia sedang mengintai, tiba-tiba Joy menepuk pundaknya dari belakang, membuat Evangeline nyaris menjerit. Beruntung dia langsung mengulum bibirnya rapat, hingga tak ada suara yang keluar.


Dia akhirnya hanya bisa memukul lengan Joy dengan kesal, lalu mengusap-usap dadanya, mencoba menenangkan keterkejutannya.


“Sedang apa kau di sini, hah?” tanya Joy yang meringis kesakitan.


“Aku melihat mereka datang, jadi aku kemari,” sahut Evangeline.


Gadis berambut sebahu itu mencoba melongok ke arah pintu belakang sky night, dan melihat banyak pengawal berjaga di sana.


“Apa kau melihat siapa yang datang tadi? Apa itu benar-benar suamimu?” tanya Joy.


Evangeline menggeleng.


“Lalu?” tanya Joy lagi.


“Maka dari itu aku harus masuk dan memeriksanya sendiri. Tapi sepertinya ini tidak akan mudah,” ucap Evangeline.


Joy nampak diam berpikir, sementara Evangeline terus memperhatikan sekitar.


“Ah... Benar. Aku punya ide,” ucap Joy tiba-tiba.


Dia lalu menarik temannya itu kembali ke mobil mereka. Joy kemudian menelpon seseorang dengan ponselnya.


“Benar. Kami pesan tiga porsi dan kirim ke alamat tadi ya,” ucap Joy.


Dia pun kemudian mematikan panggilan. Evangeline melihat dengan penuh tanya. Keningnya bahkan berkerut dengan alis yang nyaris bertaut.


“Kenapa kau malah memesan makanan? Kita kesini untuk mengintai, bukan makan-makan,” ucap Evangeline kesal.


“Ini adalah ide yang ku katakan tadi,” jawab Joy.


Evangeline semakin tak paham dengan maksud temannya itu.


“Kita tidak akan makan makanan tadi. Tapi kita butuh semua itu untuk bisa masuk ke sana,” jelas Joy.


“Maksudmu?” tanya Evangeline.


“Salah satu dari kita akan menyamar menjadi kurirnya. Di klub itu sering menerima layanan pesan antar dari luar, dengan harga jual kembali dua kali lipat. Ini layanan khusus pengguna ruang VIP,” ungkap Joy.


“Benarkah? Jadi ada cara seperti ini rupanya,” sahut Evangeline tak menyangka.


“Ehm... Tapi masalahnya sekarang, siapa yang akan masuk ke sana. Kita hanya bisa pilih satu orang saja,” tutur Joy.

__ADS_1


“Biar aku,” jawab Evangeline cepat.


Joy menoleh ke arah temannya dan melihat keseriusan di wajah istri Ardiaz itu.


“Apa kau yakin? Di sana jadi sangat berbahaya semenjak kita mengejar suamimu, yang ternyata adalah salah satu anggota Lucifer,” timpal Joy.


Evangeline meraih kedua tangan Joy, dan mencoba meyakinkan sahabatnya itu.


“Serahkan padaku. Aku janji akan langsung keluar jika semuanya menjadi kacau,” bujuk Evangeline.


“Tapi...,” sanggah Joy.


“Aku mohon, hem,” sela Evangeline cepat.


Joy sekilas nampak ragu. Namun melihat tekad Evangeline yang kuat dengan kilatan mata yang penuh keyakinan, membuatnya mengijinkan meski dengan kekhawatiran.


Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor dengan bertuliskan salah satu nama restoran sushi yang cukup terkenal, menghampiri mobil mereka.


Evangeline menurunkan kaca mobilnya dan Joy langsung menanyakan apa itu adalah pesanannya tadi. Sang kurir pun mengiyakan.


Kedua gadis itu lalu turun dari mobil, dan terjadilah transaksi.


Joy mengatakan pada sang kurir untuk meminjamkan sepeda motor, jaket serta helmnya kepada mereka, dan sebagai gantinya mereka berdua akan membayarnya seharga paket itu perjam.


Awalnya kurir tadi merasa keberatan karena itu bukan motor miliknya, dan lagi dia harus kembali sesegera mungkin sebelum bosnya marah.


“Baiklah. Bagaimana kalau 2x lipat perjamnya. Kau bisa beralasan sesuatu pada bos mu itu bukan?” cecar Joy.


Gadis itu terlihat begitu berani dalam tawar menawar ini. Evangeline yang memang tak biasa dengan hal seperti ini pun hanya bisa diam dan memperhatikan.


Akhirnya setelah perdebatan yang cukup sengit, sang kurir mengiyakan akan tetapi dia meminta imbalan 3x lipat perjamnya.


Rupanya sang sahabat sudah sangat tidak sabar untuk segera masuk ke dalam.


Sementara Evangeline melakukan penyamaran, Joy duduk di dalam mobil, dan kurir tadi menunggu di depan swalayan.


Motor layanan pesan antar Evangeline pun kini telah berbelok di tikungan dan sampai di depan pintu belakang sky night.


Meski gugup, akan tetapi dia berusaha bersikap senatural mungkin. Dia mengambil pesanan di dalam box belakang, kemudian membawa menuju ke pintu masuk.


Seorang pengawal menahannya dan meminta Evangeline untuk membuka kaca helm.


“Aku datang membawa pesanan,” ucap Evangeline sambil menunjukkan benda di tangannya.


Salah satu pengawal maju dan memeriksa benda tersebut, lalu membuka untuk memastikan isinya.


Setelah melihat dan merasa tak ada yang aneh, dia memerintahkan pengawal lain untuk memeriksa tubuh Evangeline.


Gadis itu seketika menyilangkan kedua lengannya di depan dada, karena takut mereka akan merabanya.


“Hei, Tuan. Aku ini seorang gadis. Jangan kurang ajar ya. Lagipula aku tidak membawa apapun di tubuh ku,” seru Evangeline ketus.


Gadis itu lalu dengan ketus meraih kotak sushi dari pengawal dengan cepat, dan meminta mereka untuk memberi jalan.


Alhasil, kini gadis tersebut sudah berada di dalam klub malam. Dia menyerahkan sekotak sushi kepada pelayan yang berpapasan dengannya.

__ADS_1


“Ah... Maaf, tadi ada yang menelpon memesan sushi kami,” ucapnya.


“Oh, baiklah. Berikan padaku saja. Kau bisa menunggu uangnya di sana,” seru si pelayan sambil menunjuk ke arah kursi tunggu yang ada di dekat dapur.


“Baiklah. Oh, iya. Apa aku bisa meminjam toilet kalian?” tanya Evangeline sopan.


“Silakan di sebelah sana,” sahut si pelayan.


Evangeline hanya berterima kasih dan pelayan tersebut pun masuk ke dalam membawa sushi itu.


Setelah si pelayan menghilang, Evangeline melepas helm dan meletakkannya di dekat kursi, lalu dia dengan segera pergi menuju ke arah lorong VIP.


Menurut Joy, anggota Lucifer yang datang dengan pengawalan seketat itu, bisa dipastikan adalah orang penting, dan sudah barang tentu jika mereka saat ini ada di salah satu ruangan VIP.


Namun permasalahannya adalah, ruang VIP di sana tidak hanya satu. Jika pun bisa ketemu, pasti ada pengawal juga yang menjaga di sana.


Evangeline tak peduli. Sekalipun dia harus menerobos masuk, dia harus bertemu dengan Ardiaz bagaimana pun caranya.


Gadis itu terus berjalan hingga tiba di lorong temaram, dengan beberapa wanita yang berpakaian seksi terlihat berada di sekitar sana.


Mereka tak peduli dengan keberadaan Evangeline yang berjalan ke sana. Mereka hanya melirik sekilas, memindai penampilan gadis yang berpakaian tak sesuai tempatnya itu.


Dia terus berjalan sambil memperhatikan sekitar. Saat dia tiba di depan sebuah pintu, gadis itu akan berpura-pura mabuk dan memastikan siapa saja orang-orang yang ada di dalamnya.


Jika yang dicari tak ada, maka dia akan berdalih bahwa telah salah masuk ruangan. Begitu juga di ruangan lain yang sudah bisa dia lewati.


Sekitar lima ruangan di bagian bawah sudah berhasil diperiksanya. Kini tinggal ruangan yang ada di lantai atas.


Saat Evangeline menaiki anak tangga, dia bisa melihat beberapa pengawal berdiri saling berhadapan, sedang menjaga dua ruangan berbeda.


Pasti di dalam ada sesuatu, batinnya.


Dia pun kembali turun, dan bersandar pada dinding di belakangnya. Beberapa kali dia menghirup nafas dalam-dalam, mencoba memberanikan diri untuk masuk ke sana.


Setelah beberapa saat, Evangeline pun menoleh ke atas dengan sorot mata penuh keyakinan.


Dia mengepalkan kedua tangan dan menekuknya ke atas.


Aku pasti bisa, ucapnya dalam hati.


Gadis tersebut kemudian kembali melangkah dengan mantap, namun ketika sudah menjejakkan kaki di lantai itu, tiba-tiba dia berjalan sempoyongan, selayaknya orang yang sedang mabuk.


Dia berjalan sembari berpegangan pada dinding yang ada di dekatnya. Saat sampai di depan para pengawal di sana, dia berpura-pura tak melihat dan melewati begitu saja para pengawal itu.


Secepat kilat, dia sudah meraih gagang pintu dan membukanya secara tiba-tiba, hingga dia pun berhasil masuk ke dalam.


“Hai... Semua...,” ucap Evangeline pada orang-orang di dalam sana.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2