They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Aku merindukanmu, Diaz


__ADS_3

Ardiaz berjalan sambil memapah Mac duff ke dalam sebuah ruangan VIP di klub malamnya, karena pria itu berkata bahwa dia memiliki janji dengan seorang wanita.


Namun, saat keduanya memasuki ruangan tersebut, Ardiaz terkejut dengan apa yang dilihatnya, dan seketika mendorong Mac duff keluar sementara dia sendiri justru masuk lalu mengunci pintunya dari dalam.


Tepat di atas sofa nan empuk di depannya, nampak seorang wanita tengah menggeliat tak jelas seolah tengah kepanasan.


Pakaian seksinya pun bahkan hampir lepas karena kelakuan wanita itu yang terus bergerak, dan bahkan menurunkan tali bahunya, hingga dadanya yang padat nyaris menyembul keluar.


Memang sudah menjadi hal biasa melihat pemandangan seperti itu di tempat tersebut. Namun yang menjadi masalahnya, wanita itu tak lain adalah istrinya sendiri, Evangeline Hemacandra, sehingga membuat Ardiaz mendorong Mac duff keluar.


Dia pun kemudian segera melepas jaketnya dan berjalan ke arah sofa. Ardiaz menutupi tubuh mulus sang istri tersebut dengan benda tersebut.


Namun karena merasa kepanasan dan tak nyaman, Evangeline pun menarik jaket tersebut dan membuangnya begitu saja ke lantai.


Ardiaz lagi-lagi mengambil jaketnya dan menutupi tubuh yang hampir telanjang itu. Akan tetapi lagi-lagi gadis itu terus melempar jaketnya ke sembarang arah hingga membuat Ardiaz benar-benar kesal.


Dia kembali mengambil jaket itu dan menutupi lagi sang istri untuk kesekian kali.


“Jika kau buang lagi, malam ini juga akan ku kirim kau pulang ke rumah ayahmu,” ucap Ardiaz dengan suara yang benar-benar terdengar dingin.


Mendengar ucapan Ardiaz itu, Evangeline yang sejak tadi memejamkan mata sambil terus bergerak gelisah dan mengeluh panas, perlahan membuka mata.


Tatapannya kabur, bahkan kelopaknya pun tak terbuka sepenuhnya. Namun, seolah tau siapa yang ada di depannya, dia tersenyum dengan sebelah sudut bibir yang terangkat ke atas.


“Waaahhh... Apa aku sedang melihat hantu? Hantu... Uhhhh... Hantu... tapi hantunya tampan juga, hek,” racau Evangeline.


Dalam pengaruh alkohol, sekilas dia bisa melihat sosok Ardiaz di depannya, akan tetapi dia tak sadar jika itu benar-benar suaminya dan bukan bayangan yang terbentuk di alam bawah sadarnya.


Ardiaz kemudian meraih tas milik sang istri dan mencoba mengambil ponsel, namun Evangeline tiba-tiba bangun dan merebut benda pipih itu dari suaminya.


PRAAAKK!!!


Evangeline membuang ponselnya entah kemana, dan membuat Ardiaz semakin geram.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan, hah?” teriak Ardiaz.


“Apapun itu, aku tau kau hanya ingin menghalangiku untuk mencari suamiku. Benar, bukan?” ucap Evangeline di tengah mabuknya.


Ardiaz membeku saat mendengar gadis itu memanggilnya dengan sebutan suami. Raut wajah merah padam karena emosinya tadi pun kini perlahan menghilang, dan berganti dengan rasa aneh yang tiba-tiba membuat dadanya berdesir.


“Aku tahu dia masih hidup. Suamiku baik-baik saja. Aku melihatnya... Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri, Malcolm. Kau tak bisa membohongiku lagi,” pekik Evangeline.


Ardiaz semakin terkejut mendengar perkataan Evangeline. Dia tak menyangka jika gadis itu begitu yakin dia masih hidup, setelah semua usahanya agar Evangeline dan semua orang percaya bahwa dia sudah mati.


Bahkan dia sampai rela menahan rindunya untuk bertemu mereka semua demi terus berpura-pura mati, agar tak ada yang terlibat dalam masalah yang saat ini dihadapinya.


Sementara di sisi Evangeline, gadis itu yang benar-benar di bawah pengaruh alkohol, sejenak seperti melihat Ardiaz di depannya, namun sejenak kemudian dia seperti melihat orang yang berbeda.


Melihat istrinya sudah sangat mabuk, dan rasa aneh yang tiba-tiba muncul di hatinya, membuat pria itu tak bisa lagi menghadapi Evangeline.


Dia pun memutuskan untuk membawa gadis itu ke dalam ruangan yang berada di sebelah, di mana terdapat sebuah ruangan yang mirip dengan kamar hotel bertipe president suite, yang selalu dipesan oleh pelanggan VIP.


Dia berpikir bahwa untuk saat ini yang terbaik adalah membiarkan Evangeline tidur hingga esok pagi, dan pergi diam-diam setelah membaringkannya di atas tempat tidur.


Namun saat dia berhasil digendong, tiba-tiba saja Evangeline diam dan bahkan perlahan melingkarkan lengannya di leher sang suami.


"Aku merindukanmu, brengs*k," gumam Evangeline lirih.


Seketika, Ardiaz membeku mendengar perkataan lirih yang keluar dari mulut sang istri. Entah kenapa hatinya semakin sakit saat mendengar pernyataan rindu dari istrinya sendiri.


Matanya pun memerah dan mulai panas, bahkan lapisan bening tipis mulai terbentuk di matanya.


Dalam kegalauan hatinya, Ardiaz kembali bergerak. Dia mengangkat tubuh ramping sang istri dengan hati-hati, dan membawanya ke ruangan istirahat.


Dia bahkan membiarkan Evangeline memeluknya erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut.


Dia melihat sekilas wajah gadis di gendongannya. Evangeline nampak begitu damai dan nyaman bersandar di dada bidangnya.

__ADS_1


“Ardiaz,” panggilnya


Sontak hatinya kembali berdesir kala bibir tipis itu mengucapkan namanya dengan begitu lembut, dan terdengar penuh kerinduan.


Gadis itu tampak masih memejamkan matanya, dan terus menggosokkan kepala di dada sang suami.


Namun sejurus kemudian, Ardiaz kembali tersadar dari perasaan aneh yang menguasainya, dan kembali berjalan ke arah tempat tidur besar di depan.


Dia meletakkan tubuh sang istri di atas tempat tidur secara perlahan, dan dengan hati-hati melepaskan diri darinya.


Namun tiba-tiba, Evangeline mengangkat kepalanya, mendekat ke wajah Ardiaz dan semakin mengeratkan rangkulannya di leher Ardiaz, membuat pria itu kembali membungkuk dan bahkan menindih tubuh istrinya itu.


Evangeline benar-benar erat memeluk leher Ardiaz hingga pria itu kesulitan untuk melepaskan diri, meski matanya masih tetap terpejam.


“Aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi, Brengs*k. Aku sangat kesepian. Kau benar-benar jahat, Diaz,” ucap Evangeline lirih tepat di dekat telinga Ardiaz.


Hal itu membuat Ardiaz membeku dan urung untuk kembali meronta. Ditambah, bahu Evangeline yang terasa berguncang membuat hatinya semakin tak karuan.


Pelipisnya pun terasa basah oleh sesuatu. Meski tak bisa melihatnya, namun Ardiaz yakin jika itu adalah air mata sang istri.


Helaan nafas panjang dan berat seolah mewakili seluruh ungkapan yang tak bisa Ardiaz ucapkan saat ini.


Perasaannya kacau balau akibat kemunculan gadis itu di depannya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2