They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Panggilan dari dua wanita


__ADS_3

Sore harinya, Morita masih terlihat berada di teras. Dia terus menunggu Aaron yang saat ini masih terbaring di rumah sakit.


Wanita itu bahkan beberapa kali menolak ajakan pelayannya untuk masuk, karena udara semakin dingin menjelang malam.


Hingga matahari terbenam sepenuhnya pun, belum ada kabar dari sang kekasih sejak tiga hari yang lalu.


Morita enggan untuk tidur di kamarnya. Setiap malam sejak kepergian Aaron, dia selalu tidur di depan perapian yang berada di ruang tengah. Tempat yang hangat, dimana dirinya dan Aaron sering menghabiskan waktu bersama dengan penuh keromantisan mereka.


Perasaannya semakin tak tenang, seiring naiknya bulan ke atas langit. Dia kembali berdiri dan berjalan ke arah teras, berharap sang pujaan hati datang menemuinya.


Hingga malam semakin larut dan jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, Morita tak bisa lagi tinggal diam.


Wanita itu pun memberanikan diri menghampiri salah satu anak buah Ardiaz yang terlihat seperti pemimpinnya.


“Tuan, aku ingin bicara dengan ketua kalian. Tolonglah, biarkan aku bicara sebentar dengan Ardiaz,” pinta Morita.


Si pengawal nampak bingung dengan permintaan dari wanita itu. Morita terlihat begitu menyedihkan. Lingkar matanya hitam tanda bahwa dia tak cukup tidur. Kulitnya pucat karena terlalu lama berada di tengah udara yang dingin.


Ditambah dia tahu bahwa tahanannya itu dalam kondisi mengandung. Namun, perintah Ardiaz begitu tegas, hingga dia pun tak bisa membantahnya.


“Tuan, tolonglah,” pinta Morita sekali lagi.


“Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa melakukan apa yang Anda minta. Ini sudah menjadi perintah dari . Sebaiknya Anda kembali ke dalam saja,” sahut si pengawal.


“Tolonglah, Tuan. Setidaknya, tanyakan padanya bagaimana kondisi Aaron sekarang. Aku hanya perlu tahu kabarnya saja. Tolonglah,” ratap Morita.


Wanita itu bahkan merendahkan harga dirinya, dengan memohon belas kasihan dari seorang pengawal. Dia bahkan membungkuk sembari menangkupkan kedua telapak tangannya seraya memohon.


Pengawal itu pun hanya bisa menghela nafas berat, saat melihat keteguhan hati Morita.


“Baiklah. Hanya mengetahui kabar Tuan Aaron bukan. Akan coba saya tanyakan,” ucap si pengawal.


Pengawal itu pun lalu meraih ponsel dari sakunya. Dia melakukan panggilan ke sebuah kontak yang diberi nama big boss, sebutan untuk para pengawal Hemachandra kepada Ardiaz.


Beberapa kali dering berbunyi, dan Ardiaz baru mengangkatnya pada deringan ke lima. Namun, saat si pengawal baru saja hendak membuka mulut, Morita tiba-tiba merebut ponsel tersebut dan menempelkannya ke telinga sendiri.


“Diaz, ini aku, Morita,” ucap Morita.


Ardiaz di seberang sana langsung mengusap keningnya, seraya menyingkirkan rambut bagian depannya yang menutupi dahi.


Dasar pengawal b*doh, umpatnya dalam hati.


“Diaz, aku tau kau mendengarku. Aku hanya ingin tahu kabar Aaron saja. Tolong katakan padaku, Diaz. Tolonglah,” pinta Morita.

__ADS_1


Helaan nafas berat terdengar dari mulut Ardiaz. Uap air pun terlihat jelas di udara, karena betapa dinginnya udara malam ini.


Dia nampak berkacak pinggang dengan sebelah tangannya yang bebas, dan beberapa kali dia berbalik menghadap ke arah lain, namun kembali ke arah sebelumnya.


“Diaz...,” panggil Morita.


“Dia koma,” ungkap Ardiaz.


Tiba-tiba, di seberang terasa hening. Morita tak lekas menjawab. Wanita itu merasa amat terkejut dengan penuturan adik dari sang kekasih.


“Ko... koma? Ap... apa ma... maksudmu koma?” tanya Morita terbata.


“Kau hanya ingin tau kabarnya saja kan? Aku sudah memberitahumu tentang kondisi kakakku. Jadi, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” ucap Ardiaz.


“Diaz, tunggu. Aku mohon jangan tutup dulu teleponnya,” sela Morita cepat.


Diaz diam dengan ponsel yang mengambang di udara. Dia tadinya hendak langsung memutuskan sambungan teleponnya, namun Morita kembali memohon padanya.


“Diaz, aku tahu kau marah padaku karena berada di pihak kakakmu. Tapi aku tak bisa membiarkan dia sendiri menjalankan misi balas dendamnya. Jujur aku ragu kalau semua ini benar. Hanya saja, tekad Aaron begitu kuat, hingga aku hanya bisa mendukungnya meskipun aku juga takut bahwa apa yang dia percaya selama ini ternyata salah."


"Bahkan sampai sekarang pun, aku tak tahu apakah yang dilakukan Aaron benar atau tidak. Tapi yang jelas, ijinkan aku untuk terus berada di sampingnya. Aku mohon, Diaz. Aku mohon padamu. Biarkan aku menemaninya,” pinta Morita.


Meski saat ini status Morita adalah komplotan Aaron, akan tetapi pria itu pun tahu betul bahwa Morita bukanlah wanita liar yang mampu berbuat sejauh itu, jika bukan karena alasan yang kuat, dan alasannya adalah demi sang kakak.


“Diaz, tolong biarkan aku menemaninya. Aku mohon,” pinta Morita.


“Tolong berikan ponselnya pada anak buahku, Nyonya,” seru Ardiaz.


“Tapi, Diaz...,” sanggah Morita.


“Sekarang,” sela Ardiaz cepat dengan suara yang tegas.


Morita pun tak lagi berkata. Tangannya turun menjauhkan ponsel dari telinganya. Dengan perasaan hancur, wanita itu mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


Dia berbalik dan berjalan ke arah rumahnya. Si pengawal pun menempelkan ponselnya ke telinga, dan mencoba menjelaskan kejadian ini pada Ardiaz.


“Halo, Tuan. Maaf tadi...,” ucapnya.


“Antarkan dia ke rumah sakit sekarang juga,” seru Ardiaz.


“Ya?” tanya si pengawal terkejut hingga tak mendengar dengan jelas.


“Antarkan Nyonya Morita ke rumah sakit sekarang. Dia ingin bertemu dengan kakakku,” jelas Ardiaz.

__ADS_1


Pria itu pun segera menutup teleponnya, bahkan sebelum si pengawal sempat menjawab.


Pengawal tersebut mengejar Morita dan memberitahukan kabar baik dari Ardiaz tadi. Morita terlihat begitu senang hingga dia tak terpikirkan untuk mengganti pakaian.


Dia pun segera menuju mobil dan minta diantarkan ke rumah sakit, hanya dengan mengenakan pakaian rumahan, yang dibalut dengan mantel wol.


...❄❄❄❄❄...


Sementara di tempat Ardiaz, di atap gedung rumah sakit, pria itu berjalan ke arah perapian yang telah dibuat oleh rekan-rekannya sebelumnya, agar bisa menghangatkan kondisi sekitar.


“Hei, Diaz. Ada apa dengan wajahmu hah? Apa ada masalah?” tanya Jordan.


“Mungkin istri kecilnya merengek minta bertemu. Ah benar... teman kita ini benar-benar brengs*k. Menikah tapi bahkan tak ada pesta perayaan,” timpal Mac Duff.


“Kau benar. Bagaimana kalau malam ini kita berpesta sampai pagi. Hitung-hitung sebagai ganti pesta lajangnya yang terlambat,” sahut Jordan.


“Setuju. Ayo kita minum sepuasnya hingga pagi,” ucap Mac Duff.


Keduanya pun terlihat kembali bersulang dan meneguk alkohol masing-masing. Sementara Malcolm lebih memilih diam.


Memang di antara mereka berempat, Malcolm lah yang lebih dewasa. Ditambah pekerjaannya yang adalah seorang dokter, menuntutnya memiliki sifat yang tenang, terlebih saat menghadapi situasi darurat yang sering terjadi di rumah sakit.


Dia meneguk minumannya sendiri sambil sesekali memperhatikan ekspresi Ardiaz. Dia tahu bahwa saat ini, pria itu pasti sedang dalam suasana hati yang kurang baik, dan itu berkaitan dengan kondisi kakaknya.


Saat Jordan dan Mac Duff menikmati pesta atap mereka, lagi-lagi dering ponsel Ardiaz membuat perhatian semuanya teralihkan.


Bahkan Ardiaz pun tak lantas mengangkat panggilan tersebut. Dia terlihat menghela nafas terlebih dulu, sebelum akhirnya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Di sana tertulis Kediaman Tuan Besar, yang berarti panggilan kali ini ada hubungannya dengan Evangeline.


Dia pun menggeser tombol hijau ke kanan dan baru saja mendekatkan benda tersebut ke telinganya, akan tetapi sudah langsung diserbu boleh sebuah pertanyaan, hingga pria itu pun menjauhkan kembali benda pipih itu.


“Hei brengs*k, katakan dimana kau menyembunyikan ayahku!” seru suara dari seberang, yang tak lain adalah milik Evangeline.


Ardiaz hanya mampu memejamkan mata mendengar perkataan Evangeline dengan nada yang tak ramah di telinga.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2