
Sore hari, Evangeline telah selesai dengan tugas hari pertamanya di Merciful. Dia pun memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen, dan selanjutnya bersiap ke misi berikutnya, yaitu mengintai sky night.
Sudah beberapa pekan hal itu menjadi aktifitas hariannya. Namun kali ini, dia akan mengajak Joy untuk menemaninya mengintai.
Dia tak mungkin melakukannya seorang diri, karena Evangeline harus bersiap kembali ke Merciful pagi harinya.
Joy mengajukan diri membantu sang sahabat, karena kebetulan dia tak memiliki tugas yang terlalu menguras fokusnya. Sehingga dia bisa tidur subuh dan bangun siang hari, lalu pergi ke akademi untuk belajar.
Setibanya di apartemen, Joy langsung berlari menghampiri sang sahabat yang baru saja masuk dan hendak menutup pintu.
“Evaaa...,” panggilnya seraya berlari.
Evangeline pun menoleh. Karena berlarian, Joy hampir saja menabrak sahabatnya, jika saja Evangeline tak segera mengulurkan tangannya dan menahan wajah Joy tepat di telapak tangan.
“Apa yang kau lakukan, hah? Ini bukan lapangan. Kenapa juga kau harus berlarian seperi tadi?” gerutu Evangeline.
Istri Ardiaz itu nampak kelelahan. Dia melepas tas selempangnya dan melempar begitu saja ke sofa.
Dia pun menendang kedua sepatu heels-nya ke sembarang arah dan duduk bersandar dengan kepala yang mendongak ke atas.
“Apa kau benar-benar melihat senior di sana? Apa itu benar-benar Ian? Ayolah. Aku sangat penasaran,” cecar Joy.
Evangeline nampak menutup mata dan menghela nafasnya kesal, mendengar pertanyaan sahabatnya yang beruntun.
“Apa kau tak mau tahu bagaimana hari pertamaku di sana, hah?” tanya Evangeline balik.
“Ah... Aku tahu kau sangat berbakat di dunia bisnis. Pasti tak ada kendala berarti bagimu bukan? Ayolah... sekarang ini masalah ketua yang lebih menarik bagiku,” tepis Joy.
Evangeline hanya bisa memutar bola matanya dan menghela nafas semakin kesal dengan kelakuan temannya tersebut.
“Setidaknya, bisakah kau ambilkan aku minum terlebih dulu. Aku huas,” pinta Evangeline dengan wajah memelas.
Tanpa menjawab, Joy pun segera beranjak dan berjalan ke arah dapur. Saat melihat Joy pergi, Evangeline kembali memutar bola matanya dan bersandar ke posisi semula.
Tak lama, Joy kembali menghampiri sahabatnya dan mengulangi pertanyaan sebelumnya.
Evangeline pun lalu menceritakan apa yang dilihatnya ketika di gedung Merciful. Tepatnya saat dia melihat keberadaan Damian di sana, berjalan beriringan bersama dengan orang-orang yang terlihat seperti eksekutif perusahaan tersebut.
“Wah... Jadi, beberapa hari ini dia menghilang, ketua sedang menyelidiki hingga ke sana,” terka Joy.
__ADS_1
Evangeline terlihat tersenyum sinis mendengar perkataan gadis berambut pendek di sampingnya.
“Sejak kapan kau selugu itu, Joy. Apa kau yakin dia sedang menyelidiki kasus ku, hah? Apa kau tak dengar yang ku katakan. Dia bersama orang-orang penting di sana. Coba kau pikir seberapa janggalnya itu,” sanggah Evangeline.
Dia kembali meminum jusnya hingga habis. Sepertinya gadis itu merasa sangat haus, setelah kegiatannya hari ini yang begitu melelahkan.
Joy nampak mengerutkan kening berpikir tentang perkataan Evangeline tadi. Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul di benaknya, dan membuat gadis itu seketika berdiri dan berlari ke arah kamar di lantai atas.
Beberapa saat kemudian, Joy kembali dengan ponsel di tangannya, serta MacBook ditangan lainnya. Dia segera duduk bersila di atas karpet, tepat di samping Evangeline.
Gadis itu nampak mengutak atika sesuatu pada layar kedua perangkat keras tersebut.
“Eva, lihatlah ini,” seru Joy sambil menepuk-nepuk lutut temannya itu.
Evangeline pun dengan malas menegakkan punggungnya dan condong ke depan, demi melihat apa yang ingin ditunjukkan oleh temannya.
“Lihatlah. Aku mengambil foto ini sudah sangat lama. Ini adalah lambang yang ada di atas laptop ketua. Aku memotretnya karena ku pikir ini sangat unik. Sekarang, coba bandingkan dengan gambar tato anggota Lucifer,” ucap Joy.
Awalnya, Evangeline nampak tak begitu tertarik dengan permainan detektif-detektifan Joy dan kelompoknya, karena menurutnya itu hal konyol.
Namun Setelah melihatnya, dia pun seketika menoleh ke arah sahabatnya tersebut. Kedua gadis itu saling pandang dengan ekspresi terkejut yang tak bisa disembunyikan.
“Ini semakin masuk akal kenapa dia bisa mendapatkan foto Ardiaz bersama dengan Mike. Itu artinya, mereka berada dalam satu kelompok yang sama,” ucap Evangeline.
Gadis yang tadinya terlihat begitu lelah itu pun seketika kembali bersemangat. Dia berdiri dan menepuk kedua tangannya.
“Ayo kita lanjutkan pengintaian di sky night. Aku yakin, pasti kita bisa mendapatkan sesuatu cepat atau lambat,” ucap Evangeline optimistis.
...❄❄❄❄❄...
Malam hari pun tiba. Tepat pukul sembilan malam, Joy dan juga Evangeline telah sampai di dekat gedung, di mana sky night club berada.
Mereka menjaga jarak agar pengintaian yang dilakukan tak mudah dicurigai. Keduanya hanya ingin memastikan apakah Ardiaz datang lagi ke tempat tersebut atau tidak.
Dia sedikit ingat jika pintu yang digunakan oleh orang yang menolongnya tempo hari adalah pintu belakang, sehingga mereka berdua pun terfokus pada pintu yang sama.
Joy terlihat sibuk dengan teropong jarak jauhnya, dan terus melihat ke arah klub malam di depan sana. Sementara Evangeline, gadis yang sudah bekerja seharian itu merasa tubuhnya meminta untuk beristirahat.
“Tidur saja dulu. Malam masih panjang dan pengintaian kita masih lama,” seru Joy.
__ADS_1
Evangeline terlihat berkali-kali menguap. Dia bahkan menggeliat meregangkan kedua tangannya ke samping dan depan.
Meski demikian, dia masih enggan untuk tidur dan memilih pergi keluar mencari sesuatu yang bisa menambah staminanya.
“Aku akan ke swalayan itu sebentar. Apa kau mau kubelikan sesuatu?” tawar Evangeline menunjuk ke seberang.
“Belikan aku espresso saja kalau ada. Aku butuh itu untuk tetap terjaga,” sahut Joy.
Tanpa menyahut, Evangeline segera menutup pintu dan meninggalkan temannya di sana. Istri Ardiaz itu pun lalu berjalan ke arah swalayan yang ada di seberang dan membeli apa yang diperlukan.
Dia nampak mengambil sebuah minuman penambah tenaga, dan juga satu botol espresso instan.
Setelah membayar, Evangeline keluar dan berdiri di depan pintu. Dia membuka tutup minumannya dan meneguk habis, berharap cairan itu bisa membantunya dan bukan hanya bualan para pengiklan saja.
Setelah itu, dia pun kembali berjalan ke arah mobilnya, dan hendak memberikan pesanan Joy.
Namun langkahnya seketika terhenti, saat melihat beberapa mobil nampak beriringan berbelok ke arah jalan kecil di mana pintu belakang sky night berada.
Dia pun berbalik dan segera berlari ke arah sana, berharap orang yang ditunggunya benar-benar datang, meski dia pun masih belum yakin siapa yang dikawal ketat tadi.
Joy yang melihat apa yang dilakukan oleh Evangeline dari teropongnya pun seketika panik.
“Bod*h. Kenapa dia langsung mengejar. Ponsel... Dimana ponselku?” ucapnya sendiri.
Dia meraih ponsel dari dalam tas dan mencoba menghubungi Evangeline. Akan tetapi, dia justru menemukan bahwa ponsel temannya masih berada di dalam mobil, dan itu membuatnya semakin cemas.
“Ah... Kenapa dia langsung lari saja. Belum tentu itu suaminya. Dasar bod*h,” gerutu Joy.
Dia pun lalu mau tak mau keluar dari mobil dan ikut mengejar Evangeline yang sudah lebih dulu pergi.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih