
Seorang pria paruh baya terlihat keluar menyambut kedatangan nona dan juga kepala pengawal yang baru saja datang.
“Selamat datang kembali, Nona Eva,” ucap Delvin sang kepala pelayan.
Melihat Delvin, Evangeline pun segera menghampirinya dan berdiri di belakang pria tersebut.
“Tuan Delvin, dia itu pembunuh. Cepat laporkan dia ke polisi. Dia telah membunuh ayahku, dan aku tak tau dimana ayahku berada saat ini. Tuan Delvin, aku mohon tolong aku,” pinta Evangeline.
“Nona, tenanglah,” sahut Delvin mencoba menenangkan Evangeline.
“Delvin, bawa nona ke kamar dan minta pelayan untuk membersihkan dia. Aku tak mau melihat istriku kotor seperti seorang pengemis,” seru Ardiaz.
Pemuda itu pun lalu begitu saja, berjalan masuk ke dalam meninggalkan semua orang, sementara Delvin justru membungkuk kepada pria muda itu.
Melihat hal tersebut, Evangeline membeku. Dia tak menyangka bahkan Delvin, pelayan setia ayahnya pun, akan dengan sekejap memihak Ardiaz yang sudah membunuh mencelakai ayahnya.
“Tuan Delvin, kau...,” ucap Evangeline tak menyangka.
Delvin pun menoleh dan melihat ke arah Evangeline. Tangannya bertepuk, memberikan sinyal kepada para maid untuk segera datang.
Tak butuh waktu lama, lima orang maid sudah menghampiri keduanya, dan siap menerima tugas.
“Bawa Nona ke kamarnya dan bersihkan dia,” seru Delvin.
“Baik, Tuan Delvin,” sahut kelima maid tersebut.
Delvin pun kemudian kembali menghadap Evangeline, sambil sebelah tangannya merentang ke samping, dan meminta gadis itu untuk segera masuk ke kamar.
“Silakan, Nona,” seru Delvin.
Evangeline benar-benar tak habis pikir. Saat ini dia tak punya siapapun yang ada di pihaknya, dan menjadi sekutunya untuk mencari keadilan atas kejadian yang menimpa sang ayah. Bahkan pelayan setianya pun memihak si pembunuh.
Dia hanya bisa mengepalkan tangan menahan rasa marah yang semakin tumbuh besar di dadanya.
Gadis itu pun berbalik dan berjalan dengan langkah kaki berat, menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya. Setelah sang nona pergi, Delvin pun menoleh melihat sang nona dari belakang, dengan tatapan mata yang sendu, seolah ada kesedihan mendalam di matanya.
__ADS_1
...❄❄❄❄❄...
Di dalam kamarnya, Evangeline duduk terdiam sambil memandangi dirinya di depan cermin. Dia duduk di depan meja riasnya, yang dulu menjadi tempat ia merias diri agar selalu tampil sempurna di depan semua orang, terlebih di depan sang pujaan hati, Aaron.
Namun kali ini, dia memandangi dirinya dengan tatapan jijik. Dia menyesali keputusannya untuk menikah dengan Ardiaz, meski dia memiliki alasan sendiri, yaitu untuk membalas dendam atas apa yang sudah terjadi.
Namun ternyata hati kecilnya terus menolak, saat dia harus menyandang gelar sebagai Nyonya Ardiaz Danurendra.
Tak berapa lama, para maid kembali menghampiri gadis itu.
“Nona, airnya sudah siap. Silakan Anda mandi terlebih dahulu,” ucap salah satu maid.
Sedangkan maid yang lain terlihat sedang mengambilkan pakaian ganti untuk nona mereka.
Tatapan Evangeline begitu dingin dan sinis, saat melihat pantulan maid itu di cermin yang ia pandangan sejak tadi.
Sebuah senyum mengejek tersungging di bibir gadis cantik itu.
“Bahkan kalian pun sudah menjadi anjing Ardiaz. Rupanya sejak lama kalian memang menargetkan ayahku. Kalian tega melakukan semua ini kepada orang yang sudah baik kepada kalian,” sarkas Evangeline.
Evangeline pun berdiri membelakangi maid tadi.
“Bukakan resleting ku,” serunya.
Maid itu pun menurut dan membantu sang nona membuka gaun yang sudah sejak semalam melekat di tubuhnya.
Gaun tersebut meluncur turun begitu saja, menyisakan pakaian dalam yang melekat di badan Evangeline.
Gadis itu dengan santainya melangkah ke arah kamar mandi dan menutup dengan keras pintunya.
Di dalam kamar mandi, Evangeline terlihat diam dan bersandar di balik pintu. Tubuhnya merosot, meringkuk memeluk kedua lututnya. Air matanya pun luruh seketika mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
“Aaron, kamu di mana? Apa kamu juga sama dengan Ardiaz yang sudah mengkhianati ayahku?” gumam Evangeline lirih di sela tangisnya.
...❄❄❄❄❄...
__ADS_1
Di tempat lain, terlihat Ardiaz tengah duduk di balik meja kerja Tuan Hemachandra. Di depannya, tampak seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Delvin, sang kepala pelayan setia di rumah tersebut.
“Apa ada kabar dari Malcolm?” tanya Ardiaz.
“Belum, Tuan. Apa Anda ingin saya melihat ke sana?” tanya Delvin balik.
“Tidak perlu. Malam ini aku akan berjaga di sana. Kau di sini saja menjaga gadis itu. Jangan sampai kakakku datang dan membawanya pergi,” seru Ardiaz.
“Baik. Apa Anda akan makan malam di sini?” tanya Delvin.
Ardiaz terdengar menghela nafas panjang. Dia seolah enggan untuk bertemu dengan Evangeline yang saat ini telah berstatus sebagai istrinya.
Matanya bahkan tertutup dengan kepala yang menengadah ke atas, bersandar pada kursi empuk itu.
Melihat hal tersebut, Delvin terlihat menarik sudut bibirnya ke belakang, pertanda prihatin dengan kondisi saat ini.
“Maaf, Tuan. Apa tidak sebaiknya Anda katakan yang sebenarnya kepada Nona Eva?” tanya Delvin.
Ardiaz sampai menegakkan duduknya dan menatap Delvin dengan tajam.
“Apa menurutmu dia akan percaya begitu saja pada apa yang aku katakan, setelah melihat kejadian semalam? Kau bahkan tau, bagaimana dia lari ketakutan, sampai tak peduli dengan hujan badai di luar sana,” tanya Ardiaz.
Delvin diam. Ardiaz pun akhirnya kembali menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata.
“Siapkan makan malam. Setidaknya aku harus memberitahu istriku, kalau dia harus menurut dan diam di rumah selama aku tak ada,” seru Ardiaz yang masih dengan mata tertutup.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih