
FALSH BACK ON
Enam bukan lalu, tepatnya saat Jordan membuat kesepakatan dengan Joker, kala itu kedua pria itu saling mengungkap identitas masing-masing, di mana sebenarnya Joker adalah mantan King di organisasi Lucifer, sedangkan Jordan atau Charlie adalah adik dari sang Emperor, yang memilih melarikan diri setelah ayahnya terbunuh dalam sebuah kecelakaan tak lazim.
Si penjual serba ada itu pergi saat usianya masih sangat muda, ditambah dia yang bisa membuat topeng wajah yang begitu sempurna untuk penyamaran, membuat orang-orang Lucifer kesulitan menemukannya selama ini.
Ketika di Magnolia, Joker sempat diperintahkan untuk memburu Jordan atas perintah Howard, karena si penjual serta hacker itu yang membuatkan berkas palsu tentang perusahaan Danurendra, yang digunakan Howard untuk menghasut Ardiaz.
Saat pengejaran itulah, Joker sempat melihat bekas luka bakar di pundak Jordan yang begitu familiar baginya.
Itu adalah bekas tato anggota dengan kedudukan tinggi di Lucifer, yang telah dihapus dengan cara membakarnya, dan Joker lah yang membantu Jordan untuk membakar kulitnya hingga tato itu hilang, dan menyembunyikan pemuda itu dari kejaran sang kakak.
Dia bahkan sampai urung melaksanakan misinya dari Howard, karena bagaimana pun juga Jordan adalah anak bosnya terdahulu, yang sempat menjadi anak asuhnya selama bertahun-tahun.
Siapa sangka, Jordan akan bertemu kembali dengan Joker ketika di acara pelelangan lima tahunan organisasi tersebut, dan membawanya pulang sebagai tawanan.
Di sanalah, keduanya kembali berbincang layaknya dua orang yang saling kenal. Jordan menutup rapat mulutnya dan tak mengatakan apapun pada Ardiaz tentang identitasnya.
Namun, sang kepala pengawal Hemachandra itu sangat pintar. Dia mampu membaca kegelisahan rekannya, hingga sampailah dia pada kesimpulan bahwa Jordan adalah tuan muda dari organisasi Lucifer.
Meski Jordan terus mengelak, namun akhirnya semua argumen Ardiaz mampu membuat pemuda itu mengakui yang sebenarnya.
Saat sedang berdua di dalam kamar, Joker mengetahui bahwa Jordan hendak menyerang markas Lucifer demi mencari dalang di balik tragedi pembantaian keluarga Hemachandra.
Pria besar itu berusaha memberitahukan betapa bahayanya bagi Jordan untuk kembali ke kota tersebut, terlebih sang kakak pasti masih memburunya demi mendapatkan sesuatu yang dibawa pergi oleh Jordan.
Namun, pemuda itu tak peduli dan mengatakan bahwa kakaknya tak mungkin mengenalinya saat ini. Jordan pun mengatakan bahwa dia telah memiliki seorang pion yang bisa melindunginya dari sang kakak.
Kedua pria itu tak sadar bahwa ada seseorang yang mendengar hal tersebut dari balik pintu. Saat Jordan selesai mengganti perban pada luka Joker, dia pun keluar dari kamar tersebut.
Namun, dia begitu terkejut melihat salah satu rekannya sudah berdiri di sana. Ardiaz tampak bersandar di samping pintu sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dengan satu kaki yang naik menapak di dinding.
Jordan pun segera menutup kembali pintu kamar Joker dan berjalan menjauh dari sana. Dia berusaha bersikap sebisa mungkin dan berbasa-basi pada rekannya itu.
"Ku kira kau tidur tadi," ucap Jordan.
Namun, Ardiaz tak pantas menjawab. Dia masih memperhatikan rekannya itu dengan tatapan yang tajam.
“Apa aku pion mu?” tanya Ardiaz kemudian yang membuat Jordan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Dia berbalik dan berusaha tersenyum ke arah pria itu.
“Apa maksudmu? Pion apa?” tanya Jordan.
Ardiaz mengurai lengan dan berjalan mendekat ke arah rekannya itu. Dengan masih menatap tajam ke arah Jordan, dia membuat mata sang hacker terus berlari dari tatapan Ardiaz.
“Apa kalung yang kau buat untuk gadis itu adalah sistem enel yang kalian maksud?” tanya Ardiaz.
“Apa maksudmu, Alpha? Sistem apa? Aku tak tau yang kau bicarakan?” elak Jordan.
Ardiaz maju dan memaksa Jordan untuk mundur dan semakin terpojok.
“Katakan? Apa rencanamu sebenarnya? Aku sudah tahu semuanya. Aku mendengar kalian bicara tentang Lucifer, kakakmu dan juga sistem itu. Jawab aku, apakah kalung itu adalah sistem yang kalian maksud?” cecar Ardiaz.
“Alpha, aku...,” ucap Jordan.
“Sistem yang bisa melacak keberadaan seseorang, sistem yang bisa menjadi kamera tersembunyi yang aktif sepanjang waktu, sistem yang bisa menyadap pembicaraan orang lain dari jarak yang sangat jauh. Sistem yang seperti sang Maha Tahu. Dan kau yang memintaku untuk mengaktifkannya di leher gadis itu."
"Aku. Akulah wajah yang tertangkap oleh sistem itu pertama kali. Aku lah pion yang akan menjadi tamengmu saat berhadapan dengan kakakmu bukan?” sela Ardiaz.
Pemuda itu begitu cerdas hingga bisa menebak semua skenario yang disusun oleh Jordan untuk menghadapi kakaknya.
Kediaman Jordan semakin membuat Ardiaz yakin, bahwa semua yang dituduhkannya adalah yang sesungguhnya terjadi.
“Apa aku belum cukup bisa dipercaya olehmu? Aku menggantungkan nasibku pada mu, bahkan Delta, si bodoh itu pun mempercayaimu,” ucap Ardiaz kesal.
Jordan tertunduk diam. Memang dia merasa bersalah kepada kedua rekannya yang seolah telah ditipu olehnya. Terutama Ardiaz yang sudah ia gunakan sebagai tamengnya tanpa tau alasannya.
Ardiaz tak lagi mendesak karena Jordan masih diam. Dia pun memilih pergi meninggalkan rekannya itu sendiri, dan membuang kesalnya.
Malam hari, Ardiaz terlihat tengah bersiap untuk menjemput Mac duff di penginapan mereka, sebelum berpindah ke pondok nelayan.
Dia keluar kamar sambil membawa jaket kulitnya. Saat itu, Jordan menghampiri dan mengajaknya bicara.
“Duduklah. Akan ku ceritakan semuanya,” ucap Jordan.
Ardiaz diam, namun dia menuruti perkataan rekannya itu. Dia masih kesal dengan sikap Jordan yang tak jujur padanya selama ini. Namun begitu, dia pun paham bagaimana hidupnya selama ini yang terus dalam ancaman, yang bisa saja membunuhnya setiap saat jika dia tak waspada.
Mungkin itulah alasan Jordan tidak mudah percaya kepada orang lain selain dirinya sendiri.
__ADS_1
Keduanya kini telah duduk berhadapan. Ardiaz nampak bersandar di kursi sedangkan Jordan membuka sesuatu dari macbook nya.
Tak lama kemudian, dia memberikan benda itu kepada Ardiaz. Adik Aaron itu hanya menegakkan sedikit punggungnya untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh Jordan.
Nampak di sana sebuah potret seorang pria muda bersama seorang anak laki-laki kecil. Pria itu terlihat tersenyum ke arah kamera, namun entah kenapa senyumnya justru terasa mengerikan.
“Dia kakakku, dan yang kecil itu aku. Aku lari dari rumah saat aku setahun lebih tua dari foto itu. Kakakku tak tau rupaku saat ini, tapi karena aku tahu sistem enel jadi dia terus memburuku,” ucap Jordan mengawali.
Ardiaz masih diam dan hanya memperhatikan potret yang ada di layar itu.
“Aku jenius sejak lahir. Saat anak seusia ku baru belajar naik sepeda, aku sudah bisa merakit pesawat tanpa awak. Saat yang lain masuk sekolah dasar, aku justru mulai mempelajari sistem coding dan yang lainnya. Hingga aku berusia sepuluh tahun, aku berhasil menciptakan sebuah sistem yang serba tahu, atau yang ku sebut sistem enel.”
“Ayahku sangat senang dan bahkan mulai mengembangkan sistem yang ku kerjakan. Perhatian ayah semakin tinggi padaku. Namun semua itu justru menciptakan petaka. Kakakku cemburu dan takut bahwa kekuasaan ayah akan jatuh ke tanganku.”
“Hingga suatu hari, kakak ribut hebat dengan ayah. Dia bahkan sampai pergi dari rumah. Namun tiba-tiba kabar mengejutkan datang. Ayah mengalami kecelakaan mobil saat melewati perbatasan Provinsi Winter di pegunungan snow.”
“Di pemakaman, tiba-tiba kakak yang beberapa hari pergi, muncul dan mengikrarkan dirinya sebagai ketua yang baru. Bahkan tiga king mendadak digantikan karena ikut meninggal saat kecelakaan itu.”
“Hanya Joker yang masih hidup. Berkat dialah aku bisa pergi dari rumah dan hidup menggelandang, menjadi buronan kakakku selama ini. Karena ketahuan membantuku kabur, Joker pun diburu oleh Lucifer hingga poster buronannya di masukkan ke daftar lelang, karena dia tahu bahwa banyak orang yang dendam dengan pria itu.”
“Tapi, berkat jam pengalamannya di dunia hitam, membuatnya selalu bisa lolos dari bahaya, dan dia bisa membuka bisnis brokernya sendiri seperti yang kau tau sekarang ini,” Ungkap Jordan.
“Lalu, apa hubungannya kau membuatku mengaktifkan sistem itu, agar kakakmu melihat wajahku dan mengira aku dirimu?” tanya Ardiaz.
“Saat kau berkata ingin menangkap Joker, aku sudah menduga hanya ada satu tempat yang bisa dituju yaitu Kota Orchid. Agar aku bisa ikut denganmu kemari, itulah kenapa aku membutuhkan seseorang yang bisa menyembunyikan identitas ku dari Kakak,” jelas Jordan.
“Apa kau yakin hanya itu?” tanya Ardiaz.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1