
Malam itu, Evangeline mengajak Joy untuk menginap di apartemennya. Setelah membujuk temannya tersebut agar tak lagi menghindar, putri semata wayang Hemachandra itu pun meminta Joy untuk menemaninya di sana.
Bukan tanpa alasan Joy menghindari Evangeline. Semua berawal karena rasa penasaran gadis berambut panjang itu tentang orang yang menolongnya, dan terus merengek meminta Joy menemaninya kembali ke klub tersebut.
Sebagai teman yang sangat mengenal Evangeline, Joy merasa bersalah karena telah mengajak gadis polos itu ke tempat tersebut, hingga terjadi hal yang hampir membuatnya celaka.
Sehingga, dia pun menolak keras permintaan Evangeline untuk pergi lagi ke tempat hiburan malam itu. Namun, dia juga tahu bahwa sahabatnya tersebut memiliki sifat keras kepala, dimana saat dia menginginkan sesuatu, dia akan terus merengek hingga orang lain tak tahan dan membiarkannya melakukan atau mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
Hal itu lah yang membuat Joy terus lari dan menghindari Evangeline, bahkan selama berada di lingkungan kampus.
Dia pun jarang muncul di markas criminal hunter, karena pasti Evangeline akan datang dan mencarinya ke sana.
Hingga tanpa disangka, gadis itu justru muncul tepat di depan matanya dan hampir membuat dirinya mengalami serangan jantung.
Awalnya, dia hendak berakting marah dan pergi saja dari sana meninggalkan Evangeline. Namun, melihat bahwa temannya itu seperti bersungguh-sungguh tidak akan lagi merengek meminta pergi ke klub itu, Joy pun mau tak mau menerima permintaan maaf Evangeline dan tak lagi pergi menghindar.
Bahkan saat istri Ardiaz itu memintanya untuk menginap, Joy pun mengiyakan karena bagaimanapun juga, Evangeline adalah satu-satunya teman yang selama ini selalu ada untuknya, bahkan di saat terkacaunya dulu.
Namun, dia tak tahu bahwa Evangeline memiliki rencana lain untuknya, agar dia bisa kembali ke klub malam itu.
Awalnya, Evangeline bersikap biasa saja dan sewajarnya dia. Gadis itu selalu meminjamkan pakaiannya setiap kali temannya tersebut menginap di apartemen.
Mereka menonton drama di televisi seperti biasa, memesan makanan untuk makan malam dengan jasa kurir, bahkan sempat menghabiskan beberapa kaleng bir, sambil menikmati tontonan komedi di layar kaca hingga larut malam.
Akan tetapi, Joy yang memang toleransi alkoholnya tinggi, tak begitu terpengaruh dengan hanya minum beberapa bir kalengan yang dijual bebas di supermarket.
Sementara Evangeline, dia hanya habis satu kaleng dan sisanya, dia lebih memilih meminum jus buah kalengan. Joy tidak curiga sekalipun karena memang Evangeline sangat rentan terhadap alkohol.
Bahkan satu kelang bir saja sudah bisa membuat wajahnya nampak kemerahan pertanda sudah mulai mabuk.
“Apa kau sudah mengantuk?” tanya Joy.
“Lumayan,” sahut Evangeline.
__ADS_1
Dia bahkan menguap dan menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangan.
“Baiklah. Ayo kita tidur saja. Ini sudah sangat larut. Kita juga harus pergi sekolah besok. Lihat wajahmu sudah seperti kepiting rebus,” ajak Joy.
“Apa kau yakin? Ah... Kenapa aku payah begini?” keluh Evangeline.
Dia menepuk-nepuk pipinya seolah mencoba mempertahankan kesadarannya. Joy mengulurkan tangan ke arah sang sahabat, dan diraih oleh Evangeline yang sedikit sempoyongan.
“Ayo,” ajak Joy.
Keduanya pun berjalan ke kamar. Namun, saat Joy sudah masuk, Evangeline berhenti di depan dapur dan berbelok.
“Kau duluan saja. Aku akan mengambil minum dulu,” ucap Evangeline.
Joy pun masuk dan berjalan ke kamar mandi. Dia membersihkan wajahnya dan memakai krim perawatan wajah malam milik Evangeline, yang kebetulan satu merek dengan miliknya.
Saat dia selesai, Evangeline sudah masuk ke kamar dengan dua gelas air minum yang ada di atas nakas.
“Minumlah. Alkohol selalu meninggalkan rasa tidak enak di mulut,” seru Evangeline.
Joy tersenyum dan meraih gelas yang diberikan oleh Evangeline.
“Thanks,” sahut Joy.
Evangeline tersenyum dan berjalan ke arah kamar mandi, untuk mencuci wajahnya dan juga mengoleskan krim malam. Namun, saat dia selesai membasuh paras dengan air dingin, tatapannya tiba-tiba terhenti dengan wajah yang terlihat begitu datar memandangi pantulan dirinya di cermin.
Dia kembali terlihat segar. Bahkan wajahnya yang tadi sempat terlihat merah pun tak ada lagi jejaknya.
Evangeline lalu berbalik dan berjalan keluar. Saat berada di kamar, matanya tertuju pada gelas Joy yang telah kosong, sementara temannya itu telah terpejam dengan nafas yang teratur serta dengkuran halus, pertanda bahwa dia sudah terlelap dalam mimpi.
Dia berjalan mendekat ke arah ranjang dan menggoyangkan badan temannya, seolah tengah memeriksa apakah Joy sudah benar-benar tertidur atau belum.
Namun, tak ada reaksi sama sekali dari gadis tersebut. Sebuah senyum asimetris terlukis dari sudut bibir Evangeline. Rencananya berhasil. Joy telah masuk ke dalam perangkapnya.
__ADS_1
Air yang diminum oleh temannya itu telah dicampur dengan obat tidur khusus yang tak memiliki rasa dan bau, yang bisa membuat Joy tidak akan bangun selama paling cepat delapan jam.
Evangeline kemudian berbalik dan bergegas menghampiri sofa yang ada di dalam kamarnya, di mana tas milik Joy berada.
Dia membuka tas tersebut dan mengorek isinya. Dia nampak mencari sesuatu di dalam sana.
Gadis itu bahkan membuka dompet temannya dan melihat semua isinya, namun dia masih terus mencari karena rupanya yang dicari tak ada di sana.
Evangeline sampai menumpahkan semua isi tas Joy ke atas meja, dan memeriksa satu persatu dengan teliti. Akan tetapi yang dicarinya tetap tak ada.
Dia mengusap kasar rambutnya karena kesal. Gadis tersebut kemudian kembali meraih tas Joy, dan mencoba lagi untuk memeriksa setiap saku dengan baik.
Hingga netranya akhirnya melihat bahwa ada satu kantung yang berada di dalam tas, dan sempat terlewatkan olehnya.
Evangeline pun lalu membukanya dan helaan nafas lega terdengar dari mulut gadis tersebut. Dia mengambil sesuatu dari dalam sana yang tak lain adalah sebuah kartu.
Benda seukuran kartu ATM berwarna hitam, dengan ornamen dan tulisan berwarna perak terukir di atasnya, yang terbaca “Sky night Club”.
Itu adalah tempat hiburan malam yang sebelumnya ia datangi bersama Joy. Tempat di mana dia merasakan kehadiran Ardiaz saat dirinya hampir dicelakai orang asing.
Setelah mendapatkannya, dia menoleh ke arah sang sahabat yang sudah lelap di bawah pengaruh obat tidur. Tatapannya dingin, meski ada gurat rasa bersalah di sana.
Maafkan aku, Joy. Kali ini aku akan sedikit keterlaluan padamu, batin Evangeline.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih