
Lepas tengah hari, sekitar pukul dua di garasi yang biasa menjadi basecamp Ardiaz, dua orang pria terlihat berada di sana. Satu diantara nampak duduk di sofa usang yang ada di salah satu sudut ruangan.
Dialah Ardiaz, si pemilik tempat yang terlihat tengah mengapit sebatang rokok dengan telunjuk dan jari tengahnya.
Asap mengepul sesekali setiap pria itu menyesap ujung batang bergabus dan penuh nikotin di tangannya.
Sementara pria satunya yang tak lain adalah Jordan, nampak duduk diam dengan perangkat komputer di depannya.
Ardiaz sengaja memasang perangkat keras itu di sana, agar Jordan bisa melakukan kegiatan kesukaannya, sambil membantunya membuat alat-alat ajaib untuk menunjang setiap misi yang diberikan oleh Vermont padanya.
Tak berapa lama, kegaduhan terjadi di luar. Suara seseorang yang berdebat pun terdengar jelas hingga ke telinga Ardiaz.
Namun, dia sama sekali tak bereaksi dan terus terlihat tenang seperti sebelumnya.
Kemudian, pintu terbuka dan berdentum dengan keras membentur tembok. Seorang pemuda didorong masuk oleh seseorang hingga jatuh tersungkur ke lantai.
“Ayolah. Apa salahku sampai kau memperlakukanku seperti ini? King, apa kau akan diam saja melihat anak buahmu dihina seperti ini, hah?” ucapnya meminta bantuan kepada Ardiaz.
Seorang pria tampan berjalan masuk menyusul pemuda yang adalah Damian, yang didorong dengan keras hingga dia harus jatuh ke lantai yang penuh dengan debu.
Ardiaz masih diam dan tak bereaksi, meski anak buahnya meminta bantuan padanya. Dia hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan Mac duff pada hacker jenius peringkat dua itu.
Dia sudah bisa menerka jika semua kejadian malam tadi ada kaitannya dengan Damian, sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Mac duff setelah Ardiaz memukulnya hingga lebam kebiruan menghiasi wajah tampannya hingga saat ini.
FLASHBACK
Ardiaz memukul Mac duff yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita telanjang yang ada di sana pun menjerit ketakutan, dan segera mengenakan pakaiannya cepat-cepat lalu keluar dari sana dengan pakaian yang dipakai ala kadarnya.
Sepatunya bahkan belum ia pakai dan hanya ditenteng di tangan sambil berlari mendekap tas serta pakai dalam yang belum sempat ia pasang kembali.
Sementara kedua pria itu masih saling berhadapan dengan Mac duff yang terduduk dan tak membalas pukulan Ardiaz.
King palsu itu nampak mengusap wajahnya kasar, dan berkacak pinggang sambil mengacak rambut hitam legamnya.
“Apa kau sudah selesai marahnya?” tanya Mac duff.
Dia menyeka darah dari sudut bibirnya yang terasa perih akibat pukulan keras Ardiaz sebelumnya.
“Aku menunggu penjelasan dari mu, brengs*k,” seru Ardiaz.
__ADS_1
Pria itu mengulurkan tangannya dan membantu Mac duff untuk berdiri.
Meski terjadi perkelahian sebelumnya, namun hal itu sudah lumrah bagi mereka sebagai bentuk pelampiasan emosi.
Mac duff pun menyadari bahwa Ardiaz memukulnya semata-mata karena ulahnya sendiri, sehingga dia pun hanya diam dan bahkan membiarkan temannya itu melukainya hingga Ardiaz merasa lebih baik.
Ardiaz berjalan ke arah kursi kerja Mac duff, sementara bos sky night tersebut kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan luka dan juga tubuhnya yang kotor karena perkelahian tadi.
Selang beberapa saat kemudian, sang play boy keluar dan berjalan ke arah lemari, lalu mengambil kotak medis dari sana.
Dia membawa benda tersebut dan duduk di sofa yang tadi menjadi tempat tidur wanita bugil teman kencan satu malamnya.
Mac duff lalu mengambil sebuah kapas dan juga antiseptik, kemudian menekannya di sudut bibir.
Dia nampak meringis menahan perih, akibat cairan berbau menyengat itu yang menyentuh permukaan luka.
“Sebaiknya kau pulang saja. Aku yakin kau semalam tidak tidur karena harus menjaga istrimu, bukan,” seru Mac duff.
Ardiaz tak langsung menyahut. Dia masih menenangkan dirinya, duduk bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Dia berusaha mengatur nafas dan detak jantung yang terasa saling berkejaran.
Dia bahkan tak peduli jika temannya itu berkali-kali mendesis karena merasa perih pada luka yang diobatinya sendiri.
“Aku akan jelaskan semuanya nanti, sekaligus akan ku tunjukkan sesuatu padamu. Kita bertemu siang nanti di tempatmu,” lanjut Mac duff.
Dia memasukan tangannya ke dalam saku, dan melirik sekilas ke arah samping di mana temannya berada.
“Pastikan kau jelaskan semua hingga tuntas. Jika tidak, sebaiknya kita berduel saja sampai babak belur,” ucap Ardiaz dingin.
Dia pun kemudian melangkah pergi, akan tetapi saat dia baru meraih gagang pintu, perkataan Mac duff kembali membuatnya berhenti.
“Apa kau mencintainya? Bukankah kalian hanya pasangan di atas kertas tanpa perasaan?” ucap Mac duff.
Pertanyaan tersebut cukup mampu membuat hati Ardiaz kembali bergetar. Dia bahkan menoleh ke samping dan lagi-lagi menghela nafas berat.
“Setidaknya kami masih belum berpisah, dan dia adalah tanggung jawabku,” sahut Ardiaz.
Dia pun segera membuka pintu dan melangkah pergi meninggalkan Mac duff seorang diri di sana.
“Heh... Sampai kapan kau akan berpura-pura tak peduli, dan terus bersembunyi di balik topeng, hah? Kalau memang cinta, bilang saja cinta. Dasar pria bod*h,” gumam Mac duff.
__ADS_1
FLASHBACK OFF
Saat ini seperti janjinya, Mac duff datang ke basecamp Ardiaz, namun dia tak datang sendiri melainkan turut menyeret Damian untuk menemui Ardiaz.
Dari awal, semua tau bahwa Evangeline memang meminta bantuan klub mahasiswa yang diketuai oleh Damian, untuk mencari informasi mengenai ledakan di tepi barat kota.
Ardiaz mulai menerka, mungkin saja sang istri tahu bahwa dia masih hidup semua itu berasal dari Damian.
Namun, Ardiaz memilih untuk tetap diam ditempatnya, dan menunggu apa yang akan dilakukan Mac duff kepada hacker muda tersebut.
Nampak di depan sana, Mac duff melangkah mendekat ke arah Damian yang terlihat ketakutan dan terus merangkak mundur mencoba menghindari sang Duke.
Namun gerakan Mac duff yang tiba-tiba dan cepat, membuatnya tak bisa mengelak. Bos sky night itu pun mencengkeram kerah jaket yang dikenakan Damian, hingga kabel headphone yang ada di lehernya putus.
“Hey, lepaskan aku. Bos, tolong aku,” mohon Damian.
Ardiaz tetap diam dan membuat Mac duff semakin leluasa untuk melakukan apapun terhadap Damian.
Mac duff bahkan kembali membanting sang hacker dengan keras ke tanah, hingga pinggangnya terasa begitu sakit.
Dia marah tak terima dengan perlakuan Mac duff dan hendak bangun. Namun gerakannya terhenti saat Mac duff mulai bersuara.
“Bajingan ini ingin bermain-main dengan kita. Dia memberitahu gadis itu tentang keberadaan kita bertiga,” ucap Mac duff.
Sontak Damian pun kembali terduduk. Pandangannya langsung terfokus pada Ardiaz. Dia mulai khawatir akan reaksi yang ditunjukkan oleh sang King palsu.
Semakin tenang sang King, semakin bahaya posisinya saat ini. Semua orang tau, Ardiaz akan berada pada puncak kemarahannya saat dia bersikap paling tenang.
Tepat saat ketakutan memenuhi dirinya, tatapan Ardiaz lurus ke arahnya, seolah menikam tepat di jantung hingga Damian kesulitan bernafas.
Dia bahkan tak bisa menelan ludahnya dengan baik seperti biasa, dan matanya seolah terpatri pada sosok berdarah dingin di hadapannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih