
Ardiaz bersembunyi dari dokter tersebut. Dia tak mau Malcolm terlibat lagi dengannya, yang saat ini telah benar-benar masuk ke dalam dunia hitam dimana para mafia berada. Sementara dokter itu hanya warga sipil biasa yang kebetulan mengenalnya. Akan tetapi, dia butuh Malcolm untuk mencari tahu bagaimana kondisi tuannya, karena informasi Hemachandra benar-benar tertutup dan tak bisa didapatkan oleh sembarang orang, mengingat dia adalah VVIP di rumah sakit tersebut.
Namun benar saja, meski tak mengatakan langsung, Malcolm benar-benar memberitahukan informasi mengenai Hemachandra pada Ardiaz.
King palsu itu tahu betul, jika sang rekan adalah dokter umum yang selalu berada di IGD setiap saat. Namun dia mendengar dari dokter lain yang berbincang dengan Malcolm, bahwa dokter itu akan pergi lagi ke pusat latihan fisioterapi yang bukan bidangnya.
Kemungkinan besar, ada seseorang yang berkaitan dengannya yang akan menjalani terapi tersebut. Dia pun mengetahui waktunya dengan benar dari pembicaraan tersebut.
Setelah mendapatkan informasi itu, Ardiaz pun bangkit dan berjalan pergi dari sana menuju ke suatu tempat.
Dia tak mungkin masuk ke dalam ruang rawat VVIP rumah sakit, mengingat pria muda itu sedang dalam penyamaran saat ini. Jadi, Ardiaz memutuskan untuk menunggu di sekitar tempat terapi.
Dia duduk di salah satu tempat tunggu yang ada di koridor lantai tersebut, sambil memejamkan matanya yang terasa berat, karena belum terpejam sejak semalam.
Entah sudah berapa lama dia duduk di sana seorang diri, hingga sebuah celotehan dari dua orang yang dikenalnya, membuat matanya terbuka dengan kesadaran yang dipaksa kembali dari alam mimpi.
Dari tempatnya berada, dia melihat sosok gadis yang beberapa waktu ini mengganggu pikirannya, tengah bercanda dengan seseorang yang duduk di atas kursi roda.
Matanya seketika berkaca-kaca kala melihat pria yang dulu terbaring koma, kini telah berangsur pulih kembali. Tanpa sadar, dia bahkan melangkahkan kakinya mendekat ke arah kedua orang tersebut, namun tiba-tiba terhenti dan senyum diwajahnya seketika menghilang.
Dia ingat bahwa saat ini dia telah mati untuk mereka, dan itulah yang terbaik agar mereka tak terlibat dengannya lagi.
Akhirnya, Ardiaz pun berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan sang istri dan juga mertuanya.
Syukurlah, Anda sudah baik-baik saja, Tuan, batin Ardiaz.
Pria tersebut pun dalam sekejap telah menghilang di persimpangan lorong.
Saat itu, entah perasaan apa, Evangeline tiba-tiba menoleh seolah merasakan keberadaan seseorang di sekitarnya, namun dia tak melihat siapapun di sana.
“Eva, ada apa?” tanya Hemachandra kepada sang putri, yang melambatkan langkahnya, bahkan justru berhenti.
Evangeline pun menoleh kembali menghadap sang ayah.
__ADS_1
“Ah... Tidak ada, Ayah. Ayo kita jalan lagi,” sahut Evangeline.
Dia pun kembali mendorong kursi roda sang ayah menuju ke tempat terapi.
Apa hanya perasaanku saja? Tapi, tadi seperti ada yang mengawasi, batin Evangeline.
Sementara itu, di luar gedung rumah sakit, Ardiaz terlihat kembali ke dalam mobilnya. Dia nampak menyandarkan punggungnya di kursi, seraya berkali-kali menghela nafas panjang.
Dadanya bergemuruh dan hatinya terasa nyeri sesak saat mengingat kejadian tadi. Meski akalnya belum mau mengakui, namun hatinya menunjukkan dengan jelas betapa Ardiaz sangat merindukan orang-orang di dalam sana.
Tak mau perasaannya semakin kacau, dia pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat.
...❄❄❄❄❄...
Malam hari, seperti yang sudah disepakati, broker Magnolia itu pun mendatangi Ardiaz kembali demi kerjasama yang hampir kacau karena ulahnya sendiri.
Ardiaz menang banyak kali ini, karena tidak hanya membuktikan dominasinya, tapi juga mendapatkan keuntungan tiga kali lipat yang bisa dia gunakan, karena kelebihan transaksi itu bisa masuk ke dalam dana pribadinya tanpa diketahui oleh Lucifer.
“Di sana membuatku selalu sesak nafas. Aku ingin bersantai sejenak di sini untuk beberapa hari. Katakan saja pada mereka untuk mengirimkan misi selanjutnya lewat surel. Siapa tau ada misi lain di sini,” jawab Ardiaz.
Pria muda itu pun lalu masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Dia melepas jasnya dan melempar benda tersebut ke sembarang arah, kemudian terjatuh begitu saja di atas karpet ruang tamu kamarnya.
Sementara Ardiaz terus berjalan ke arah kamar tidur, sembari melonggarkan dasi yang dipakai, dan melipat lengan kemejanya.
Dibantingnya tubuh lelah itu ke atas kasur. Dia menelungkupkan tubuhnya dengan wajah yang menghadap ke samping, di mana lemari dengan pintu konektor berada.
Dia teringat dengan kejadian pagi tadi, dimana dia melihat sang istri dan mertuanya, yang terlihat tertawa, bercanda ria, seolah tak ada beban di pundak keduanya.
Dia tak tahu jika dibalik senyum itu, Evangeline menyembunyikan luka di hatinya yang telah dibuat oleh suaminya sendiri.
Sepertinya kau memang lebih bahagia tanpa aku. Hehehe... Konyol, apa yang aku harapkan saat melihatmu? batin Ardiaz.
__ADS_1
Dia pun membalik badannya dan terlentang menghadap ke langit-langit kamar. Matanya menerawang entah kemana dengan nafas yang ia coba atur perlahan.
Bayangan Evangeline yang tersenyum tadi pagi, dan suara tangisan gadis itu yang ia dengar melalui sistem enel, terus berputar dan terngiang bergantian di benaknya.
Tak ingin terus memikirkan sang istri, Ardiaz pun bangun dan melepas semua pakaiannya. Dia meraih bathrobe dan berjalan ke arah kamar mandi.
Dia berdiri di bawah shower dan menyalakan kran. Air pun seketika mengguyur bak tetesan hujan yang turun dari langit. Cermin di depannya mengembun, membuat pantulan dirinya menjadi buram.
Ardiaz merasa lebih tenang setelah kepalanya tersiram air dingin. Namun, tiba-tiba dia teringat akan seseorang kala siluet dirinya muncul di cermin.
Dia pun segera menyelesaikan mandinya dan membungkus diri dengan jubah mandi. Pria tersebut berjalan ke arah nakas di mana ponsel rahasianya berada. Dia menekan sebuah kontak dari riwayat panggilan.
“Ini aku. Aku punya tugas lagi untuk mu,” ucap Ardiaz.
Setelah mengatakan sesuatu di sambungan telepon, dia berjalan ke arah ruang tamu dan membuka sebotol anggur merah. Dia menuangkan ke gelas yang ada di sana.
Ardiaz membawa gelas anggurnya dan berjalan menuju ke arah balkon. Angin malam nampak menerpa tubuhnya yang hanya dibalut oleh bathrobe. Musim semi memang telah tiba, namun udara musim dingin masih cukup terasa.
Namun sepertinya, kebekuan hatinya mengalahkan hawa dingin yang menerpa kulit pria yang selalu berekspresi datar itu.
Dengan pandangan lurus, dia pun meneguk red wine di tangannya, sambil menghela nafas berat, seolah ada pikiran yang masih mengganjal di hatinya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1