They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Pemandangan menyakitkan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Mac duff terlihat kembali setelah mengantar sang klien pergi. Dia berjalan melewati lorong dan berpapasan dengan seorang gadis berambut panjang yang mengenakan topi hitam.


Pria itu hanya melihat sekilas, namun langkahnya tiba-tiba terhenti dan menoleh ke belakang, karena merasa ada yang aneh dengan gadis itu.


Awalnya dia tak mau memedulikannya, namun di depan sana, dia melihat dua orang yang sangat dia kenal, tengah bersama dengan jarak yang begitu dekat bahkan terlihat sangat intim.


“Eva?” gumamnya pada diri sendiri.


Dia pun lalu mengejar gadis itu dan memegang pundaknya, akan tetapi saat Evangeline menoleh dan melihat keberadaan Mac duff, gadis tersebut langsung menepis tangan pria itu dengan sorot mata penuh emosi.


Tapi satu hal yang tak bisa dipungkiri, bahwa Evangeline saat itu sedang menangis meski dia sekuat tenaga menyembunyikan isaknya. Namun, air mata terus keluar dan membanjiri wajah cantik itu.


“Eva, kau...,” ucap Mac duff.


Tiba-tiba, Evangeline terkekeh kecil dengan senyum sinis.


“Kau bahkan tau namaku,” ucapnya.


Tanpa menunggu lagi, Evangeline langsung berbalik dan berlari keluar dari sana. Melihat hal tersebut, Mac duff pun segera berjalan ke arah toilet di mana sepasang insan tadi berada.


Namun rupanya mereka sudah pergi dan membuat Mac duff bergegas menuju ke VIP room, dimana dia meninggalkan sang rekan sebelumnya.


Bos sky night itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Dia melihat Ardiaz dengan santainya meminum minumannya sambil bersandar di sofa yang empuk.


“Apa gadis itu sudah pergi?” tanyanya langsung.


“Alpha, kenapa kau keterlaluan? Apa demi mengusirnya lalu kau mau disentuh Alexa?” cecar Mac duff.


Ardiaz nampak tak peduli dan terus menikmati wiski di tangannya.


“Dia memang menyentuhku, tapi tak ada yang terjadi. Hanya saja, ini benar-benar sebuah kebetulan. Aku yakin setelah malam ini, dia akan membenciku dan melepaskan semuanya,” oceh Ardiaz.


“Apa kau tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan baik-baik, hah? Dia hanya gadis manja biasa yang bahkan nekad menyusulmu kemari. Setidaknya beri dia penjelasan yang masuk akal agar perasaan kalian sama-sama tenang meski harus berpisah,” ucap Mac duff.


“Bukankah kejadian tadi sudah lebih dari sebuah penjelasan? Lagipula, sejak kapan kau begitu peduli pada hubungan kami yang sudah aneh sejak awal, hah?” sahut Ardiaz dengan senyum remeh.


Mendengar perkataan Ardiaz membuat Mac duff kesal bukan main. Dia bahkan mengacak rambutnya lalu berkacak pinggang, dan seolah enggan untuk duduk atau bahkan minum.


“Aku memang bajingan brengs*k yang bisa membunuh siapapun, sekalipun itu wanita yang baru saja tidur denganku. Tapi aku tau dirimu. Kau selalu menjaga hati dan tubuhmu dari wanita lain dan hanya istrimu lah satu-satunya wanita yang pernah kau sentuh.”


“Tadi Kau menanyakan sejak kapan aku peduli pada kalian? Kau ingin tau? Sejak kilat aneh di mata mu muncul setelah kembali dari Magnolia,” ungkap Mac duff.


Meski dia tak ikut menjalankan misi ke seberang, akan tetapi Mac duff bisa tahu apa yang terjadi di sana dari jejak sejarah penggunaan aplikasi pencari lokasi di ponsel king palsu itu.

__ADS_1


Dia sengaja meminta Jordan melihatnya dan benar saja, Ardiaz datang ke rumah Evangeline, bahkan lebih banyak dari dia mengunjungi rumah Morita, kekasih sang kakak.


Mendengar perkataan dari Mac duff, membuat Ardiaz yang sejak tadi terus bersikap tak acuh, seketika membeku dengan sorot mata kosong yang menerawang ke depan.


Nafasnya pun bahkan seolah tertahan saat bos sky night itu mengingatkan kembali apa yang dilihatnya di sana, serta keterkejutannya mengenai fakta bahwa Mac duff tahu dia pergi ke rumah tuan besar Hemachandra.


Sejurus kemudian, kesadarannya kembali, dan Ardiaz pun meneguk habis sisa minuman dalam gelasnya, lalu berdiri sembari memasukkan kedua tangan ke saku celana.


“Tugasku sudah selesai. Sebaiknya aku kembali lebih awal,” ucapnya.


Dia bahkan melewati Mac duff begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.


Saat Ardiaz mencapai ambang pintu, Mac duff yang kesal dengan kelakuan Ardiaz pun kembali bersuara.


“Ku sarankan kau temui dia, sebelum kau benar-benar menyesal karena kehilangan kesempatan,” seru Mac duff.


Ardiaz tak terlalu peduli dan pergi diikuti oleh Jordan yang selalu ada di mana dia berada.


Di dalam ruang VIP, Mac duff hanya bisa mengusap kasar wajahnya seraya menghela nafas berat.


Dia menjatuhkan diri dan meraih botol wiski lalu langsung meneguknya dari sana.


“Benar-benar keras kepala. Aku tau kalau kalian sudah saling jatuh hati. Kenapa harus begitu munafik?” gumam Mac duff sambil menyeka bibirnya yang basah.


Sementara itu, Evangeline yang sudah kembali ke dalam mobil, terus menangis sesenggukan hingga membuat temannya kebingungan.


Sejak kembali dari klub, Evangeline langsung masuk begitu saja dan tak mengatakan apapun.


Joy bahkan yang harus mengurus kurir yang marah-marah padanya karena motor dan helmnya masih tertinggal di dalam sana.


Mau tak mau, Joy pun memberikan uang lebih agar kurir itu mau mengambilnya sendiri dan segera pergi dari sana.


Mereka kini sudah pergi jauh dari sky night club, dan berhenti di tepi jalan yang mengarah ke pelabuhan timur.


Joy duduk di luar, tepatnya di bagasi belakang yang terbuka. Dia meminum beberapa bir kaleng yang ia beli saat di swalayan tadi.


Sementara Evangeline, gadis itu duduk di kursi depan dengan tangis yang terdengar begitu emosional.


Sekitar hampir dua jam mereka di sana dan Evangeline masih terus menangisi apa yang telah dilihatnya.


Dia terus memaki pria yang sudah memaksanya menjadi seorang istri, namun sekarang justru dia melihat pria tersebut bermesraan dengan wanita lain di depan matanya.


Sekitar pukul dua dini hari, suara tangis Evangeline berubah menjadi isakan lirih. Sepertinya gadis itu sudah merasa lebih tenang.

__ADS_1


Joy masih di tempatnya, dan sudah menghabiskan lebih dari separuh persediaan birnya.


Bungkus camilan pun berserakan dimana-mana, ditambah remahan yang terjatuh di atas karpet mobil.


Tiba-tiba, suara pintu terbanting membuat Joy menoleh ke arah depan mobil. Rupanya, Evangeline sudah keluar dan berjalan ke arahnya.


Pandangan Joy terus mengikuti gerakan sang sahabat, hingga Evangeline duduk di sampingnya tanpa berkata-kata.


Joy menyodorkan sekaleng bir dan langsung diraih oleh Evangeline. Bunyi letupan soda terdengar saat tuas penutup kaleng dibuka.


Gadis itu pun meneguknya, membasahi kerongkongan yang sejak tadi kering, karena lelah menangis.


Kedua gadis itu saling diam, dengan pandangan yang lurus menatap langit malam, serta pantulan bulan yang begitu indah di atas permukaan laut.


“Sepertinya, suamiku memang sudah mati,” ucap Evangeline tiba-tiba.


Joy pun seketika menoleh melihat raut wajah Evangeline yang begitu datar, dengan mata sembab dan merah.


“Apa yang kau lihat di dalam sana, hah? Bukankah kau sangat yakin saat di kastil itu?” tanya Joy.


Evangeline kembali meneguk birnya dan menghela nafas dalam sekali hembusan. Dia tak langsung menjawab, dan justru memejamkan mata.


Lehernya bergerak naik turun dengan dahi yang berkerut, seolah tenggorokannya kesulitan menelan minuman itu.


“Mari kita hentikan saja semua penyelidikan ini, dan ayo pulang. Aku benar-benar lelah,” ucap Evangeline.


Gadis itu kembali bangun dan masuk ke dalam mobil. Dia bersandar dengan mata terpejam, menunggu Joy menyusulnya masuk.


Dalam hati, Joy menerka-nerka apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam klub itu.


Tapi, dia masih belum mau mendesak Evangeline untuk bercerita dan hanya bisa terus menemaninya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2