
Di apartemen Penthouse, seorang gadis terlihat terus melamun di balkon kamarnya. Semenjak pagi tadi, dia memutuskan untuk mengurung diri di tempat tinggalnya.
Dia bahkan belum mengganti pakainya semalam, dan terus memeluk kedua lututnya yang merapat ke dada.
Dia merebahkan kepala di atas lutut, dengan pandangan yang menerawang jauh entah kemana.
Gadis itu terus mencoba menyatukan kepingan memori di kepalanya, akan kejadian malam tadi saat di klub malam.
Ya, dia adalah Evangeline, istri Ardiaz yang kini tengah kembali mengalami guncangan batin setelah bangun dari mabuknya pagi tadi.
Saat bangun, dia merasakan pusing yang teramat. Bahkan ocehan sahabatnya, Joy, tak didengarnya sama sekali.
Dia hanya mencoba menahan pusing di kepalanya yang benar-benar mengganggu. Dia merasa semalam ada seseorang yang menemaninya di sana, tapi tak ada siapapun selain Joy saat dia bangun.
Tak ada luka bahkan rasa tak nyaman yang dialaminya. Lalu, siapa yang sudah membawanya ke tempat tidur dan bahkan menemaninya.
Orang baik mana yang tidak mengambil kesempatan saat Evangeline benar-benar dalam keadaan mabuk berat.
Namun saat dia kembali menoleh ke samping, tak sengaja hidungnya menghirup sesuatu dari lengannya yang terbuka.
Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul, ketika dia merasa melihat Ardiaz berada tepat di depannya semalam. Seketika, jantungnya berdegup begitu kencang dan matanya pun mulai berair.
Dia semakin menggila. Dia membaui tubuhnya sendiri dan dia menemukan aroma Ardiaz di mana-mana.
Di lengan, di badan, bahkan saat dia menekuk lutut untuk mencium kakinya pun, dia menemukan aroma familiar itu.
Dadanya sesak. Air mata tak mampu lagi dibendungnya. Evangeline menangis dengan isak pelan.
Joy yang sejak awal memarahinya pun tiba-tiba berhenti, karena terkejut melihat Evangeline yang tertunduk bersembunyi di antara lututnya, dengan bahu yang berguncang.
Gadis berambut sebahu itu pun panik dan khawatir, kalau-kalau memang telah terjadi sesuatu yang buruk pada temannya itu.
Dia berjalan mendekati Evangeline, dan menyentuh pundaknya.
“Eva, kau kenapa?” tanyanya.
Namun bukannya menjawab, Evangeline justru menangis semakin keras. Joy tak tahu apa yang terjadi dan hanya bisa mencoba menenangkan Evangeline yang tengah terguncang.
Dia memeluk gadis itu dari samping dan membiarkan temannya mengeluarkan semua kesedihan terlebih dahulu, sambil mengulurkan tisu untuk Evangeline.
Hampir satu jam Evangeline menangis, kini dia nampak lebih tenang, meski isaknya masih terdengar dan membuat nafas gadis itu tersengal.
Bukan hanya wajah, bahu, lengan bahkan lututnya pun semua basah oleh air matanya yang membanjir.
“Aku mau pulang,” ucapnya untuk pertama kali.
Joy melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Evangeline yang benar-benar bengkak.
__ADS_1
“Apa kau sudah tak apa?” tanga Joy memastikan.
Evangeline hanya mengangguk.
“Apa kau yakin? Kau bisa menangis lagi kalau memang masih sesak,” ucap Joy.
“Aku lelah. Aku ingin pulang saja,” sahut Evangeline.
Dia berusaha bangun, namun ternyata kepalanya masih tak bisa diajak bekerjasama. Bahkan, dia pun kini merasa gejolak muncul di perutnya.
HOEEEK! HOEEEK!
“Eva, kau kenapa?” tanya Joy khawatir.
Namun, belum sempat dia bertanya lagi, Evangeline buru-buru berlari ke kamar mandi. Dia nampak berjongkok di depan kloset dan memuntahkan seisi perutnya.
Joy mencoba memijit tengkuk temannya itu untuk mengurangi rasa tak nyaman. Sekitar lima belas menit, Evangeline muntah di sana hingga terduduk lemas di atas lantai kamar mandi.
Tubuhnya lemas seolah tak ada tenaga untuk bergerak. Peluh dingin mengucur dari pelipis dan seluruh badannya.
“Apa mualnya sudah berhenti?” tanya Joy khawatir.
Evangeline mengangguk.
“Antarkan aku pulang. Tolonglah,” pinta Evangeline.
Terlebih, tempat Evangeline sebelumnya yang berada di lantai dua, membuatnya kesulitan saat harus menuruni tangga sambil memapah temannya, karena tempat tersebut tak dilengkapi dengan lift atau eskalator untuk pengunjung.
Saat di mobil, Evangeline yang berada di kursi belakang memilih untuk merebahkan diri dan kembali memejamkan matanya. Dia lelah, benar-benar lelah.
Bukan hanya fisiknya, akan tetapi batinnya pun lelah.
Dia terus mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun semuanya buram. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya, kala merasakan kehadiran Ardiaz yang begitu dekat dengannya.
Kenapa? Kenapa kau sejahat itu? Kenapa kau harus datang diam-diam dan membuatku menderita? Evangeline bod*h. Kenapa kau tak bisa melupakan pria brengs*k itu? Kenapa? Makinya dalam hati.
Setelah sampai di apartemen, Joy kembali membantu Evangeline untuk naik ke unitnya. Tatapan mata semua orang tertuju pada kedua gadis itu, mengingat berapa seksinya pakaian Evangeline, meski telah ditutupi oleh jaket oleh Joy.
Juga bau menyengat yang membuat tak nyaman, keluar dari tubuh istri Ardiaz itu, menjadikan semua yang berpapasan dengan keduanya menunjukkan tatapan sinis.
Sesampainya di atas, istri Ardiaz itu melepaskan rangkulan Joy dan berusaha berjalan menuju kamarnya sendiri.
“Eva, biar ku bantu,” ucap Joy.
Namun, Evangeline hanya mengangkat satu tangannya yang berarti menolak, dengan terus berjalan sambil berpegangan pada apapun yang dilewatinya.
Joy menghela nafas panjang karena tak bisa melakukan apapun saat ini untuk temannya. Gadis itu pun memilih membiarkan Evangeline sendiri karena dia merasa itu yang lebih baik untuk sekarang.
__ADS_1
Dia lalu meletakkan sepatu dan juga tas temannya di meja ruang tamu. Sebelum Evangeline mencapai kamarnya, dia memutuskan untuk pergi.
“Kau istirahatlah dulu. Sore nanti aku akan kemari lagi untuk melihatmu,” teriak Joy dari lantai bawah.
Evangeline tak menyahut dan Joy pun keluar begitu saja.
Setelah sampai di kamarnya, Evangeline berjalan gontai ke arah tempat tidurnya. Dia membanting tubuhnya di sana dengan wajah yang mengarah ke jendela yang masih tertutup tirai.
Pandangannya benar-benar kosong. Lagi-lagi, bulir bening mengalir begitu saja dari sudut matanya yang sudah sangat membengkak.
Karena kelelahan, dia kembali tertidur begitu saja bahkan belum sempat mengganti pakaiannya.
Pukul satu siang, dia terbangun karena tenggorokannya terasa kering dan tak nyaman.
Betapa tidak, sejak bangun pagi tadi, bahkan setelah dia muntah, Evangeline belum minum sama sekali.
Dengan malas, dia pun bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia mencuci wajahnya dan minum langsung dari kran.
Setelah merasa cukup, Evangeline kembali ke kamarnya. Dia berjalan ke arah jendela dan membuka tirai yang menghalangi cahaya matahari masuk.
Silau. Matanya yang bengkak merasa tak nyaman dengan sapaan sinar mentari yang cukup terik siang itu.
Dia memejamkan mata sejenak untuk menyesuaikan pupil matanya dengan kondisi sekitar.
Setelah lebih baik, dia membuka pintu balkon dan menghirup dalam-dalam udara luar, yang tercemar polusi kendaraan dan mesin produksi yang sudah umum terjadi di kota besar seperti ini.
Dia berdiri di tepi, sambil bersandar pada pagar pembatas. Evangeline memandang jauh ke depan. Pemandangan yang begitu membosankan khas perkotaan, dimana hanya ada gedung-gedung tinggi yang menghalangi pandangan mata.
Bahkan pegunungan dan hutan hijau terlihat begitu jauh dari tempatnya berada.
Dia pun berbalik dan menyandarkan pinggangnya pada besi pagar.
Lama berdiri di sana, kaki Evangeline merasa lelah dan membuat gadis itu merosot ke bawah. Dia duduk di lantai dengan kedua lutut tertekuk ke atas, merapat dengan dadanya.
Dia memeluk lututnya erat, dengan kepala yang terkulai di atasnya. Pandangannya kosong, menerawang entah kemana.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1