
Ruang VVIP, di mana Hemachandra Adiguna dirawat, tampak Evangeline tengah duduk di samping tempat tidur pria yang masih terbaring koma di sana.
Gadis itu terus menggenggam tangan sang ayah, sambil sesekali menempelkannya ke pipi, mencoba mencari kehangatan dari sang ayah yang begitu ia rindukan.
Hidungnya merah dan matanya sembab karena terus menangis sejak memasuki tempat tersebut. Bahkan lelehan bening masih keluar dari mata dan juga hidungnya, membuat gadis itu sesekali menyeka wajahnya.
Satu tangannya terulur, menyentuh wajah sang ayah, mengusap lembut pelipis pria yang telah membesarkannya seorang diri sejak bertahun lamanya.
Pria yang rela melajang setelah kehilangan istri tercinta, demi kenyamanan sang putri. Hemachandra Adiguna tak ingin memberi ibu sambung kepada Evangeline, karena dia menganggap hal itu rawan menimbulkan konflik keluarga kedepannya.
Dia memilih kebahagiaan putrinya, dari pada dirinya sendiri. Karena baginya, Evangeline adalah segalanya. Sebuah kenangan indah dari mendiang istri tercinta yang harus ia rawat hingga nanti.
Pria itu begitu menyayangi Evangeline, dan selalu menuruti semua keinginannya. Dia selalu memikirkan langkah ke depan demi menjamin masa depan sang putri.
Hal itulah yang membuatnya mengambil keputusan untuk menyerahkan Evangeline kepada Ardiaz, pria yang dia nilai mampu menjaga sang putri dengan baik.
“Apa Ayah juga sudah tau kalau Aaron bukan pria yang baik, jadi ayah menjodohkan aku dengan Ardiaz, si pria kasar itu?” tanya Evangeline pada sang ayah, yang bahkan tak bisa menjawab pertanyaannya itu.
Evangeline mulai memutar otaknya, mencoba mencerna setiap kejadian yang telah berlalu. Dia mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya, mencoba memahami apa yang ayahnya inginkan.
Namun, kenyataan bahwa dia harus menerima Ardiaz sebagai suami, terlebih karena kejadian yang begitu mendadak, membuatnya masih belum bisa menerima pria itu sepenuhnya, meski semuanya telah terbukti bahwa Ardiaz tidak bersalah, dan sang ayah masih bertahan meski dalam kondisi koma.
Benar, setidaknya aku perlu berterimakasih padanya. Benarkan, Ayah? batin Evangeline.
Dia mencium punggung tangan sang ayah, kemudian bangun dengan tubuh yang sedikit membungkuk dan condong ke depan.
Gadis itu lalu mencium kening sang ayah dan menghirup aromanya dalam-dalam.
“Aku keluar sebentar, Ayah. Ada yang harus ku bicarakan dengan menantumu itu,” ucap Evangeline.
Gadis itu pun menegakkan tubuhnya, dan membetulkan selimut sang ayah yang sempat terbuka sedikit karena ulahnya.
Dia lalu berjalan ke arah pintu berlapis itu, dan membukanya satu persatu hanya dengan menekan tombol buka yang ada di panel dalam.
Keempat pengawal yang ada di luar pun seketika membungkuk memberi hormat kepada sang nona.
“Tolong jaga ayahku. Aku ada urusan sebentar,” seru Evangeline.
“Baik, Nona,” sahut salah satu pengawal.
Evangeline kembali melanjutkan perjalanannya. Dia menuju ke lantai lima belas, tempat dimana dia menemukan Ardiaz pertama kali, yaitu di depan ruang ICU.
Gadis itu kemudian masuk ke dalam lift dan menekan tombol dengan nomor lantai yang dia tuju.
Dia tak tahu jika lantai tempat ayahnya berada adalah di bawah tanah, tersembunyi dari dunia luar dan memiliki sistem keamanan yang super canggih, akan tetapi tombol liftnya justru berada di bagian paling atas dan tanpa nomor lantai.
__ADS_1
Saat melewati lantai dua, seorang pria masuk sambil membawa sebuah wadah stainless lengkap dengan berbagai peralatan medisnya.
Pria tersebut membungkuk padanya. Evangeline tak mengenal pria dengan jas dokter itu, sehingga gadis tersebut pun tak terlalu mempedulikan keberadaan sang dokter di sana.
Pria asing itu menekan tombol lantai sepuluh, akan tetapi pandangannya sekilas tertuju pada tombol lantai lima belas yang sebelumnya ditekan oleh Evangeline.
“Apa Anda akan ke lantai lima belas?” tanya sang dokter tiba-tiba.
Evangeline pun mengangkat wajahnya dan melihat pantulan wajah sang dokter dari dinding lift.
“Benar,” sahut Evangeline.
“Bukankah suami Anda ada di lantai sepuluh?” tanya sang dokter.
Evangeline pun memicingkan mata mencoba memahami maksud dari perkataan dokter tersebut. Dia jelas-jelas tak mengenalnya sama sekali, akan tetapi sang dokter seolah mengenalnya dengan baik.
Melihat kebingungan Evangeline, dia pun berbalik dan memperkenalkan diri.
Sang dokter tersenyum ramah kepada Evangeline, dan gadis itu pun membalasnya dengan senyum yang canggung.
“Maaf atas kelancangan saya. Perkenalkan, saya Malcolm. Dokter bedah umum di sini,” ucap sang dokter yang ternyata adalah Malcolm.
“Oh... Hai, Dokter Malcolm. Saya Evangeline Hemachandra. Tapi, apa kita pernah bertemu sebelumnya,” tanya Evangeline penasaran.
“Beberapa hari lalu, suami Anda memanggil saya ke rumah untuk memeriksa kondisi Anda. Kalau tidak salah saat itu Anda sedang demam. Suami Anda adalah Ardiaz Danurendra bukan?” jawab Malcolm.
“Jadi, Anda kenal dengan suami saya juga, Dok?” tanya Evangeline.
“Ya, kami saling kenal. Dia tak pernah mau diobati saat terluka, kecuali hanya dengan saya,” ucap Malcolm.
Tiba-tiba, dentingan bel lift terdengar dan kini mereka telah sampai di lantai sepuluh. Malcolm pun pamit undur diri karena telah sampai di lantai tujuannya.
Dia membungkuk sekilas ke arah Evangeline, dan berbalik keluar dari lift tersebut. Sementara gadis itu, terlihat masih diam karena terkejut.
Namu, baru saja lift akan tertutup kembali, tiba-tiba Evangeline mengulurkan tangannya menghalangi pintu menutup otomatis.
Gadis itu melangkah ke luar dan menyusul Malcolm yang berjalan di depannya.
“Tunggu!” panggil Evangeline.
Malcolm pun berhenti. Dokter tersebut menoleh dan melihat Evangeline yang berlari ke arahnya. Gadis itu nampak terengah-engah sambil memegangi lututnya.
Sejenak dia mencoba mengatur nafas, sebelum akhirnya kembali bicara.
“Dimana... Dimana orang itu? Tolong antar aku ke sana,” pinta Evangeline.
__ADS_1
Malcolm tampak tersenyum tipis melihat hal tersebut.
“Dia ada di kamar rawat paling ujung. Hari ini dia harus mengganti perbannya, maka dari itu saya hendak menemuinya. Mari, ikut saya,” ajak Malcolm.
“Hanya mengganti perban saja kan?” tanya Evangeline cepat.
Malcolm terdiam karena reaksi Evangeline yang membuatnya sedikit terkejut.
“Tentu. Hanya menganti perban saja dan melihat apakah lukanya sudah membaik atau tidak,” jawab Malcolm.
Lalu, Evangeline mengulurkan kedua tangannya ke depan, dengan telapak tangan menengadah ke atas.
Malcolm memicingkan matanya melihat hal itu, sambil memiringkan kepalanya sedikit.
“Berikan itu padaku. Biar aku saja yang melakukannya,” pinta Evangeline.
"Tapi, dia itu sangat rewel ketika diobati, dan belum pernah mau menerima pengobatan dari orang lain," sahut Malcolm.
"Tolong berikan itu. Saya istrinya. Apa saya masih harus disebut orang lain juga?" tanya Evangeline dengan tatapan mata yang tegas.
Dokter itu pun tersenyum samar. Dia seolah mengerti maksud dari permintaan Evangeline. Dia pun dengan mudah mengijinkan gadis itu untuk menggantikan tugasnya.
Malcolm menyerahkan wadah stainless berisikan obat, kasa, plester kain, gunting dan peralatan lainnya kepada gadis tersebut.
“Kalau begitu, tolong yah,” ucap Malcolm.
Dia pun kemudian berjalan kembali ke arah lift dan turun dari lantai tersebut, meninggalkan Evangeline.
Gadis itu kemudian berjalan ke ruangan yang ditunjukkan oleh Malcolm sebelumnya, yang berada di ujung lorong.
Rupanya benar, kamar di ujung adalah milik Ardiaz. Bisa dilihat dari keberadaan beberapa pengawal pribadinya yang berjaga di sana.
Saat melihat kedatangan Evangeline, semuanya pun menghadap dan membungkuk memberi salam kepada sang nona.
“Tolong bukakan pintunya,” seru Evangeline.
Salah satu dari pengawal itu pun membukakan pintu, dan mempersilakan gadis tersebut masuk.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih