
Melihat Evangeline yang terus merintih di tengah demamnya, membuat Ardiaz semakin kebingungan.
“Aahhh... Delvin, kau saja yang melakukannya,” seru Ardiaz.
“Tapi, bukankah sebaiknya Anda yang melakukan? Anda kan suaminya,” sahut Delvin.
Ardiaz membola. Dia baru sadar jika saat ini orang yang paling berhak menyentuh gadis itu adalah dirinya, yang sudah secara sah menjadi suami.
Akan tetapi, rasa canggung membuatnya enggan. Tapi lagi-lagi, reaksi kesakitan Evangelin membuat Ardiaz bingung.
“Eeehhmmm...,” erang Evangeline.
Bahkan kerutan di keningnya semakin tampak jelas, ditambah suhu tubuhnya yang juga masih belum turun sama sekali. Bibirnya kering karena dehidrasi. Jika dibiarkan terus seperti ini, akan berakibat fatal baginya.
Akhirnya, dengan kesal Ardiaz pun mengambil obat dan menuangkannya ke sendok. Tanpa berlama-lama, dia memasukkan obat tersebut ke mulutnya, dan melempar sendok tersebut.
Kemudian dia meraih dagu Evangeline dan mendekatkan mulutnya, hingga dia pun menyuapkan obat itu ke mulut sang gadis dengan mulutnya.
Dia bahkan harus memastikan obat itu tertelan, hingga dia harus berlama-lama melakukannya. Lidahnya digunakan sebagai dayung yang mengalirkan cairan obat ke mulut istrinya. Cara ini memang benar-benar efektif untuk membuat Evangeline meminum obatnya.
Setelah selesai, Ardiaz pun membaringkan Evangeline kembali. Dia bangun dan beranjak ke kamar mandi sambil menyeka bibirnya. Rasa obat benar-benar memenuhi mulutnya hingga terasa tak nyaman.
Sementara Delvin memberikan minum kepada sang Nona, Ardiaz berkumur di kamar mandi untuk menghilangkan rasa obat yang masih menempel di dalam mulut.
Dia mengambil nafas dalam sambil kedua tangannya bertumpu pada wastafle. Wajahnya tertunduk dengan mata terpejam.
Namun tak berapa lama, dia kembali mengangkat wajahnya dan menatap pantulan dirinya di cermin. Pemuda itu tampak menghela nafas berat, lalu kemudian berjalan keluar dari sana.
“Delvin, kau jaga Eva. Aku akan ke rumah sakit terlebih dulu,” ucap Ardiaz.
“Anda tidak makan malam dulu?” tanya Delvin.
“Nanti saja. Kalau terjadi apa-apa padanya, hubungi aku segera. Pastikan tidak ada yang masuk kemari, apa lagi sampai mengganggunya,” seru Ardiaz.
“Baik, Tuan” sahut Delvin.
Pemuda itu pun pergi dari sana, meninggalkan istrinya yang belum juga sadarkan diri.
...❄❄❄❄❄...
Dini hari, Ardiaz telah kembali ke rumah besar keluarga Hemachandra. Seperti biasa, akan ada Delvin yang selalu menyambut tuan rumah di kediaman tersebut.
__ADS_1
“Selamat datang kembali, Tuan,” sapa Delvin.
“Apa dia sudah sadar?” tanya Ardiaz.
“Masih belum. Hanya saja demamnya berangsur-angsur turun. Saya sudah perintahkan seorang maid untuk menjaga beliau di kamarnya, dan sesekali menyeka keringat dengan handuk hangat,” tutur Delvin.
“Baiklah. Kau bisa istirahat sekarang. Biar aku yang akan menjaga dia di atas,” seru Ardiaz.
Pemuda itu pun lalu melangkahkan kakinya kembali ke arah dalam, menapaki anak tangga dan menuju ke kamar sang istri yang masih terpejam.
Sudah lebih dari dua belas jam sejak gadis itu pingsan, dan hingga kini masih belum juga sadarkan diri. Hanya sesekali terdengar suara rintihan yang keluar dari bibirnya, menandakan bahwa dia merasa tak nyaman dengan tubuhnya.
Saat Ardiaz masuk, maid yang sejak tadi duduk di dekat Evangeline, seketika berdiri dan membungkuk memberi hormat kepada sang tuan rumah.
“Kau keluar lah. Biar aku yang akan di sini menjaganya,” seru Ardiaz.
“Baik, Tuan. Saya akan ambilkan lagi air hangatnya untuk Anda,” ucap maid tersebut.
Dia pun keluar membawa wadah air yang sejak tadi ia gunakan, untuk mengompres sang nona. Ardiaz pun lalu berjalan mendekat ke kursi yang ada di dekat ranjang dan duduk di sana.
Dengan punggung tangannya, dia mencoba melihat apakah kondisi sang istri telah membaik seperti yang dikatakan oleh Delvin.
“A... yah... A... ayah...,” ucapnya terbata dengan bibir keringnya.
“Kalau kau ingin bertemu ayahmu, bangunlah cepat. Lihat kenyataan yang ada dan biarkan aku bebas dari semua ini,” ucap Ardiaz dingin.
Seolah mendengar perkataan suaminya yang datar, Evangeline pun bereaksi dan mulai mengerjapkan matanya. Erangan lirih kembali terdengar dan kerutan di keningnya pun terlihat semakin jelas.
Perlahan, dia mulai membuka matanya. Namun, baru sedikit ia membuka pelupuk mata, gadis itu kembali terpejam karena merasa silau dengan cahaya yang ada di sekitarnya.
“Apa kau sudah akan sadar? Bangun dan makanlah. Kau harus tetap sehat dan kuat kalau mau membalas dendam ayahmu,” ucap Ardiaz.
Mendengar perkataan pemuda tersebut, Evangeline yang tadi masih merasa silau pun seketika membuka mata dan membiarkan cahaya melukai pupilnya, membuat lingkaran hitam kecil itu bekerja keras mengatur otot mata terhadap rangsangan cahaya.
“Kau... Kau brengs*k!” maki Evangeline.
Gadis itu pun seketika mencoba bangun dari tidurnya, namun kepalanya terasa pening dan membuatnya tertahan. Satu tangannya memegangi pelipisnya, sedangkan satunya lagi menyangga tubuhnya, akan tetapi tak mampu dan membuatnya kembali terbaring.
Hal itu membuat Ardiaz mendekat dan mencoba membantu Evangeline untuk duduk. Namun, gadis itu seketika langsung menepis tangan pria yang sudah menjadi suaminya itu dengan kasar.
“Jangan sentuh aku!” seru Evangeline dingin.
__ADS_1
Ardiaz pun kembali mundur dan duduk di kursinya. Dia hanya melihat sang istri menggeliat karena merasa begitu pusing, sambil membetulkan posisinya.
“Di mana aku?” tanya Evangeline di sela rintihannya.
“Apa kau mendadak hilang ingatan? Seingatku kepala mu tidak terbentur. Apa karena demam kau jadi mendadak b*doh?” tanya Ardiaz sarkas.
Evangeline pun kembali membuka matanya dan melihat sekeliling. Dia baru sadar bahwa saat ini dia sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
Apa yang sudah terjadi? Apa aku pingsan begitu lama sampai tak terasa hari sudah gelap? batin Evangeline.
Tatapan matanya terhenti saat menangkap sosok dingin Ardiaz, yang duduk bersandar di kursi yang ada di samping tempat tidurnya.
“Sedang apa kau di sini? Sebaiknya kau pergi saja dan jangan ganggu aku. Pergi!” seru Evangeline.
Tatapan matanya tajam menikam ke dalam manik hitam sang suami.
Ardiaz pun lalu berdiri, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Pandangannya seolah merendahkan Evangeline dengan ekspresi dingin seperti biasanya.
“Melihat kau sudah bisa mengusir ku, sepertinya kau sudah baik-baik saja sekarang. Baiklah. Aku memang malas terus bersama gadis cengeng seperti mu,” sahut Ardiaz tak kalah datar.
Pemuda itu pun berbalik dan melangkah pergi keluar meninggalkan Evangeline seorang diri di sana.
Seperginya Ardiaz, Evangeline berusaha duduk dengan sambil memegangi kepalanya, yang masih sedikit pening. Gadis itu duduk bersandar di head board.
Air matanya luruh di pipi, saat mengingat kembali nasib ayahnya yang menjadi korban tembak, dan bahkan dia belum tau dimana tubuh ayahnya saat ini.
Ingin dia bertanya pada Ardiaz, akan tetapi gadis itu merasa enggan dan sudah pasti pemuda tersebut tak mau memberitahunya semudah itu.
Evangeline hanya bisa meringkuk menangisi nasibnya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1