
Beberapa saat kemudian, saat Evangeline masih menangis dengan isak yang sedikit demi sedikit menghilang, hanya menyisakan lelehan bening yang terus berurai di wajahnya, dua orang maid masuk ke dalam kamar sambil mendorong sebuah kereta berisi hidangan yang sengaja disiapkan untuk sang nona.
Evangeline hanya meliriknya sekilas dan kembali membuang pandangan ke depan.
“Nona, kami sudah menyiapkan makan malam untuk Anda. Apa yang Anda ingin makan terlebih dulu?” tanya seorang maid.
“Aku tidak memerlukannya. Bawa pergi saja semuanya dari sini,” seru Evangeline.
“Maaf, Nona. Tapi Tuan Ardiaz meminta kami untuk memastikan Anda menghabiskan makanan ini,” sahut maid tersebut.
Dia pun lalu menyiapkan meja makan portabel, dan menata makanan yang mereka bawa ke atas tempat tidur.
Namun, Evangeline melihatnya dengan tatapan nyalang. Seketika lengannya terangkat dan menyapu semuanya hingga berantakan ke atas karpet di bawah tempat tidurnya.
Bubur dalam mangkok pun sampai tumpah, para maid seketika berjongkok untuk memberikannya.
“Katakan pada tuan kalian itu, kalau aku sudah mengosongkan mangkuknya,” seru Evangeline dingin.
Maid itu diam sambil tangannya terus bergerak membereskan tumpahan bubur. Satu di antaranya bangun dan mengambil mangkuk lainnya yang sengaja mereka persiapkan, karena menduga kejadian ini pasti akan terjadi, mengingat sikap keras kepala Evangeline.
Dia pun kembali menyajikannya di atas meja portabel, akan tetapi lagi-lagi ditepis hingga tumpah.
“Sudah ku katakan, aku tidak mau makan. Jangan pernah berpikir untuk mengatur hidupku!” ucap Evangeline dengan geram.
Giginya bahkan sampai terkatup rapat dengan mata yang memicing ke arah maid tersebut.
“Maaf, Nona. Tapi ini perintah Tuan, dan beliau mengatakan bahwa Anda harus menurutinya,” tepis sang maid.
“Katakan pada Tuan mu itu kalau aku sudah mengosongkan isi mangkuknya. Bukankah perintahnya hanya itu dan bukan memakannya sampai habis?” sanggah Evangeline tegas.
Maid itu pun diam dan menimpali lagi perkataan nonanya yang keras kepala. Dia memilih membersihkan tumpahan bubur yang ada di atas lantai dan membereskan semuanya, kemudian membawa pergi troli keluar dari sana.
Melihat kedua maid itu pergi, tatapan Evangeline yang sejak tadi penuh dengan amarah, kini kembali terlihat berkaca-kaca.
Kedua kakinya tertekuk dan menempel di depan dadanya. Wajahnya ia benamkan di sela antara lutut dan dada, dengan helaan nafas yang terdengar begitu berat.
Ayah, bagaimana aku harus menghadapi semua ini. Bagaimana aku harus membalas dendam atas apa yang terjadi padamu? Aku merasa kecil di depan Ardiaz yang begitu kejam, batin Evangeline.
...❄❄❄❄❄...
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di sebuah ruang baca di kediaman Hemachandra, seorang pria yang duduk di balik meja kerja yang besar, berbahan kayu kokoh dengan warna coklat gelap mengkilap, membuka matanya yang sejak tadi terpejam setelah mendengar sebuah ketukan dari luar ruangan.
Ketukan itu mengganggu waktu istirahatnya yang sejak beberapa hari terakhir selalu terganggu.
“Masuk!” seru pria itu.
Pintu pun terbuka. Nampak seorang pria paruh baya berpakaian formal masuk dan berjalan menghampiri pria muda tadi.
“Maaf mengganggu, Tuan. Maid yang Anda perintahkan untuk membawa makanan ke kamar Nona Eva sudah kembali ke dapur. Menurut mereka, Nona menolak makan dan bahkan membuang semua makanan yang disajikan,” ungkap Delvin.
Pria muda yang tak lain adalah Ardiaz itu, terlihat menghela nafas berat dengan mata yang kembali tertutup. Jari telunjuk dan ibu jarinya memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing.
“Dasar gadis manja. Membuat ku pusing saja,” gumam Ardiaz.
Pria itu lalu berdiri dan berjalan dengan tatapan malas. Dia melewati Delvin dan berhenti tepat saat dia baru meraih gagang pintu.
“Minta pelayan membuat makanan untuk dia lagi. Biar aku yang akan membujuknya,” seru Ardiaz.
“Baik, Tuan,” sahut Delvin.
Ardiaz pun lalu keluar dan pergi ke arah sayap kanan rumah tersebut, di mana kamar sang istri berada. Sementara Delvin kembali ke bawah dan meminta pelayan menyiapkan makanan untuk sang nona.
...❄❄❄❄❄...
Gadis itu seperti sedang tertidur sambil duduk meringkuk memeluk lututnya, dan bersandar di Head Board.
Tampak pintu kamar terbuka seketika tanpa diketuk terlebih dahulu. Ardiaz muncul dari sana dan tatapannya langsung tertuju pada sosok yang tengah berada di atas ranjang.
Dia pun lalu berjalan menghampiri Evangeline, dan duduk di kursi yang berada di dekat sana. Tiba-tiba, gadis tersebut terbangun karena kepalanya terkulai hampir jatuh dan mengagetkan dirinya sendiri.
Dia sadar bahwa dia sudah ketiduran di sana dalam posisi itu setelah beberapa saat. Dia mencoba mengangkat kepalanya dan tak sengaja menangkap keberadaan sosok pria yang sangat dibencinya sejak beberapa hari ini.
Kesadarannya seketika terisi penuh dan wajah angkuh itu kembali terlihat.
“Mau apa kau kemari? Bukankah aku memintamu untuk tidak menggangguku lagi?” tanya Evangeline dengan nada dinginnya.
“Aku juga inginnya seperti itu. Tapi apa kau tau, waktu istirahat ku terganggu hanya karena seseorang menolak untuk makan, dan malah mengotori kamarnya sendiri. Aku bisa saja mengabaikanmu, tapi aku masih memandang wajah ayahmu itu. Beliau sudah menyerahkanmu padaku sejak pesta ulang tahunmu. Apa kau lupa?” jawab Ardiaz tak kalah datar.
“Heh... Memandang wajah ayahku? Lucu sekali saat ucapan itu keluar dari mulut bajingan seperti mu,” ejek Evangeline sarkas.
__ADS_1
Ardiaz diam. Dia tak mau terpancing dan mengatakan sesuatu yang akan membuat rencananya berantakan.
Beruntung, saat itu sebuah ketukan terdengar dari luar. Dua orang maid datang dengan membawa kembali sebuah kereta dorong berisi makanan untuk sang nona.
“Tinggalkan saja di situ. Kalian boleh keluar,” seru Ardiaz.
“Baik, Tuan,” sahut kedua maid tersebut.
Mereka pun pergi. Setelah Ardiaz kembali berdua dengan Evangeline, pria tersebut berdiri dan berjalan ke arah kereta dorong.
Dia mengambil mangkok berisi bubur yang masih panas dan membawanya ke dekat sang istri.
Dia duduk di tepi ranjang, namun Evangeline justru beringsut menjauh. Dia enggan berdekatan dengan orang yang dianggap sudah mencelakai ayahnya dan membuat hidupnya kacau dalam sekejap.
Ardiaz terlihat mengambil sesendok penuh bubur, dan meniupnya agar tidak terlalu panas untuk dimakan.
“Buka mulutmu,” seru Ardiaz.
Dia mencoba menyodorkan sendok ke depan wajah Evangeline, akan tetapi gadis itu justru memalingkan wajahnya ke arah lain dan enggan melakukan apa yang diperintahkan oleh sang suami.
“Apa kau tuli? Ku bilang buka mulutmu,” ulang Ardiaz.
Namun Evangeline seolah benar-benar menulikan telinganya dan tak mau menghiraukan perkataan pria di depannya itu.
“Baik, kau sendiri yang tak mau makan dengan cara normal,” sahut Ardiaz.
Dia lalu menyuapkan bubur ke dalam mulutnya sendiri dan mendekat ke arah Evangeline secara tiba-tiba. Dia menarik tengkuk gadis itu, lalu menyerang bibir sang istri hingga Evangeline terkejut dengan apa yang dilakukan Ardiaz.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1