They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Cemburu


__ADS_3

Pria itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sebuah alat berbentuk pemancar mini dengan parabola yang bisa dibuka tutup seperti payung.


Dia kemudian menekan sebuah tombol yang ada di batangnya, lalu mendongak melihat ke sekeliling. Dia tau jika sekitar sana ada beberapa titik CCTV, namun tak ada penjagaan karena itu adalah area pribadi.


Oleh karenanya, dia memakai alat pengacau sinyal untuk melumpuhkan alat pemantau tersebut.


Ardiaz bergerak dengan lincah dan sangat hati-hati. Namun, saat dia hendak ke luar dari rimbunnya bambu cina dan menuju ke sisi rumah, gerakannya terhenti tatkala matanya melihat sebuah adegan mengejutkan tepat di depannya.


Ada rasa panas yang menjalar di dadanya, ketika melihat sang istri tengah bersama dengan pria lain, dalam jarak yang begitu dekat.


Dia bisa melihat dari kejauhan bahwa wajah keduanya benar-benar sangat dekat dan nyaris bersentuhan. Tangannya pun tanpa terasa mengepal kuat dengan tatapan mata yang mulai terlihat merah.


Itulah saat dimana Malcolm hampir mencium bibir Evangeline, saat dia menyatakan perasaan kepada gadis itu.


Ardiaz seketika berbalik dan enggan menyaksikan lebih lanjut lagi apa yang akan terjadi diantara kedua orang di seberang sana. Dia pun memutuskan menyudahi aksinya, dan mengambil kembali alat yang baru saja ia pasang.


Namun ketika dia hendak melompat keluar pagar, Lagi-lagi angin berhembus membawa aroma Ardiaz kepada Evangeline, dan membuat gadis itu seketika tersadar dan memalingkan wajahnya dari Malcolm.


Evangeline menoleh ke kanan dan kiri, bahkan berbalik ke belakang seolah sedang mencoba menemukan sesuatu yang telah lama ia cari.


“Eva, ada apa?” tanya Malcolm.


“Apa kau merasakannya? Dia di sini. Dia datang lagi. Aku tau itu pasti dia. Aroma... Aku masih ingat aromanya. Itu masih sama seperti dulu. Aku yakin dia pasti di sini,” cerocos Evangeline.


“Dia? Siapa maksudmu?” tanya Malcolm.


“Ardiaz. Dia datang. Aku bisa merasakannya,” jawab Evangeline.


Wajahnya benar-benar terlihat begitu berbinar mencari keberadaan pria yang telah dikabarkan meninggal itu.


Gadis itu terus melihat sekeliling, mencoba mencari orang yang diharapkannya, dan tak peduli bagaimana gurat wajah Malcolm terlihat saat ini. Jelas tergambar sebuah kekecewaan di sana.


Disisi lain, Ardiaz yang tidak melihat reaksi Evangeline pun masuk begitu saja, kembali ke dalam mobil dan meminta Sonia untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


“Jalan,” seru Ardiaz


“Ada apa? Jangan bilang kau tertangkap oleh mereka?” terka Sonia.


“Jalan saja ku bilang,” seru pria itu lagi.


Sonia hanya bisa mengerutkan keningnya tak paham, dan menuruti perkataan dari adik Aaron tersebut meski pertanyaan memenuhi pikirannya.


Jadi, ini alasan kenapa kau masih bisa tersenyum dan melupakanku sepenuhnya? Syukurlah. Tanggung jawabku sekarang sudah selesai. Aku tak perlu mengkhawatirkan gadis manja menyebalkan seperti mu lagi, batin Ardiaz.

__ADS_1


Meski dia berusaha meyakinkan dirinya seperti tiu, namun hatinya tak bisa dibohongi begitu saja. Semua bisa terlihat jelas dari bagaimana dia menatap keluar jendela, dengan tangan yang sejak tadi terus mengepal kuat.


...❄❄❄❄❄...


Setelah kejadian di danau belakang rumah Hemachandra, Ardiaz tak lagi mau menyinggung masalah kakaknya, Hemachandra atau bahkan sang istri, Evangeline.


Dia hanya fokus menyelesaikan misinya dan sesegera mungkin kembali ke kota Orchid, untuk bersembunyi di sana.


Kali ini, Ardiaz tak mau berlama-lama lagi di Magnolia. Hanya butuh waktu dua hari saja dan dia sudah kembali ke ibu kota dengan penerbangan pertama.


Dia terus meyakinkan dirinya, bahwa lebih baik jika Evangeline melupakannya dan memulai hubungan baru dengan pria lain yang lebih normal darinya.


Namun sekali lagi, hatinya tak bisa berbohong. Dia terus membuat semua anak buahnya ketakutan, karena temperamennya yang tiba-tiba memburuk, semenjak kembali dari Magnolia.


Sampai-sampai, Mac duff pun menyadari hal itu, dan tak bisa tetap diam tanpa bertanya kepada sang rekan.


“Apa ada yang mengganggumu di sana, hah?” tanya Mac duff.


Saat itu, mereka semua tengah berkumpul di garasi Ardiaz. Adik Aaron tersebut terlihat sedang mengutak atik motor besarnya, yang sudah beberapa pekan ditinggalkan.


Melihat Ardiaz hanya diam, Mac duff semakin yakin jika terjadi sesuatu di sana. Baru saja dia hendak membuka mulut lagi, pria itu lebih dulu berucap.


“Aku akan datang ke klub mu nanti malam. Ada transaksi di sana. Persiapkan semuanya,” seru Ardiaz.


“Benar-benar kumpulan orang-orang yang aneh. Aku pergi saja kalau begitu,” ucap Mac duff kesal.


Dia pun pergi dari sana meninggalkan Ardiaz bersama Jordan dan juga Damian.


Sejak saat itu, Ardiaz selalu kaku dan dingin. Aura dinginnya semakin menjadi-jadi, bahkan keseksian seorang Alexa saja tak bisa melelehkan pria tersebut.


Ardiaz semakin sulit didekati, bahkan untuk sekedar membaca hatinya pun tak ada yang bisa, sekalipun itu Mac duff yang sudah lebih dulu bersamanya.


Hingga suatu ketika, Damian mengatakan padanya, bahwa ada yang mencari tau tentang ledakan gudang senjata di sisi barat kota, tempat dimana Ardiaz dan teman-temannya diberitakan meninggal dalam ledakan tersebut.


Flashback


“Ada yang mencoba menyelidiki ledakan enam bulan lalu,” ungkap Damian.


Ardiaz terdiam mendengar hal tersebut. Dia mencoba mencerna sejenak tentang informasi yang baru sana didapatnya ini.


“Benarkah? Aku rasa ini sangat konyol jika hanya sebuah keisengan mu saja,” ucap pria itu kemudian.


“Oh, ayolah. Aku memang sering beromong kosong. Tapi kali ini benar-benar serius. Coba tebak siapa yang mencoba mencari tahu?” tantang Damian.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Ardiaz.


“Cobalah kau tebak lebih dulu,” seru Damian.


“Aku buntu. Katakan saja siapa?” sahut Ardiaz.


“Dia seorang gadis cantik yang datang jauh-jauh dari Kota Wisteria. Namanya Evangeline atau Eva. Apa kalian mengenalnya? Dia lumayan cantik, tubuhnya juga bagus, kulitnya putih mulus...,” cerocos Damian.


“Bagaimana kau tahu hal ini? Apa ada yang menyelidiki gadis ini?” sela Ardiaz, bahkan sebelum lawan bicaranya menyelesaikan kalimatnya.


“Dia sendiri yang datang ke basecamp klub konyol ku,” sahut Damian.


“Apa ada yang sudah tahu tentang masalah ini selain kau dan aku?” tanya Ardiaz lagi.


“Ehm... Aku baru menghubungimu saja. Apa mungkin ini masalah serius? Perlu ku laporkan pada yang lain?” tanya Damian.


“Hanya gadis kecil saja, jangan terlalu serius. Kecoh saja dia. Jangan sampai dia menemukan apapun. Bukankah kau lebih pintar dalam urusan mengecoh orang,” seru Ardiaz.


“Ah... Benarkah boleh seperti itu? Kalau begitu aku akan mengencaninya dulu sebelum menyelesaikan tugas ini,” ucap Damian.


“Terserah. Tidak perlu melapor ke yang lain. Lain kali kalau kau datang kemari, akan ku traktir satu box pizza ukuran besar kesukaan mu,” sahut Ardiaz.


“Aku tak mau. Minta lah si bodoh mengajariku sistem Enel itu...,” cerocos Damian.


Ardiaz mematikan panggilan ponselnya dengan Damian, bahkan sebelum hacker muda itu selesai berbicara.


Mac duff yang saat itu berada bersamanya pun penasaran dengan yang dibicarakan keduanya.


“Gadis bodoh itu datang. Eva pergi ke kota ini untuk menyelidiki ledakan itu,” ucap Ardiaz.


Mac duff pun memicingkan matanya dengan kening yang berkerut dan alis yang hampir menyatu.


Flashback off


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2