They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Pukulan Ardiaz


__ADS_3

Setelah mengetahui keberadaan Evangeline di kota Orchid, Ardiaz kembali mengeluarkan ponsel model lamanya dan menghubungi Sonia.


“Ha...,” sapa di seberang


“Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau gadis itu datang kemari, hah?” sela Ardiaz cepat, bahkan sebelum Sonia mengatakan kata halo.


“Hei, Tuan zombie. Temperamenmu setiap hari semakin buruk saja ya. Aku bahkan belum selesai mengatakan 'halo' dan kau sudah marah-marah tak jelas padaku? Sungguh menyebalkan,” ucap Sonia.


“Jawab saja pertanyaanku tadi. Kenapa Eva tiba-tiba datang kemari?” tanya Ardiaz.


“Bukankah sudah pernah ku beritahu bahwa nona muda itu sedang melakukan sesuatu yang orang lain tak boleh tau? Rupanya dia berniat pergi ke kota mu itu sejak awal. Mungkin dia memergoki mu diam-din datang ke rumahnya dan bermaksud meminta penjelasan darimu,” ujar Sonia panjang lebar.


Mendengar penjelasan yang penuh dengan kemungkinan itu, membuat Ardiaz tampak terdiam sejenak, sambil mencerna semua perkataan sekretaris Evangeline tersebut.


“Kenapa kau diam? Sudah dapat jawabannya, dan kau bersikap tak peduli lagi begitu?” cecar Sonia yang kesal, mendapati Ardiaz yang justru diam setelah sebelumnya marah-marah tak jelas.


“Sejak kapan dia pergi?” tanya Ardiaz lagi.


“Baru kemarin. Kenapa? Apa dia sudah menemukanmu? Cepat juga gerakannya?” cecar Sonia.


“Lain kali, harusnya kau lebih dulu memberitahukan hal sepenting ini padaku. Apa kau mengerti?” seru Ardiaz.


“Hei, Tuan. Kau jangan...,” sahut Sonia.


Namun seperti biasa, Ardiaz tak pernah mau mendengarkan perkataan lawan bicaranya sampai selesai terlebih dulu saat hendak menutup telepon. Hal ini lah yang membuat siapapun kesal dibuatnya.


Tak ada waktu baginya untuk memikirkan Evangeline saat ini, karena ada transaksi penting yang harus diselesaikan nanti malam.


Malam tiba, dan Ardiaz pun bersiap pergi menuju ke salah satu klub Lucifer, yang dikelola oleh Joker, dan dipercayakan kepada Mac duff sebagai bos di sana dengan nama samaran 'Mike', karena pria seksi itu sudah diangkat menjadi salah satu duke atau adipati King Joker.


Seperti biasa, Ardiaz selalu berpenampilan bak bos mafia, dengan kemeja dan jas hitam, yang dilapisi lagi dengan sebuah mantel berbulu. Gaya rambut yang tersisir rapi serta kaca mata hitam, membuat siapapun yang melihat sudah bisa mengenali identitasnya.


Dengan diikuti oleh beberapa pengawal yang juga berpakaian serba hitam, Ardiaz memasuki klub tersebut.


Tanpa diduga, malam itu Evangeline juga pergi ke klub tersebut bersama temannya yang berna Joy, dengan niat untuk bersenang-senang. Namun siapa sangka, sebuah kejadian tak terduga menimpanya.


Evangeline yang sudah mabuk hanya dengan meminum beberapa gelak cocktail saja, diganggu seorang pria di lorong panjang yang mengarah ke toilet.


Tepat saat itu, Ardiaz baru saja selesai dengan urusannya, dan berjalan ke luar dari klub menggunakan pintu belakang, yang melewati toilet tempat Evangeline diganggu.


Awalnya, Ardiaz tak mau ikut campur dengan hal itu dan berjalan melewatinya begitu saja, tanpa ada niatan membantu gadis tersebut, karena merasa tak mengenalnya.


Akan tetapi, langkahnya tiba-tiba terhenti saat suara gadis berpakaian seksi itu terdengar di telinganya.


Dia mengenali suara tersebut, dan seketika menoleh. Matanya membola dan rahangnya mengeras. Tanpa mempedulikan sekelilingnya, dia maju menghampiri si pengganggu dan meraih kerah baju yang dipakai pria asing tersebut lalu menariknya menjauh dari sang gadis, yang tak lain adalah istrinya sendiri, Evangeline.

__ADS_1


Sebuah pukulan pun mendarat di wajah si pria asing, disusul dengan pukulan-pukulan berikutnya hingga pria tersebut babak belur dan berdarah-darah.


Mac duff yang terlambat melihat kejadian itu pun bergegas melerai perkelahian. Namun sebelum dia berhak dari tempatnya, seorang pelayan yang bersamanya mengatakan bahwa gadis itu datang dengan seorang teman wanita.


Dia lalu meminta pelayan tersebut untuk memanggil Joy, dan memintanya untuk segera membawa pergi Evangeline dari tempat itu, sementara dirinya mencoba membereskan kekacauan.


“Hentikan, atau kau akan membunuhnya,” seru Mac duff, sambil menahan lengan Ardiaz yang sudah bersiap kembali melayangkan pukulan.


“Lepas!” seru Ardiaz.


“Bukankah kau juga tidak mengenal gadis ini?” tanya Mac duff.


Dia lalu berbisik di telinga Ardiaz dan mengingatkan tentang sesuatu.


“Ingat, banyak mata Devon di sini. Hentikan, atau kau hanya akan mengacaukan semuanya,” ucap Mac duff.


Mendengar hal itu, Ardiaz sadar bahwa dia telah lepas kendali, dan berusaha menenangkan dirinya. Dia pun berlalu dari tempat tersebut, meski perasaannya bercampur aduk melihat Evangeline yang terduduk lesu di lantai.


Nampak jelas gadis itu sedang mabuk, ditambah pakaiannya yang sangat seksi, membuat hatinya merasa tak tenang.


Namun, lagi-lagi dia membohongi diri dan bersikap acuh untuk bisa pergi dari sana. Saat Joy tiba, sudah tak ada lagi Ardiaz dan anak buahnya, menyisakan Evangeline yang tengah sakit kepala akibat alkohol yang masuk ke tubuhnya.


Namun, di tengah mabuknya, dia masih bisa menyadari kehadiran Ardiaz yang lagi-lagi dari aroma tubuh pria tersebut, yang membuat kesadarannya ia paksa untuk kembali, meski tidak bisa sepenuhnya. Hal ini menjadi kesempatan Mac duff untuk mengelabui Evangeline dan menutupi keberadaan suami gadis tersebut.


Meski awalnya dia sangat ngotot akan pendapatnya, namun Joy dan Mac duff terus meyakinkannya bahwa tak ada orang lain di sana selain mereka.


...❄❄❄❄❄...


Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian di bar. Semuanya telah kembali seperti semula seakan tidak ada yang terjadi.


Namun, ada seorang gadis berambut pendek sebahu yang sejak beberapa hari terus saja bersembunyi dan mengendap-endap, seolah sedang menghindari sesuatu.


Dia adalah seorang mahasiswi di Universitas Orchid, kampus yang sama dengan Evangeline.


Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Joy, sahabat Evangeline, sekaligus anggota klub criminal hunter.


Dia terlihat tengah memperhatikan sekitar untuk memastikan sesuatu. Setelah merasa aman, dia pun lalu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.


Gadis tersebut tampak berjalan menuju ke arah parkiran basement yang sudah sepi, karena banyak mahasiswa yang telah pulang ke rumah masing-masing.


Dia pun berjalan cepat ke tempat mobilnya berada. Namun, saat dia melewati sebuah pilar, seseorang tiba-tiba muncul tepat di depannya dan membuat gadis tersebut hampir memekik keras.


Namun, dia urung dan hanya bisa memegangi dadanya, seraya mencoba bernafas dengan benar sambil menormalkan kembali degup jantung yang hampir melompat itu.


Seorang gadis berambut panjang nampak tersenyum seakan tak berdosa ke arah Joy, sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


“Hai, Joy. Kenapa kau selalu pulang lebih dulu dan tak mau bersama ku lagi?” tanya gadis yang tak lain adalah Evangeline Hemachandra, istri Ardiaz.


Joy masih memegangi dadanya yang seakan hampir berhenti berdetak, saat tiba-tiba temannya itu muncul di depan wajahnya.


Gadis berambut sebahu itu pun lalu menapat Evangeline dengan kesal sambil memukul kecil lengan putri Hemachandra tersebut.


“Kau ini. Apa kau akan tanggung jawab kalau aku sampai terkena serangan jantung, hah?” keluh Joy.


Evangeline meringis sakit karena pukulan ringan dari temannya itu. Dia pun mengusap-usap kulitnya yang sedikit memerah sambil terkekeh kecil.


“Hehe.. Kalau tidak seperti ini, apa kau akan mau bertemu dengan ku, hah? Kau selalu menghindari ku kan,” terka Evangeline.


“Kau tau sendiri jawabannya bukan,” sahut Joy sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


“Ya, baiklah... Baiklah... Aku minta maaf. Ini semua salahku. Kau yang terus menghindar dan pergi diam-diam dari ku pun itu salahku. Aku akui itu. Tapi, bisa tidak kau hentikan aksi konyol mu itu sekarang?” pinta Evangeline.


“Tergantung dirimu. Apa kau masih mau merengek memintaku menemanimu pergi ke tempat itu lagi atau tidak,” sahut Joy dengan pertanyaan lain.


Evangeline terdengar menghela nafas panjang mendengar perkataan dari temannya itu. Bahunya yang sejak tadi naik, kini turun dan melemas, seiring dengan wajah cantiknya yang tertunduk lesu.


“Baiklah, aku berjanji tidak akan merengek memintamu menemaniku lagi.” Evangeline mengangkat satu tangannya ke atas tanda dia berjanji.


Joy melihat hal itu dengan mata yang memicing. Evangeline pun lalu mengangkat pandangannya dan menatap penuh harap, dengan mata anjingnya yang meminta belas kasih kepada Joy.


“Ayolah, aku sudah berjanji bukan. Apa itu tidak cukup, Hem?” rengek Evangeline.


“Hah... Baiklah. Kali ini aku akan percaya. Tapi awas kalau kau merengek lagi padaku tentang hal itu,” ucap Joy kesal dengan tingkah manja Evangeline, yang sering membuatnya tak bisa menolak keinginannya.


Mendengar bahwa temannya sudah setuju untuk tidak mengindarinya lagi, Evangeline pun tersenyum lebar dan menghambur memeluk temannya itu.


“Terimakasih, Joy ku sayang. Kau memang teman terbaik ku,” ucap Evangeline sambil memeluk gadis tersebut.


Joy merasa kesulitan dan sesak karena pelukan istri Ardiaz itu, namun dia tak bisa menolaknya karena memang beginilah sikap seorang Evangeline yang sangat dia kenal sejak dulu.


Namun, dia tak tau jika senyum lebar yang Evangeline tunjukan tadi hilang, dan berubah menjadi ekspresi aneh yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tepat di balik punggungnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2