They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Perjanjian nekat


__ADS_3

Malam semakin larut. Tepat pukul sebelas malam, seorang gadis cantik nampak memasuki sebuah klub malam dengan pakaian yang sedikit lebih tertutup dari sebelumnya.


Dia mengenakan mini dress dengan tali bahu sebelah berwarna pink, yang dipadukan dengan jaket kulit hitam dengan aksen runcing di beberapa bagian.


Rambut panjangnya ia ikat ke atas, dan sepasang anting yang menghiasi area lehernya yang putih.


Make up smoke eyes menghiasi wajah cantiknya yang terlibat begitu dingin saat memasuki tempat tersebut.


Langkahnya mantap meski ekor matanya terus menjelajah ke segala arah, berharap apa yang dicari akan segera ia temukan.


Kakinya terhenti saat sampai di depan meja bar. Gadis itu duduk di sana sambil memesan minuman untuk menemani pencariannya.


Ya, dialah Evangeline yang ingin mengungkap kegundahan hatinya di tempat tersebut.


Satu jam, dua jam, kini arloji yang melingkar di tangannya bahkan telah menunjukkan pukul tiga dini hari, dan gadis itu masih setia duduk seorang diri di sana, dengan minuman yang hanya ia teguk setengahnya.


“Nona, sepertinya kau sedang ada masalah,” ucap bar tender.


Pria yang sejak tadi bertugas di sana, rupanya terus memperhatikan Evangeline yang hanya duduk diam sambil memandangi sekitar.


“Apa sangat terlihat jelas?” tanya Evangeline balik.


“Setiap orang pasti memiliki masalah masing-masing. Hanya saja, cara mu mencari pengalihan cukup langka,” ucap bartender.


Evangeline mengerutkan keningnya mendengar perkataan pria muda di depannya.


Sang bartender pun tersenyum tipis, sambil tangannya mengelap gelas-gelas miliknya.


“Biasanya, orang akan minum sampai mabuk untuk melupakan atau melampiaskan perasaannya atas masalah yang sedang dialami. Tapi kau... kau malah bertahan untuk sadar dan hanya minum setengah gelas selama hampir lima jam,” ungkap sang bartender tadi.


Evangeline terkekeh kecil mendengar penjelasan dari pria itu. Dia pun meneguk habis sisa minumannya dan menghela nafas panjang.


“Maafkan aku. Aku tak kuat minum. Tubuhku sangat payah untuk urusan alkohol. Bahkan tiga gelas cocktail saja sudah bisa membuatku mabuk,” ucap Evangeline.


Bartender tadi pun hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Evangeline.


Namun tiba-tiba gerakan tangannya terhenti, dan dia menoleh menatap lekat wajah Evangeline.


Matanya bahkan memicing seolah tengah memindai wajah cantik itu.


“Bukankah kau gadis yang kemarin itu? Yang datang dengan temanmu yang berambut sebahu itu, bukan?” tanya sang bartender.


Evangeline sontak mendongak dan menatap balik lawan bicaranya.

__ADS_1


“Apa kau mengenal dia?” tanya Evangeline balik.


Gadis itu terlihat panik, takut jika sang bartender mengadukan dirinya kepada Joy. Dengan wajah datarnya, Evangeline mencoba memastikan hal tersebut


“Tidak. Aku hanya kenal wajahnya saja, karena dia sering datang kemari dan duduk berbincang denganku di sini. Tapi, bos kami lebih mengenalnya karena dia pernah membantu bos saat seseorang mencoba menyabotase mobilnya,” ucap sang bartender.


“Ah... Jadi ada kejadian seperti itu juga?” gumam Evangeline


Bartender itu mengambil botol minuman dan menuangkannya ke dalam gelas Evangeline yang telah kosong.


“Aku tidak pesan lagi,” tolak Evangeline.


“Ini dari ku. Tenang saja, gratis,” sahut si bartender.


Evangeline tersenyum dan mengangkat gelas, sambil memiringkan kepalanya sebentar ke arah pria di depannya, pertanda terimakasih.


Dia pun menyesap sedikit minuman itu dan meletakkan kembali di atas meja.


“Jadi, seberapa dekat bos mu dengan temanku itu?” tanya Evangeline.


“Tidak begitu dekat. Hanya saling kenal karena hal itu saja. Bos kami itu seorang play boy. Wanitanya berganti setiap hari. Tapi, dia tidak suka dengan gadis seperti kalian,” bisik bartender itu.


Dia bahkan mengakhirinya dengan kekehan kecil, yang membuat Evangeline ikut tertawa.


Dia kembali menyesap minuman dalam gelas itu sambil mendengarkan perkataan sang bartender.


“Kebanyakan wanitanya adalah wanita dewasa dari kalangan atas dengan kemurahan yang berlimpah,” ucap si bartender.


Sontak, Evangeline tertawa dengan kekehan yang lebih keras dari sebelumnya. Dia tahu maksud dari ucapan sang bartender, meski dia tak mengucapkannya dengan jelas.


“Jadi maksudmu, bosmu itu pria murahan yang menjual kehangatan pada wanita kesepian, begitu?” ucap Evangeline di tengah kekehannya.


Bartender itu pun tersenyum dengan kedua bahu yang ia angkat ke atas.


Evangeline kembali menyesap minumannya lagi. Dia merasa geli dengan perkataan dari pria di depannya.


“Apa kau tak takut jika tiba-tiba bos mu mendengar perkataan mu itu, atau mungkin ada yang mengadukan?” tanya Evangeline.


“Itu sudah menjadi rahasia umum di sini. Dia sendiri yang membawa pacar-pacarnya kemari dan meminta layana VVIP. Bukankah tempat seperti ini memang tempat untuk semua macam dosa terjadi,” ucap si bartender.


Evangeline kembali terbahak.


“Kau benar. Inilah fungsinya membangun klub malam,” ucap Evangeline.

__ADS_1


Dia meneguk habis gelas keduanya tanpa sadar. Dia masih terkekeh, namun lambat laun kekehannya melambat dan berhenti.


“Kau bilang, bos mu itu hanya mengencani wanita kaya, bukan? Bagaimana kalau aku bisa memberinya uang yang sangat banyak. Apa aku juga bisa menjadi teman kencan satu malamnya?” tanya Evangeline dengan tatapan intens dan sebuah senyum asimetris.


Bartender itu pun menoleh melihat ke arah Evangeline yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Apa kau yakin?" tanya bartender.


Evangeline tak langsung menjawab. Dia hanya menaikkan kedua alisnya dengan batu yang sedikit terangkat.


Melihat reaksi Evangeline, bartender itu pun kembali sibuk dengan gelasnya.


“Kembalilah hari sabtu ini. Dia akan segera kembali dari perjalanannya. Akan ku buatkan janji untukmu nanti,” ucap sang bartender.


“Benarkah semudah itu mendapatkan bos mu?” tanya Evangeline.


“Dia tak pilih-pilih wanita. Asalkan apa yang diinginkannya terkabul, dia akan dengan senang hati menghangatkanmu,” ucap bar tender tersebut.


Dia bahkan menuang kembali minuman di gelas Evangeline untuk ke tiga kalinya.


Kali ini, Evangeline tersenyum dan mengangkat gelasnya seraya berterimakasih. Dia bahkan meneguk sekaligus minumannya hingga habis.


Tepat pukul empat, Evangeline memutuskan untuk kembali ke apartemen. Selain karena matahari sudah hampir muncul, kepalanya pun sudah mulai pusing akibat minuman yang sejak tadi terus dituangkan oleh si bartender.


Evangeline memutuskan untuk membayar semua minumannya dengan uang tunai pecahan besar, dan memberikan tips kepada bartender itu.


Sekitar satu jam mereka berbincang, namun tak satupun dari mereka memperkenalkan nama masing-masing.


Evangeline pun mengemudi seorang diri dengan sangat hati-hati, karena berada di bawah pengaruh alkohol.


Saat melewati sebuah swalayan, dia berhenti dan membeli minuman penghilang mabuk. Dia meneguknya hingga habis dan menenangkan dulu dirinya di bangku yang ada di depan swalayan.


Saat merasa kepalanya telah sedikit membaik, dia pun kembali melanjutkan perjalanan pulangnya, dan memastikan sang teman belum sadar dari pengaruh obat tidur yang dia berikan sebelumnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2