
Sore hari, Joy mendatangi apartemen Evangeline dengan membawa beberapa makanan.
Dia khawatir dengan temannya itu, karena Evangeline juga tak menjawab pesannya sama sekali.
Karena dia sudah tahu kode kunci apartemen itu, Joy pun masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung mencari temannya itu.
“Eva, aku datang,” teriaknya.
Dia berjalan ke arah dapur dan memindahkan makanan yang dibawanya ke atas piring. Dia menoleh ke belakang mencari keberadaan Evangeline yang bahkan tak menyahut teriakannya tadi.
Setelah selesai memindahkan makanan, Joy pun berjalan ke arah tangga. Langkahnya semakin cepat saat melihat pintu kamar sang teman terbuka.
Pikiran buruk menghampiri. Dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan Evangeline, mengingat kondisinya terakhir kali.
“Eva,” panggilnya saat membuka lebar pintu kamar temannya.
Matanya mengedar ke segala penjuru. Dia berjalan masuk dan memeriksa kamar mandi, namun Evangeline tak ada.
Dia kembali ke kamar dan melihat pintu balkon terbuka. Dia semakin cemas dan bergegas ke sana.
Langkahnya kembali terhenti saat matanya melihat keberadaan Evangeline yang terduduk di lantai seorang diri di sana.
Joy begitu prihatin melihat sang sahabatnya dalam kondisi seperti itu. Evangeline benar-benar kacau. Dia bahkan belum mengganti pakaiannya semalam.
Ini pertama kalinya dia melihat putri Hemachandra itu dalam kondisi ini. Dia berjalan ke arah ranjang dan menarik selimut dari sana.
Dia kemudian bergegas kembali ke balkon dan menutupi tubuh sahabatnya itu.
“Berapa lama kau di sini, hah? Bagaimana kalau sampai kau sakit? Anginnya cukup kencang. Ayo, sebaiknya kita masuk,” bujuk Joy.
Evangeline tak menjawab, juga tak menolak saat temannya itu membantunya berdiri. Joy memapahnya hingga sampai ke tempat tidur.
Istri Ardiaz itu duduk diam di tepi ranjang.
Melihat kondisi Evangeline yang tiba-tiba berubah seperti mayat hidup, membuat Joy semakin khawatir.
Dia meraih kedua tangan sahabatnya itu, dan berusaha berbicara kepada gadis yang sejak pagi tadi terus diam dan terlihat aneh.
“Eva, kau kenapa, hem? Apa sesuatu yang buruk terjadi semalam?” tanya Joy.
Namun, Evangeline tetap diam dengan pandangan kosong ke depan. Dia tak menghiraukan sahabatnya sama sekali.
Joy menghela nafas berat karena tak mendapatkan respon dari gadis berambut panjang di depannya.
__ADS_1
“Setelah kupikirkan, sepertinya ini bukan tentang mabukmu semalam. Ini jauh sebelum itu. Benar bukan? Aku mulai curiga padamu sejak malam itu.”
“Apa kau tahu, kau terlihat aneh seperti sedang mencari seseorang. Bahkan kau menyangkal bahwa bukan Kak Mike yang menolongmu, sementara kau tak yakin siapa yang telah menolongmu dari pria asing itu.”
“Eva, ku mohon katakan padaku, sebenarnya ada apa denganmu? Apa yang sudah terjadi selama ini, hingga kau berubah seperti ini. Ini bukan dirimu yang ku kenal, Eva,” bujuk Joy.
Dia memang sudah menaruh curiga kepada sang teman, terlebih karena sepertinya dia begitu terobsesi untuk kembali lagi ke sky night.
Dia bahkan semakin yakin setelah mendengar dari bar tender, bahwa sebelumnya dia datang sendiri ke sana, dengan menggunakan kartu masuk miliknya.
Awalnya dia mengira ini hanya keinginan Evangeline untuk bersenang-senang, tapi sepertinya tidak sesederhana itu.
Bisa dipastikan bahwa semalam tidak terjadi apapun pada Evangeline, karena Mac duff langsung yang menelpon Joy dan meminta agar gadis itu segera ke klub, untuk menjemput Evangeline yang sedang tertidur akibat mabuk semalam.
Joy sempat khawatir temannya itu mengalami hal buruk, akan tetapi Mac duff menjamin bahwa tak terjadi apapun pada Evangeline.
Jadi kesimpulan Joy adalah, semua ini karena sesuatu yang lain, yang masih ada kaitannya dengan kejadian malam itu, saat Evangeline bersikeras bahwa bukan Mac duff lah yang menolongnya, melainkan orang lain yang seperti sedang dicari oleh sahabatnya itu.
Melihat Evangeline masih terus diam, Joy kembali mencoba berbicara padanya. Dia menangkupkan kedua tangan di pipi dan mencoba mengarahkan pandangan istri Ardiaz tersebut agar menatapnya.
“Eva, bukankah kita adalah teman. Sejak dulu, kau selalu ada di setiap aku membutuhkanmu. Kau selalu menangis bersama setiap kali aku mendapatkan masalah. Tak ada yang kututupi darimu. Semua tentangku, kau sangat mengerti itu.”
“Kumohon, ada apa sebenarnya. Mungkin aku tak bisa membantumu menyelesaikan masalah ini, tapi setidaknya bagilah bebanmu padaku. Bukankah itu fungsi seorang teman, hem. Eva, kumohon katakanlah, apa yang terjadi padamu selama ini?” pinta Joy.
Gadis berambut pendek itu mengusap lelehan bening di wajah Evangeline dengan kedua ibu jari.
Belum selesai kekhawatiran Joy, Evangeline kembali membuatnya terkejut. Dia memeluk Joy dengan erat, dengan tangis yang kembali pecah.
“Apa yang harus aku lakukan, Joy. Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah berusaha, bahkan hal tergila sekalipun, tapi... tapi...,” ucap Evangeline terjeda.
Dia tak mampu meneruskan kata-katanya, karena isak yang semakin lama membuat nafasnya tersengal.
Joy hanya bisa diam, mengusap lembut punggung sang sahabat, sambil ikut menangis bersama dengan Evangeline.
Sekitar hampir satu jam keduanya menangis bersama, kini Evangeline terlihat lebih tenang.
Joy masuk ke kamar dengan segelas air minum untuk sahabatnya.
“Minumlah. Kau bisa dehidrasi jika terus menerus seperti ini. Kau bahkan belum makan apapun sejak pagi bukan?” ucap Joy.
Evangeline sesenggukan sambil meraih gelas pemberian Joy.
“Terimakasih,” sahutnya.
__ADS_1
Dia pun meminumnya hingga tandas, lalu kembali diraih oleh Joy dan diletakkan di atas nakas.
Evangeline bangun dan berjalan keluar kamar diikuti oleh Joy. Dia melangkah menuju ruang tamu, dan meraih tas yang sejak pagi diletakkan di sana oleh Joy.
Gadis itu nampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia lalu duduk di sofa, sambil menekan-nekan layar ponsel.
“Namanya Ardiaz,” ucap Evangeline tiba-tiba.
Joy yang mendengar itu pun duduk di samping Evangeline dan melihat apa yang temannya itu lihat di layar ponsel.
Nampak seorang pria muda dengan wajah tampan namun terlihat tegas, dengan memakai jaket kulit hitam dan rambut yang sedikit acak-acakan.
“Bukankah dia bodyguard ayahmu? Aku pernah melihatnya saat kita mengerjakan tugas kelompok,” sahut Joy.
“Dia adalah suamiku,” ungkap Evangeline.
Joy tak bisa menutupi keterkejutannya. Dia menoleh ke arah sang sahabat. Jelas terlihat gurat kesedihan.
“Dia dikabarkan meninggal beberapa bulan yang lalu dalam sebuah ledakan,” lanjut Evangeline.
“Jangan katakan, kasus yang saat ini kau coba cari tahu itu...,” terka Joy.
“Aku mencoba menerima kabar tersebut. Tapi semakin kupikirkan, semakin terasa aneh. Mayatnya bahkan tak dikembalikan lagi kepada keluarganya. Sampai-sampai makamnya pun tak diungkap dimana,” tutur Evangeline.
Dia pun menceritakan semuanya kepada Joy, bahkan keterkaitan antara kejadian di sky night malam itu dengan kejadian malam tadi. Serta kelakuan Damian kepadanya tempo hari, yang membuatnya semakin yakin bahwa suaminya masih hidup sampai sekarang, dan bos sky night pun terlibat dengan Ardiaz.
“Jika memang seperti itu, aku bisa membantumu tanpa campur tangan ketua lagi. Aku janji akan mencoba sebisa ku untuk mendapatkan informasi tentang suamimu. Kau tenang saja. Ada aku bersamamu, Eva,” ucap Joy.
“Thank you,” sahut Evangeline.
Keduanya kembali berpelukan.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1