They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Tato anggota


__ADS_3

Keesokan harinya, mentari telah naik sepenuhnya di atas kepala. Angin laut bertiup menerpa semua yang ada di tepinya. Suara burung camar mulai memekakan telinga, ditambah bisingnya mesin crane yang mengangkut puluhan bahkan ratusan kontainer yang datang malam tadi sejak agi buta.


Terdapat sebuah kedai kopi kecil di samping dermaga, yang sering menjadi tempat mencari makan para pelancong yang datang ke pesisir timur Kota Orchid.


Aroma kopi bercampur amis ikan menyeruak memenuhi indra penciuman. Tempat tersebut memang dikelilingi banyak penjual hasil tangkapan laut. Nampak pula nelayan yang baru saja mendarat setelah semalaman penuh mencari ikan dan sejenisnya di tengah lautan yang ganas.


Dua orang pria terlihat tengah mengobrol santai di dalam kedai tersebut, dengan sepiring roti bakar sarapan masing-masing.


Tiba-tiba, seorang lagi datang dan bergabung dengan mereka. Dia duduk di kursi yang masih kosong, dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman.


“Aku sudah dapat caranya untuk masuk ke kelompok mereka,” ucap Mac duff, pria yang baru saja bergabung.


Ardiaz melirik sekilas sambil menikmati minumannya, akan tetapi Jordan justru terkejut hingga tersedak oleh roti panggangnya sendiri. Dia cepat-cepat meraih minumannya dan meneguk hingga rasa perih di tenggorokannya hilang.


Pasalnya, selama ia mengenal Mac duff, pria itu belum pernah memikirkan ide apapun. Yang dia ketahui hanyalah berkelahi dan bermain wanita saja. Sehingga saat dia mengatakan memiliki ide, Jordan seketika terkejut dan bahkan tak menyangka.


“Katakanlah,” seru Ardiaz sambil meletakkan kembali gelas ke atas meja.


Mac duff menyeringai. Dia menegakkan punggungnya lagi dan melipat kedua lengannya di atas meja.


“Sebaiknya kau tidak usah makan dulu kalau tidak ingin tersedak, Charlie. Kali ini, aku akan buktikan bahwa otakku bisa berguna juga,” ucap Mac duff, saat melihat sang penjual gelap itu hendak menyuapkan roti panggang ke dalam mulutnya kembali.


Jordan pun berhenti dengan mulut yang sudah menganga lebar. Dia mencebik kesal dan meletakkan rotinya lagi ke atas piring.


Mac duff pun mengambil macbook dari depan Jordan, dan sempat membuat pria tersebut menahannya. Namun, Mac duff menepuk dengan keras punggung tangan rekannya itu, lalu mulai mencari sesuatu di sana.


“Apa yang kau lakukan dengan barangku?” tanya Jordan tak senang.


“Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu pada kalian. Diamlah,” sahut Mac duff.


“Awas kalau sampai rusak,” ucap Jordan memperingati.


“Ck! Cerewet,” keluh Mac duff.


Dia nampak serius dengan layar pipih di tangannya itu. Hingga tiba-tiba, dia menyingkirkan semua gelas dan juga piring agar bagian tengah kosong, lalu kemudian meletakkan benda berlayar digital tersebut di tengah meja, agar semuanya bisa melihat.


“Perhatikan ini,” serunya.


Kedua rekannya itu saling pandang, dan akhirnya ikut mencondongkan tubuh ke depan untuk memperhatikan apa yang ditunjukkan oleh sang ahli kabur itu.


“Apa maksudnya?” tanya Ardiaz.


“Itu urutan mahkota bangsawan,” sahut Jordan tiba-tiba.


Ardiaz kembali menoleh ke arah rekan hackernya itu. Nampak wajah Jordan tak begitu baik saat mengatakan hal tersebut. Tatapan matanya begitu gelap dan terasa dingin.


Seperti ada sebuah perasaan muak dan juga kerinduan di sana. Ardiaz terlihat tertarik dengan ekspresi Jordan yang seperti ini.

__ADS_1


Bukan kali pertama Ardiaz melihat raut seperti ini pada wajah pria itu, akan tetapi ketiga kalinya. Yang pertama ketika mereka baru saja bertemu dan masih sama-sama asing. Saat itu Ardiaz menanyakan perihal orang-orang dengan lambang sayap malaikat hitam, atau yang dikenal dengan Lucifer.


Kedua, ketika Ardiaz memesan sebuah kamera yang tak terlihat dan bisa dibawa dengan muda, kemudian berkata bahwa dia akan menggunakannya untuk menghentikan sang kakak, Aaron.


Saat itulah, ekspresi Jordan berubah seketika, menjadi apa yang sekarang terlihat. Namun, belum selesai ardiaz mengamati perubahan ekspresi rekannya itu, Mac duff lagi-lagi mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan meletakkan di samping macbook Jordan.


“Kalau kalian pintar, pasti tahu apa maksud semua ini,” ucap Mac duff.


Ardaiz pun kembali fokus pada apa yang ditunjukkan oleh Mac duff. Seketika, satu sudut bibirnya terangkat dengan kedua alis yang juga naik.


“Kerja bagus, Delta. Dengan begini, kita tahu siapa target selanjutnya,” ucap Ardiaz.


Di atas meja ada dua buah foto yang diambil Mac duff dari orang-orang yang semalam mereka lihat. Dua foto itu tak lain adalah tato yang ada di pergelangan tangan mereka.


Kedua foto itu memiliki beberapa perbedaan, akan tetapi yang paling mencolok adalah bentuk mahkotanya.




Hal itu seketika bisa dijelaskan dari hasil pencarian yang diperlihatkan oleh Mac duff lewat macbook Jornda, tentang perbedaan bentuk mahkota bangsawan sesuai dengan urutan mereka, mulai dari raja, adipati, dan prajurit.


...RAJA...



...ADIPATI...




Namun, Jordan yang sejak tadi bersikap aneh, tiba-tiba bersuara.


“Kau masih kurang satu mahkota lagi,” ucap Jordan.


Ardiaz dan Mac duff pun menoleh seketika.


“Benarkah? Ah... Menyebalkan sekali. Kenapa aku tidak lebih cepat darimu. Aish, benar-benar. Mahkota siapa yang belum ada, hah?” cerocos Mac duff.


Dia kembali mengambil macbook dari atas meja dan melakukan pencarian lagi. Namun, bukannya menjawab, Jordan justru bangun dan merebut macbook nya dari tangan Mac duff.


“Aku akan kembali lebih dulu. Beritahu aku jika kita sudah akan bergerak,” ucapnya datar.


Pria itu pun berlalu begitu saja dari sana.


Hal tersebut semakin membuat Ardiaz yakin, bahwa ada sesuatu antara rekannya itu dengan organisasi apa yang akan mereka masuki.

__ADS_1


...❄❄❄❄❄...


Sore hari, ketiganya mendatangi sebuah pabrik pengolahan ikan di jalan Red Line, yang berjarak dua blok dari pelabuhan tempat mereka datang semalam.


Ardiaz dan Mac duff datang dengan hanya persiapan seadanya, akan tetapi Jordan justru memilih menutupi wajahnya dengan topeng buatannya sendiri, yang membuatnya menjadi sosok lain.


Saat Mac duff tertawa dan hendak menanyai akan sikap Jordan yang aneh itu, Ardiaz menghalanginya dan menggelengkan kepala, pertanda melarang.


Sang ahli melarikan diri itu pun akhirnya mundur dan tak menghiraukan lagi kelakuan aneh si penjual barang ajaib tersebut.


Dia memilih berjalan di depan, dan menghampiri seseorang di ujung sana, yang sedang mengatur para pekerja yang mengalengi ikan.


Jika dilihat sekilas, tempat tersebut hanya mempekerjakan para pria dewasa, dan kebanyakan diantara mereka memiliki. kepala plontos alias gundul. Ardiaz sedikit curiga dengan kondisi tersebut akan tetapi dia mencoba tetap tenang dan bertindak seperlunya saja.


"Alpha, apa kau tahu si tukang kabur itu mengenal mereka dari mana?" tanya Jordan.


Keduanya tengah memperhatikan interaksi antara sang mandor dan jug rekan mereka.


Sementara itu, nampak Mac duff dan sang mandor pabrik berbincang dengan cukup akrab. Sesekali Mac duff berbalik ke belakang dan menunjuk ke arah Ardiaz dan juga Jordan di sana.


Pria mandor itu pun lalu menepuk pundak Mac duff, kemudian berbalik dan berjalan menjauh. Mac duff pun kembali berbalik berjalan ke arah keduanya, mengajak mereka untuk segera keluar dari tempat tersebut.


“Bagaimana?” tanya Ardiaz.


“Malam ini kita aka  bekerja. Pukul sepuluh malam di dermaga, kontainer nomer 20125A. Pengiriman ikan kalengan,” sahut Mac duff.


“Maksdunya kokain,” timpal Jordan.


“Tidak usah diperjelas,” seru Mac duff.


“Aku takut alpha tidak mengerti istilah mu,” jawab Jordan.


“Oh ayolah, kau tidak seb*doh itukan, Alpha?” tanya Mac duff.


Namun, yang ditanya hanya mengedikkan bahu dan terus berjalan, bahkan mendahului kedua rekannya itu. Mac duff nampak berhenti sejenak karena kesal dengan reaksi Ardiaz yang berpura-pura keren, padahal tak tahu istilah itu.


“Yang benar saja? Dia benar-benar tidak tahu,” gumam Mac duff.


Dia pun kembali berjalan dan menyusul Ardiaz dan Jordan untuk pergi dari sana.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2