They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 :Pekikan Evangeline


__ADS_3

Alam seolah mendukung keinginan Ardiaz yang malas kembali ke kota Orchid. Ditambah pikiran Ardiaz yang terus tertuju pada kondisi sang kakak, yang membuatnya semakin berat jika harus meninggalkan tanah yang telah membesarkan dirinya selama ini.


Malam hari, dia sama sekali tak bisa membuat dirinya terlelap meski mata terus terpejam sejak dua jam yang lalu.


Pikirannya akan sang kakak terus mengganggu waktunya. Ardiaz pun memutuskan untuk bangun dan mengambil jaketnya.


Pria tersebut meraih kunci mobil dan pergi keluar. Di depan pintu, ada empat orang pengawal yang terus menjaganya.


“Aku akan keluar sendiri. Mungkin tidak akan pulang sampai besok. Jangan ikuti dan cari aku. Apalagi sampai Vermont tau,” ancam Ardiaz.


“Tapi... “ sanggah salah satu pengawal.


Ardiaz menoleh dan menatap tajam langsung ke dalam mata si pengawal, membuat nyali orang itu seketika menciut. Dia bahkan menghentikan perkataannya karena merasa ngeri dengan tatapan Ardiaz.


Bukan tanpa alasan kenapa mereka bisa sampai takut hanya dengan tatapan Ardiaz. Pria itu seolah telah menjelma menjadi gangster berdarah dingin yang dengan mudahnya membunuh orang saat dia merasa kesal.


Sebenarnya, Ardiaz hanya ingin menunjukkan dominasinya agar bisa sedikit bergerak bebas ketika berada di dalam sangkar Lucifer. Sudah banyak pengawal yang membuatnya kesal dengan melanggar perintahnya, mati di depan semua rekannya.


Hal ini lah yang membuat Ardiaz ditakuti, hingga mereka berani menyembunyikan informasi tentang Ardiaz dari Vermont, yang adalah tangan kanan Devonshire, sang Emperor Lucifer.


Setelah menggertak pengawalnya, Ardiaz pun melenggang pergi meninggalkan semua pengawalnya yang terlihat masih ketakutan dan kebingungan. Betapa tidak, Vermont memerintahkan mereka mengawasi Ardiaz, akan tetapi mereka justru tertekan dengan intimidasi dari king palsu tersebut.


Ardiaz pergi dengan mobilnya, melaju membelah jalanan malam Magnolia yang begitu ramai dengan gemerlap malam.


Namun, dia justru menjauhi keramaian dan menuju ke sebuah tepian pantai berbatu terjal di luar Magnolia. Dia sempat berhenti di sebuah swalayan yang buka dua puluh empat jam, untuk membeli beberapa botol alkohol, dan kemudian kembali melaju di sepanjang bibir pantai, hingga akhirnya dia menepikan mobilnya di sebuah jalan yang langsung berbatasan dengan bibir pantai.


Sepanjang malam, dia hanya berdiam diri di dalam mobilnya, sembari menikmati pantulan cahaya rembukan yang indah di atas permukaan laut.


Langkahnya seolah mati untuk bisa membantu perekonomian sang kakak, yang sejak beberapa bulan lalu telah dipecat dari perusahaan Hemachandra.


Track record-nya yang tidak baik di perusahaan tuannya itu, akan membuat karirnya semakin terpuruk, karena tak akan ada perusahaan lain yang mau mengangkat karyawan penghianat sepertinya.


Kantong plastik swalayan tadi sudah hampir kosong, karena alkohol telah berpindah ke dalam tubuh Ardiaz, sementara botol dan kaleng berserakan di lantai mobil. Namun pria itu bagaikan banteng, yang sangat kuat bertahan dalam alkohol yang begitu banyaknya.


Saat masih berada di keluarga Hemachandra, Ardiaz jarang sekali terlihat minum-minum, akan tetapi setelah kejadian ledakan itu, dia lebih sering minum hingga mabuk parah demi menghilangkan kekesalannya pada kegagalan misi tersebut, dan juga bentuk pemberontakan kepada Devonshire, yang masih menganggap dirinya sebagai adik kandungnya yang hilang, atau lebih tepatnya kabur.


Tanpa terasa, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membuat Ardiaz yang nampak telah lelap pun terusik. Namun, pria yang sejak semalam terjaga ditemani botol-botol minumannya, kini benar-benar telah berada di bawah pengaruh alkohol yang sudah mengambil alih sistem sarafnya, hingga ia tak juga bergeming dan tetap memilih memejamkan mata, meski mentari telah menunjukkan dominasi dirinya.

__ADS_1


Suara burung camar terdengar memekakkan telinga, saling bersahutan di sepanjang pantai itu. Mentari telah benar-benar berada di atas kepala, saat seseorang mengetuk kaca pintu mobil Ardiaz.


Pria itu pun merasa terganggu dan mau tak mau memaksa matanya untuk terbuka. Dengan masih terasa berat dan rapat, Ardiaz mencoba melihat siapa yang berani mengganggu tidurnya.


Rupanya, seorang pengemudi yang kebetulan lewat, melihat mobil Ardiaz diam di tepi pantai yang sepi seorang diri, dan ingin memastikan bahwa si pengemudi dalam kondisi baik-baik saja.


Setelah Ardiaz menunjukkan wajah kacaunya, dan memastikan dirinya tak apa, orang tersebut pun pergi meninggalkan pria itu kembali seorang diri.


Ardiaz yang merasa masih pusing, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang masih tercerai berai akibat alkohol yang dikonsumsinya semalaman.


Kepalanya benar-benar pusing hingga rasanya ingin pecah. Dia terlihat menyandarkan punggung hingga tengkuk ke sandaran kursi, yang sudah diatur sedikit turun.


Tangannya menjulur kesamping, seolah tengah mencari sesuatu. Rupanya, dia kembali mengambil kantong plastiknya dan mengambil sebuah botol kecil dari dalam sana.


Dia membuka tutupnya dengan cepat dan meneguk isinya hingga tandas. Minuman itu tak lain adalah obat pereda pengar yang sengaja dibelinya di swalayan tadi malam sebagai persiapan.


Namun akibat terlalu mabuk, Ardiaz merasa tenggorokannya benar-benar kering, sementara dia tak memiliki air mineral di mobil.


Akhirnya, dengan kepala yang masih pusing dan mata yang terasa berat, Ardiaz tetap melajukan mobilnya untuk pergi dari sana. Dia bermaksud mencari sesuatu yang bisa menghilangkan dahaganya.


Kedai kecil seperti itu biasanya menjual sup pereda pengar yang sering didatangi para penduduk sekitar.


Dia pun lalu memesan satu mangkuk sup, lengkap dengan lauk pendampingnya. Sembari menunggu, Ardiaz meminjam kamar mandi untuk mencuci muka, agar merasa sedikit lebih segar.


Beberapa pria nampak memenuhi tempat duduk di dalam kedai. Mereka terlihat berbicara dengan logat setempat.


Ardiaz berusaha tak terlibat dengan mereka dan fokus pada sup mabuknya. Setelah selesai makan, dia pun kembali ke dalam mobil dan melajukannya pergi ke suatu tempat.


Malam nanti dia harus kembali, terlepas dari ada tidaknya badai di lautan. Sehingga King palsu itu ingin sekali lagi mencoba mengunjungi kakaknya, dan mencari cara agar dia bisa memberikan sejumlah uang kepada Aaron.


Namun, saat tiba di persimpangan jalan menuju ke arah pedesaan Ginko, dia melihat sebuah mobil dengan lambang perusahaan Hemachandra melintas di depannya.


Seketika matanya membola, kala dia menyadari penumpang yang ada di kursi belakang adalah orang yang hendak ia temui.


Dengan cepat, Ardiaz pun memutar balik kendaraannya dan mengikuti kemana mereka akan pergi. Setelah beberapa saat berkendara, mereka sampai di jalan yang menuju mansion Hemachandra.


Ardiaz masih hapal jalan tersebut, dan memilih mengambil jalur lainnya yang berada di belakang lahan. Dia penasaran, apa yang kakaknya lakukan di rumah tersebut, sementara kemarin jelas-jelas Evangeline pergi dari rumah kekasihnya, Morita, dengan  wajah yang penuh emosi.

__ADS_1


Setelah memutar jalan, mobil Ardiaz berhenti tepat di samping pagar dengan rumpun bambu cina yang tumbuh dengan rimbunnya.


Dia ingat bahwa di sana ada pintu masuk rahasia yang berada di seberang danau kecil, yang sering dipakainya untuk menyelinap pergi dari rumah tersebut kala masih menjadi bagian dari keluarga itu.


Rencananya, dia ingin menyelinap dan mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana, dan memastikan bahwa kakaknya baik-baik saja.


Namun, saat dia baru saja memanjat dinding, Ardiaz harus kembali menunduk dan menyembunyikan diri di antara lebatnya tumbuhan kegemaran panda itu.


Netranya menangkap keberadaan seseorang yang tiba-tiba berjalan di tepi danau di seberang sana. Sosok gadis yang beberapa bulan lalu terpaksa menjalin ikatan suci dengannya, meski dalam keterpaksaan.


Pria tersebut membeku dan terus terpaku pada gadis tersebut. Entah kenapa, tatapan mata Ardiaz saat menatap Evangeline terlihat begitu sendu, seolah ada sebuah kerinduan yang teramat di sana.


Tak mau larut dalam perasaan yang mengganggunya, Ardiaz pun mengurungkan niat dan berbalik hendak pergi dari sana.


Tiba-tiba, angin berhembus menerpanya, membawa aroma tubuh pria tersebut menuju ke indra penciuman Evangeline. Alam seolah tengah memberitahukan bahwa Ardiaz saat ini sedang berada di sana.


Dia bahkan terkejut hingga membelalak saat mendengar Evangeline berteriak dari seberang.


“DIMANA KAU? AKU TAHU KAU DI SINI. TUNJUKKAN DIRIMU PADAKU. KU MOHON,” pekik Evangeline.


Gadis itu terlihat tengah mencari ke sekelilingnya. Melihat ke kanan dan kiri dengan cepat, berharap apa yang dirasakannya benar.


Hal itu semakin membuat dada Ardiaz sesak hingga memaksa matanya berembun.


Cepat-cepat, dia pun pergi dari sana dan meninggalkan mansion itu dalam suasana hati yang semakin sesak.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2