
Keesokan harinya, di rumah panggung pemukiman nelayan, tiga pria muda itu telah berkumpul kembali.
Mac duff menyerahkan blue ocean yang berhasil ia dapatkan dari Delila kepada Ardiaz.
Sementara itu, sebuah berita mengejutkan diungkapkan oleh kedua rekannya, bahwa Joker telah mau membuka mulutnya dan memberikan informasi mengenai siapa orang dibalik semua ini.
“Tapi ada satu syarat,” acap Ardiaz.
“Syarat? Apa dia berhak mengajukan syarat ada kita?” tanya Mac duff
Ardiaz pun lalu menoleh ke arah Jordan yang tengah sibuk dengan macbook-nya.
“Dia ingin kita membantunya mengambil alih gudang senjata Lucifer,” ungkap Jordan.
“Apa? Gudang senjata Lucifer? Apa kalian bercanda? Untuk para kita berurusan dengan mereka lagi? Tunggu, apa kalian sudah tahu target selanjutnya?” tanya Mac duff.
“Ya, dia sudah memberitahukannya. Target adalah orang yang berhasil membeli buronannya. Orang yang ku biarkan pergi begitu saja saat mengejar Joker,” jawab Ardiaz.
“Bagus. Karena kita sudah tahu target kita, jadi bukankah tinggal mengejarnya saja dan semua selesai bukan. Kita tak usah peduli lagi pada urusan pria besar itu,” sanggah Mac duff.
Ardiaz menoleh kembali ke arah Jordan yang sejak tadi hanya diam saja. Dia pun menghela nafas kasar, dan kembali menghadap ke arah Mac duff.
“Ini juga demi Charlie,” ucap Ardiaz.
Mac duff mengerutkan keningnya karena tak paham dengan maksud perkataan dari rekannya itu.
Dia pun menatap ke arah Jordan, namun pria itu tetap diam.
“Hei, Charlie. Ada apa sebenarnya?” tanya Mac duff bingung.
“Charlie sudah membuat kesepakatan dengan pria itu. Dia orang yang berbahaya. Kita tak bisa mengingkari janji begitu saja dengannya,” jelas Ardiaz
“Apa? Kenapa kau... apa kau juga ikut bersepakat dengan dia, Alpha?” tanya Mac duff.
Ardiaz menggeleng pelan. Seketika, Mac duff mengusap keningnya dan menyapu poninya yang menjulur ke depan wajah, dengan helaan nafas yang begitu kasar.
“Ya sudah kalau begitu, biarkan anak ini saja yang melakukannya. Aku tidak mau ikut kesepakatan ini,” elak Mac duff.
Jordan mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke dalam manik mata Mac duff.
“Dia ingin menjadi King di dalam Lucifer lagi. Hanya dengan menyingkirkan King yang saat ini berkuasa, maka dia bisa kembali ke kedudukannya. Ini akan menguntungkan kita nantinya,” ungkap Jordan.
Mendengar hal itu, Mac duff yang sejak tadi duduk tak tenang, seketika berdiri dan berkacak pinggang di depan Jordan dan Ardiaz.
“Keuntungan apa? Bukankah yang akan mendapatkan keuntungan adalah dirimu sendiri, karena bisa memperlebar jaringan bisnismu, hah?” tepis Mac duff.
__ADS_1
“Hah... Apa tidak salah. Bukankah ini justru akan menguntungkanmu, karena kau juga bisa mendapatkan pasokan senjata dari organisasi besar seperti Lucifer, dengan memanfaatkan keterlibatan ini,” sanggah Jordan.
“Wah... Kau benar-benar... Kalau saja bukan Lucifer, aku masih bisa mempertimbangkannya. Tapi ini sama saja bunuh diri. Aku tak mau mati konyol hanya karena keputusan sepihakmu itu,” timpal Mac duff.
Melihat ketegangan yang terjadi di antara kedua rekannya itu, Ardiaz pun ikut bangun dan mencoba menengahi.
“Cukup! Dengarkan aku. Di sini, kita punya misi masing-masing. Aku merebut blue ocean dan menemukan orang yang ada di balik kejadian yang menimpa kakakku dan juga Tuan Hemachandra. Charlie, kau ingin mencari orang yang berusaha membunuhmu bukan? Kita berdua memburu orang yang sama.”
“Lalu kau sendiri, Delta. Bukankah kau ingin mengalahkan orang-orang hebat, agar kau bisa menjadi yang terhebat di bidang ini? Itu sebabnya kau ikut bersama kami memburu Joker, karena kau tau dia adalah broker besar di dunia bawah. Benar begitu bukan?” ujar Ardiaz.
Kedua pria yang berdebat itu pun diam, setelah mendengar ucapan dari Ardiaz. Pria itu kembali duduk, begitu pun Mac duff yang sejak tadi terus berdiri dan mendebat Jordan.
“Kita memiliki tujuan masing-masing yang ingin dicapai. Salah satu tujuanku sudah tercapai. Blue ocean telah kembali lagi padaku. Tapi tujuan kalian berdua belum sama sekali dimulai.”
“Bukankah harusnya aku yang paling mungkin menolak kondisi ini? Kalian bukan anak kecil lagi. Kita bisa berjalan sampai sejauh ini karena melakukannya bersama. Jadi, ayolah. Apa salahnya jika kita sedikit lama lagi mengulur waktu untuk pulang. Lagi pula kita semua akan mendapat keuntungan jika misi ini berhasil,” seru Ardiaz.
“Iya, jika berhasil. Bagaimana kalau kita justru gagal?” tanya Mac duff.
“Bukankah selama ini kita beraksi seolah tak takut mati? Lalu, untuk apa memikirkan hal itu sekarang?” cecar Ardiaz.
“Heh... Apa ada yang aku tak tahu? Kenapa kau begitu membelanya, Alpha?” tanya mac duff seraya melirik ke arah Jordan.
“Delta, apa aku pernah membohongimu?” tanya Ardiaz balik.
Mac duff diam. Dia mencoba mengingat-ingat lagi setiap kejadian, sejak dia mengenal pria yang sering ia panggil Alpha itu.
Mac duff pun pasrah. Dia hanya bisa menghela nafas panjang, karena tak bisa lagi mendebat Ardiaz atas keberatannya itu.
Melihat Mac duff sudah bisa ditenangkan, Ardiaz pun beralih menatap ke arah Jordan.
“Charlie, apa kami berdua bisa menemuinya dan bicara dengan pria besar itu mengenai kesepakatan ini?” tanya Ardiaz.
Jordan menghentikan gerakan tangannya, dan menghela nafas terlebih dahulu, sebelum dia mengangkat wajah dan menatap kedua rekannya.
“Akan ku coba tanyakan padanya,” ucap Jordan.
...❄❄❄❄❄...
Tiga hari berlalu. Kondisi Joker telah pulih, terlebih karena daya tahan dan kekebalan tubuhnya yang luar biasa baik, membuat proses penyembuhan lukanya berlangsung begitu cepat, meski dengan perawatan seadanya.
Setelah berunding dan mendengarkan penjelasan serta merasa yakin dengan perkataan Joker, mereka berempat mulai menyusun sebuah rencana, untuk mengintai target mereka.
Keempatnya kini tengah duduk sambil berbincang, dengan sebuah papan besar berisikan beberapa foto dan peta wilayah kota Orchid yang tertempel di sana.
Menurut penuturan Joker, orang yang dulu memintanya menghilangkan jejak di Magnolia adalah Howard, pria yang telah berhasil membeli nyawanya di pelelangan Lucifer.
__ADS_1
Berdasarkan informasi dari pria besar itu, Howard adalah klien VIP Lucifer sejak lama. Meski begitu, Joker memiliki keraguan bahwa dialah otak di balik semua kejadian yang menimpa ketiga pria muda yang kini bersekutu dengannya.
Dia melingkari foto pebisnis itu dengan spidol merah. Lalu menarik sebuah garis lurus ke atas dan menuliskan sebuah tanda tanya.
“Insting ku mengatakan, bahwa Howard bukanlah akhir dari pencarian kalian. Memang benar dia yang menemuiku dan meminta untuk meringkus kalian semua, dengan alasan karena rencananya telah terendus. Akan tetapi, ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya, terlebih saat mengetahui siapa target sebenarnya,” ucap Joker.
“Bukankah target sebenarnya adalah Charlie, si pembuat berkas palsu tentang bisnis Hemachandra?” tanya Mac duff.
“Tidak. Target sebenarnya bukan Charlie. Tapi orang lain yang ingin ia kendalikan. Anak dari pria bernama Danurendra, benar bukan?” terka Ardiaz.
Semuanya menoleh ke arah Ardiaz kaget. Sementara pria itu justru menatap tajam ke arah mata Joker.
“Benar. Dia mengincar anak Danurendra. Dia kewalahan saat targetnya berbalik ingin menangkap ekornya. Tapi justru di sini anehnya.”
“Saat masih di organisasi, aku pernah mendengar bahwa Lucifer pernah mendapat tugas dari salah satu klien, untuk membantai seluruh keluarga itu. Tapi seingatku itu bukan Howard,” ungkap Joker.
Ardiaz nampak mengeraskan rahangnya saat mendengar penuturan Joker, mengenai tragedi yang terjadi pada keluarganya.
Tangannya mengepal kuat. Kedua rekannya pun bisa melihat kemarahan pada sorot mata Ardiaz.
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau ikut dalam pembantaian itu?" tanya Ardiaz dengan gigi yang saling bergemeletuk menahan amarahnya.
"Aku bukan orang yang akan diperintahkan menyerang. Tugasku hanya memasok dan menunggu gudang senjata mereka. Aku hanya tahu saja dari orang-orang itu," awan Joker.
“Jadi maksudmu, masih ada orang lain selain Howard?” tanya Ardiaz.
“Jika kau ingin tahu, kau harus masuk ke dalam Lucifer, dan mencari tahu tentang transaksi beberapa tahun yang lalu. Sistem kami selalu menyimpan hal-hal semacam itu, sebagai bentuk jaminan bahwa klien tak akan balik melenyapkan kami, hanya karena kami memegang rahasia mereka."
"Justru sebaliknya, kami bisa mengancam dan membungkam mulut mereka, saat hukum berhasil menyentuhnya,” ungkap Joker.
“Apa dari awal kau sudah tau, semua ini, Joker?” tanya Jordan.
“Tentu saja tidak. Ini hanya tebakanku saja. Tapi seperti yang kalian tahu, insting seorang broker selalu tajam,” sahut Joker.
Ardiaz tiba-tiba bangkit berdiri. Dia meraih spidol dari tangan joker. Pria muda itu pun maju ke depan papan, lalu melingkari simbol sepasang sayap.
“Kita rubah target kita,” ucap Ardiaz.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih