They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Foto dari Damian


__ADS_3

Di taman belakang gedung pusat kegiatan mahasiswa, sepasang pelajar terlihat tengah berada di sana.


Seorang gadis nampak bersandar di sebuah batang pohon yang tumbuh besar di sekitar gedung, sementara si pemuda berdiri di depan gadis tersebut, dengan sebelah lengannya yang menyentuh pohon, untuk membatasi gerak gadis itu.


Mereka tak lain adalah Evangeline dan Damian. Keduanya saat ini berada dalam situasi yang tidak baik, akibat sikap Damian.


Semua berawal dari beberapa saat yang lalu, ketika kedua orang itu tengah berada di dalam ruangan klub criminal hunter, yang memang diketuai oleh Damian sendiri.


Mereka hendak membahas tentang kasus yang diajukan oleh Evangeline, yaitu tentang ledakan di tepi barat kota Orchid, yang dikabarkan telah menewaskan Ardiaz, suaminya.


“Ini lebih sulit dari yang kita bayangkan. Banyak yang harus kita persiapkan jika akan menyelidiki tempat itu,” ucap Samuel yang memang diminta untuk menyelidikinya.


“Aku dengar, bahwa tempat itu milik salah satu King dari Lucifer,” timpal Linda.


“Lucifer? Bukankah klub yang sering ku kunjungi itu juga milik salah satu King mereka?” sahut Joy.


Damian nampak mengusap dagunya. Dia tak menyangka jika anggotanya cukup cepat juga melacak hal tersebut, bahkan sampai tahu hubungan kejadian tersebut dengan Lucifer.


Dia yang sejak tadi duduk tenang sembari melipat kaki dan memakan permen lolipopnya, kini berdiri dan menyakukan kedua tangan di jaketnya.


“Sepertinya aku perlu berbicara empat mata terlebih dulu denganmu, sebum melanjutkan penyelidikan kasus ini,” ucap Damian kepada Evangeline.


Gadis itu pun mengerutkan keningnya ke arah si pemuda hacker tersebut. Dia merasa ada hal serius yang menyangkut kematian sang suami, dan hal itu membuatnya semakin tegang.


Damian lebih dulu berjalan keluar, sementara Evangeline menoleh ke arah Joy. Gadis berambut sebahu itu tak tahu apa yang akan dikatakan oleh ketua mereka, dan hanya bisa mengedikkan bahunya.


Akhirnya, Evangeline pun bangun dan memakai tasnya, berjalan keluar menyusul Damian.


Mereka berjalan menuruni tangga dan memutari gedung hingga tiba di kebun belakang, yang lebih tepatnya hutan kecil di belakang kampus.


Setibanya di sana, Damian berbalik dan menyeringai ke arah Evangeline. Saat itu, gadis tersebut merasa jika pembicaraan ini tidak akan berakhir baik jika dia bersikap sebagai gadis polos.


Tatapan mata Evangeline tajam namun dingin, dengan wajah datar memandangi Damian yang masih asik memainkan lolipop di rongga mulutnya yang terkatup.


“Katakan apa mau mu?” tanya Evangeline langsung.


Damian semakin melebarkan seringainya. Dia mengambil gagang permen dan menariknya, seraya mengulum bibir yang basah dengan ludah.


“Katakan sejujurnya, siapa yang ingin kau cari tau itu, hah?” tanya Damian.

__ADS_1


“Apa itu penting?” tanya Evangeline.


“Tentu. Itu mempengaruhi seberapa cepat kami bertindak, dan seberapa besar imbalan yang perlu kau siapkan,” jawab Damian.


Evangeline terdiam dengan wajah yang masih datar. Dengan pocker face-nya, gadis tersebut mencoba berperang psikologis dengan Damian, agar tak terjebak muslihat hacker tersebut.


“Kau tak perlu tahu detilnya. Yang jelas, dia adalah seseorang yang harus ku temukan, hidup atau mati,” ucap Evangeline.


Mendengar hal tersebut, Damian yang sejak tadi terus menyeringai, kini senyum itu hilang dan berubah menatap balik dengan sorot mata yang tak kalah tajam.


Dia berjalan mendekat ke arah Evangeline. Gadis itu merasakan hal buruk mungkin terjadi.


Dengan refleknya, dia melangkah mundur perlahan, namun baru beberapa langkah, kakinya terhenti karena punggungnya membentur batang pohon yang cukup besar.


Bahkan dengan cepat, seketika lengan Damian menyergapnya hingga gadis itu tak bisa pergi kemana-mana.


“Apa maumu?” tanya Evangeline.


Dia sudah tak bisa terlihat tenang lagi seperti sebelumnya, hingga gadis itu pun bereaksi tak suka dengan sikap Damian padanya yang kurang ajar.


Sementara pemuda tersebut justru menikmati ekspresi kesal Evangeline yang menurutnya menggemaskan.


“Berkencan lah denganku,” ucap Damian.


Sedangkan Damian, dia justru kembali menyeringai seolah meledek Evangeline.


“Anggap saja ini adalah bayaran atas permintaanmu ini. Aku yakin dia adalah orang yang sangat penting bagimu, karena bagaimanapun kondisinya, kau harus tetap menemukannya, bukan. Jadi kurasa, ini akan setimpal jika kau membayar ku dengan mahal,” jelas Damian.


Evangeline mengangkat tangan hendak menampar wajah tampan sang hacker, akan tetapi gerakan Damian lebih cepat, hingga dia bisa menangkap tangan ringkih Evangeline dan menguncinya di atas kepala. Hal itu membuat tubuh mereka semakin berhimpitan tanpa jarak.


Mata Evangeline semakin memerah dengan emosi yang memuncak.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, Evangeline memundurkan kepalanya hingga merapat ke batang pohon.


Dia nampak bersiap mengambil ancang-ancang dan kemudian,


BUG!!!!


Gadis itu menyundul kepala Damian hingga pemuda itu melepaskan cengkeramannya dari Evangeline.

__ADS_1


Tidak sampai di situ. Gadis tersebut juga menendang tulang kering Damian hingga membuat pemuda iyu jatuh terjungkal.


“Kau kira aku semurahan itu, hah? Jika kau butuh uang, aku bisa memberimu berapa pun. Tapi jika seperti ini sikapmu, maka kau salah karena sudah membuang kesempatan besar ini,” ucap Evangeline dengan tatapan nyalang.


Dia pun berbalik dan berjalan menjauh.


“Dia masih hidup!” pekik Damian.


Seketika, Evangeline yang awalnya sangat ingin pergi, kini membeku.


Dia diam, akan tetapi tak berbalik sedikit pun dan hanya melirik sekilas ke arah samping, dan tak menghiraukan pemuda yang masih terlihat kesakitan, terduduk sambil memegangi tulang keringnya itu.


“Dia masih hidup. Entah siapa yang kau maksud, tapi tidak ada korban di dalam ledakan itu,” lanjut Damian.


Mendengar kelanjutan perkataan Damian, Evangeline pun seketika berbalik dengan wajah yang masih terlihat sama seperti sebelumnya.


Hanya kepalan tangan yang begitu kuat, yang mampu memperlihatkan seberapa besarnya guncangan yang terjadi dalam dirinya saat ini.


Melihat reaksi Evangeline, seringai kembali muncul di bibir Damian. Dia kini yakin seberapa penting orang yang sedang dicari oleh Evangeline itu.


Namun, dia belum tau di antara ketiga pria, siapa sebenarnya yang menjadi tujuan Evangeline Hemachandra.


Dia pun berjalan mendekat ke arah Evangeline yang masih membeku di tempat. Tangannya masuk ke dalam jaket dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


Di tengah kekalutan hati Evangeline, sebuah foto diarahkan tepat di depan mata gadis tersebut. Rahang evangeline terantuk begitu keras. Bola matanya pun tak bisa lagi terlihat tenang meski wajahnya tampak begitu tegas dan tangguh.


Tangannya semakin kuat mengepal, hingga kuku jarinya melukai telapak tangannya sendiri.


Sesak tiba-tiba menyerang dadanya hingga membuat matanya panas serta buram, karena lapisan bening mulai terbentuk.


Kau hidup. Syukurlah, ternyata kau benar-benar masih hidup, gumamnya dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2