
Kota Wisteria dan Kota Willow adalah sebuah kota industri yang sedang berkembang dengan kemajuan pembangunan yang cukup signifikan. Hampir semua perusahaan besar ingin menyerbu kota tersebut dan melakukan pembangunan besar-besaran di sana sini.
Namun, perusahaan lokal tak mudah disingkirkan, karena mereka lebih paham seluk beluk perekonomian dan masyarakat di kota tersebut yang menjunjung tinggi kekeluargaan.
Mereka akan lebih percaya kepada orang sendiri ketimbang orang asing, meski ditawari harga yang fantastis. Hal itulah yang membuat banyak pebisnis yang ingin menembus pasar kedua kota itu, meski dengan cara curang.
Banyak perusahaan lokal mulai keluar dan mengekspansi pasar, termasuk Hera Group, perusahaan multisektor yang melebarkan sayapnya hingga ke seluruh negeri, dan bahkan merambah ke manca negara.
Dulu pun ada perusahaan Danurendra yang menguasai sektor pariwisata, akan tetapi setelah kejadian pembantaian di rumah Danurendra, perusahaan tersebut mendadak surut dan kini hanya menjadi salah satu bagian kecil dari Hera group yang dipimpin oleh Hemachandra Adiguna.
Saat ini, Perusahaan itu hanya mempertahankan apa yang sudah ada sejak awal, tanpa bermaksud menambah atau mengembangkan lagi perusahaan tersebut.
Hemachandra memiliki alasan tersendiri kenapa anak perusahaannya itu tidak dia besarkan juga seperti yang lainnya, dan hal itu hanya dia sendiri yang tau.
Willow dan Wisteria, meski awalnya hanya dua kota kecil yang terdapat di area perbukitan, akan tetapi saat ini menjadi dua kota yang menyumbang pendapatan negara nomer tiga paling besar dari kota lainnya di seluruh negeri.
Sementara pemegang peringkat pertama masihlah ibu kotanya sendiri, yaitu Kota Orchid. Kota eksotis, pusat perkembangan negeri, kota maju yang memiliki teknologi serba canggih, tingkat perekonomian yang tinggi serta persaingan bisnis yang sangat ketat.
Kota ini sangatlah berkelas dengan segala keindahan serta kemajuannya yang berjalan seimbang.
Namun ada satu hal yang tak diketahui orang-orang, meski nampak gemerlap dipermukaan, akan tetapi dunia bawahnya tak kalah mengerikan.
Berbagai macam transaksi ilegal terus berjalan setiap detiknya, tanpa orang-orang tahu. Bahkan para praktisi bisnis di permukaan pun tak luput dari bisnis bawah tanahnya. Mereka saling berkaitan, dengan tujuan mendapatkan keuntungan masing-masing.
Di suatu tempat, di sebuah gedung pencakar langit tertinggi di kota orchid, seorang pria terlihat duduk sambil memutar-mutar pulpen ditangannya.
Dia terlihat tengah membelakangi meja kerjanya dan menghadap ke arah jendela, di mana dia bisa melihat pemandangan kota tersebut dari ketinggian ribuan meter.
Sebuah dering dari telepon kantor, membuatnya memutar sedikit kursi dan meraih alat komunikasi tersebut.
“Ya, ada apa?” tanyanya langsung.
Dia terlihat tengah mendengarkan jawaban dari seberang. Tangannya masih sibuk memutar-mutar pulpen sebelumnya.
“Ehm... Baiklah. Biarkan dia masuk,” lanjutnya.
Setelah itu, dia kemudian menutup panggilan tersebut, lalu meletakkan kembali gagang teleponnya.
Pria yang berusia sekitar awal lima puluhan itu pun bangun. Dia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, dan berbalik dengan sebelah tangan yang terus memainkan benda di tangannya itu.
Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu ruangannya dan masuk. Tampak seorang wanita berpakaian layaknya sekretaris, melaporkan bahwa ada tamu yang ingin menemuinya.
Tamu itu bahkan sudah berdiri di depan pintu dan melihat lurus ke arah pria tadi seraya tersenyum.
“Biarkan dia masuk,” seru sang atasan.
__ADS_1
Si sekretaris pun mempersilahkan tamu itu masuk.
Orang tersebut kemudian masuk ke dalam dan langsung mengangkat satu tangannya, melambai ke arah pria di depannya.
“Halo, presdir Andhara,” sapanya.
Pria yang sejak tadi terus memutar pulpen itu tak lain adalah Morgan Andhara. CEO dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi.
“Ada masalah apa lagi kau datang kemari, Howard?” tanya Morgan pada tamunya.
“Setidaknya, biarkan aku duduk dulu lah. Kau ini semakin tak sopan pada tamu mu ya,” ucap pria bernama Howard itu.
Morgan pun menunjuk sofa tanda mempersilakan tamunya itu duduk. Howard pun duduk dengan menyilangkan kakinya ke atas.
“Rencanaku gagal lagi. Anak buah Hemachandra itu sangat menjengkelkan sekali,” ucap Howard.
Morgan yang baru saja duduk dan hendak bersandar, menghentikan gerakannya sejenak, kemudian kembali menyandarkan punggungnya di sofa.
“Bukankah ini sudah ketiga kalinya kau mencoba menjatuhkan pria desa itu? Mau sampai berapa kali kau mencobanya, hah?” tanya Morgan.
“Jangan dihitung. Kau membuatku frustasi saja. Tapi kali ini sedikit berbeda. Pion ku berhasil membuat pria itu sekarat. Mungkin saja sekarang dia tinggal menunggu ajal saja,” jawab Howard.
“Jadi, kau sudah membuatnya sampai seperti itu, tapi masih gagal juga? Memang apa rencanamu sebenarnya?” tanya Morgan
"Kukira dengan memanfaatkan asisten pribadinya, aku bisa dengan mudah mengakuisisi perusahaan itu setelah membuatnya CEO nya mati. Tapi ternyata, anak kecil itu lagi-lagi yang membuat rencanaku gagal. Benar-benar sial,” tutur Howard.
“Kau bahkan kalah dengan anak kecil? Lalu, apa gunanya aku membantumu selama ini kalau akhirnya justru dikalahkan oleh anak-anak,” sahut Morgan.
Pria itu meletakkan pulpennya di atas meja, dan meraih sesuatu dari bawah. Sebuah kotak kayu klasik berwarna coklat. Dia lalu membuka benda tersebut yang ternyata berisi dua batang cerutu.
“Dia bukan anak sembarangan. Dia adalah anak yang menjadi target pada rencana ke dua ku. Apa kau ingat Danurendra?” tanya Howard.
“Tentu. Memang apa kaitannya dengan rencana mu yang gagal?” sahut Morgan, sambil memotong kedua ujung cerutu dan bersiap menyulutnya dengan api.
“Dia adalah anak bungsu dari Danurendra. Bukankah aku pernah mengatakannya padamu, bahwa kedua putra Danurendra selama ini tinggal bersama Hemachandra,” ungkap Howard.
Morgan terlihat menghentikan pemantik apinya di udara sesaat, ketika tamunya itu mengungkapkan identitas kedua anak Danurendra.
Namun, sekilas kemudian, dia kembali melanjutkan apa yang dia lakukan sebelumnya. Kepulan asap pekat mulai keluar dari mulut pria paruh baya tersebut.
“Lalu, apa kau tidak bisa mengurus seorang anak kecil? Bukankah dulu kau juga bisa mengalahkan ayah mereka. Kenapa sekarang justru tak bisa menghadapi anaknya?” cecar Morgan.
Howard mengambil sebuah cerutu dari dalam kotak dan menghirup aroma dari batangnya.
“Anak ini berbeda. Dia seolah memiliki pemikiran sendiri. Tidak mudah ditebak apalagi dihasut. Sangat lain dari kakaknya."
__ADS_1
"Andai saja dia sama dengan kakaknya yang bodoh itu, rencana kedua ku pasti tak akan gagal. Kau ingat kan, aku malah rugi besar di rencana kedua ku itu. Aku bahkan hampir tertangkap jika bukan karena kau yang menyadari ada masalah saat itu,” ucap Howard.
Morgan nampak menikmati isapan tembakaunya, sambil memicingkan mata. Dia mencoba menyelami perkataan dari Howard.
Anak yang berbeda? Menarik, batin Morgan.
...❄❄❄❄❄...
Sementara di tempat lain, Ardiaz terlihat sedang duduk di atas ranjangnya. Dia masih harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Hari ini, Malcolm mengatakan bahwa temannya itu harus mengganti perbannya, sekaligus melihat apakah lukanya masih basah atau sudah membaik. Apakah ada infeksi, peradangan atau yang lainnya.
Ardiaz enggan berbaring dan hanya memilih duduk di atas ranjang, dengan posisi bed yang dinaikkan bagian ujungnya dan menjadi sandaran.
Kedua tangannya terlipat di depan dada, dengan mata yang terpejam. Dia mencoba mengistirahatkan dirinya barang sejenak, mengingat berapa lelahnya dia. Satu sisi, dia harus selalu siaga menjaga tuannya, disisi lain dia juga harus menjaga kakaknya.
Ditambah kondisinya sendiri yang terluka cukup parah, membuatnya kesulitan bergerak dan merasa kesakitan sepanjang waktu.
Seseorang terdengar menggeser pintu ruangannya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke dalam, karena ruangan tersebut pun dijaga oleh anak buah Ardiaz. Hal itulah yang membuat Ardiaz tak begitu waspada pada setiap gerakan yang ada.
Mendengar seseorang datang, pria itu pun kembali terjaga, meski masih malas membuka mata.
Dia bahkan menunjukkan sikap ketidak sukaannya, karena waktu istirahatnya harus terganggu oleh kedatangan orang tersebut, dengan cara menghela nafas berat.
“Apa tidak bisa nanti saja? Kau tidak lihat, aku ini belum tidur dengan baik beberapa hari ini, hah?” tanya ardiaz.
Namun, orang itu tak menyahut. Ardiaz mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan sikap Malcolm.
Biasanya dokter itu akan menyahut dengan omelan yang membuatnya sakit kepala.
Dia pun membuka mata dan bermaksud kembali protes pada rekannya itu.
“Hei, Mal... Kau? Kenapa kau bisa di sini?” tanya Ardiaz, yang terkejut dengan keberadaan orang yang ternyata bukanlah Malcolm.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1