They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Tuan muda yang hilang


__ADS_3

“Dari reaksimu, aku yakin kau sudah menyadari sesuatu. Benar bukan, Papa bear,” ucap Jordan.


Pria itu masih berdiri di belakang Ardiaz dengan menatap lurus ke arah Joker.


“Jadi, apa kau bisa bekerjasama dengan kami?” tanya Jordan lagi.


Namun tiba-tiba, Joker kembali membuang wajahnya dan menghadap ke atas menatap langit-langit.


“Aku tak tahu apapun,” jawab Joker tiba-tiba.


Dia bahkan menutup matanya, pertanda bahwa dia tak bersedia berbicara lagi dengan kedua pria muda itu.


Ardiaz yang melihat hal itu pun kemudian berdiri dan kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Sebaiknya kita keluar dulu, Charlie,” seru Ardiaz.


Pria itu pun berjalan keluar mendahului rekannya itu. Dia duduk di kursi yang ada di ruang tamu, disusul dengan Jordan yang juga kembali mengutak atik peralatannya.


“Kau pasti penasaran bukan? Apa tidak cukup dengan alasan bahwa aku seorang pedagang dunia bawah yang tahu segala hal?” tanya Jordan tiba-tiba.


Dia tahu bahwa sudah pasti Ardiaz menaruh kecurigaan padanya sejak beberapa waktu yang lalu. Helaan nafas berat pun kembali terdengar dari mulut pria itu.


“Dia adalah seorang King di Lucifer beberapa tahun yang lalu, hingga Emperor mereka tiba-tiba meninggal dengan misterius dan digantikan oleh putra sulungnya. Dia memutuskan untuk keluar dan menjadi pembunuh bayaran, penadah dan juga pengedar obat terlarang,” ungkap Jordan.


Ardiaz diam. Dia hanya ingin menyimak apa yang akan dikatakan lagi oleh rekannya itu.


Jordan menoleh ke arah Ardiaz. Rekannya itu masih terus menatap ke arahnya dengan tatapan penuh selidik.


“Ayolah, kau tahu kan kalau ini semua sangat mungkin kudapat dari pekerjaanku sebagai pedagang di pasar gelap,” ucap Jordan.


Sebuah senyum tersungging dari sudut bibir Ardiaz. Dia pun mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan tangan yang bertumpu pada lututnya, dan menyatu di bawah dagu.


“Apa itu yang kau ingin aku percaya?” tanya Ardiaz.


“Memang apa lagi?” tanya Jordan balik.


“Baiklah, aku tak mungkin menolak keinginan Tuan muda organisasi Lucifer,” ucap Ardiaz.


Jordan diam. Namun, tiba-tiba dia terkekeh sendiri.


“Hahaha... Apa kau bercanda. Ayolah aku ini cuma anak hilang yang hidup dengan mengandalkan menjual benda aneh dan juga informasi. Jika aku seorang tuan muda, harusnya aku kaya raya bukan? Kau ini ada-ada saja,” elak Jordan.


“Benarkah? Lalu bisa kau jelaskan bekas luka yang ada di pundak kirimu itu?" sahut Ardiaz cepat.

__ADS_1


“Itu hanya bekas luka biasa. Wajar bukan orang seperti kita memiliki tubuh penuh luka,” jawab Jordan.


“Apa kau pikir aku tak tahu ada apa di balik luka itu? Bekasnya mirip kulit yang sengaja dibakar, karena ingin menghilangkan sesuatu dari sana. Jika dilihat baik-baik, bentuknya sangat mirip dengan tato ini hukan,” ucap Ardiaz.


Pria itu mengangkat tangan dan menunjukkan tato Lucifer, yang baru beberapa hari mereka miliki.


“Bukankah kau mencoba menutupi tato sayapmu yang ada di pundak? Apa aku salah?” lanjut Ardiaz.


Jordan terdiam. Senyum yang sejak tadi ia buat, tiba-tiba hilang dan tatapannya turun, memilih untuk kembali sibuk dengan kapsul anehnya itu.


“Diammu mengatakan segalanya, Charlie,” ucap Ardiaz.


Dia kembali merentangkan kedua lengannya, dan membuang pandangannya ke lain arah.


“Sudah ku duga, sulit menyembunyikan sesuatu dari mu, Alpha. Berbeda dengan si Delta yang bodoh itu, yang hanya pintar menggunakan otot saja,” sahut Jordan.


Ardiaz melirik sekilas ke arah rekan pintarnya itu, akan tetapi kembali menatap lurus ke depan.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, di gedung perusahaan Hera group, Evangeline tampak baru saja selesai melakukan rapat bersama dengan para menejer perusahaannya.


Dia berjalan ke arah kantornya, diikuti oleh sonia yang kini menjabat sebagai sekretarisnya.


“Haaaah... aku lelah sekali,” ucap Evangeline.


Sonia yang ikut bersamanya, terlihat berdiri sambil meletakkan semua berkas yang dibawanya dari ruang rapat, ke atas meja kerja Evangeline.


“Apa tidak sebaiknya Anda mengambil cuti barang sehari? Saya lihat, sudah hampir sepekan ini Anda terus menyibukkan diri di kantor. Bahkan saat di rumah sakit pun Anda meminta saya membawa semua berkas ke sana. Anda sudah sangat bekerja keras,” sahut Sonia.


“Cuti? Di saat seperti ini? Tidak mengerjakan apapun hanya akan semakin membuat beban pikiranku bertambah,” ucap Evangeline.


“Setidaknya Anda bisa beristirahat dan bersantai sejenak. Anda bisa melakukan olah raga, jalan-jalan menikmati suasana pantai atau alam lainnya,” saran Sonia.


“Aku tak yakin,” sahut Evangeline.


Gadis itu memejamkan matanya, berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.


“Apa mungkin Anda sedang merindukan suami Anda? Kudengar sudah sepekan ini dia telah menghilang,” terka Sonia.


Evangeline yang tadi terpejam, tiba-tiba membuka matanya saat Sonia menyinggung pria yang telah pergi diam-diam beberapa hari yang lalu.


“Benarkah? Apa mungkin aku merindukan pria menyebalkan itu?” tanya Evangeline.

__ADS_1


Tatapan matanya kosong menerawang ke depan. Dia seolah berkata pada sang sekretaris, akan tetapi sebenarnya justru ia tujukan pada dirinya sendiri.


“Mungkin saja. Bukankah Anda adalah istrinya. Saya dengar, Anda dan suami Anda sudah biasa hidup bersama sejak masih muda. Bisa saja saat ini Anda merasa kehilangan seseorang yang berharga,” ucap Sonia.


Evangeline kembali menutup matanya. Hatinya kembali sesak saat mengingat bagaimana Ardiaz pergi meninggalkannya sendiri di sini, bahkan tanpa sepatah katapun.


Benarkah aku merindukan orang seperti mu? batinnya.


Sejak mengetahui kepergian Ardiaz, Evangeline sering memikirkan pria itu. Dia sampai harus menyibukkan diri demi mengalihkan pikirannya dari sang suami yang pergi entah kemana.


Dia menolak untuk libur bahkan di akhir pekan. Pekerjaan yang harusnya bisa diselesaikan esok hari, dia bawa ke rumah sakit dan kembali bekerja hingga dini hari, sambil menemani sang ayah yang kondisinya belum ada kemajuan sama sekali.


Evangeline merasa lelah, tidak hanya fisiknya saja, tapi juga batin. Dia merasa kesepian. Ardiaz yang seharusnya bisa ia jadikan sandaran, kini justru pergi tanpa ia tahu kemana dan untuk apa.


Sebulir bening lolos dari sudut mata Evangeline, membuat gadis itu segera menegakkan duduknya dan mengusap lelehan tersebut.


“Aaahhh... Sepertinya idemu untuk liburan cukup bagus. Bagaimana jadwal ku sebulan ini?” tanya Evangeline.


Sonia mengambil buku agenda miliknya, dan melihat jadwal untuk sang bos.


“Jadwal Anda hingga akhir bulan cukup padat. Tapi jika Anda ingin memakai satu hari untuk berlibur, saya rasa tidak masalah,” ucap Sonia.


“Tidak usah. Kita lakukan saja sesuai jadwal hingga akhir bulan. Buatkan aku jadwal baru di awal bulan depan untuk berlibur. Aku ingin pergi sedikit jauh, dan menjadi orang asing ditempat asing,” seru Evangeline.


“Baik, Nona,” sahut Sonia.


“Ehm... apa kau punya rekomendasi tempat yang bagus untuk ku tuju?” tanya Evangeline.


“Saya tidak yakin karena saya pun jarang berlibur. Tapi, bagaimana jika ke Kota Orchid. Saya dengar di sana cukup bagus dan banyak tempat wisata yang menarik,” jawab Sonia.


“Kota Orchid? Benarkah? Ehm... kedengarannya lumayan. Baiklah, mari kita coba di sana,” sahut Evangeline.


Gadis itu kembali menutup matanya, dan Sonia pun pamit undur diri dari ruangan bosnya, lalu kembali ke mejanya sendiri.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2