They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Gemerisik rumpun bambu


__ADS_3

Setelah pertemuan Tuan Hemachandra dengan Aaron, Evangeline terlihat lebih banyak diam. Itu semua karena keputusan sang ayah yang kembali ingin merekrut Aaron sebagai asisten pribadinya.


Meski Tuan Hemachandra sudah menjelaskan alasan dan pertimbangannya, namun Evangeline masih belum bisa menerima hal itu begitu saja.


Aaron pun menyadarinya dan tak serta merta menerima kebaikan dari Tuan Hemachandra. Dia memilih menghormati Evangeline, sebagai orang yang paling menderita karena dirinya.


Musim dingin ini dilewati dengan kediaman Evangeline. Gadis itu masih terus bekerja dengan keras, menyibukkan dirinya dengan berbagai hal.


Meski sang ayah telah kembali mengambil alih posisi pemimpin Hera Group, akan tetapi hampir semua tugas lapangan di ambil alih oleh sang putri, dengan alasan bahwa sang ayah masih harus memperhatikan kondisi fisiknya.


Ditambah udara dingin membuat persendian Hemachandra sering merasa linu, dan butuh bantalan hangat yang selalu menempel di atas tempurung lututnya.


Tanpa terasa, musim semi pun datang. Bunga-bunga bermekaran dengan indahnya. Di taman bunga Evangeline, gadis itu terlihat tengah menikmati keindahan kebun bunga yang dibuat khusus untuknya, di bawah sinar cahaya rembulan yang terlihat begitu terang.


Hal ini berbeda dari beberapa waktu yang lalu. Hari ketika Aaron datang ke rumahnya, saat Evangeline berada di danau dan tanpa sengaja menghirup sebuah aroma yang membuat jantungnya berdegup kencang, dia menangis tanpa suara di tempat itu.


Hari berikutnya, dia kembali ke tempat itu, mencoba mencari lagi aroma tersebut namun dia tak lagi merasakannya. Dia bahkan menghabiskan waktu cukup lama berada di sana, mengharap dia bisa merasakan kehadiran orang yang entah kenapa begitu ia rindukan itu.


Dia lakukan itu setiap hari hampir setiap malam. Namun, semua seolah sia-sia. Dia tak lagi bisa merasakannya, dan hanya tinggal kehampaan dalam hatinya yang semakin memakan jiwa.


Kepala pelayan pun mengetahui perbuatan Evangeline itu, dan melaporkannya kepada Tuan Hemachandra.


Pria paruh baya itu begitu iba melihat kondisi sang putri. Dia merasa bersalah karena terus menambah beban pikiran Evangeline, dengan memintanya menerima Aaron untuk kembali bekerja di perusahaan.


Menurutnya, kematian Ardiaz adalah tekanan terberat bagi Aaron. Dia bahkan berlutut memohon maaf dan begitu menyesal, karena perbuatannya yang tanpa perhitungan membuat sang adik harus terjun dan menyerahkan nyawanya sendiri demi menyadarkannya.


Tuan Hemachandra bisa melihat gurat penyesalan yang teramat. Dia sadar benar Aaron hanyalah korban. Pria paruh baya itu hanya ingin memberikan pria berbakat sepertinya kesempatan kedua, atau lebih tepatnya membiarkan Aaron untuk menebus kesalahannya di masa lalu dengan hidup lebih baik.


Tuan Hemachandra pun berpikir, bahwa hal itulah yang diinginkan oleh Ardiaz akan nasib kakaknya. Dia tahu persis bagaimana pedulinya Ardiaz pada Aaron.


Meskipun dia bersikap profesional sebagai seorang kepala pengawal, dan menuruti semua perintah Evangeline, namun dalam hati, dia pasti ingin sang kakak bisa hidup normal seperti sedia kala.


Namun rupanya, luka yang membekas di hati Evangeline begitu dalam. Hemachandra hanya bisa berpura-pura baik-baik saja dan tak lagi menyinggung masalah Aaron di depan gadis itu.


Sebagai gantinya, dia justru mencoba mendekatkan Evangeline dengan seseorang yang dinilainya bisa meluluhkan kekerasan hati sang putri.


Saat ini, Evangeline tengah asik memandangi warna warni bunga di taman miliknya, hingga seseorang datang dan membuatnya menyudahi aktifitas tersebut.


“Ku dengar, ini dibuat khusus untuk mu. Benar begitu bukan?” tanyanya.

__ADS_1


Evangeline tersenyum melihat pria yang beberapa bulan ini terus menemaninya dan memberikannya perhatian.


Pria itu bahkan sering diundang makan malam oleh sang ayah, karena Tuan Hemachandra berkata dia begitu berterimakasih pada dokter, sebab telah menemani sang putri di masa-masa sulit.


Seperti malam ini, pria itu pun diundang untuk makan malam bersama di rumah tersebut.


Evangeline menggeser sedikit duduknya, mempersilakan Malcolm untuk duduk di sampingnya.


“Ayahku sangat protektif. Dia akan memilih membawa dunia ke dalam rumah, dari pada membiarkan ku pergi jauh darinya. Entah kapan ayah akan menganggap aku dewasa dan membiarkanku berkembang dengan sendirinya,” ucap Evangeline.


“Bukankah itu karena ayahmu sangat mencintaimu,” sahut Malcolm.


“Kau benar. Ayah adalah laki-laki pertama yang sangat menyayangiku. Dia bahkan rela menukar dunia dan mimpinya dengan kebahagiaanku,” ucap Evangeline.


Sebuah senyum tergambar di wajah gadis itu. Malcolm yang melihat hal itu pun ikut tersenyum. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik di dalam hatinya, saat melihat wajah damai Evangeline.


“Apa kau sudah bertemu ayahku?” tanya Evangeline.


Gadis itu tiba-tiba menoleh dan membuat Malcolm tergagap. Dia bahkan memalingkan wajahnya karena tak mau ketahuan tersenyum memandangi gadis tersebut.


“Ehm... Yah, aku sudah menyapanya tadi. Dia mengatakan bahwa kau sedang di sini, jadi aku kemari,” jawab Malcolm.


“Apa ayahku memintamu membujuk ku soal Aaron lagi?” tanya Evangeline.


Sontak hal itu membuat Malcolm yang sejak tadi tersipu, kembali memasang wajah datarnya. Gadis itu seolah bisa menebak apa tujuannya datang menemui dirinya.


Merasa bahwa Malcolm enggan menjawab pertanyaannya, Evangeline pun menghela nafas berat dengan wajah yang terlibat kecewa.


Gadis itu sudah bisa menebak jawabannya meski Malcolm tak mau mengucapkan.


Dia pun berdiri, sambil merapikan selendang yang tersampir di kedua pundaknya. Meski musim dingin telah lewat, namun anginnya masih cukup dingin jika harus berasa di luar tanpa selimut atau mantel.


Melihat Evangeline berdiri, Malcolm pun mendongak dan melihat gadis itu berbalik pergi. Dia berjalan perlahan menuju ke belakang kebun bunga, dimana tempat favoritnya berada.


Setiap kali hatinya gundah, dia pasti akan selalu datang ke sana. Danau buatan yang begitu tenang dengan suara gemerisik rumpun bambu cina yang berada di seberang sana.


Malcolm mengikuti kemana Evangeline pergi. Dia melepas mantelnya dan memakaikannya kepada gadis itu.


Evangeline hanya melirik sekilas ke arah pundaknya. Dia hanya bisa melihat tangan pria itu berada di sana.

__ADS_1


Dia lalu kembali melempar pandangannya ke depan. Jauh menerawang hingga seolah menembus deretan pagar hidup itu.


“Aku tahu ini sulit untuk mu. Tapi, bukankah ayahmu sudah mengatakan alasannya? Pria itu sudah sangat menyesal karena menyebabkan adiknya pergi,” ucap Malcolm.


Evangeline tak menjawab. Hanya helaan nafas yang terdengar begitu kasar, yang keluar dari mulutnya.


Malcolm pun hanya bisa ikut menghela nafas berat mendapati gadis itu kembali murung. Awalnya dia tidak akan membahas Aaron, saat tadi melihat betapa cantiknya senyum Evangeline. Akan tetapi gadis itu justru menyadari lebih dulu maksud kedatangannya.


Dia meraih kedua pundak Evangeline dan menuntun gadis itu untuk menghadap ke arahnya. Namun, gadis tersebut terus menundukkan pandangannya.


Evangeline enggan menatap mata Malcolm, karena tak mau dokter itu melihat apa yang ada di dalamnya hatinya.


“Eva, aku tahu kita tidak sedekat itu untuk saling mencampuri urusan masing-masing. Aku pun tahu ini hal yang berat untuk mu. Tapi, aku yakin kau tahu apa yang terbaik yang bisa kamu lakukan. Aku benar bukan?” tanya Malcolm.


Bukannya menjawab, Evangeline justru semakin memalingkan wajahnya dari tatapan Malcolm.


“Entahlah. Aku juga tak tahu tentang diriku sendiri. Dibibir aku bicara benci, tapi hatiku justru sesak dan sakit,” ucap Evangeline.


Malcolm meraih pipi Evangeline. Dia mengusap lembut wajah cantik itu, dan membuat Evangeline pun menoleh.


Tatapan mata keduanya saling beradu. Ada kehampaan di sorot mata gadis itu yang membuat Malcolm merasa ingin menjamah hatinya.


“Apa ini karena Ardiaz?” tanya Malcolm.


Evangeline diam. Dia bahkan kembali memalingkan pandangannya.


“Biarkan aku menggantikan dia di hatimu,” ucap Malcolm.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2