
Hari-hari terus berlalu. Sejak ayahnya sadar, Evangeline memutuskan untuk menyerahkan semua urusan kantor kepada Sonia, dan meminta sang sekretaris membawakan semua dokumen penting yang harus ia periksa ke rumah sakit.
Fokusnya saat ini hanya pada proses pemulihan sang ayah. Tuan Hemachandra kini telah dipindahkan ke ruangan yang lebih baik dengan fentilasi serta pencahayaan matahari yang sesuai untuk proses pemulihan.
Setiap hari, Evangeline selalu setia menemani sang ayah dalam menjalani terapi yang telah dijadwalkan.
Selain itu, sekarang ada Malcolm yang selalu mengingatkan gadis itu untuk makan dan istirahat. Sang dokter bahkan tak jarang membawakan makanan untuk gadis tersebut, karena Evangeline selalu lupa untuk mengisi perutnya.
Lambat laun, Evangeline terlihat seolah kembali seperti semula. Ceria dan penuh semangat. Harapan telah kembali muncul di mata gadis itu, bersama kembalinya sang ayah ke dunia ini.
Saat ada rapat yang mengharuskan dia hadir, Evangeline akan selalu memantau kondisi sang ayah melalui panggilan vidio, dan memastikan bahwa ayahnya baik-baik saja.
Sikap protektif Tuan Hemachandra kepada Evangeline dulu, kini justru diterapkan oleh gadis tersebut dalam menjaga sang ayah.
Dia selalu mengajak ayahnya berjalan-jalan di taman rumah sakit, agar perasaan ayahnya bisa sedikit rileks. Proses terapi yang dijalaninya cukup membuatnya stres dan kesusahan.
Namun berkat sang putri, Hemachandra terus berusaha agar bisa lekas pulih sepenuhnya.
Saat ini, keduanya tengah berada di taman seperti biasanya. Evangeline akan mengajak ayahnya ke sana sebelum jadwal terapinya dimulai.
Tempat favorit Tuan Hemachandra adalah sebuah kolam kecil yang berada di tengah taman. Saat musim semi tiba, tempat tersebut akan sangat berwarna-warni dengan banyaknya bunga liar yang tumbuh mengelilingi kolam tersebut.
Evangeline memasang rem pada kursi roda yang diduduki oleh sang ayah. Dia juga membetulkan selimut serta mantel yang Dipakai ayahnya.
Musim dingin sudah benar-benar tiba dan semua yang dilihat mata, hanya ada pemandangan warna putih karena tertutup salju dan membeku.
Siang ini, matahari terlihat sedikit lebih berusaha menembus awan tebal yang menggantung di langit, sehingga ada secercah kehangatan saat mereka berada di luar ruangan.
“Apa sudah hangat?” tanya Evangeline.
Gadis itu duduk di bangku taman tepat di samping sang ayah.
“Cukup hangat. Mentari ayah saja terus ada di samping ayah, bagaimana mungkin ayah akan merasa kedinginan?” ucap Tuan Hemachandra.
Evangeline tersenyum karena mendengar ucapan ayahnya itu. Namun, tiba-tiba Tuan Hemachandra menghela nafas panjang, hingga uapnya mengepul dengan jelas dari mulutnya.
“Ada apa, Ayah?” tanya Evangeline.
Dia khawatir dengan ekspresi sang ayah yang terlihat tengah memikirkan sesuatu yang serius.
“Ayah ingin bertemu dengan Aaron,” ucap Tuan Hemachandra tiba-tiba.
__ADS_1
Evangeline pun terkejut mendengarnya. Sudah lama dia membuang jauh-jauh nama itu dari hidupnya, karena apa yang telah diperbuat oleh pria tersebut.
Tuan Hemachandra menoleh melihat raut wajah sang putri. Jelas terlihat bahwa gadis itu sangat tak nyaman ketika dia menyinggung pria yang dulu pernah mengisi hatinya.
“Ayah memang tak tahu semua yang terjadi setelah ayah koma, tapi ayah bisa menebak jika kau sudah tahu bahwa Aaron ikut andil dalam membuat ayah koma,” ucap Tuan Hemachandra.
Evangeline diam. Gadis itu memilih menundukkan pandangannya, dan tak menyahuti perkataan pria paruh baya di depannya itu.
Tuan Hemachandra kembali menatap ke arah depan, dengan sekali lagi menghela nafasnya.
“Percayalah, bukan Aaron yang menembak ayah. Dia memang sempat menodongkan senjata ke arah ayah, namun Ardiaz membujuknya untuk berhenti. Ayah kenal anak itu seperti apa. Dia adalah pria yang lembut. Dia tak mungkin melakukan sesuatu yang begitu nekad jika tak ada alasan mendasar.”
“Ini hanya salah paham. Ayah dan ayah mereka adalah sahabat. Ayah sangat terpukul ketika mendengar bahwa musibah itu menimpa keluarga mereka.”
“Aaron mengira, ayah yang telah membunuh semua keluarganya, karena perusahaan mereka telah ayah akuisisi tak lama setelah kejadian itu.
"Semua itu ayah lakukan dengan alasan agar anak-anak itu kelak bisa menjalankan kembali usaha keluarganya. Semua itu semata-mata karena ayah ingin membantu teman ayah itu. Pasti ada orang yang ingin menghasudnya dengan informasi tersebut.”
“Eva, Ayah tau kau tau dimana Aaron berada saat ini. Ayah ingin bertemu dengannya dan mengatakan semuanya. Ayah tak ingin anak itu terus mempercayai sebuah kesalahan,” ucap sang ayah.
Evangeline diam. Dia masih belum bisa memaafkan Aaron sepenuhnya atas apa yang telah terjadi. Semuanya terasa begitu menyakitkan baginya.
Tuan Hemachandra pun tak mau mendesak sang putri. Dia hanya ingin evangeline tau bahwa ada hal yang perlu diluruskan antara dirinya dan Aaron.
Jika pun tidak sekarang, dia bisa melakukannya nanti. Hanya saja, dia ingin memberitahukan keinginannya itu kepada Evangeline.
Setelah mengatakan hal itu, keduanya saling diam. Tak ada lagi pembicaraan. Semakin lama di luar, udara semakin dingin. Evangeline pun membuka tuas rem kursi roda, dan membawa ayahnya kembali ke dalam gedung yang hangat.
Sesampainya di ruang rawat, Evangeline membantu sang ayah untuk naik ke ranjangnya.
“Ayah istirahatlah dulu. Mungkin sebentar lagi perawat akan datang dan mengajak ayah ke tempat terapi. Aku masih harus memeriksa pekerjaan kantor. Nanti aku akan menyusul ke sana,” ucap Evangeline.
“Baiklah. Tapi jangan lupa untuk istirahat,” seru sang ayah.
“Ehm... Ayah tenang saja. Jika aku lupa, bukankah ada Dokter Malcolm yang akan begit cerewet mengingatkanku,” ucap Evangeline.
Tuan Hemachandra pun tersenyum mendengarnya. Dia bersyukur karena masih ada seseorang yang begitu memperhatikan putrinya, bahkan di saat tersulitnya.
Gadis itu pun keluar ruangan. Dia meminta pengawal untuk terus menjaga sang ayah dan memastikan tak ada orang mencurigakan yang masuk ke dalam.
Evangeline kemudian berjalan ke arah lain. Dia tak menuju ke ruangannya sendiri, melainkan menuju ke arah pintu atap. Sepertinya hatinya masih belum tenang setelah mendengarkan perkataan sang ayah di taman tadi.
__ADS_1
Dia berjalan melewati batangan pipa saluran udara besar yang ada di atap, hingga sampai di tepi pagar pembatas. Evangeline menekuk kedua sikunya dan bersandar di tepian, sambil memandangi Kota Wisteria yang hampir semuanya berwarna putih, dari atas gedung rumah sakit.
Tatapannya menerawang, meski pandangan tertuju ke sebuah titik di cakrawala. Tiba-tiba, sesuatu membuyarkan lamunannya.
Dia merasakan seseorang memakaikan sebuah mantel di pundaknya. Evangeline pun menoleh dan melihat seseorang yang akhir-akhir ini dekat dengannya, berdiri di belakang.
“Malcolm, bagaimana kau tau aku ada di sini?” tanya Evangeline.
Malcolm maju dan ikut bersandar pada tepian dinding pembatas.
“Aku tadi ke ruangan ayahmu. Dia bilang kau di ruanganmu, tapi saat ku lihat, kau tak ada di sana. Lalu pengawal mengatakan bahwa kau berjalan ke arah sini, jadi aku kemari. Apa ada masalah?” tanya Malcolm.
“Ehm... Siapa? Aku? Tidak. Hanya ingin melihat pemandangan saja. Di dalam terasa begitu sumpek,” jawab Evangeline.
Gadis itu kembali melempar pandangannya ke depan. Namun, Malcolm tak begitu saja percaya dengan gadis itu.
“Kita memang belum lama saling mengenal, tapi sepertinya aku bisa melihat raut galau di wajahmu,” ucap Malcolm.
Evangeline terlihat terkekeh kecil mendengar perkataan dari pria di sampingnya itu.
“Ternyata memiliki teman yang pintar itu sangat menyebalkan ya,” kata Evangeline.
“Yah, itu juga yang sering dikatakan oleh Ardiaz dulu pada ku, setiap kali aku bisa menebak isi hatinya,” sahut Malcolm.
Kekehan Evangeline seketika menghilang, ketika Malcolm menyinggung lagi perihal sang suami. Ditambah lagi ayahnya yang ingin bertemu dengan Kakak Ardiaz, yang sudah pasti akan semakin mengingatkannya pada pria itu.
Tanpa mendengar langsung dari mulut Evangeline, sudah jelas bahwa gadis itu tengah memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan Ardiaz lagi.
.
.
.
.
Ini masih flash back ya 😄, lagi nyeritain rentang enam bulan kehidupan Evangeline setelah ledakan di gudang senjata Lucifer.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1