They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Rencana awal


__ADS_3

Seusai membuat tato anggota palsu, ketiga pria muda itu pun pergi ke Distrik Lotus, di mana acara lelang lima tahunan akan berlangsung. Ketiganya menggunakan tiga buah sepeda motor, yang didapat dari kenalan wanita tua pemilik toko tato sebelumnya.


Wanita tua itu rupanya mau membantu mereka. Bukan hanya sekedar membuatkan tato, melainkan juga dengan perlengkapan lain yang mereka butuhkan.


Jordan telah mempersiapkan semuaperalasemua peralatan menyamar untuk kedua rekannya, sementara dirinya memilih bersembunyi di dalam ruang panel, yang dipenuhi oleh peralatan elektronik yang mengendalikan seisi gedung.


Mereka menyembunyikan motor di area parkiran atap gedung yang bersebelahan dengan tempat lelang berada.


Ardiaz menembakkan panah dengan ujung mata besar, yang dililitkan dengan sling baja, yang kemudian dikaitkan dengan carabinet, yang diikta dengan tali kawat baja besar.


Ketiganya bergantian melayang melintasi tali tersebut, untuk menyeberang ke gedung berlantai tujuh, dimana acara lelang berlangsung.


Mereka pun masuk melalui saluran udara yang terdapat di bagian atas gedung. Jordan bahkan telah memiliki cetak biru gedung tersebut, yang semakin membuat Ardiaz dan juga Mac duff geleng kepala, karena informasi yang dimiliki oleh sang penjual serba ada itu benar-benar luar biasa.


“Ingat, targetmu adalah pemegang blue ocean. Sedangkan targetku adalah pemegang poster buruan Joker. Charlie, pastikan kau bisa meretas kamera pengawas gedung dan memberikan setiap posisi penjagaan serta semua hal yang terjadi di dalam,” seru Ardiaz.


Setelah memastikan tugas masing-masing, mereka pun masuk dan berpencar ke pos masing-masing.


Ardiaz dan Mac duff turun ke ruang ganti pelayan. Keduanya berganti pakaian dengan setelan yang telah tersedia di sana, dengan masih membawa perangkat serta senjata masing-masing yang tersembunyi di balik pakaian.


Kemudian keduanya pun keluar dan mulai membaur dengan semua pelayan yang ada. Sebuah alat komunikasi yang terpasang di liang telinga, menjadi satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan ketiga pria tersebut.


Sementara itu, Jordan yang memilih turun melalui lubang fentilasi di toilet, mulai bergerak menuju ke tempat dimana ruang kontrol panel berada.


Sebuah ruangan yang dipenuhi perangkat serta ribuan kabel, menjadi posnya. Dia mulai memasang perangkat penyadap pada salah satu alat server.


Pria itu lalu mulai meretas sistem CCTV gedung tersebut, dan memantau pergerakan setiap orang yang ada di dalam sana, sambil mengarahkan kedua rekannya yang tengah menyamar.


Di dalam hall tempat para tamu berkumpul, Ardiaz yang sedang menyamar menjadi salah satu pelayan pun mulai mencari keberadaan orang yang menjadi targetnya.


Dari kejauhan, matanya menangkap sosok tinggi besar, tengah berdiri di lantai atas hall sambil memperhatikan orang-orang yang ada di bagian bawah.


Dia pun berjalan ke arah pria besar tersebut, sambil membawa nampan berisi gelas yang berisi sampanye. Ardiaz berjalan begitu saja lewat di belakang pria itu.

__ADS_1


Tiba-tiba, pria tersebut menghentikannya, dan mengambil sebuah gelas sampanye dari nampan tersebut. Saat itu, Ardiaz diam-diam menempelkan sebuah benda bulat kecil berwarna hitam, pada bagian bawah dalam jas yang dipakai si pria besar. Benda itu tak lain adalah sebuah alat pelacak.


Setelah itu, dia pun kembali berlalu dari sana. Dari jarak yang belum terlalu jauh, dia melihat kembali targetnya dan memastikan alat yang dipasangnya aman dan tak terdeteksi.


Beberapa saat kemudian, acara pun dimulai. Satu persatu benda dikeluarkan dan pertarungan harga yang sengit terjadi di setiap sesinya.


Ardiaz memilih untuk berjaga bersama pelayan lainnya di barisan belakang kursi peserta lelang, untuk mengamati semua orang. Sementara Mac duff, dia memilih berjaga di bagian atas dan memantau jalannya acara dari tempatnya berada.


Saat blue ocean muncul, hampir semua yang mengincarnya adalah wanita atau pria yang datang bersama wanitanya.


Seorang pria bertubuh tambun dengan seorang wanita seksi, terlihat begitu antusias untuk mendapatkan perhiasan berharga tersebut.


Benar saja, dia bahkan tak peduli akan banyaknya uang yang harus dia keluarkan, hanya untuk memenuhi keinginan wanita di sampingnya itu.


Setelah blue ocean telah berhasil di dapatkan oleh si pembeli, Ardiaz menginstruksikan kepada Mac duff untuk mulai mengikuti targetnya, melalui benda yang terpasang di telinga.


“Targetmu sudah ditetapkan, Delta,” ucap Ardiaz.


“Dengan senang hati. Hehehe...,” sahut Mac duff dari tempat lain.


Dia pun segera turun dan mulai menjalankan misinya, merebut kembali blue ocean milik mendiang ibunda Ardiaz.


Sementara itu, Ardiaz masih terus memantau targetnya, pria besar yang sebelumnya ia temui. Dia tetap berada di tempat hingga lelang berakhir, dan poster buruan targetnya dimenangkan seseorang, dan orang tersebut tak lain adalah Howard Danawangsa.


Setelah melakukan pembayaran, Ardiaz yang masih menyamar menjadi pelayan, mengantar Howard hingga menuju lift.


Tiba-tiba, alat komunikasinya berbunyi. Dia pun menekan benda kecil tersebut.


“Target bergerak. Segera ikuti umpannya,” ucap Jordan dari posisinya.


Dia melihat dari pantauan kamera CCTV, pergerakan target yang terus mengikuti Howard, dan memerintahkan Ardiaz untuk segera mengikuti pria tersebut turun.


Ardiaz pun berbalik dan menuju ke tangga darurat. Di sana, dia melepas topengnya dan memakai sebuah kaca mata hitam, serta memasang sebuah alat komunikasi palsu ke telinga yang memiliki kabel seperti headset.

__ADS_1


Setalah mencapai lantai lima, dia berhati-hati keluar dari ruang tangga darurat, dan membuang topengnya ke dalam tempat sampah yang ada di dekat sana.


Dia pun membaur dengan pengawal Howard, yang berpenampilan sama dengannya. Ardiaz terus mengikuti Howard hingga ke lantai basement, dimana mobil pria itu berada.


Namun saat telah sampai di basement, tiba-tiba Jordan kembali menghubunginya.


“Cepat ambil motormu. Target berada di dalam mobil. Tapi kemungkinan itu adat perangkap,” ucap Jordan.


“Apa kau yakin?” tanya Ardiaz.


“Ada dua alat pelacak di mobil tersebut. Satu milik target dan satu pasti milik mereka,” ucap Jordan.


Ardiaz kemudian melihat gerak gerik Howard dan orang-orangnya. Saat Howard masuk ke dalam mobil, sekilas Ardiaz melihat bahwa target telah duduk di kursi kemudi, menyamar sebagai supir dengan menggunakan penutup wajah.


Sementara anak buah Howard justru membiarkan bos mereka seorang diri di dalam sana, tanpa pengawal lain yang menemani di mobil tersebut.


Dia pun segera mundur, dan memisahkan diri dari orang-orang itu, sebelum mereka menyadari bahwa anggota mereka tiba-tiba bertambah satu orang.


Ardiaz dengan cepat keluar dari gedung tersebut menuju ke gedung sebelah, mengambil sepeda motornya, kemudian mengejar mobil Howard di jalan raya.


“Kau keluarlah daru sana. Tunggu kabarku untuk rencana selanjutnya,” seru Ardiaz pada Jordan.


“Roger,” sahut Jordan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2