They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Menuju ibu kota


__ADS_3

Malam hari menjelang. Empat pria terlihat berada di dermaga. Salah satu dari mereka tengah berdiskusi dengan seorang awak kapal, yang akan mereka tumpangi untuk menuju ke Kota Orchid.


Mereka memilih jalur laut, karena cara ini yang paling aman dari pada harus melalui jalur udara. Setidaknya mereka tidak akan terlacak oleh orang-orang yang bersembunyi di dalam bayangan, yang selama ini menargetkan Ardiaz dan kakaknya, juga keluarga Hemachandra.


“Semua sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang,” ucap Jordan yang baru saja selesai berbicara dengan seorang awak kapal.


Ardiaz yang sejak tadi duduk di atas kap mobilnya pun berdiri, sementara Mac duff telah bersiap dengan tas ransel di punggungnya.


“Ini tasmu,” ucap Malcolm.


Dokter itu mengulurkan sebuah ransel hitam yang ia ambil dari dalam mobil, dan menyerahkannya kepada Ardiaz.


Kepala pengawal Hemachandra itupun lalu meraih tas miliknya dan menyampirkan talinya di sebelah bahu.


“Aku titip tuan besar padamu. Jika kau mendengar kabar buruk tentang kami, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?” ucap Ardiaz.


“Wah... Wah... Ahli taktik kita sekarang sedang dalam mode melankolis,” sindir Mac duff.


Ardiaz hanya melirik sekilas pria yang baru saja lewat di sampingnya itu.


“Kau tenang saja, dan pastikan segera kembali kemari. Aku tak ada niatan untuk mengurus surat kematian kalian,” ujar Malcolm.


Ardiaz tersenyum samar mendengar ucapan dari rekannya tersebut. Dia pun lalu mengangkat satu tangannya dengan kelima jari yang terentang.


Malcolm pun menyambutnya dengan sebuah tepukan tepat di telapak tangan Ardiaz, hingga kelima jari mereka saling bertaut dalam genggaman.


“Aku berangkat,” ucap Ardiaz.


“Bawalah kabar baiknya, atau mobilmu ini akan menjadi koleksi garasiku,” sahut Malcolm.


Ardiaz mengangguk. Dia pun berbalik dan berjalan menyusul kedua rekannya yang telah lebih dulu menuju ke kapal, yang akan mengangkut keduanya menyeberang.


Sebuah kapal tongkang dengan banyak kontainer di atasnya, beberapa menit lagi akan meninggalkan dermaga menuju ke ibu kota.


Ardiaz, Jordan dan juga Mac duff telah berada di atas kapal. Sementara kedua rekannya memilih menyiapkan perlengkapan masing-masing, Ardiaz justru masih betah berada di anjungan belakang sambil menatap ke sebuah arah.

__ADS_1


Dia mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku jaket, dan mengaktifkan benda tersebut yang ia matikan, sejak keluar dari kediaman Hemachandra.


Beberapa saat setelah ponsel menyala, Ardiaz lega karena tidak ditemukan satu pun pangggilan masuk. Itu berarti kepergiannya tidak disadari oleh siapapun.


Namun, kemudian ada satu pesan chat yang terkirim dari nomor seseorang yang dia sangat kenal, dan sontak membuat Ardiaz buru-buru membuka pesan tersebut.


[Tepati janjimu, atau selamanya kau akan jadi bajingan pembual]


Sudah sangat jelas siapa yang bisa berkata seperti itu pada Ardiaz. Satu sudut bibirnya pun terangkat ke atas setelah membaca pesan tersebut.


Namun, Ardiaz tak berniat membalasnya dan justru kembali menonaktifkan ponselnya. Dia membuka penutup belakangnya dan mengambil SIM card dari dalam sana, lalu menekuknya hingga patah dan membuangnya ke laut.


Tepat saat itu, kapal mulai bergerak maju meninggalkan daratan dan menuju ke laut lepas, meninggalkan kota kecil tersebut.


...❄❄❄❄❄...


Dua hari kemudian, sebuah kapal tongkang terlihat menepi di dermaga besar Kota Orchid, yang berada di sisi timur kota tersebut tepat pada tengah malam.


Daerah pesisir yang dihuni oleh sebagian besar kaum nelayan, dan juga jalur utama masuknya barang-barang selundupan yang akan diperjual belikan di area hitam kota tersebut.


Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Ardiaz dan Jordan memilih jalur laut, selain karena lebih aman tapi juga di sisi lain mereka bisa mendapatkan informasi lebih banyak mengenai tempat yang akan mereka tuju.


Ardiaz dan juga kedua rekannya nampak memperhatikan hal tersebut dari atas kapal. Ketiganya bergiliran menggunakan sebuah teleskop inframerah milik Jordan, untuk melihat aktifitas yang terjadi di bawah sana dalam kegelapan.


“Bagaiamana selanjutnya?” tanya Mac duff yang terlihat sudah tak sabar untuk bergerak.


Jordan nampak santai bersandar di pagar buritan kapal, sementara Ardiaz masih sibuk mengamati orang-orang di bawah sana.


“Jordan, apa kita bisa masuk ke dalam kelompok mereka?” tanya Ardiaz.


Si rekan pun menoleh dan melihat ke arah bawah tanpa teleskop.


“Aku tidak yakin,” sahutnya.


“Kenapa harus ikut mereka? Langsung serang saja. Bukankah lebih mudah seperti itu?” tanya Mac duff.

__ADS_1


Ardiaz tak menjawab, akan tetapi dia justru menyerahkan teleskop di tangannya kepada si pembunuh berdarah dingin itu.


Mac duff mengernyitkan keningnya, dan meraih teleskop tersebut. Dia berbalik dan mulai melihat ke arah kawanan penyelundup di sana.


“Kau perhatikan tato di sekitar pergelangan mereka,” seru Ardiaz.


Mac duff pun mulai memperhatikan apa yang dimaksud oleh sang peramu taktik itu. Benar saja, hampir semua orang di sana memiliki tato yang sama.


Sebuah tanda silang dengan dua buah sayap hitam di kedua sisinya, serta sebuah mahkota raja di bagian atas.



“Lucifer? Ehm... Jadi begitu rupanya,” gumam Mac duff.


“Kita kemari bukan untuk mengantar nyawa, melainkan mencari informasi. Kita hanya bertiga, jadi sebaiknya tetap waspada dan jangan berbuat onar,” seru Ardiaz.


Jordan menepuk pundak Mac duff beberapa kali dan kembali masuk ke dalam geladak kapal.


“Baiklah... Baiklah... Kau ahli taktiknya. Aku ikut saja idemu, selama itu tidak merugikan ku tentunya,” ucap Mac duff.


Ardiaz hanya menyeringai dan berbalik menyusul Jordan ke dalam. Mac duff nampak masih memperhatikan orang-orang di bawah sana.


Tepat saat dia hendak menyudahi pengamatannya, sang ahli melarikan diri melihat kehadiran seseorang yang sepertinya lebih dihormati oleh orang-orang di bawah sana.


Sebuah seringai pun muncul di bibirnya.


“Ah... Jadi seperti itu. Menarik,” gumamnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2