They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Pelukan hangat


__ADS_3

Keesokan harinya, Evangeline terbangun dengan kepala yang berdengung seperti ada ribuan lebah bersarang di sana.


Bahkan untuk membuka mata saja dia merasa kesulitan. Saat tangannya meraba kesamping, memori seolah menuntunnya untuk segera tersadar dan membuat gadis itu bangun seketika, saat tak merasakan keberadaan siapapun di sana.


Dia menoleh ke kanan dan kiri, tapi memang tak ada siapapun di tempat itu. Evangeline mengusap kasar wajahnya dan menyapu rambutnya yang berantakan.


Entah kenapa, dia merasa jika tadi malam ada seseorang yang terus berada di sampingnya, dan memeluknya sepanjang malam.


"Apa yang sudah terjadi semalam? Siapa orang itu? Apa mungkin hanya bayanganku saja?" gumamnya.


“Apa kau sudah sadar?” tanya sebuah suara yang sangat dikenal oleh Evangeline.


Gadis itu pun segera menoleh, dan matanya membola seketika saat melihat siapa yang ada di depannya.


Nampak seorang gadis berambut sebahu, sedang duduk di kursi yang ada di sisi lain ruangan, dengan kedua tangan yang terlipat di bawah dada, serta tatapan mata yang seolah menginterogasi.


“Joy? Sedang apa kau di...,” tanya Evangeline.


“Bukankah harusnya aku yang bertanya sekarang, hah? Sedang apa kau di sini?” sela Joy cepat, sebelum Evangeline menyelesaikan kalimatnya.


Evangeline ingat bahwa Joy sudah melarangnya pergi lagi ke tempat ini, akan tetapi sekarang justru dia tertangkap langsung olehnya. Bahkan parahnya, Evangeline sedang berada di kamar VIP klub tersebut dalam kondisi kacau seperti sekarang ini.


“Apa yang kau lakukan sampai berada di ruang VIP ini, hah? Kenapa aku juga mendengar bahwa kau membuat janji untuk menjadi teman kencan Kak Mike tadi malam,” cecar Joy.


Gadis itu sepertinya sangat marah dengan Evangeline yang sudah kelewat batas. Dia tak akan seperti ini jika temannya memang gadis liar yang selalu berpesta di malam hari, dan mencari kehangatan dari satu pria ke pria lain.


Namun ini adalah Evangeline. Dia kenal jelas siapa temannya itu, dan tahu betul bahwa Evangeline tak akan pernah berbuat sejauh itu jika tak ada alasan kuat yang mendasarinya.


Sementara Evangeline, gadis itu tak bisa menjawab apapun, karena dia sendiri masih belum bisa berpikir jernih.


Kepalanya terus berdenyut. Dia bahkan tak peduli dengan segala ocehan Joy yang begitu kesal dengan kelakuannya.


Pertanyaan besar yang muncul dibenaknya saat ini adalah, siapa yang membawanya ke tempat tidur semalam, dan apa yang sudah terjadi selama dirinya mabuk.


Dia tak merasakan adanya sesuatu yang aneh pada tubuhnya, yang menandakan bahwa tak ada yang mengambil kesempatan padanya ketika mabuk tadi malam.


Ditambah keberadaan Joy di sini saat ini, yang menunjukkan bahwa orang-orang di sini tidak akan bertindak sembarangan padanya, mengingat jasa Joy terhadap bos mereka di masa lalu.


Dia pun hanya bisa tertunduk lesu, karena misinya gagal total akibat kelemahannya sendiri.


Alih-alih mendengarkan omelan Joy yang masih berlanjut, Evangeline memilih tenggelam dalam pikirannya sambil memeluk lututnya sendiri.


Namun tiba-tiba, matanya kembali berkaca-kaca saat sebuah aroma yang sangat ia kenal, tercium dari lengannya.


Seketika, ingatan samar akan kejadian semalam muncul di benaknya.

__ADS_1


Apa itu kau? Apa itu benar-benar kau? Apa kau benar-benar memelukku semalam? batin Evangeline.


Air mata seketika luruh ke pipinya dan tangisnya pun pecah, membuat Joy yang sejak tadi terus bicara, kini mendadak terdiam dan kebingungan melihat Evangeline yang justru menangis sejadi-jadinya.


...❄❄❄❄❄...


Di sebuah apartemen, seorang pria nampak terbaring di atas tempat tidurnya, dengan satu lengan sebagai bantalan kepala. Dia terlentang menghadap ke arah langit-langit, namun tatapannya menerawang jauh ke tempat dimana dia meninggalkan perasannya yang begitu aneh semalam.


Dia masih ingat bagaiman gadis itu memeluknya dengan erat, bahkan memintanya agar jangan lagi pergi. Juga bagaimana gadis itu menangis dalam keadaan mabuknya dan terus memanggil nama yang sudah lama dia lupakan.


Ardiaz yang saat ini telah pulang ke apartemen Penthouse miliknya, terus saja memikirkan tentang sang istri.


Memorinya kembali memutar kejadian demi kejadian malam tadi, saat Evangeline memaksanya untuk tetap berada di sana.


Pria itu luluh dan memilih mengalah. Dia tak lagi mencoba lepas dari Evangeline dan justru naik ke atas tempat tidur, dan berbaring di samping gadis itu. Dia bahkan membawa sang istri semakin masuk ke dalam pelukannya.


Tangannya bergerak mengikuti nalurinya, dan mengusap lembut surai kemerahan Evangeline, sambil sesekali menghirup dalam-dalam aroma wangi dari sana.


Entah kenapa, dia merasa bahwa Evangeline begitu nyaman berada di dalam dekapannya, hingga isak yang tadi sempat muncul, berangsur tak terdengar lagi. Gadis itu bahkan terlihat tidur begitu lelap di sana.


evangeline memeluk pinggangnya erat, seolah takut jika Ardiaz akan pergi meninggalkannya lagi.


Gadis bod*h. Apa yang terjadi padamu? Bukankah harusnya kau bahagia dengan pria lain yang lebih baik dari ku sekarang? Kenapa kau justru berada di sini, dan melakukan hal gila demi mencariku? batin Ardiaz.


Dia tak bisa mengutarakan semua pertanyaan itu langsung kepada Evangeline. Bagaimana pun juga, keberadaannya masih harus tetap tersembunyi dari gadis ini, jika ingin Evangeline tetap aman dan tak terlibat dalam kekacauan.


Saat matahari hampir terbit, dia bangun lebih dulu dan melihat Evangeline yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia pun mencoba melepas lilitan lengan sang istri yang sejak semalam terus melingkar di pinggangnya.


Dia membetulkan letak selimut yang sedikit terbuka, agar sang istri tak merasa kedinginan. Pria itu tampak terdiam memandangi wajah Evangeline yang masih terpejam, lelap dalam buaian peri mimpi.


Tatapannya begitu sulit diartikan dan begitu dalam. Meski begitu, wajahnya terlihat datar sama seperti sebelumnya.


Helaan nafas mengakhiri semuanya. Ardiaz pun kemudian berbalik dan berjalan pergi dari ruangan tersebut meninggalkan sang istri di sana.


Dia melangkah menyusuri lorong yang terlihat sepi, dan hanya ada beberapa petugas kebersihan yang bertugas subuh itu.


Beberapa tamu masih terlihat keluar dari klub yang mulai lengang karena sang surya hampir menampakan dirinya.


Dia berjalan menuju ke arah tangga, dan naik ke lantai dua, dimana ruang karyawan dan bos klub itu berada.


Tanpa mengetuk pintu, dia langsung meringsek masuk dan mengagetkan orang yang berada di dalam sana.


AAAAAAA....


Seorang wanita menjerit begitu keras karena melihat Ardiaz yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut begitu saja.

__ADS_1


Terlihat jika wanita itu sedang telanjang dan berbaring di atas sofa, sambil memegangi selembar kain selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Si wanita pun seketika bangun dan duduk seraya menarik selimut hingga benar-benar menutupi dirinya.


Sementara itu, Ardiaz tak menghiraukan sama sekali keberadaan si wanita telanjang tadi, dan terus mengedarkan pandangan, hingga indra pendengarannya menangkap suara dari dalam kamar mandi.


“Cepat pakai pakaianmu dan keluarlah,” seru Ardiaz pada wanita itu.


Dia pun lalu berjalan masuk dan menuju ke arah suara tersebut. Dengan kasar, dia mengetuk pintu kamar mandi dan membuat orang yang berada di dalam berteriak.


“Apa kau gila? Tidak bisa kah kau lembut setelah tadi sudah ku puaskan, hah?” teriak orang yang tak lain adalah Mac duff.


Dia mengira bahwa yang mengetuk adalah si wanita tadi, yang rupanya telah menghabiskan malam panas dengan bos sky night.


Ardiaz tak menyahut, dan kembali menggedor pintu dengan sangat keras, hingga membuat Mac duff kembali menyalak.


Pintu pun akhirnya terbuka dengan mac duff yang terlihat kesal.


“Hei, apa maumu, Breng...,” ucapnya.


BUG!


Sebuah pukulan keras mendarat di wajah tampan Mac duff, hingga membuatnya terpental masuk kembali ke kamar mandi dan terjatuh ke lantai.


“Hei...!” pekik Mac duff.


“Itu karena kau sudah berani mengajak istriku berkencan, dan ini...,”


Ardiaz meringsek masuk dan meraih bathrobe temannya.


BUG!


Sebuah pukulan kembali mendarat di wajah pria yang tampak kacau dengan Bathrobe hampir terbuka.


“...Karena istriku memakai pakai seksi untuk menemuimu,” ucap Ardiaz.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2