They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Pertemuan


__ADS_3

Petang hari, di sebuah apartemen kecil di Kota Willow, sebelah utara Kota Wisteria, seorang gadis terlihat tengah duduk seorang diri dan seperti sedang menunggu seseorang.


Di tengah lamunannya, seseorang terdengar sedang menekan tombol passcode yang ada di pintu apartemen dan membuatnya berdiri seketika.


Kemudian, pintu berhasil dibuka dan muncullah seseorang dari sana, mengenakan topi yang menutupi wajahnya.


Evangeline sempat mundur beberapa langkah karena takut dengan orang yang datang itu. Namun, matanya seketika membola saat orang tersebut mengangkat wajahnya dan lalu membuka topi.


Mata gadis itu berkaca-kaca dan serta merta berlari ke arah orang tersebut. Dia memeluknya dengan erat, dan nampak terisak di pelukannya


“Akhirnya kau datang. Aku benar-benar takut, Aaron. Aku mengira akan terus sendirian dan tak ada yang bisa membantuku lari dari Ardiaz,” ucap Evangeline di tengah isaknya


Aaron dengan lembut seperi biasa, mencoba bersikap sewajarnya kepada Evangeline.


“Tenanglah, Eva. Aku sudah di sini. Kau akan baik-baik saja,” sahut Aaron.


Evangeline terus saja menangis, meluapkan rasa bahagia sekaligus leganya, karena berhasil kabur dari Ardiaz.


Hingga beberapa saat, mereka masih berpelukan seperti itu, sampai Aaron menuntunnya untuk kembali duduk dan menyeka lelehan bening di wajah cantik itu.


Pria tersebut pun mengambilkan air minum untuk Evangeline dan meminta gadis itu untuk minum agar merasa lebih tenang.


“Terimakasih,” ucap Evangeline.


“Minumlah pelan-pelan,” seru Aaron.


Dia terus memperhatikan gadis itu hingga ia selesai minum. Pria itu pun meraih gelas dan meletakkannya di atas meja.


Evangeline terlihat menyeka lelehan di hidungnya dengan ujung lengan jaketnya, layaknya seorang anak kecil.


“Maaf karena aku baru bisa datang menemuimu. Kau pasti mengalami masa yang sangat sulit,” ucap Aaron.


“Kemana saja kau beberapa hari ini? Kenapa kau tak bertindak saat ayahku terluka? Di mana kau saat itu? Kenapa justru sembunyi seperti seorang penjahat? Kenapa malah Ardiaz brengs*k itu yang mengambil alih semuanya. Dia bahkan memaksaku menikah dengannya. Apa kau tau bagaimana takutnya aku sendirian di rumah itu?” cecar Evangeline saat dirinya telah mampu menguasai diri.


Aaron meraih tangan Evangeline dan menggenggamnya erat.


“Eva, setelah kejadian itu, semua akses masuk ku diblokir oleh Ardiaz. Aku tak bisa melakukan apapun, baik padamu maupun perusahaan. Semuanya telah dipegang penuh oleh adikku. Aku hanya bisa sembunyi-sembunyi bertemu denganmu. Maafkan aku,” ucap Aaron meyakinkan.


Evangeline diam, dan hanya sesekali sesenggukan sisa tangisnya tadi yang terdengar.


“Sekarang kau sudah aman bersama ku. Sementara ini, tinggallah di sini sampai aku bisa membujuk adikku, agar dia mau menyerah,” lanjut Aaron


Evangeline menolah dan menatap pria pujaan hatinya itu dengan berkaca-kaca. Melihat raut sedih kembali muncul di wajah cantik Evangeline, Aaron pun merangkul pundaknya dan membawanya ke dalam pelukan sekali lagi.


“Tenanglah. Sudah tidak apa-apa. Aku pastikan setelah ini semuanya akan selesai,” ucap Aaron di balik punggung Evangeline.


Tatapan matanya jelas terlihat dingin, berbeda dari perlakuannya kepada Evangeline yang begitu lembut dan hangat.

__ADS_1


...❄❄❄❄❄...


Malam hari di tempat lain, Ardiaz terlihat sedang duduk di belakang ruang baca Tuan Hemachandra sambil mengetuk-ngetukkan ponselnya ke dagu.


“Tuan, apa belum ada kabar dari Nona?” tanya Delvin, yang saat itu juga ada di dalam sana bersama Ardiaz.


“Anak buahku sedang mencoba mencarinya. Kau tenanglah. Kakakku tidak akan mencelakainya, karena targetnya bukanlah Eva. Hanya saja, aku sedikit khawatir kalau-kalau dia bersama orang yang selama ini ada di belakangnya,” ungkap Ardiaz.


Rasa khawatir nampak jelas terlihat di raut wajah Delvin, mengingat betapa dekatnya dia dengan Evangeline, putri satu-satunya Tuan Hemachandra.


Sementara Ardiaz, meski pria itu juga khawatir, tapi dia lebih terlihat tenang dan menunggu kabar dari anak buahnya.


Tiba-tiba sebuah surat ketukan terdengar. Kemudian, seorang pengawal masuk dan membuatnya segera menegapkan duduknya.


“Bagaimana? Apa sudah ketemu lokasinya?” tanya Ardiaz.


Namun, belum juga si pengawal menjawab, dering ponselnya membuat fokus mereka semua teralihkan.


Ardiaz melihat nama si pemanggil, dan sebuah seringai muncul di bibirnya.


“Rupanya, ada yang sedang tergesa-gesa,” gumamnya.


Ardiaz pun meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau ke kanan, lalu menempelkan benda pipih tersebut ke depan telinga.


“Halo, Kakak. Apa kau sudah akan mengembalikan istriku?” sapa Ardiaz.


“Apa maksudmu, Kak? Mana mungkin aku bisa menukar istriku dengan seseorang yang sudah tidak ada?” tanya Ardiaz.


“Kau tidak usah menipuku. Aku tau kalau Tuan Hemachandra masih hidup. Dia sedang koma di rumah sakit bukan? Aku tau semuanya. Jangan kira aku b*doh seperti Eva,” sahut Aaron.


Ardiaz tergelak mendengar jawaban dari sang kakak.


“Jadi, apa kau juga mengira aku b*doh dan mau menuruti kemauanmu begitu saja?” tanya Ardiaz.


“Bukankah kau tidak punya pilihan lain, Adikku?” sahut Aaron.


Seketika, raut wajah Ardiaz berubah muram dengan tatapan mata yang tajam ke depan.


“Katakan di mana tempatnya,” seru Ardiaz.


“Aku akan kirimkan lokasinya, tapi kau harus membawa Tuan Hemachandra seorang diri, tanpa seorang pengawal pun,” ucap Aaron.


“Kau keterlaluan, Kak. Aku tak menyangka memiliki kakak bajingan sepertimu,” maki Ardiaz.


“Kau akan sangat berterimakasih padaku saat tahu semua kebenarannya, Diaz,” sahut Aaron.


Panggilan pun terputus. Ardiaz nampak mengepalkan tangannya, hingga ponselnya seakan hendak ia remukkan.

__ADS_1


“Apa lokasinya sudah ditemukan?” tanya Ardiaz.


“Sudah, Tuan. Kami berhasil menemukan lokasi Nona dengan mudah, berkat pin yang dipasang Tuan Delvin pada tasnya,” tutur sang pengawal.


Rupanya sebelum Evangeline pergi, Delvin berpura-pura menutup resleting tas gadis itu, padahal dia hendak memasang alat pelacak di sana. Berkat itu, Ardiaz dengan mudah bisa menemukan lokasi Evangeline dengan tepat.


Namun sepertinya, pria ini memiliki rencana lain terhadap sang kakak. Alih-alih segera menolong Evangeline, dia justru menunggu Aaron bergerak terlebih dulu.


“Bersiaplah. Kita akan bergerak malam ini juga,” seru Ardiaz.


“Baik, Tuan,” sahut si pengawal.


Dia pun segera keluar.


“Tuan Delvin, aku pasti akan membawa Eva pulang,” ucap Ardiaz.


“Tapi, apa Anda benar-benar akan menukarnya dengan Tuan besar? Apa tidak ada cara lainnya?” tanya Delvin cemas.


“Kau tenanglah, dan serahkan semuanya padaku. Aku punya cara ku sendiri untuk menyelesaikan setiap tugasku,” sahut Ardiaz.


Pria itu pun lalu berdiri dan berjalan pergi dari ruangan tersebut. Delvin hanya diam di tempat, sambil memandangi punggung Ardiaz yang telah menghilang di balik pintu.


Rupanya, pria itu pergi ke kamarnya. Dia membuka laci nakas dan mengambil ponsel usangnya yang berlayar kekuningan.


Dia melakukan panggilan lagi ke nomor yang sama dengan sebelumnya, dan masih tetap dengan kata sandi yang sama, sebelum akhirnya mereka saling mengkonfirmasi identitas.


“Apa yang kuminta sudah kau siapkan, Charlie?” tanya Ardiaz.


“Semuanya sudah siap. Tinggal kau ambil sendiri kemari dan jangan lupa membayarnya,” sahut suara di seberang yang dipanggil dengan Charlie.


“Bagus. Pastikan  semuanya sesuai yang ku inginkan, atau kau tidak akan mendapatkan apapun,” tutur Ardiaz.


“Datang dan lihat sendiri,” sahut Charlie.


Ardiaz pun menutup panggilan dan berjalan menuju ke arah lemarinya. Kedua lengannya membentang di depan pintu, dan melihat pakaian serba hitam yang tergantung di sana, yang biasa ia pakai saat melakukan aksi berbahaya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2