They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Hati yang porak


__ADS_3

Di dalam mobil yang berhenti di tepi jalan sepi, menghadap ke arah laut lepas di pesisir timur kota Orchid, seorang gadis nampak tertunduk dengan bahu yang berguncang begitu hebat.


Isak tangis terdengar darinya, yang teredam oleh deburan ombak yang menghantam batu karang.


Beberapa saat yang lalu, dia mendapati sebuah fakta bahwa orang yang dianggapnya telah meninggal, rupanya masih bernafas dan tampak baik-baik saja.


Antara rasa bersyukur dan juga marah, kini dia hanya bisa menangisi semua yang telah terjadi padanya.


“KENAPA???? KENAPA KAU BOHONG PADA KAMI SEMUA? KENAPA?” pekiknya keras.


Dia menjerit sekuat tenaga, meluapkan semua kemelut dalam hatinya. Wajah cantiknya terlihat basah dipenuhi air mata yang mengucur deras dari pelupuk matanya.


Memorinya akan apa yang dia lihat sebelumnya masih terekam jelas di sana. Foto yang diperlihatkan oleh Damian padanya, benar-benar telah mengobrak abrik hatinya yang sudah susah payah ia keraskan, demi menerima kenyataan bahwa sang suami benar-benar telah meninggal dunia.


Namun siapa sangka, ternyata Ardiaz masih hidup sampai sekarang, dan bersembunyi di suatu tempat, jauh dari semua orang yang ia kenal.


Dia hampir ambruk di depan hacker muda itu, saat foto Ardiaz dan kedua temannya ditunjukkan kepada Evangeline. Akan tetapi, dengan sekuat hati putri Hemacandra itu terus bersikap biasa, dan tak membiarkan dirinya masuk ke dalam perangkap yang telah disiapkan oleh Damian untuknya.


Puas menangis berjam-jam, Evangeline kini terlihat sedikit lebih tenang. Dia memejamkan mata sembari bersandar di kursi kemudi. Nafasnya mulai terlihat normal meski sisa isaknya sesekali masih terdengar.


Dalam keheningan, dia tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Dia ingat sesuatu yang membuatnya kembali bersemangat dan segera menyalakan mesin mobilnya, dan melaju meninggalkan tempat tersebut.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, nampak seorang pemuda tengah berbaring di atas sebuah sofa coklat tua yang ada di sebuah garasi, dengan begitu banyak tongkat pemukul baseball di sebuah tong besar yang berada di salah satu sudut.


Sepasang rantai besar nampak menjulur dari atas hingga hampir menyentuh lantai. Di sisi lain, terdapat sebuah motor besar yang terlihat begitu terawat dan selalu berada di dalam tempat itu.


Pemuda tersebut terlihat memakai headphone-nya dan menikmati musik yang mengalun keras dari pemutar musik.


Senyum tersungging dari sudut bibirnya saat mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

__ADS_1


Pemuda tersebut adalah Damian yang sedang berada di basecamp Ardiaz. Dia merasa mendapatkan mainan baru saat berhasil membuat Evangeline terdiam, saat dia menunjukkan foto ketiga pria yang kini menjadi orang-orang  penting di dalam tubuh Lucifer.


Ingatannya berputar kembali, saat sebelumnya dia mengabarkan kepada Ardiaz bahwa ada seorang gadis yang tengah menyelidiki tentang ledakan gudang itu.


Sejak awal, hacker cerdas itu memang merasa bahwa Evangeline memiliki hubungan dengan tiga orang baru tersebut. Namun semua dugaannya semakin kuat, saat Ardiaz memintanya merahasiakan tentang pergerakan Evangeline di kota tersebut.


Dia pun secara diam-diam mengambil foto ketiga pria tersebut dalam sau tangkapan layar, saat dimana Jordan pun bahkan membuka tudung jaketnya hingga wajahnya terlihat jelas.


Jika berhadapan dengan Ardiaz secara langsung, dia tahu betul bahwa dia tidak akan pernah menang.


Ardiaz terkenal begitu keras dan kuat. Pria itu bagai beton yang kuat, yang bahkan peluru pun tak bisa menembusnya. Tak ada yang mampu menerka isi hati Sang King palsu.


Karena itu lah, Damian mencoba mencari tahu dari Evangeline tentang kelemahan ketiga rekan itu, karena pasti gadis tersebut tak sekuat Ardiaz dalam hal berpura-pura. Pasti ada celah di sana dan tepat seperti dugaannya.


Meski Evangeline tetap memasang wajah datar, namun sorot matanya tak bisa berbohong. Terlebih sejak mengetahui ketiga pria itu masih hidup, Damian memperhatikan tangan Evangeline yang mengepal kuat, dan semakin kuat saat dia memperlihatkan foto ketiganya tepat di depan hidung gadis itu.


Sekarang, yang perlu kulakukan adalah, mencari tahu siapa di antara kalian bertiga yang sedang dicari gadis cantik itu. Dengan begitu, aku akan memiliki sesuatu yang bisa ku tukar dengan sistem iblis dari Jordan. Lalu, aku akan bebas, batin Damian dengan seringainya yang begitu licik.


...❄❄❄❄❄...


Beberapa hari sebelumnya, Evangeline menyelinap pergi ke sky night club yang di pegang oleh Mac duff. Di sana, dia sempat berbincang dengan seorang bartender, hingga dari sanalah gadis itu mendapatkan kartu akses masuk yang mirip dengan yang dimiliki Joy.


Dia bahkan telah membuat janji untuk bertemu dengan bos mereka yang terkenal play boy dan juga materialistis, demi mencari tahu siapa yang menolongnya malam itu.


Dia melihat dengan jelas wajah Mac duff ada di dalam potret yang diperlihatkan Damian padanya tempo hari. Di sana, bos klub malam tersebut terlihat bersama dengan Ardiaz dan satu pria lain yang Evangeline tak mengenalnya.


Gadis itu sebelumnya belum pernah melihat sosok Jordan dan Mac duff, sehingga dia tak tahu siapa Mac duff saat pertama kali bertemu, dan mengaku bahwa dialah yang telah menolongnya malam itu.


Tapi kali ini, dia yakin bahwa saat itu Ardiaz pasti ada di sana, karena jelas terlihat dari foto Damian bahwa kedua orang itu saling mengenal.


Evangeline ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, dan kenapa dia sampai berpura-pura mati, bahkan meminta Malcolm memberitahukan berita bohong itu pada semua orang.

__ADS_1


Serta, apa sebenarnya yang saat ini dia lakukan di kota tersebut hingga dia harus bersembunyi dari keluarganya.


Kini, Evangeline tengah berada di depan cermin meja riasnya. Gadis itu tengah bersiap pergi ke klub malam untuk kesekian kalinya. Jika tujuan sebelumnya dia ingin tau dimana makam Ardiaz, kali ini jelas berbeda karena dia ingin mencari tahu dimana sang suami berada.


Berbalut sebuah mini dress hitam, dengan aksen garis menyilang di bagian atasnya yang sedikit turun, serta tali bahu tipis, membuat bagian dadanya sedikit menyembul dan terlihat penuh, menjadi penampilannya malam ini.



Dia ingat bahwa Mac duff suka dengan gaya wanita dewasa yang memiliki banyak uang, sehingga dia mencoba penampilan seperti itu agar terlihat meyakinkan.


Dia tak berniat melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan pria hidung belang itu, tapi dia ingin memainkan trik agar apa yang dia inginkan bisa dia dapat.


Dia mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Sebuah tabung plastik bening dengan beberapa buah pil berwarna putih.


Itu adalah obat yang sama, yang membuat Joy tertidur hingga siang hari saat dia mencuri kartu akses masuk klub milik temannya tersebut.


Evangeline memasukkan benda tadi ke dalam tasnya dan juga ponsel, lalu menutupnya. Kini, gadis itu siap untuk pergi.


Dia menatap tampilan dirinya untuk terakhir kali sebelum pergi. Gadis tersebut merangkum rambut dan meletakkannya di salah satu bahu, membuat pundak mulus lainnya terekspos.


Sepatu hak tinggi terdengar bergemeletuk beradu dengan marmer apartemen, menandakan bahwa dia mulai berjalan meninggalkan tempat tinggalnya menuju ke klub malam.


Pria brengs*k, tunggu aku. Aku pasti akan menemukanmu, batin Evangeline.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2