They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Dijemput paksa


__ADS_3

Tak lama, pintu terbuka dan muncullah Morita dari arah dalam. Tanpa menunggu lagi, Evangeline segera menerobos masuk dan memeluk ibu asuhnya, yang nampak terkejut dengan kehadiran gadis itu.


Tak ada kata yang terucap dari mulut Evangeline. Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya saat ini, yang begitu kacau akibat ulah seorang Ardiaz Danurendra.


“Tenanglah, Ev. Tenang. Semua akan baik-baik saja. Tenanglah,” seru Morita.


Saat gadis itu masih menangis di pelukan sang ibu asuh, tiba-tiba terdengar sebuah jeritan yang begitu keras dari arah dalam, dan membuat Evangeline terkejut hingga dia menghentikan tangisnya sejenak dan menoleh ke arah dalam.


Melihat hal itu, Morita seketika memanggil salah seorang pekerja di rumahnya untuk melakukan sesuatu.


“Lucresia, siapkan kamar untuk Nona Evangeline. Dia akan beristrikan di sini,” teriaknya dengan sangat kencang.


Segera setelah itu, kurang dari setengah menit, pekerja bernama Lucresia datang menghampiri si nyonya rumah, yang berarti dia berada tak jauh dari sana.


Namun anehnya, Morita berteriak seolah berbicara dengan seseorang yang berada begitu jauh dari tempatnya saat ini.


Namun, keanehan itu tak disadari oleh Evangeline, karena gadis tersebut masih larut dalam kesedihannya.


Setelah si pelayan muncul, Morita pun memerintahkan Lucrecia untuk menyiapkan sebuah kamar tamu untuk Evangeline. Dia melihat gadis ini benar-benar berantakan dan membuatnya berekspresi iba.


“Duduklah, Ev. Kau pasti lelah. Tunggu Lucresia membereskan kamar dan kau bisa istirahat nanti,” ajak Morita.


Evangeline pun menurut meski dia masih terus sesenggukan dan meneteskan air mata. Morita meraih tisu dari atas meja, dan memberikannya kepada gadis malang itu.


“Apa kau tidak memakai sepatu? Dan bajumu, ini baju semalam kan? Ada apa sebenarnya, Ev? Kenapa kau bisa seperti ini? Apa terjadi sesuatu saat kau lari dari pesta?” cecar Morita.


“A... Ayah...,” Evangeline tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


Dia pun kembali menangis sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.


Morita pun duduk mendekat, dan menepuk bahu anak asuhnya yang tampak kembali berguncang hebat.


“Tenanglah, Ev. Masih ada aku. Kau bisa cerita semuanya padaku. Bukankah kita sudah sepakat menjadi teman seumur hidup?” tanya Morita.


Evangeline kembali memeluk wanita, yang hanya berbeda lima belas tahun darinya, atau lebih tua lima tahun dari Aaron.


“Nyonya, aku takut. Dia... Dia sudah... Ayah...,” ucap Evangeline tak jelas.


Kata-katanya terus terputus dan tak bisa selesai dengan benar.

__ADS_1


“Tenanglah. Apa sebenarnya yang terjadi, Ev,” tanya Morita.


“Orang itu... Orang itu... Membunuh Ayah,” ungkap Evangeline.


Tangisnya pun semakin pecah setelah mengatakan hal itu. Morita begitu terkejut mendengar penuturan dari sang anak asuhnya.


Wanita itu pun membeku dengan tatapan yang lurus ke depan, serta kening yang berkerut.


Namun tiba-tiba, dia mengurai pelukannya dan meraih bahu gadis malang itu. Dia menatap lekat mata Evangeline yang penuh dengan linangan air mata.


“Katakan apa yang kau lihat? Katakan!” seru Morita.


Namun, Evangeline tak bisa langsung menjawab. Suaranya masih tertahan karena isaknya.


“A...,” baru saja dia hendak membuka mulut, sekelompok orang menerobos masuk dan membuat dua perempuan itu terkejut.


“Bawa Nona Eva pergi dari sini!” perintah salah satu pria berjas hitam, yang menerobos masuk rumah Morita.


“Siapa kalian?” tanya Morita.


Dia berdiri di depan Evangeline, karena gadis itu langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang ibu asuhnya.


“Kami diperintahkan untuk membawa Nona pulang sekarang juga. Mari ikut kami, Nona,” sahut si pria berjas.


Wanita itu nampak melirik ke samping, dengan alis yang bertaut samar seolah menyimak perkataan Evangeline tadi.


“Jika Nona menolak, kami terpaksa menggunakan cara pemaksaan. Bawa dia!” ucap si pria berjas.


Beberapa anak buahnya masuk dan menarik Evangeline dari persembunyian, meski gadis itu berontak.


“Aku tidak mau. Nyonya, tolong aku. Aku tidak mau pulang ke rumah itu. Aku takut, Nyonya. Ada orang jahat di sana,” ratap Evangeline.


“Kalian tidak bisa seperti ini dengan dia. Lepaskan Eva atau ku panggil polisi kemari,” ancam Morita sambil pasang badan di depan gadis itu.


“Tuan berpesan, jika Nyonya Morita menghalangi kami membawa Nona Eva, jangan salah kami jika kami masuk dan mengacak-acak seisi rumah ini, termasuk gudang belakang rumah Anda. Beliau yakin kalau Anda pasti tidak akan suka jika kami menggeledah rumah mu, bukan,” balas si pria berjas.


Seketika, Morita diam dan seolah ketakutan. Dia pun menyingkir, kemudian melepaskan genggaman tangannya pada lengan Evangeline, dan membiarkan gadis itu dibawa paksa oleh sekelompok pria berjas tersebut.


“Tuan? Tuan siapa yang kalian maksud? Apa pembunuh itu, hah? Apa sekarang Ardiaz berlagak menjadi Tuan besar setelah apa yang dia lakukan pada Ayah?” hina Evangeline.

__ADS_1


Morita nampak membolakan matanya saat Evangeline menyebut nama Ardiaz dengan nada yang penuh kebencian. Namun, dia hanya bisa membeku seolah ada yang harus ia lindungi, dan itu lebih penting dari nasib anak asuhnya.


“Silakan Nona tanyakan sendiri kepada Tuan. Mari ikut kami sekarang,” sahut si pengawal.


Para pria berjas itu pun kembali mencoba menarik Evangeline keluar dari rumah, akan tetapi gadis itu terus mencoba meminta pertolongan dari Morita yang sudah tak bisa menolongnya.


“Nyonya, tolong aku. Aku tidak mau pulang, Nyonya. Aku tidak mau ikut bersama mereka. Nyonya. Nyonya...,” pekik Evangeline saat para pria itu menyeretnya keluar dari sana.


Mereka membawa keluar Evangeline layaknya seorang buronan yang tertangkap, dan digiring keluar dari tempat persembunyiannya.


Dia langsung dimasukkan ke dalam mobil  dan diapit oleh dua orang pria besar di sisi kiri dan kanannya.


“Apa ini benar-benar perintah Ardiaz? Mau apa pembunuh itu membawaku pulang? Apa dia ingin membunuhku juga?” cecar Evangeline marah.


Tatapannya benar-benar nyalang saat melihat ke arah pria yang tadi menjadi juru bicara di dalam rumah Morita.


Namun, yang diajak bicara hanya mengabaikannya dan meminta sang pengemudi melajukan mobilnya.


Tidak hanya ada satu mobil, akan tetapi ada sekitar lima mobil yang mengiringi, hanya untuk menjemputnya pulang.


Sangat berlebihan, mengingat yang mereka inginkan hanya membawa pulang Evangeline dari rumah sang ibu asuh, namun orang yang dikirim seperti hendak menyerang markas musuh dengan jumlah anggota yang begitu banyak.


Evangeline tak mau diam. Dia terus berteriak memaki semua orang, namun tak satu pun yang peduli dengan teriakannya.


“Jika kalian memang ingin membunuhku, aku akan kabulkan itu, dan kita semua bisa mati bersama-sama di sini sekarang juga,” ucap Evangeline.


Gadis itu bangun dan meraih leher si pengemudi. Dia mencekik pria itu dan membuat mobil hilang keseimbangan di tengah jalan yang cukup padat.


Orang yang duduk di samping pengemudi mencoba mengambil alih kendali, sementara dua di belakang, menghentikan aksi gila Evangeline. Mereka berusaha menarik kembali gadis itu dan duduk tenang di kursi belakang, namun cengkeramannya di leher sang supir benar-benar kuat.


Salah satu pengawal pun terpaksa mengambil tindakan, dengan memukul tengkuk Evangeline dan membuat gadis itu pingsan seketika.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2