They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Pergi


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, tanpa terasa hari kepergian Ardiaz pun telah tiba.


Pria itu sering datang ke rumah sakit hanya untuk melihat sang kakak yang telah sediki demi sedikit mulai pulih.


Sejak pembicaraan dengan Aaron tempo hari, sikap sang kakak pada Ardiaz sedikit berbeda.


Evangeline pun telah memutuskan untuk menjadikan Aaron dan Morita sebagai tahanan rumah. Dia berpikir untuk tetap mengawasi mereka, sesuai dengan apa yang dipesankan Ardiaz padanya.


Mereka tetap tinggal di Pedesaan Ginko, akan tetapi rumah mereka akan dijaga dengan ketat oleh orang-orang Hemachandra.


Sejak mengetahui kebohongan Aaron, Evangeline masih belum mau menemui pria tersebut. Bahkan dia pun menyampaikan hukuman itu kepada Aaron dan Morita melalui sang kepala pelayan, Delvin.


Sementara itu, kondisi Hemachandra masih sama seperti sebelumnya. Belum ada tanda-tanda akan bangun kembali.


Hari ini, Aaron telah diperbolehkan pulang. Ardiaz pun datang dengan mengendarai mobilnya, untuk melihat kondisi sang kakak sebelum dia pergi.


Pria itu nampak telah siap, terlihat dari apa yang dia kenalan. Sebuah setelan hitam terdiri dari jaket kulit hitam dan celana jeans senada, serta inner dengan warna sama menjadi out fit nya saat ini.


Dia tampak berdiri di sekitar taman rumah sakit, saat kakaknya digiring keluar oleh anak buahnya sendiri.


Ardiaz tak mau menemuinya secara langsung untuk, akan tetapi memilih melihatnya dari kejauhan. Dia tak ingin banyak omong kosong lagi dan pergi secara diam-diam. Toh menurutnya dia sudah memberitahu kepada sang kakak sebelumnya, bahwa dia akan pergi sementara waktu.


Setelah melihat kakaknya pergi bersama Morita kembali ke Pedesaan Ginko, dia pun meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke tempat lain.


Sebuah gedung bertingkat tinggi menjulang di tengah Kota Wisteria, dengan logo perusahaan berupa huruf "H" yang super besar di bagain atasnya, menjadi tujuan berikutnya.


Perusahaan Hera grup, di mana sang istri berada saat ini adalah tempat terakhir yang ingin ia kunjungi sebelum pergi ke Kota Orchid. Dia hanya ingin melihat semuanya baik-baik saja saat dia pergi.


Ketika baru saja masuk ke dalam perusahaan, dia tiba-tiba berbalik dan bersembunyi di belakang sebuah partisi yang terbuat dari anyaman bambu di sekitar lobi bawah kantor, saat melihat Evangeline dan beberapa karyawan termasuk Sonia, tampak berjalan bersama.


Gadis itu nampak dewasa dengan setelan coklat, yang terdiri dari atasan kemeja coklat muda yang dipadukan rok dengan pinggang tinggi, serta sebuah mantel kotak-kotak dengan warna selaras.


Sepertinya mereka baru saja selesai meninjau sesuatu, dan hendak kembali ke atas untuk membahas lebih lanjut.


Saat gadis itu dan yang lain telah masuk ke dalam lift untuk menuju ke atas, Ardiaz pun muncul dari persembunyiannya.


Dia menatap lift yang telah tertutup tersebut dan nampak menghela nafas berat, sebelum akhirnya berbalik dan pergi.


Pria tersebut keluar dari gedung, menuju ke tempat parkir yang ada di area basement. Dia menekan sebuah tombol pada kunci mobilnya, dan terdengar bunyi bip dari sebuah mobil mercedes-benz, dengan lampu yang berkedip memberikan sinyal feedback dari kunci tersebut.

__ADS_1



Dia pun segera berjalan ke arah kendaraan di depan dan masuk tanpa menoleh ke belakang lagi. Kini, dia telah siap untuk pergi. Bahkan semua barang-barang yang diperlukan telah ia masukan ke dalam mobil sebelum pergi ke rumah sakit tadi.


Ardiaz lalu melajukan mobilnya dan pergi dari sana, menuju ibu kota yang juga pusat kriminalitas di negeri ini.


...❄❄❄❄❄...


Sementara itu beberapa saat yang lalu, Evangeline nampak baru saja kembali dari gudang setelah agendanya mengecek persediaan yang ada.


Krisis perusahaan menuntutnya untuk berpikir cerdas, tentang bagaimana mendapatkan bahan baku bagi setiap pabriknya dengan kualitas baik dan harga yang cukup terjangkau.


“Di bagian pengadaan, kita memiliki beberapa daftar suplier, lengkap dengan tawaran harga yang mereka ajukan. Saya akan mintakan untuk Anda setelah ini,” ucap Sonia yang mengimbangi jalan Evangeline.


“Baiklah. Lalu bagaimana dengan proyek yang terhenti karena persoalan pembebasan lahan di sisi selatan Kota Willow?” tanya Evangeline.


“Untuk itu, kita perlu melihat lagi berapa dana yang bisa kita pakai sebagai dana darurat, mengingat proyek ini mau tak mau harus segera selesai. Kita perlu mengambil langkah terlebih dulu untuk melanjutkannya sambil terus mencoba negosiasi dengan warga. Kuasa hukum kita pun akan bersama-sama berjuang,” ungkap karyawan lainnya.


“Baiklah. Kalian siapkan semua yang diperlukan. Kita adakan rapat darurat satu jam lagi,” seru Evangeline.


“Baik, Nona,” ucap semua karyawan yang sejak tadi mengikutinya.


Hanya perlu sedikit pengakuan dari semua orang bahwa dia mampu mengisi kekosongan di kursi pimpinan ini. Hal itu lah yang perlu dia usahakan sendiri, dengan menciptakan terobosan-terobosan, dan juga pencapaian terkait problem solving pada saat krisis seperti ini.


Setelah masuk ke dalam lift, seseorang menekankan tombol dengan nomor lantai dua puluh lima. Saat pintu hendak tertutup, Evangeline seolah menangkap sesuatu yang membuat dia terkejut dan mengulurkan tangan ke depan.


Namun, pintu sudah terlanjur menutup. Dia pun dengan cepat melihat ke atas dan menyadari bahwa lift telah sampai di lantai tiga. Dengan cepat dia menekan tombol lantai lima agar lift segera berhenti dan pintu terbuka kembali.


Lift pun segera terbuka di lantai tersebut, membuat semua orang saling pandang karena tak mengerti apa yang dilakukan oleh anak dari CEO mereka.


“Nona, ada apa?” tanya Sonia.


“Aku ada urusan mendadak. Kita ketemu di ruang rapat satu jam lagi saja,” sahut Evangeline cepat.


Dia pun segera keluar dari sana dan berdiri di depan lift sebelahnya. Namun, lift itu terlalu lama. Hingga dia pun memutuskan untuk berlari ke arah tangga darurat, kemudian menuruninya hingga ke lantai dasar.


Kenapa kau bersembunyi? Apa hari ini kau akan pergi tanpa berpamitan padaku? Jangan kira aku akan diam saja, ucap Evangeline dalam hati.


Gadis itu terus berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Dia tak menghiraukan sepatu hak tinggi yang membuat kakinya lecet.

__ADS_1


Fokusnya hanya untuk memastikan, bahwa orang itu adalah suaminya yang akan pergi jauh entah kemana.


Namun, setibanya di lobi dia sudah tak bisa menemukan keberadaan Ardiaz. Evangeline pun berlari ke luar. Dia berdiri di depan pintu masuk dan menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan keberadaan suaminya.


Di tengah kebingungannya, dia berpikir untuk mencari di area parkiran basemen. Dia pun berbalik dan berjalan masuk. Akan tetapi, saat dia belum mencapai pintu, ekor matanya menangkap sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali.


Dia pun menoleh dan memastikan perkiraannya itu.


ARDIAZ! pepiknya dalam hati dengan mata membola.


Dia pun berlari mencoba mengejar mobil yang telah melaju keluar dari area parkir.


“ARDIAZ! ARDIAZ, BERHENTI! ARDIAZ!” panggilnya dengan suara yang begitu keras.


Namun, pria tersebut seolah tak mendengar dan terus melajukan mobilnya semakin menjauh, meninggalkan sang istri yang berlarian di jalanan.


Melihat suaminya tak juga berhenti, Evangeline pun terpaksa menyerah karena jaraknya sudah tak mungkin untuk terkejar.


Dia berhenti di trotoar yang berjarak beberapa meter dari kantornya. Gadis itu kelelahan dan terlihat memegangi lututnya yang gemetar. Nafasnya terengah-engah karena berlarian sepanjang jalan.


Hak sepatunya bahkan tampak patah sebelah, dan pergelangan kaki hingga tumit yang memerah serta lecet. Namun semua seolah sia-sia, karena yang dikejar tak bisa ia susul.


Melihat kobil itu telah menghilang di keramaian jalan, ada perasaan aneh yang menyerangnya.


Dadanya sakit dan tiba-tiba terasa ada ruang hampa di dalam sana. Matanya berkaca-kaca, bahkan lelehan bening lolos begitu saja dari matanya.


Kau benar-benar pergi. Kau benar-benar meninggalkan ku sendiri, batin Evangeline.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2