
Keesokan malam, di sebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi di pusat Kota Orchid. Perusahaan pemasok bahan baku yang cukup terkenal di kalangan para investor, dan telah bekerjasama dengan hampir setiap industri di negara ini, Merciful.
Ketika sebagian penduduk kota telah lelap dalam tidur mereka, terlihat empat buah mobil mewah memasuki area gedung tersebut.
Setelah berada di tempat parkir, keempatnya berhenti tepat berjajar satu sama lain. Di sana, sudah menunggu banyak pengawal yang berbaris rapi. Bahkan ada yang khusus bertugas untuk membuka pintu mobil-mobil tersebut.
Dari dalam, keluarlah empat orang yang terlihat begitu di hormati oleh semua yang ada di sana. Satu di antaranya adalah seorang wanita cantik, dengan pakaian yang begitu seksi, dan dibalut dengan sebuah mantel berbulu yang sangat indah.
Gaunnya merah menyala dan panjang, dengan belahan yang tinggi hingga pahanya jelas terlihat.
Tiga yang lainnya adalah pria dengan kepribadian dan penampilan berbeda. Yang satu seorang pria berusia sekitar empat atau lima puluhan tahun, memiliki tubuh besar bak petarung bebas dengan mengenakan sebuah kemeja dan jas gelap.
Satunya lagi seorang pria muda sekitar dua puluhan akhir, mengenakan jaket kulit hitam dengan rambut pendek yang berwarna pirang.
Sedang yang terakhir, tampak lebih muda dari kedua pria tadi, mengenakan sebuah kaus hitam dan dibalut dengan sebuah jaket berwarna sama. Dia bahkan menutup kepalanya dengan tudung dan memakan sebuah sebuah lolipop.
Keempatnya berjalan bersama menuju ke arah lift, disambut oleh semua pengawal yang ada di sana, yang membungkuk memberi hormat kepada keempatnya.
Di dalam lift, nampak si wanita cantik berdiri di belakang, bersama pria berbadan besar. Sementara kedua pria yang lebih muda lainnya berdiri di depan.
Wanita itu nampak memperhatikan keduanya dari belakang, dengan senyum yang penuh maksud.
“Kau tidak pernah berubah, Alexa,” ucap si pria besar.
Wanita itu justru semakin tersenyum dengan bibir sensualnya. Dia menoleh dan menatap ke arah pria di sampingnya.
“Orang bijak mengatakan, pemandangan bagus jangan pernah dilewatkan. Lihatlah mereka berdua. Apa kau tak bisa lihat otot tubuh mereka? Yang satu misterius dan selalu bersikap dingin, dan yang satu begitu nakal dan liar. Bukankah perpaduan yang sangat cocok untuk petualang seperti ku,” ucap wanita seksi bernama Alexa itu.
“Alexa benar-benar tahu caranya bersenang-senang. Joker, kau juga tahu itu kan? Dia pasti sekarang sedang penasaran bagaimana cara menikmati Alpha. Hahahaha...,” sahut pria di depan yang mengenakan jaket kulit.
“Kau memang yang paling tahu, Martin,” sahut Alexa.
Sementara pria muda satunya lagi yang ternyata adalah Alpha alias Ardiaz, hanya melihat sekilas lewat pantulan dinding lift dan tak berkomentar sedikit pun.
Jelas terlihat bahwa Alexa sejak tadi terus menatapnya, bahkan dengan ekspresi yang terus menggoda.
Pria besar yang rupanya juga adalah Joker itu pun tak begitu suka dengan pembahasan ini, meski dia sendiri yang mengawalinya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, lift pun terbuka di lantai lima puluh satu, dimana itu adalah lantai tertinggi di gedung tersebut, serta ruangan dari pemimpin Merciful.
Lagi-lagi, keempat orang itu disambut oleh begitu banyaknya pengawal yang ada. Mereka semua membungkuk memberi hormat pada mereka berempat.
Setelah sampai di depan sebuah pintu, mereka berhenti.
“Katakan pada Emperor, keempat King telah datang,” ucap Alexa pada pengawal.
Seorang pengawal masuk dan memberitahukan kedatangan empat orang tadi kepada ketua mereka.
Tak lama, terdengar sahutan dari dalam yang meminta mereka untuk masuk. Pintu pun terbuka dan keempatnya masuk.
Di dalam telah ada seorang pria yang tadi mereka sebut sebagai Emperor, tengah duduk sambil menyesap red wine-nya.
Tepat di sampingnya, ada seorang pria dengan perawakan tinggi berbadan kekar, memakai kaus lengan pendek dengan rambut yang tersisir rapi.
Keempat orang itu pun berdiri di depan sang Emperor dan membungkuk memberi hormat.
“Salam, Emperor,” sapa mereka semua.
“Duduklah,” seru sang Emperor.
Sementara Joker duduk di sofa single. Lalu Ardiaz dan juga Martin duduk di sofa yang sama.
“Vermont, berikan pada mereka tugasnya,” seru sang Emperor kepada pria di sampingnya yang bernama Vermont.
Vermont adalah asisten pribadi Devonshire Anggara, sang CEO Merciful, sekaligus Emperor dari organisasi bawah tanah Lucifer.
Sementara keempat King di bawahnya adalah empat orang yang bertanggung jawab atas masing-masing bisnis yang dijalankan oleh organisasi bawah tanah tersebut.
Alexa adalah seorang drug dealer, sekaligus bos tempat hiburan malam yang dimiliki oleh Lucifer, Martin adalah seorang interogator. Tugasnya mencari informasi dari sanderanya dengan cara apapun. Dia terkenal kejam dan juga sadis. Cara terkejam pun akan ditempuhnya, demi mengorek sebuah informasi.
Joker adalah seorang petarung. Dia membawahi para sniper, fighter dan juga assasin. Sementara Ardiaz, dia adalah pemasok senjata sekaligus penanggung jawab setiap transaksi yang dilakukan oleh organisasi mereka. Dia juga yang mengurus sang hacker, Ian, karena dia bisa mencari informasi tentang klien dan memperlancar setiap negosiasi yang terjadi.
Seorang pengawal menuangkan anggur merah ke dalam gelas masing-masing orang.
Tanpa menunggu perintah, Martin langsung mengambilnya dan meminum hingga habis.
“Ah... Anggur ini benar-benar lezat. Selezat darah segar yang sering ku peras dari orang-orang kerdil itu,” ucapnya.
__ADS_1
Joker hanya melirik sekilas, sementara Ardiaz memilih tak peduli dan terus duduk diam. Alexa terlihat begitu manja dengan terus bergelayut di lengan Devon, sambil meneguk anggur miliknya.
“Bagaimana pertemuan mu dengan klien kemarin?” tanya Devon pada wanita itu.
“Ehm... Yah, tentu saja. Kita tak sia-sia menyingkirkan Marco dan menggantinya dengan Alpha. Setidaknya, sekarang pekerjaan Joker sedikit lebih ringan,” ucap Alexa.
Joker yang mendengar hal itu, tiba-tiba melempar map yang diberikan Vermont padanya ke atas meja, tepat di hadapan wanita tersebut.
“Apa kau kira pekerjaanku se mudah itu? Lihat berapa banyak orang yang harus ku bereskan sekarang,” sahutnya.
Alexa hanya menyunggingkan senyum tanda mengejek.
“Yah, setidaknya kau tak perlu repot mengancam orang, agar mau sepakat dengan negosiasi kita, karena Alpha selalu bisa membuat mereka mencapai kata sepakat. Dengan trik licik tentunya,” sanggah Alexa.
Martin terkekeh. Dia mengangkat gelasnya minta dituangkan lagi anggur ke dalamnya. Pengawal tadi pun kembali menuangkan minuman ke dalam gelas hingga mencapai setengahnya.
Pria itu terlihat menggoyang-goyang gelas, dan memandangi cairan merah kehitaman yang begitu pekat di tangannya.
Dia lalu melirik ke arah Ardiaz, yang masih saja diam tak bergerak dan berucap sedikit pun.
“Tentu saja dia harus bisa mengatasi masalahnya sendiri. Bukankah ini semua karena kedua teman bodohnya itu?” sindir Martin.
“Ah... Benar. Dua teman bodoh, dan kekasih kecilnya yang cantik itu,” timpal Alexa.
“Apapun alasannya, aku sekali lagi berterima kasih kepada Joker, karena berhasil membuat adik kecilku ini kembali pulang,” ucap Devon.
Semua orang tertawa, terkecuali Ardiaz dan juga Joker yang memilih menikmati Minumannya. Sementara Ardiaz, di wajah dia nampak datar, namun hatinya begitu marah dengan perkataan sang Emperor Lucifer itu.
Seketika, ingatannya kembali ke masa enam bulan lalu, sebelum mereka menyerbu ke gudang senjata Lucifer di bagian barat Kota Orchid.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih