
Setengah tahun telah berlalu. Musim panas telah tiba setelah dua musim yang begitu terasa sepi.
Seorang gadis cantik terlihat tengah berada di dalam pesawat. Dia bermaksud melakukan sebuah perjalan yang telah ia rencanakan sejak beberapa bulan lalu.
Di tangannya terlihat sebuah kotak kayu persegi panjang, dengan kain beludru biru tua yang melapisinya. Tatapan matanya terus melihat ke luar melalui jendela.
Deretan awan putih nampak menutupi semua yang ada di bawahnya. Begitu sunyi dan sepi di luar sana. Dia kembali teringat akan hidupnya saat ini setelah musim gugur yang begitu kelabu untuknya.
Flash back on
Banyak kejadian terjadi selama rentang waktu ini. Enam bulan lalu, sebuah berita mengejutkan didapatnya.
Dari seorang dokter yang bekerja di rumah sakit tempat sang ayah di rawat, gadis itu mendapat kabar bahwa sang suami yang pergi selama hampir sebulan, dikabarkan telah meninggal karena sebuah kecelakan.
Ledakan di sebuah gudang senjata yang berada di tepian barat Kota Orchid, mengakibatkan suaminya meninggal di tempat, bahkan mayatnya tak bisa diidentifikasi lagi karena hancur atau tak utuh lagi.
Gadis itu tak percaya begitu saja dengan kabar tersebut. Dia sendiri bahkan tak tahu di mana sang suami berada, dan tiba-tiba berita seperti ini datang begitu saja.
Meski awalnya gadis itu mengelak dan tak mau percaya, namun dia pun tak bisa mengelak bukti yang ditunjukkan padanya.
Cincin pernikahan adalah satu-satunya benda yang bisa mengidentifikasi siapa mayat yang ada di dalam sana, di antara tiga mayat yang ada.
Dokter tersebut pun kemudian menunjukkan cincin itu kepada sang gadis. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya ketika melihat cincin tersebut.
Sang gadis ingat betul benda yang ada di tangan sang dokter. Itu adalah cincin pasangan yang dulu pernah diberikan oleh suaminya secara paksa, saat pencatatan pernikahan mereka.
Dia bahkan sampai tak bisa berkata-kata ketika melihat cincin tersebut penuh dengan noda darah yang telah membeku, bercampur dengan benar hangus dari jelaga.
Bulir bening seketika meluncur bebas di wajah cantiknya. Kakinya lemas, dia bahkan harus berpegang pada sesuatu agar tak ambruk ke lantai yang dingin.
Matanya nanar melihat menerawang entah ke mana. Tatapan itu terlihat kosong. Hanya ada air mata yang keluar tanpa ada suara isak yang keluar. Pemandangan itu benar-benar memilukan siapapun yang melihatnya.
“Sebelum pergi, Ardiaz pernah berpesan padaku, jika sesuatu terjadi padanya, maka secara otomatis kau pun akan bebas, dan bisa hidup dengan pria manapun yang kau inginkan,” ucap sang dokter yang tak lain adalah Malcolm.
“Ini salah. Ini pasti salah. Dia itu menyebalkan dan selalu bisa berkelahi. Bagaimana... Bagaimana... Tidak mungkin... Itu pasti salah...,” elak sang gadis yang adalah istri Ardiaz, Evangeline.
__ADS_1
Malcolm hanya bisa berdiri melihat gadis itu linglung dan terus mengelak. Dia sendiri tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Evangeline yang sudah pasti sangat terpukul.
Meski dia tahu bahwa pernikahan temannya dan gadis itu atas dasar paksaan, namun sejak kepergian Ardiaz, Evangeline terlihat begitu murung, pendiam dan selalu menyiksa dirinya sendiri dengan segudang kegiatan yang membuatnya sering kelelahan.
Bahkan beberapa waktu yang lalu, Evangeline harus mendapatkan cairan infus karena dehidrasi hingga keluar darah dari hidungnya.
Ditambah saat ini, terlihat dari reaksinya jelas bahwa Ardiaz memiliki arti lebih bagi dirinya. Rasa kehilangan membuat gadis itu menangis pilu, meski dia menahan isaknya kuat-kuat.
Dokter itu mengambil sesuatu lagi dari balik mantelnya. Sebuah kotak kayu persegi seukuran ponsel berwarna biru tua, ia letakkan di atas sebuah pipa besar yang ada di dekatnya.
“Tugasku sudah selesai. Ini semua yang ingin Ardiaz berikan padamu,” ucap Malcolm.
Dia pun meletakkan cincin itu di atas kotak tersebut, lalu pergi meninggalkan Evangeline yang masih terdiam dengan linangan air mata.
Terdengar pintu atap tertutup dan membuat Evangeline tersadar dari keterkejutannya. Dia menoleh ke arah kotak yang diberikan oleh Malcolm.
Seketika, tubuhnya ambruk ke lantai. Tangisnya yang sejak tadi tertahan, pecah begitu saja. Isaknya terdengar begitu memilukan. Dia berkali-kali memukul dadanya karena terasa begitu sesak.
“Kenapa kau begitu jahat? KENAPA, ARDIAZ?” teriaknya.
Rasanya begitu sakit. Bahkan untuk menghirup nafas pun terasa begitu nyeri. Evangeline menangis sejadinya di sana, karena kehilangan satu-satunya orang yang ia harap bisa menjadi sandaran saat ini.
“Alpha, kau pasti akan menyesal jika melihat ini semua,” gumamnya.
Begitulah akhir musim gugur itu dilewati oleh Evangeline. Begitu sepi dan dingin. Kabar tentang sang suami membuatnya benar-benar terguncang, dan menjadikannya seorang yang lebih pendiam dari sebelumnya.
Ditambah kondisi sang ayah yang belum terlihat akan bangun, membuat gadis yang dulu begitu ceria kini seakan hilang entah kemana.
Semua orang di sekitarnya melihat iba pada gadis cantik, yang pernah menjadi objek iri hati setiap wanita yang ada di seluruh negeri ini.
Gadis cantik yang hidup bergelimang harta dan kasih sayang, dianugerahi paras cantik dan tubuh yang ideal, rupanya tak menjamin kehidupannya akan seindah kisah putri dalam dongeng.
Dia semakin gila kerja, entah untuk menyiksa diri atau demi melupakan kesedihannya.
Musim dingin pun datang. Rencananya untuk mengambil liburan, ia batalkan begitu saja meski Sonia telah memesankan trip wisata terbaik.
__ADS_1
Dia seolah tak memiliki keinginan duniawi lagi. Hanya ada rasa tanggung jawab untuk mempertahankan perusahaan ayahnya agar tetap jalan, yang membuatnya masih mau untuk bergerak dan berusaha.
Saat dia sedang berada di depan orang-orang, wajahnya akan sedingin kutub utara, dengan perkataan tajam yang siap merobek siapapun yang membuat kesalahan.
Evangeline si gadis manja dan juga baik hati itu kini telah lenyap. Dia yang sekarang begitu berbeda, dingin, tak berperasaan dan juga tertutup.
Namun, ketika dia sedang seorang diri, matanya tak pernah kering. Bulir itu selalu muncul, terlebih jika dia mengingat tentang suaminya yang telah dikabarkan meninggal beberapa bulan lalu.
Dia bahkan melepas kalung pemberian Ardiaz sebelum dia pergi, dan menyimpannya bersama dengan benda lainnya di dalam kotak biru tua, yang disampaikan oleh Malcolm.
Evangeline selalu merasa sesak setiap kali melihat kalung itu melingkar di lehernya. Ingatannya akan sosok Ardiaz begitu kuat melekat di ingatannya.
“Bahkan tak ada kenangan indah sama sekali di antara kita, dan aku sudah kau buat menjadi janda. Kau benar-benar sangat menyebalkan. Bahkan sampai mati pun kau benar-benar menyebalkan,” ucap Evangeline lirih di dalam kamarnya, setelah puas menangis.
Dia masih menghuni ruangan di dekat ruang rawat sang ayah di rumah sakit. Dia sampai lupa jika mereka masih memiliki rumah yang telah lama ditinggalkan.
Di tengah kesepiannya, kini tinggal sang ayah yang masih diam di tempat tidur, yang menjadi satu-satunya alasan dia tetap berjuang dan tetap waras.
Ketika teringat sang ayah, Evangeline pun keluar dari kamarnya, dan menuju ke ruang rawat Tuan Hemachandra.
Wajahnya merah dan basah karena air mata. Lelehan dari hidung bahkan masih sesekali mengganggunya.
Semua pengawal membungkuk ketika gadis itu berjalan di depan mereka. Evangeline tak peduli dan terus berjalan ke ruangan sang ayah.
Saat masuk ke dalam sana, semua masih terlihat sama. Ayahnya masih terbaring di atas ranjang kapsulnya, dengan mata yang terpejam begitu rapat dan tubuh yang seperti lupa untuk bergerak.
Helaan nafas yang terasa begitu berat terdengar dari mulut gadis itu. Dia pun duduk di samping sang ayah.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih