
Petang menjelang. Di sebuah apartemen Panthouse, dengan nuansa serba putih dan minim perabotan, dua orang gadis tengah bersama berbincang tentang kehidupan masing-masing setelah sekian lama tak bersua.
Salah satunya yang berambut pendek, tengah berbaring di atas ranjang empuk sambil menggoyangkan kakinya ke atas dan bawah, sementara matanya sibuk dengan gadgetnya.
Sedangkan Satunya lagi baru saja selesai membersihkan diri, dan masih mengenakan jubah mandinya.
Dia berjalan ke arah meja rias dan mengambil sebuah hair dryer dari dalam laci.
“Aku dengar kau ditunangkan ketika pesta ulang tahunmu kemarin. Siapa dia? Apa dia cinta pertamamu yang dulu kau ceritakan padaku? Asisten ayahmu itu, hah?” cecar Joy yang saat ini sedang berkunjung ke tempat Evangeline.
Evangeline melihat sekilas pantulan temannya itu dari cermin di depannya, sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
“Jangan bahas dia. Pria itu bahkan menghamili wanita lain di belakangku,” tutur Evangeline.
Joy yang mendengarnya pun seketika terduduk dan menatap tak percaya ke arah pantulan sahabatnya.
“Kau serius? Lalu, bagaimana pertunangannya? Gadis malang,” ucap Joy.
“Siapa bilang aku bertunangan dengan pria brengs*k itu? Kau lupa berapa sayangnya ayahku? Aku bahkan mendapatkan yang jauh lebih baik dari pria itu berkali-kali lipat,” sanggah Evangeline.
“Wah... Benarkah? Lalu, di mana dia sekarang? Apa dia akan menemuimu di sini? Tunjukkan aku fotonya,” cecar Joy.
“Sudah jangan bicarakan lagi. Sebaiknya kau bersiap-siap. Aku ingin bersenang-senang malam ini. Kau pasti tahu tempat yang menyenangkan di sini bukan?” ucap Evangeline mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja. Kau mau pergi kemana? Taman bermain? Atau game station? Atau mungkin festival kuliner?” tanya Joy.
Evangeline menoleh dan menaik turunkan kedua alisnya, sambil menatap sang teman.
“Klub malam,” jawabnya.
“What the F*uck?! Kau serius?” tanya Joy.
Gadis berambut pendek itu terlihat kaget dengan perkataan Evangeline barusan. Bukan tanpa alasan dia bereaksi seperti itu. Pasalnya, sejak dia mengenal putri semata wayang Hemachandra Adiguna itu di sekolah menengah, Evangeline selalu menjadi sosok anak rumahan yang manja dalam terus berada dalam pengawasan sang ayah.
Dia bahkan jarang bepergian bersama teman-temannya tanpa pengawal pribadi. Jangankan untuk masuk ke klub malam, berniat saja dia tak akan mungkin.
“Memang kenapa? Ada yang salah?” tanya Evangeline.
“Apa terjadi sesuatu padamu? Kenapa kau tiba-tiba berubah? Kau baik-baik saja bukan? Apa ini karena pria brengsek itu? Atau tunanganmu mencampakanmu?” cecar Joy.
“Oh ayolah. Di usia kita ini, apa anehnya jika pergi ke tempat seperti itu. Lagi pula, aku ingin mencoba bersenang-senang seperti kalian. Apa tidak boleh?” sanggah Evangeline.
Joy tak langsung menjawab. Dia masih terus melihat menelisik ke arah temannya itu, dengan tatapan penuh praduga. Namun, Evangeline yang sudah pintar menyembunyikan perasaannya, bersikap biasa saja hingg Joy pun harus berhenti dan menuruti permintaan temannya itu.
“Ehm... Baiklah. Tapi aku pinjam bajumu. Aku tak membawa baju ganti. Lucu kalau ke tempat seperti itu memakai pakaian seperti ini,” keluh Joy.
__ADS_1
“Masuklah. Kau pilih saja sendiri yang kau suka,” sahut Evangeline.
“Wah... Dengan senang hati,” ucap Joy
Gadis berambut pendek yang terlihat periang itu pun segera bangun dan berlari ke arah walk in closet, dengan antusiasnya memilih pakaian yang akan membawa mereka ke klub malam.
...❄❄❄❄❄...
Tepat pukul sembilan malam, sebuah mobil Porsche ungu keluar dari dalam area parkir apartemen mewah yang berada di pusat Kota Orchid.
Dua orang gadis belia terlihat berada di dalam mobil tersebut. Mereka adalah Joy dan Evangeline, yang memutuskan untuk pergi ke klub malam untuk bersenang-senang.
Ini pertama kalinya gadis manja itu hidup bebas di kota lain, dan jauh dari pengawasan sang ayah. Dia bahkan menolak untuk diikuti oleh pengawal karena merasa ruang geraknya akan terbatas. Evangeline ingin merasakan hidup seperti layaknya gadis seusianya. Ini pun kali pertama dia pergi ke klub malam, dan dengan pakaian seminim ini.
Dia memilih sebuah atasan berwarna silver dengan bertabur gliter, dada yang terbuka serta tali bahu yang tipis. Dipadukan dengan rok hitam setinggi di atas lutut dengan bahan ceruti transparan.
Rambutnya ia biarkan tergerai panjang, dilengkapi dengan anting lingkaran yang lebar.
Sementara Joy memilih topcrop abu-abu tanpa bahu yang dipadukan dengan hotpans.
Keduanya menuju ke sebuah klub malam yang terkenal di Kota Orchid, Blossom club. Tempat yang dulu pernah di datangi oleh Mac duff ketika hendak mengambil blue ocean dari tangan seorang wanita.
Evangeline melirik sekilas ke arah kartu yang dipegang boleh temannya itu. Joy pun paham dengan maksud tatapan Evangeline.
“Ini bukan milikku, melainkan fasilitas klub Criminal hunter. Aku memang sering pergi ke klub malam. Tapi tempat ini terlalu elit untuk ku. Aku mengajakmu kemari karena ku kira kau akan suka dengan tempat ini. Apa kau tau, ini tempat yang sering menjadi target operasi kami. Di tempat ini, banyak terjadi transaksi ilegal. Tapi malam ini, kita sebaiknya tidak terlibat dan cukup bersenang-senang saja, oke,” jelas Joy.
Evangeline tersenyum dan hanya mengangguk saja. Dia terus mengemudi hingga tiba di tempat parkir.
Ada sekelompok pemuda yang juga baru saja datang. Mereka terlihat tengah bercanda satu sama lain di dekat mobil mereka.
Kehadiran Evangeline dan Joy membuat mereka menghentikan tawa dan saling berbisik, dengan seringai nakal yang mencurigakan.
Saat kedua gadis itu lewat di depan mereka, para pemuda itu mulai memanggilnya dengan siulan.
“Hai, apa kalian hanya berdua?” tanya salah satu dari pemuda itu.
Joy meraih lengan Evangeline dan berbisik.
“Jangan pedulikan mereka. Kau hanya akan kerepotan jika meladeninya,” ucap Joy.
Evangeline pun mengangguk dan terus berjalan ke depan. Namun, para pemuda itu terlihat mengikuti mereka dari belakang hingga masuk.
__ADS_1
Di dalam sana, aroma nikotin dan alkohol begitu terasa. Pandangan mata Evangeline bahkan sempat kabur saat melihat cahaya temaram, dengan lampu merah biru yang bergantian menyala. Ditambah pantulan lampu dari bola disko, membuat kepalanya sedikit pusing.
Pemandangan yang benar-benar asing baginya.
Joy menariknya menuju ke arah meja bar. Dia tahu bahwa sang teman pasti merasa asing, dilihat dari cara Evangeline yang terus berdiri membeku sejak masuk ke dalam.
“Kau duduklah di sini. Apa mau ku pesankan minum?” tanya Joy sedikit berteriak.
Suara bising dari musik yang dimainkan DJ, membuat gendang telinga seolah menjadi tersumbat. Orang pun harus menarik urat mereka lebih lagi hanya untuk bicara.
Evangeline hanya menggeleng sambil tersenyum. Dia melihat banyak orang asik dengan diri mereka sendiri.
Ada yang menikmati minuman seorang diri, ada yang bersama dengan orang lain dan tertawa terbahak-bahak seolah tak ada beban di hidup mereka, ada pula yang menari dengan hebohnya, seolah tak ada rasa lelah baginya.
Evangeline masih duduk di tempat sambil memandangi setiap sudut ruang gemerlap itu. Sementara Joy terlihat telah memesan sesuatu untuk ia minum sendiri.
Pewaris Hera grup itu menoleh sekilas dan melihat segelas beer dingin sudah ada di tangan temannya, telah habis separuh gelas. Dia hanya tersenyum tipis dan kembali menghadap ke depan.
Tepat saat itu, dia melihat salah satu pemuda yang memanggil mereka di parkiran, berjalan menghampiri kedua gadis itu.
“Disini rupanya kalian. Kenapa hanya duduk berdua saja? Kami duduk di sana. Maukah bergabung dengan kami?” tawarnya.
“Maaf, tapi sepertinya kalian harus mencari orang lain. Suamiku akan marah saat melihat pemuda ingusan seperti mu menggoda ku,” ucap Evangeline.
Pemuda itu terkekeh mendengar perkataan Evangeline.
“Suami? Kau? Hahahaha... Baiklah. Aku baru lihat cara menolak seperti ini. Aku hanya mengajakmu bergabung saja. Kalau tak mau ya sudah, kami tak memaksa,” ucap pemuda itu.
Setelah pemuda itu pergi, Joy terbahak-bahak hingga dia hampir tersedak beer-nya sendiri. Evangeline hanya melirik sekilas ke arah temannya dan tersenyum tipis.
“Hahahaha... Eva, kau benar-benar luar biasa. Pemuda seperti mereka memang brengs*k, dan pasti saat ini mereka sedang bertaruh siapa yang lebih dulu bisa mengajakmu bermain bersama."
"Tapi, bagaimana kau bisa berpikir menggunakan suami sebagai alasan? Kau ini. Lagipula, siapa yang akan percaya gadis muda belia dan seksi seperti kita ini sudah bersuami. Hahahaha... Eva, kau ini sangat lucu,” ucap Joy.
Evangeline hanya mengedikkan bahunya, dengan tatapan mata yang terus tertuju pada lantai dansa.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih